Perbedaan Dharibah dan Pajak Dalam Islam
-
Go Ihsan -
Dalam syariat Islam, pajak disebut dengan *dharibah*. Kata *dharibah* berasal
dari akar kata *dharaba-yadhribu-dharban*. Ada banyak arti dari aka...
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Catatan Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Muslimah. Tampilkan semua postingan
18.20
Politisi & Selebriti Swedia Dukung Solidaritas Wanita Berjilbab
Written By Unknown on Senin, 26 Agustus 2013 | 18.20
STOCKHOLM -- Ratusan wanita Swedia memposting foto mereka dengan
mengenakan jilbab di situs media sosial untuk menunjukkan solidaritas
pada seorang Muslimah.
Seorang Muslimah yang sedang hamil diserang di luar Stockholm karena mengenakan jilbab. Polisi sedang mencari saksi kejadian tersebut.
Serangan itu memicu gelombang protes online. Politisi dan selebritis berada di antara mereka yang memberikan dukungan dengan memposting foto di twitter. Pada Kamis lalu, lebih dari dua ribu orang telah memposting gambar dengan jilbab di Instragram. Sebagian besar menampilkan perempuan dari agama yang berbeda.
"Jumlah kejahatan karena kebencian terhadap Muslimah meningkat akhir-akhir ini," ujar salah satu penyelenggara kampanye, foujan Rouzbeh dikutip Al-Arabiya, Senin (26/8).
Kelompok yang membuat kampanye menuntut komisi kehakiman setempat untuk menyelidiki masalah kekerasan terhadap wanita berjilbab. Mereka juga ingin pemerintah memastikan tidak ada tindakan rasis di televisi.
Dewan Nasional untuk Pencegahan Kejahatan Swedia mencatat 306 kejahatan dilaporkan tahun lalu. Jumlah itu meningkat dari 278 kasus pada tahun sebelumnya.
Antropolong sosial Ahe carlbom dari Universitas Malmoe mengatakan, sikap Swedia terhadap jilbab sebagian besar positif. Namun, dia tidak tahu ada kenaikan jumlah orang yang menentang jilbab.
"Sejak kita mulai mengalami imigrasi dari dunia Arab, diklaim bahwa jumlah yang tidak menyukai jilbab meningkat, itu meluas. Tapi saya tidak tahu mengapa itu terjadi sekarang ini," ungkapnya.
Seorang Muslimah yang sedang hamil diserang di luar Stockholm karena mengenakan jilbab. Polisi sedang mencari saksi kejadian tersebut.
Serangan itu memicu gelombang protes online. Politisi dan selebritis berada di antara mereka yang memberikan dukungan dengan memposting foto di twitter. Pada Kamis lalu, lebih dari dua ribu orang telah memposting gambar dengan jilbab di Instragram. Sebagian besar menampilkan perempuan dari agama yang berbeda.
"Jumlah kejahatan karena kebencian terhadap Muslimah meningkat akhir-akhir ini," ujar salah satu penyelenggara kampanye, foujan Rouzbeh dikutip Al-Arabiya, Senin (26/8).
Kelompok yang membuat kampanye menuntut komisi kehakiman setempat untuk menyelidiki masalah kekerasan terhadap wanita berjilbab. Mereka juga ingin pemerintah memastikan tidak ada tindakan rasis di televisi.
Dewan Nasional untuk Pencegahan Kejahatan Swedia mencatat 306 kejahatan dilaporkan tahun lalu. Jumlah itu meningkat dari 278 kasus pada tahun sebelumnya.
Antropolong sosial Ahe carlbom dari Universitas Malmoe mengatakan, sikap Swedia terhadap jilbab sebagian besar positif. Namun, dia tidak tahu ada kenaikan jumlah orang yang menentang jilbab.
"Sejak kita mulai mengalami imigrasi dari dunia Arab, diklaim bahwa jumlah yang tidak menyukai jilbab meningkat, itu meluas. Tapi saya tidak tahu mengapa itu terjadi sekarang ini," ungkapnya.
Reporter : Nur Aini
Redaktur : Karta Raharja Ucu (REPUBLIKA.CO.ID)
Label:
Catatan Muslimah
21.21
Bulan Ramadan tampaknya membawa berkah bagi artis cantik Bella Saphira.
Dengan lantang,Bella mengucapkan dua kalimat syahadat dengan menirukan ucapan sang Imam Masjid Istiqlal itu. Dengan tegas pula, Bella membacakan artinya.
"Insya Allah saya siap. Bukan karena paksaan," tandas Bella.
Selepas mengucapkan syahadat, pemilik nama lengkap Bella Saphira Veronica Simanjuntak itu langsung pergi meninggalkan lokasi Masjid yang memang akan dilaksanakan sholat Jum'at.[oke/trbn/im/Islammedia]
Di Bulan Ramadhan Artis Bella Saphira Ikrarkan Keislamannya
Written By Unknown on Jumat, 26 Juli 2013 | 21.21
Bulan Ramadan tampaknya membawa berkah bagi artis cantik Bella Saphira.
Bintang sinetron yang juga penyanyi itu resmi memeluk agama Islam, pada
Jumat (26/7/2013) pagi ini. Namun, Bella enggan berbagi kisahnya pada
para pewarta yang sudah menunggu sejak pagi.
Bella mengucapkan syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, sekira pukul 09.45 WIB. Bella melafalkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang imam besar bernama Ali Mustofa Yaqub.
Bella mengucapkan syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, sekira pukul 09.45 WIB. Bella melafalkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang imam besar bernama Ali Mustofa Yaqub.
Dengan lantang,Bella mengucapkan dua kalimat syahadat dengan menirukan ucapan sang Imam Masjid Istiqlal itu. Dengan tegas pula, Bella membacakan artinya.
"Insya Allah saya siap. Bukan karena paksaan," tandas Bella.
Selepas mengucapkan syahadat, pemilik nama lengkap Bella Saphira Veronica Simanjuntak itu langsung pergi meninggalkan lokasi Masjid yang memang akan dilaksanakan sholat Jum'at.[oke/trbn/im/Islammedia]
Label:
Catatan Muslimah
06.38
Sejumlah peneliti astronomi menyatakan awal puasa di
Indonesia akan dimulai pada 10 Juli 2013. Berdasarkan hasil penghitungan
untuk menentukan posisi bulan (hisab), kemunculan bulan sabit (hilal)
baru akan jelas disaksikan (rukyat) pada Selasa petang, 9 Juli 2013.
Astronom: Awal Puasa 10 Juli 2013
Written By Unknown on Selasa, 09 Juli 2013 | 06.38
Sejumlah peneliti astronomi menyatakan awal puasa di
Indonesia akan dimulai pada 10 Juli 2013. Berdasarkan hasil penghitungan
untuk menentukan posisi bulan (hisab), kemunculan bulan sabit (hilal)
baru akan jelas disaksikan (rukyat) pada Selasa petang, 9 Juli 2013.
Astronom dari Institut Teknologi Bandung, Mudji Raharto, mengatakan
ketinggian hilal pada 8 Juli masih kurang dari 1-2 derajat dari garis
ufuk. "Kalau pada 9 Juli bulannya sudah tinggi, sehingga pengamatan bisa
dimulai," katanya kepada Tempo, Selasa, 2 Juli 2013.
Peneliti astronomi lainnya dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, senada dengan Mudji. Menurut dia,
kemunculan hilal di seluruh Indonesia pada 8 Juli petang ketinggiannya
masih kurang dari 2 derajat. "Jadi, kalau ada yang mengaku melihat hilal
pada 8 Juli, kemungkinan besar akan ditolak. Karena cahaya bulan sabit
yang tipis tidak akan mengalahkan cahaya matahari terbenam," ujarnya.
Meskipun begitu, kata Djamaluddin, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada 9 Juli dan akan berpuasa selama 30 hari.
Baik Muhammadiyah maupun yang memulai puasa pada 10 Juli nantinya akan
merayakan Hari Lebaran serentak pada 8 Agustus. "Apa pun yang terjadi
dengan perbedaan itu, masyarakat disarankan ikuti saja penetapan awal
puasa dari pemerintah," kata dia.
Label:
Catatan Muslimah
06.32
Awal Puasa 2013 : Muslim Perancis, Turki, Bosnia Sepakat Awal Puasa 9 Juli 2013
Para pemimpin Muslim Perancis telah sepakat untuk mengakhiri
perbedaan penentuan awal Ramadhan, mereka beralih ke astronomi modern
untuk membantu menentukan hari pertama bulan puasa.
“Ini hari yang bersejarah,” kata Lyon Pemimpin Muslim Azzedine Gaci
Reuters pada Kamis, 9 Mei. “Sekarang semua Muslim di Perancis dapat
memulai Ramadhan pada hari yang sama.”
Menghadapi masalah perbedaan awal Ramadhan selalu terjadi setiap
tahunnya , Muslim Council (CFCM) Prancis pada hari Kamis menetapkan
menggunakan perhitungan astronomi untuk mengatur tanggal daripada
mengandalkan penglihatan mata telanjang untuk melihat awal bulan sabit
baru. Ramadhan biasanya dimulai setelah penampakan, yang di masa lalu
yang sering terhalang akibat kondisi cuaca.
“Sekarang semua perhitungan tersebut akan disederhanakan,” kata
Moussaoui. Oleh karena itu, CFCM mengumumkan bahwa, bulan suci Ramadhan
akan dimulai pada hari Selasa, 9 Juli berdasarkan perhitungan astronomi.
Selama lebih dari 1400 tahun, hari pertama Ramadhan dan penampakan
bulan selalu menjadi isu kontroversial di antara negara-negara Muslim,
dan bahkan beberapa ulama tampaknya bertentangan atas masalah ini.
Aturan baru ini memungkinkan Muslim untuk mengajukan kepastian liburan mereka untuk dimasukkan dalam kalender nasional.
Perancis bukanlah negara pertama di mana umat Islam telah memutuskan
untuk beralih ke perhitungan astronomi. Turki juga sudah mulai
menggunakan perhitungan ilmiah untuk menetapkan awal Ramadhan . Muslim
di Jerman, yang sebagian besar berasal dari Turki, dan orang-orang di
Bosnia juga menggunakan metode ini. (OI.net/Dz)
Label:
Catatan Muslimah
10.48
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Organisasi Islam
menggelar pertemuan untuk membahas penetapan awal Ramadhan 1434
Hijriyah.
MUI dan Organisasi Islam Sepakat Awal Puasa pada 9 Juli 2013
Written By Unknown on Senin, 08 Juli 2013 | 10.48
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Organisasi Islam
menggelar pertemuan untuk membahas penetapan awal Ramadhan 1434
Hijriyah.
Disepakati, awal bulan puasa atau 1 Ramadan 1434
Hijriyah jatuh pada 9 Juli 2013. Penetapan itu sesuai dengan suara
mayoritas dalam menentukan hari pertama umat Islam berpuasa.
Demikian
dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Amirsyah Tambunan di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Kamis (13/6). Keputusan
MUI bersama organisasi Islam lain itu. Keputusan ini serempak dengan
penetapan Pengurus Pusat Muhammadiyah yang juga sudah menetapkan bahwa
awal puasa jatuh pada tanggal 9 Juli 2013.
Namun, cara menentukannya berbeda. Ada yang melakukan hitungan hisab atau rukyat, Ada pula yang melihat bulan baru alias hilal.
Amirsyah berharap tak ada kelompok yang memiliki penetapan berbeda.
Karena, penetapan MUI itu sesuai dengan kesepakatan suara mayoritas
organisasi Islam. Ia pun berharap pemerintah segera mengumumkan
penetapan tersebut.
Semoga keseragaman penetapan awal
puasa oleh MUI dan Muhammadiyah ini menjadi angin segar bagi umat Islam
yang tidak lama lagi akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
(lb/sbb/mtn/dakwatuna)
(Saiful Bahri/dakwatuna.com)
Label:
Catatan Muslimah
06.50
Ayesha Farook Wanita Pertama Pilot Jet Tempur Yang Berjilbab
Written By Unknown on Senin, 24 Juni 2013 | 06.50
Jilbab, ternyata tidak menjadi penghalang seorang
muslimah untuk berkiprah di dunia profesi, termasuk dunia militer yang
identik dengan kekerasan dan kekuatan fisik.
Ayesha Farooq (26)
contohnya. Pilot ‘Muslimah’ pertama Pakistan ini telah membuktikan bahwa
seorang muslimah yang mengenakan jilbab pun dapat berprestasi di dunia
militer.
Dengan jilbab hijau zaitun menyembul keluar dari helm,
Ayesha Farooq berkedip dan ter senyum ketika ditanya kesiapan menjadi
satu-satunya pilot pesawat tempur perempuan di republik Islam Pakistan.
Farooq merupakan salah satu dari 19 perempuan yang telah menjadi pilot
di Angkatan Udara Pakistan selama dekade terakhir.
Lihat saja,
tanpa canggung sedikit pun Ayesha dengan tangkas nya menaiki jet tempur
F-7PG di bandara militer Mushaf, Sargoda, Pakistan Utara. Bahkan aksi
nya di udara tidak kalah dengan pilot lainnya.
Ini jadi satu bukti
bahwa keinginan polwan di Indonesia untuk mengenakan jilbab tidak patut
untuk dihalang-halangi, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama
Islam.
Jadi bukan alasan bahwa seorang ‘muslimah’ berjilbab tidak bisa berkarir di dunia militer dengan dalih apapun. [vvn/tmp/dktn/Islamedia)
Label:
Catatan Muslimah
21.32
Hijab Day di Universitas Boston, Mahasiswi Non-Muslim Mengaku Tertarik Berkerudung
Written By Unknown on Kamis, 20 Juni 2013 | 21.32
Mahasiswi non-Muslim di Boston University dengan sukarela menjalani
satu hari mereka dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari bulan
Bulan Kesadaran Islam Maret ini dalam rangka untuk mengoreksi
kesalahpahaman tentang konsep Islam dan hijab, seperti dilansir OnIslam pada Jumat (29/3/2013).
“Saya melihat posternya di link GSU dan berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan,” kata Dian Qu, seorang mahasiswi Seni dan Sains, kepada BU Today. “Saya meminta mereka untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara memakainya, tapi saya lupa, jadi saya memakainya dengan cara saya sendiri,” Qu, yang berasal dari Cina, menambahkan.
Ia adalah salah satu dari 40 wanita non-Muslim di BU yang mengajukan diri untuk menghabiskan satu harinya dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari tantangan Hari Hijab di Boston University.
Teman lelakinya memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai saat mereka berjalan bersama-sama. Dan ia menolak.“Saya hanya berbalik dan berjalan sendiri,” katanya.
Hari hijab adalah salah satu dari beberapa acara yang disponsori oleh Masyarakat Islam BU sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam pada Maret.
Mendaftar di asrama mereka atau pada link George Sherman Union, para mahasiswi diberi link video instruksional dan tombol merah muda bertuliskan ” Tantangan Hari Hijab BU-Ask Me About My Hijab.”
Sonia Perez Arias, mahasiswi lainnya mengatakan temannya tersenyum ketika melihat ia berpenampilan baru di Commonwealth Avenue dan menyapa temannya dengan kata “Salaam”.
“Saya ingin melakukan hal-hal yang menantang saya,” kata Arias.
“Orang-orang Muslim memberi salam kepada saya dalam bahasa Arab,” kata Perez Arias, yang menyatakan dirinya adalah seorang ateis.
“Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.”
Sedangkan Anya Gonzales merasakan apa yang ia sebut sebagai “rasa hormat yang baru ditemukan” karena Islam, sementara Richa Kaul yang awalnya mengaku merasa takut, akhirnya memperoleh pemahaman dan keyakinan.
“Saya merasakan penghormatan baru yang dirasakan para perempuan Muslim,” kata Gonzales.
Kaul, seorang Hindu, bergabung dengan tantangan ini dengan rasa ingin tahu dan ingin menunjukkan “solidaritas dengan budaya Islam.”
“Satu-satunya saat di mana saya merasa takut atau cemas adalah tepat sebelum saya membuka pintu ke ruang kelas saya, beberapa orang menengok ke arah saya. Dalam hal ini saya bisa melihat bahwa pertama-tama yang mereka lihat adalah kerudung Anda, baru kemudian Anda.”
Mendukung hari hijab, para non-Muslim memujinya karena memberi pemahaman yang benar tentang Islam dan hijab.
“Saya salut pada para mahasiswi Boston University yang rela mengambil bagian dalam tantangan Hari Hijab dan memutuskan untuk mengalami penghargaan subjektif yang mungkin muncul dengan pilihan pribadi mereka atau bahaya menjadi obyek tatapan publik yang menyatakan permusuhan,” kata Shahla Haeri, seorang dari asosiasi professor antropologi jurusan Seni & Sains , yang telah banyak menulis tentang dinamika agama, hukum, dan gender di dunia Muslim.
Hari hijab bukanlah satu-satunya acara yang diselenggarakan universitas tersebut selama Bulan Kesadaran Islam. Beberapa acara lainnya yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai Islam juga diselenggarakan di sana. (arrahmah.com/muslimahzone.com)
“Saya melihat posternya di link GSU dan berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan,” kata Dian Qu, seorang mahasiswi Seni dan Sains, kepada BU Today. “Saya meminta mereka untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara memakainya, tapi saya lupa, jadi saya memakainya dengan cara saya sendiri,” Qu, yang berasal dari Cina, menambahkan.
Ia adalah salah satu dari 40 wanita non-Muslim di BU yang mengajukan diri untuk menghabiskan satu harinya dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari tantangan Hari Hijab di Boston University.
Teman lelakinya memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai saat mereka berjalan bersama-sama. Dan ia menolak.“Saya hanya berbalik dan berjalan sendiri,” katanya.
Hari hijab adalah salah satu dari beberapa acara yang disponsori oleh Masyarakat Islam BU sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam pada Maret.
Mendaftar di asrama mereka atau pada link George Sherman Union, para mahasiswi diberi link video instruksional dan tombol merah muda bertuliskan ” Tantangan Hari Hijab BU-Ask Me About My Hijab.”
Sonia Perez Arias, mahasiswi lainnya mengatakan temannya tersenyum ketika melihat ia berpenampilan baru di Commonwealth Avenue dan menyapa temannya dengan kata “Salaam”.
“Saya ingin melakukan hal-hal yang menantang saya,” kata Arias.
“Orang-orang Muslim memberi salam kepada saya dalam bahasa Arab,” kata Perez Arias, yang menyatakan dirinya adalah seorang ateis.
“Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.”
Sedangkan Anya Gonzales merasakan apa yang ia sebut sebagai “rasa hormat yang baru ditemukan” karena Islam, sementara Richa Kaul yang awalnya mengaku merasa takut, akhirnya memperoleh pemahaman dan keyakinan.
“Saya merasakan penghormatan baru yang dirasakan para perempuan Muslim,” kata Gonzales.
Kaul, seorang Hindu, bergabung dengan tantangan ini dengan rasa ingin tahu dan ingin menunjukkan “solidaritas dengan budaya Islam.”
“Satu-satunya saat di mana saya merasa takut atau cemas adalah tepat sebelum saya membuka pintu ke ruang kelas saya, beberapa orang menengok ke arah saya. Dalam hal ini saya bisa melihat bahwa pertama-tama yang mereka lihat adalah kerudung Anda, baru kemudian Anda.”
Mendukung hari hijab, para non-Muslim memujinya karena memberi pemahaman yang benar tentang Islam dan hijab.
“Saya salut pada para mahasiswi Boston University yang rela mengambil bagian dalam tantangan Hari Hijab dan memutuskan untuk mengalami penghargaan subjektif yang mungkin muncul dengan pilihan pribadi mereka atau bahaya menjadi obyek tatapan publik yang menyatakan permusuhan,” kata Shahla Haeri, seorang dari asosiasi professor antropologi jurusan Seni & Sains , yang telah banyak menulis tentang dinamika agama, hukum, dan gender di dunia Muslim.
Hari hijab bukanlah satu-satunya acara yang diselenggarakan universitas tersebut selama Bulan Kesadaran Islam. Beberapa acara lainnya yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai Islam juga diselenggarakan di sana. (arrahmah.com/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
21.24
Kebangkitan Muslimah Tak Memerlukan Emansipasi Apalagi Feminisme!
Merasuknya ide-ide emansipasi dan feminisme ke dalam berbagai sektor
kehidupan ummat Islam Indonesia semakin hari semakin terasa dampak
buruknya. Kesetaraan gender yang dikehendaki oleh kaum feminis dan
penggiat emansipasi menggerus konsep nilai dan tatanan sosial yang telah
Allah gariskan bagi lelaki dan perempuan dalam Islam. Penyusupan ini
demikian kentara dalam ranah akademik, politik praktis, dan kehidupan
sosial-ekonomi di negeri berpenduduk muslim terbesar ini.
Keadaan diatas menggerakkan kawan-kawan muslimah dari Asrama Putri Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) menggelar sebuah seminar bertajuk “Kebangkitan Perempuan Tanpa Emansipasi-Feminisme”. Seminar yang berlangsung hangat pada hari Rabu, 22 Mei 2013 ini menghadirkan dua orang narasumber yang memang dikenal sebagai aktivis Muslimah yang concern mengkritisi dan membendung ide-ide feminisme. Mereka adalah Dr. Dinar Dewi Kania, yang merupakan Direktur Eksekutif Centre of Gender Study (CGS) dan peneliti dari Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS) dan Dr. Erma Pawitasari, pengasuh Rubrik Konsultasi Pendidikan dalam Tabloid Suara Islam dan Direktur Andalusia Islamic Education and Management Services (AIEMS).
Dalam seminar ini Dr. Dinar Kania memaparkan lebih jauh mengenai seluk beluk gerakan feminisme dan perkembangannya juga dampak yang ditimbulkan ketika ide ini menyusup dalam ranah konsep dan tatanan sosial kaum Muslimin. Beliau memberikan konklusinya, ”Umat Islam seharusnya lebih cerdas dan kritis dalam menyikapi agenda-agenda feminisme yang sering kali disusupkan melalui program pemberdayaan perempuan. Kemunduran yang dialami umat Islam saat ini tidak dapat diselesaikan dengan mengadopsi mentah-mentah pemikiran Barat, apalagi dengan memaksakan syariat Islam agar tunduk kepada pemikiran tersebut. Gerakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan perempuan adalah dengan kembali meneladani para muslimah di jaman keemasan Islam, bukan malah menjiplak pemikiran dan gaya hidup perempuan Barat yang kebablasan.”
Sementara Dr. Erma Pawitasari memberikan pemaparan tentang Peran Muslimah dalam Ruang Publik, beliau menyimpulkan, “Islam telah memberikan petunjuk secara jelas mengenai hukum aktivitas muslimah dalam ruang publik beserta prioritas amal baginya. Islam tidak hanya memperbolehkan wanita beraktivitas di ruang publik, adakalanya Islam justru mewajibkan yakni ketika posisi tersebut mengharuskan kehadiran wanita. Namun, tugas ini tidak dapat digeneralisir. Ada prioritas mengenai wanita mana yang lebih terbebani suatu kewajiban atas kewajiban lainnya. Prioritas ini dilihat dari kondisi masing-masing individu, sebab Allah memang menciptakan perbedaan-perbedaan pada hambaNya agar manusia dapat saling mengisi dan membantu.”
Seminar yang berlangsung di Aula UIKA ini cukup menarik perhatian para mahasiswi, terbukti bangku yang disediakan panitia untuk peserta perempuan terisi hingga baris terakhir. Para audiens pun terlihat antusias menyimak pemaparan narasumber, suasana semakin bertambah hangat ketika memasuki sesi tanya-jawab. Beberapa kali gema takbir dan tepuk tangan membahana ketika terlontar statemen-statemen menyentil dan kritis dari para pembicara.
Semoga langkah kawan-kawan muslimah dari Asrama UIKA dalam membendung ide-ide godless semacam feminisme ini tak berhenti di sini, karena memang diperlukan follow up yang serius dan berkesinambungan sebagaimana musuh-musuh Islam pun memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam memasarkan dan menyusupkan ide-ide rusaknya hingga kini mereka menuai beberapa keberhasilan.
(esqiel/muslimahzone.com)
Keadaan diatas menggerakkan kawan-kawan muslimah dari Asrama Putri Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) menggelar sebuah seminar bertajuk “Kebangkitan Perempuan Tanpa Emansipasi-Feminisme”. Seminar yang berlangsung hangat pada hari Rabu, 22 Mei 2013 ini menghadirkan dua orang narasumber yang memang dikenal sebagai aktivis Muslimah yang concern mengkritisi dan membendung ide-ide feminisme. Mereka adalah Dr. Dinar Dewi Kania, yang merupakan Direktur Eksekutif Centre of Gender Study (CGS) dan peneliti dari Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS) dan Dr. Erma Pawitasari, pengasuh Rubrik Konsultasi Pendidikan dalam Tabloid Suara Islam dan Direktur Andalusia Islamic Education and Management Services (AIEMS).
Dalam seminar ini Dr. Dinar Kania memaparkan lebih jauh mengenai seluk beluk gerakan feminisme dan perkembangannya juga dampak yang ditimbulkan ketika ide ini menyusup dalam ranah konsep dan tatanan sosial kaum Muslimin. Beliau memberikan konklusinya, ”Umat Islam seharusnya lebih cerdas dan kritis dalam menyikapi agenda-agenda feminisme yang sering kali disusupkan melalui program pemberdayaan perempuan. Kemunduran yang dialami umat Islam saat ini tidak dapat diselesaikan dengan mengadopsi mentah-mentah pemikiran Barat, apalagi dengan memaksakan syariat Islam agar tunduk kepada pemikiran tersebut. Gerakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan perempuan adalah dengan kembali meneladani para muslimah di jaman keemasan Islam, bukan malah menjiplak pemikiran dan gaya hidup perempuan Barat yang kebablasan.”
Sementara Dr. Erma Pawitasari memberikan pemaparan tentang Peran Muslimah dalam Ruang Publik, beliau menyimpulkan, “Islam telah memberikan petunjuk secara jelas mengenai hukum aktivitas muslimah dalam ruang publik beserta prioritas amal baginya. Islam tidak hanya memperbolehkan wanita beraktivitas di ruang publik, adakalanya Islam justru mewajibkan yakni ketika posisi tersebut mengharuskan kehadiran wanita. Namun, tugas ini tidak dapat digeneralisir. Ada prioritas mengenai wanita mana yang lebih terbebani suatu kewajiban atas kewajiban lainnya. Prioritas ini dilihat dari kondisi masing-masing individu, sebab Allah memang menciptakan perbedaan-perbedaan pada hambaNya agar manusia dapat saling mengisi dan membantu.”
Seminar yang berlangsung di Aula UIKA ini cukup menarik perhatian para mahasiswi, terbukti bangku yang disediakan panitia untuk peserta perempuan terisi hingga baris terakhir. Para audiens pun terlihat antusias menyimak pemaparan narasumber, suasana semakin bertambah hangat ketika memasuki sesi tanya-jawab. Beberapa kali gema takbir dan tepuk tangan membahana ketika terlontar statemen-statemen menyentil dan kritis dari para pembicara.
Semoga langkah kawan-kawan muslimah dari Asrama UIKA dalam membendung ide-ide godless semacam feminisme ini tak berhenti di sini, karena memang diperlukan follow up yang serius dan berkesinambungan sebagaimana musuh-musuh Islam pun memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam memasarkan dan menyusupkan ide-ide rusaknya hingga kini mereka menuai beberapa keberhasilan.
(esqiel/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
21.20
Para Mualaf Wanita Amerika Semakin Kuat Pasca Bom Boston
Ketika Karen Hunt Ahmed dan suaminya bercerai empat tahun lalu,
banyak temannya yang bertanya, “Sekarang kau bisa keluar dari Islam
lagi, kan?”
“Bagi mereka mungkin ini hanya seperti hobi. Memeluk Islam ketika saya menikah dengan seorang Muslim lalu kembali murtad ketika saya bercerai dengannya,” kata Hunt Ahmed, pemimpin Chicago Islamic Microfinance Project, yang ia dirikan bersama dua rekannya pada tahun 2009.
Hunt Ahmed (45) adalah seorang wanita Amerika yang menjadi mualaf saat akan menikah dengan seorang pria Muslim. Masuknya wanita ke dalam Islam terutama saat mereka akan atau telah menikah dengan pria Muslim, membuat beberapa orang berpersepsi bahwa mereka masuk Islam karena calon suami atau suami mereka yang mendominasi.
Stereotip seperti itu seakan semakin dihidupkan saat berita pemboman Marathon Boston mencuat. Ketika itu muncul kabar bahwa istri “tersangka” pemboman Tamerlan Tsarnaev, Katherine Russell, masuk Islam setelah bertemu Tsarnaev pada tahun 2009 atau 2010 ketika ia berusia sekitar 21 tahun.
Tamerlan Tsarnaev (26), ditembak polisi Boston dan gugur setelah penangkapannya. Sementara adiknya Dzhokhar (19), kini masih ditahan dan menghadapi tuduhan “terorisme”.
“Banyak media yang telah menggambarkannya [Russel] sebagai seseorang yang dicuci otaknya dan tidak tahu apa yang ia lakukan,” kata Edlyn Sammanasu, yang lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang Katolik. Sammanasu mulai mempelajari Islam ketika ia bertemu dengan suaminya yang seorang Muslim di perguruan tinggi, dan ia memeluk Islam ketika ia berusia 21 tahun.
“Ketika saya melihat liputan itu, saya pikir ini konyol,” kata Sammanasu, yang sekarang berusia 32 tahun. Ia adalah seorang penulis teknis di Fremont, California.
Seema Imam, seorang profesor pendidikan di Louis National University di Lisle, Illinois, juga melihat hal yang sama. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim, tapi akhirnya ia memeluk Islam 40 tahun yang lalu pada usia 17 tahun.
“Setiap kali seseorang berbicara tentang mualaf Muslim, mereka mengaitkannya dengan sesuatu yang negatif, hal itu mereka lakukan dengan cara mengatakan, ‘Hati-hati, lihatlah apa yang terjadi ketika Anda menjadi Muslim,’” katanya.
Orang-orang Amerika yang masuk ke dalam Islam berasal dari latar belakang, ras dan etnis, serta interpretasi iman mereka yang berbeda-beda. Beberapa mualaf perempuan langsung memakai kerudung, beberapa lainnya tidak langsung.
Apa yang mereka dengar kemudian adalah tentang persepsi orang lain bahwa mereka tidak mampu membuat pilihan mereka sendiri dalam keputusan yang melibatkan pergulatan spiritual yang substansial.
Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Wanita adalah makhluk yang bisa berpikir sendiri. Demikian juga yang dirasakan Malika MacDonald Rushdan yang menjadi mualaf pada tahun 1995 setelah bercerai dengan suaminya yang Kristen. Dia mengucap syahadat di masjid Islamic Society of Boston di Cambridge, di mana Tsarnaev bersaudara sesekali shalat di sana.
“Keyakinan saya, menurut definisi, adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk suami saya,” tulis pengacara Ohio, Sarah Anjum, yang menjadi mualaf sejak hampir 10 tahun yang lalu, saat dia masih kuliah mempelajari gerakan politik Islam dan Arab, empat tahun sebelum ia bertemu dengan suaminya.
Sementara itu, beberapa Muslimah Amerika lainnya menjadi mualaf sebelum mereka menikah. Mereka mulai membaca segala hal tentang Islam. Mereka mengatakan hal itu sangat menyenangkan, mempelajari Islam sebelum bertemu dengan suami mereka di masa depan.
Kelly Wentworth (35), mengatakan kepada temannya yang berasal dari Yaman bahwa ia tertarik untuk belajar tentang Islam. Temannya itu lalu mengenalkan ia pada seorang profesor Muslim yang mengajar di Tennessee Tech, di mana pada saat itu ia dan teman Yaman-nya adalah mahasiswa yang sama-sama belajar di sana. Ketika ia kemudian mengatakan bahwa ia ingin memeluk Islam, temannya tidak merayakannya.
“Dia khawatir orang-orang akan berpikir bahwa saya memeluk Islam karena dia, atau bahwa dia yang memaksa saya untuk mengubah agama saya,” kata Wentworth, yang kini menjadi seorang insinyur perangkat lunak di Atlanta dan anggota dewan Muslim untuk Progressive Values, sebuah kelompok advokasi nasional. “Stereotip di luar sana, kami sedang bertarung melawan itu sekarang.”
Wentworth menjadi begitu khawatir tentang bagaimana teman-teman dan keluarga akan menilainya setelah berita tentang Russell Katherine mencuat. Hal itu membuat dia tidak bisa tidur selama beberapa malam.
Sebuah studi dari Pew Research Center 2011 menemukan bahwa sekitar 20 persen dari sekitar 1,8 juta Muslim di Amerika merupakan mualaf. Sementara studi Pew 2007 menemukan bahwa 49 persen menjadi mualaf pada usia 21 tahun. Penelitian 2007 juga menemukan bahwa 58 persen dari mualaf menjadi mualaf karena tertarik dengan Islam, dan 18 persennya karena alasan keluarga dan pernikahan.
Para mualaf wanita tersebut mengakui bahwa mereka telah mendengar tentang wanita Muslim yang terjebak dalam hubungan keluarga yang kurang harmonis, tapi kemudian mereka mengatakan bahwa hubungan seperti itu bisa dialami oleh semua wanita, bukan hanya wanita Muslim.
“Itu tidak ada hubungannya dengan agama,” kata Wentworth. “Itu masalah kepribadian.”
Katherine Wilson, seorang mualaf dan penduduk Rhode Island yang bekerja dengan perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual, meyakini itu. Ia mengatakan kepada media, hanya dengan mengacu pada kisah Russell, mualaf wanita dipandang secara negatif oleh beberapa orang yang tidak mengenal mereka dan menganggap mereka mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak mereka sendiri.
Sementara stereotip seperti itu masih mengganggu para mualaf wanita ini, banyak yang mengatakan bahwa mereka telah “kelelahan” karena harus menjelaskan keputusan mereka dalam memeluk Islam. Tapi hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak berusaha untuk menjelaskannya kepada orang-orang yang belum memahaminya. Mereka tidak menyerah. Mereka semakin kuat.
“Akan selalu ada orang-orang yang menilai berdasarkan pada ketidaktahuan,” kata MacDonald Rushdan. “Saya akan terus melakukan apa yang saya selalu lakukan. Saya tidak akan menyesal menjadi seorang wanita yang takut kepada Allah, yang dengan imannya memberikan ia kedamaian dan kepuasan batin.”
(esqiel/arrahmah.com/muslimahzone.com)
“Bagi mereka mungkin ini hanya seperti hobi. Memeluk Islam ketika saya menikah dengan seorang Muslim lalu kembali murtad ketika saya bercerai dengannya,” kata Hunt Ahmed, pemimpin Chicago Islamic Microfinance Project, yang ia dirikan bersama dua rekannya pada tahun 2009.
Hunt Ahmed (45) adalah seorang wanita Amerika yang menjadi mualaf saat akan menikah dengan seorang pria Muslim. Masuknya wanita ke dalam Islam terutama saat mereka akan atau telah menikah dengan pria Muslim, membuat beberapa orang berpersepsi bahwa mereka masuk Islam karena calon suami atau suami mereka yang mendominasi.
Stereotip seperti itu seakan semakin dihidupkan saat berita pemboman Marathon Boston mencuat. Ketika itu muncul kabar bahwa istri “tersangka” pemboman Tamerlan Tsarnaev, Katherine Russell, masuk Islam setelah bertemu Tsarnaev pada tahun 2009 atau 2010 ketika ia berusia sekitar 21 tahun.
Tamerlan Tsarnaev (26), ditembak polisi Boston dan gugur setelah penangkapannya. Sementara adiknya Dzhokhar (19), kini masih ditahan dan menghadapi tuduhan “terorisme”.
“Banyak media yang telah menggambarkannya [Russel] sebagai seseorang yang dicuci otaknya dan tidak tahu apa yang ia lakukan,” kata Edlyn Sammanasu, yang lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang Katolik. Sammanasu mulai mempelajari Islam ketika ia bertemu dengan suaminya yang seorang Muslim di perguruan tinggi, dan ia memeluk Islam ketika ia berusia 21 tahun.
“Ketika saya melihat liputan itu, saya pikir ini konyol,” kata Sammanasu, yang sekarang berusia 32 tahun. Ia adalah seorang penulis teknis di Fremont, California.
Seema Imam, seorang profesor pendidikan di Louis National University di Lisle, Illinois, juga melihat hal yang sama. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim, tapi akhirnya ia memeluk Islam 40 tahun yang lalu pada usia 17 tahun.
“Setiap kali seseorang berbicara tentang mualaf Muslim, mereka mengaitkannya dengan sesuatu yang negatif, hal itu mereka lakukan dengan cara mengatakan, ‘Hati-hati, lihatlah apa yang terjadi ketika Anda menjadi Muslim,’” katanya.
Orang-orang Amerika yang masuk ke dalam Islam berasal dari latar belakang, ras dan etnis, serta interpretasi iman mereka yang berbeda-beda. Beberapa mualaf perempuan langsung memakai kerudung, beberapa lainnya tidak langsung.
Apa yang mereka dengar kemudian adalah tentang persepsi orang lain bahwa mereka tidak mampu membuat pilihan mereka sendiri dalam keputusan yang melibatkan pergulatan spiritual yang substansial.
Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Wanita adalah makhluk yang bisa berpikir sendiri. Demikian juga yang dirasakan Malika MacDonald Rushdan yang menjadi mualaf pada tahun 1995 setelah bercerai dengan suaminya yang Kristen. Dia mengucap syahadat di masjid Islamic Society of Boston di Cambridge, di mana Tsarnaev bersaudara sesekali shalat di sana.
“Keyakinan saya, menurut definisi, adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk suami saya,” tulis pengacara Ohio, Sarah Anjum, yang menjadi mualaf sejak hampir 10 tahun yang lalu, saat dia masih kuliah mempelajari gerakan politik Islam dan Arab, empat tahun sebelum ia bertemu dengan suaminya.
Sementara itu, beberapa Muslimah Amerika lainnya menjadi mualaf sebelum mereka menikah. Mereka mulai membaca segala hal tentang Islam. Mereka mengatakan hal itu sangat menyenangkan, mempelajari Islam sebelum bertemu dengan suami mereka di masa depan.
Kelly Wentworth (35), mengatakan kepada temannya yang berasal dari Yaman bahwa ia tertarik untuk belajar tentang Islam. Temannya itu lalu mengenalkan ia pada seorang profesor Muslim yang mengajar di Tennessee Tech, di mana pada saat itu ia dan teman Yaman-nya adalah mahasiswa yang sama-sama belajar di sana. Ketika ia kemudian mengatakan bahwa ia ingin memeluk Islam, temannya tidak merayakannya.
“Dia khawatir orang-orang akan berpikir bahwa saya memeluk Islam karena dia, atau bahwa dia yang memaksa saya untuk mengubah agama saya,” kata Wentworth, yang kini menjadi seorang insinyur perangkat lunak di Atlanta dan anggota dewan Muslim untuk Progressive Values, sebuah kelompok advokasi nasional. “Stereotip di luar sana, kami sedang bertarung melawan itu sekarang.”
Wentworth menjadi begitu khawatir tentang bagaimana teman-teman dan keluarga akan menilainya setelah berita tentang Russell Katherine mencuat. Hal itu membuat dia tidak bisa tidur selama beberapa malam.
Sebuah studi dari Pew Research Center 2011 menemukan bahwa sekitar 20 persen dari sekitar 1,8 juta Muslim di Amerika merupakan mualaf. Sementara studi Pew 2007 menemukan bahwa 49 persen menjadi mualaf pada usia 21 tahun. Penelitian 2007 juga menemukan bahwa 58 persen dari mualaf menjadi mualaf karena tertarik dengan Islam, dan 18 persennya karena alasan keluarga dan pernikahan.
Para mualaf wanita tersebut mengakui bahwa mereka telah mendengar tentang wanita Muslim yang terjebak dalam hubungan keluarga yang kurang harmonis, tapi kemudian mereka mengatakan bahwa hubungan seperti itu bisa dialami oleh semua wanita, bukan hanya wanita Muslim.
“Itu tidak ada hubungannya dengan agama,” kata Wentworth. “Itu masalah kepribadian.”
Katherine Wilson, seorang mualaf dan penduduk Rhode Island yang bekerja dengan perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual, meyakini itu. Ia mengatakan kepada media, hanya dengan mengacu pada kisah Russell, mualaf wanita dipandang secara negatif oleh beberapa orang yang tidak mengenal mereka dan menganggap mereka mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak mereka sendiri.
Sementara stereotip seperti itu masih mengganggu para mualaf wanita ini, banyak yang mengatakan bahwa mereka telah “kelelahan” karena harus menjelaskan keputusan mereka dalam memeluk Islam. Tapi hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak berusaha untuk menjelaskannya kepada orang-orang yang belum memahaminya. Mereka tidak menyerah. Mereka semakin kuat.
“Akan selalu ada orang-orang yang menilai berdasarkan pada ketidaktahuan,” kata MacDonald Rushdan. “Saya akan terus melakukan apa yang saya selalu lakukan. Saya tidak akan menyesal menjadi seorang wanita yang takut kepada Allah, yang dengan imannya memberikan ia kedamaian dan kepuasan batin.”
(esqiel/arrahmah.com/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
06.38
AKP Fitrisia Kamila, Kapolsek Berjilbab di Indonesia
Written By Unknown on Senin, 17 Juni 2013 | 06.38
Jilbab bukan jadi penghalang seorang muslimah untuk bekerja secara
profesional dan berprestasi. Termasuk prestasi di kepolisian dan
militer.
Salah satunya adalah AKP Fitrisia Kamila, seorang Kapolsek muslimah pertama di wilayah hukum polres Langsa yang dilantik pada Selasa, 11 Desember 2012.
Jabatan Kapolsek didapat Kamila bukan karena kecantikannya, tetapi memang melalui jenjang karir yang panjang.
Kapolsek berparas cantik dengan berjilbab ini, lahir di Pekan Baru 8 Juli 1983 silam. Ia lulusan Akademi Polisi tahun 2005. Selepas Lulus pendidikan AKP, Kamila ditugaskan pertama kali di Polres Banda Aceh, tahun 2010 hingga 2011, kemudian dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Darul Imarah di Aceh Besar yang masuk wilayah hukum Polrestas Banda Aceh.
Usai bertugas di sana ia kemudian dipindahtugaskan ke Polres Langsa sebagai Kasubbag Humas Bagian Operasi Polres Langsa. Penghujung tahun 2012 ini ia kemudian dipercayakan kembali sebagai Kapolsek Birem Bayeun. Ibu tiga anak ini bersuamikan seorang anggota TNI Kapten Boby Wijayanto.
Kepada media ia menuturkan bahwa saat pertama kali ditugaskan ia sempat menghadapi kendala yaitu masalah perbedaan bahasa. Namun, demi pengabdiannya kepada negara dan masyarakat ia terus berusaha untuk mempelajari bahasa Aceh.
Di Polsek Birem Bayeun katanya, membawahi 27 gampong. Ia pun telah memiliki sejumlah agenda untuk mengayomi masyarakat.
“Langkah pertama adalah dengan lebih proaktif melakukan pertemuan dengan geuchik dan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan demikian ia berharap dapat menciptakan suasana kemanan dan ketertiban masyarakat yang lebih kondusif.
Jadi polwan berjilbab bukan halangan untuk tetap berprestasi dan mengabdi bagi bangsa dan negara. (sbb/ajtp/dakwatuna/islamedia)
Salah satunya adalah AKP Fitrisia Kamila, seorang Kapolsek muslimah pertama di wilayah hukum polres Langsa yang dilantik pada Selasa, 11 Desember 2012.
Jabatan Kapolsek didapat Kamila bukan karena kecantikannya, tetapi memang melalui jenjang karir yang panjang.
Kapolsek berparas cantik dengan berjilbab ini, lahir di Pekan Baru 8 Juli 1983 silam. Ia lulusan Akademi Polisi tahun 2005. Selepas Lulus pendidikan AKP, Kamila ditugaskan pertama kali di Polres Banda Aceh, tahun 2010 hingga 2011, kemudian dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Darul Imarah di Aceh Besar yang masuk wilayah hukum Polrestas Banda Aceh.
Usai bertugas di sana ia kemudian dipindahtugaskan ke Polres Langsa sebagai Kasubbag Humas Bagian Operasi Polres Langsa. Penghujung tahun 2012 ini ia kemudian dipercayakan kembali sebagai Kapolsek Birem Bayeun. Ibu tiga anak ini bersuamikan seorang anggota TNI Kapten Boby Wijayanto.
Kepada media ia menuturkan bahwa saat pertama kali ditugaskan ia sempat menghadapi kendala yaitu masalah perbedaan bahasa. Namun, demi pengabdiannya kepada negara dan masyarakat ia terus berusaha untuk mempelajari bahasa Aceh.
Di Polsek Birem Bayeun katanya, membawahi 27 gampong. Ia pun telah memiliki sejumlah agenda untuk mengayomi masyarakat.
“Langkah pertama adalah dengan lebih proaktif melakukan pertemuan dengan geuchik dan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan demikian ia berharap dapat menciptakan suasana kemanan dan ketertiban masyarakat yang lebih kondusif.
Jadi polwan berjilbab bukan halangan untuk tetap berprestasi dan mengabdi bagi bangsa dan negara. (sbb/ajtp/dakwatuna/islamedia)
Label:
Catatan Muslimah
08.21
POLRI: Peraturan Jilbab Bisa Diubah
Written By Unknown on Jumat, 14 Juni 2013 | 08.21
Kapolri Jenderal Timur Pradopo menyatakan,
tidak tertutup kemungkinan aturan yang ditetapkan oleh pimpinan di
kepolisian diubah.
Pernyataan tersebut menyusul desakan untuk melonggarkan aturan yang membatasi penggunaan jilbab di kalangan polisi wanita (polwan).
Menurut Kapolri, semua aturan yang berlaku di Polri dapat berubah sesuai dengan dinamika sosial. Termasuk, mengenai aturan pengunaan seragam yang ditentukan bagi setiap anggotanya.
Hal ini ia sampaikan di sela-sela acara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah pejabat kapolda di Mabes Polri, Rabu (13/6). Timur menegaskan, semua aturan yang ditetapkan oleh Kapolri diupayakan merangkul semua kepentingan dari setiap anggotanya.
Sebagai institusi, Polri juga merupakan lembaga terbuka bagi semua aspirasi anggotanya. “Begitu juga dengan aspirasi sejumlah polwan yang ingin berjilbab,” ujar Kapolri.
Ia menegaskan, sejatinya kepolisian tak melarang polwan berjilbab. Meski demikian, memang belum ada aturan jelas soal penggunaan jilbab.
Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menjelaskan, peraturan seragam saat ini juga merupakan revisi. Peraturan Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005 yang kini berlaku, menurutnya, menyusul kewajiban berjilbab bagi polwan Muslim di Aceh yang terbit pada 2004.
Melalui peraturan itu, Polri menegaskan bahwa pengenaan jilbab bukan termasuk seragam bagi polwan di luar Aceh. Intinya, kata Agus, surat itu justru membuktikan Polri tak menutup pintu perubahan aturan. “Angka 702 dalam skep itu, kan adalah lambang adanya revisi dalam aturan tersebut, jadi ya kami terbuka,” kata Agus.
Namun, ketika ditanya apakah polwan berhak mengirimkan langsung surat kepada Kapolri agar permintaanya terkait jilbab dapat dikabulkan, Agus berujar biar semuanya diserahkan kepada pimpinan Polri. Dia mengatakan, tentu semua yang dirasakan anggotanya akan ditampung oleh Polri selama perasaan itu tampak nyata terjadi.
Ia menegaskan, sebelum ada peraturan baru, para polwan mesti menunda keinginan berjilbab. “Kira-kira demikian yang ingin pimpinan Polri sampaikan. Mohon menjadi pesan juga (untuk polwan) selama belum ada perubahan. laksanakan dulu yang ada,” kata Agus.
Pernyataan Polri kali ini menjawab tekanan masyarakat Muslim dan keinginan sejumlah polwan yang menuntut pelonggaran pembatasan jilbab untuk polwan. Sebelumnya, beberapa kali Polri mengatakan, penggunaan jilbab tidak sesuai aturan sehingga belum diperkenankan, bahkan bagi yang nekat berhijab akan dikategorikan sebagai pelanggar.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengecam aturan yang membatasi polwan untuk berjilbab. “Itu adalah kebijakan yang tidak bijak,” ujarnya. Din menanggapi aturan Polri soal seragam yang menutup celah penggunaan jilbab oleh polwan.
Menurut Din, kebijakan yang melarang polwan berjilbab melanggar konstitusi. Ia menegaskan, pada UUD 1945 Pasal 29 negara menjamin hak-hak warga negaranya dalam menjalankan ibadah sesuai agama yang dipeluknya.
Pemakaian jilbab, kata Din, merupakan ibadah karena itu merupakan salah satu pelaksanaan dalam syariat Islam bagi perempuan. Jika seorang Muslimah ingin mengenakan jilbab, menurutnya, tidak boleh ada yang melarang.
Aparatur negara, seperti kepolisian, harus bisa memberikan dispensasi melalui ketentuan umum. “Jika itu bisa dilaksanakan, berarti kepolisian bisa menjalankan amar dari konstitusi,” ujarnya. Petugas polwan yang ingin memakai jilbab, kata Din, harus dihormati, dihargai, dan tidak dianggap sebagai pelanggaran.[ROL/im]Islamedia
Pernyataan tersebut menyusul desakan untuk melonggarkan aturan yang membatasi penggunaan jilbab di kalangan polisi wanita (polwan).
Menurut Kapolri, semua aturan yang berlaku di Polri dapat berubah sesuai dengan dinamika sosial. Termasuk, mengenai aturan pengunaan seragam yang ditentukan bagi setiap anggotanya.
Hal ini ia sampaikan di sela-sela acara serah terima jabatan (sertijab) sejumlah pejabat kapolda di Mabes Polri, Rabu (13/6). Timur menegaskan, semua aturan yang ditetapkan oleh Kapolri diupayakan merangkul semua kepentingan dari setiap anggotanya.
Sebagai institusi, Polri juga merupakan lembaga terbuka bagi semua aspirasi anggotanya. “Begitu juga dengan aspirasi sejumlah polwan yang ingin berjilbab,” ujar Kapolri.
Ia menegaskan, sejatinya kepolisian tak melarang polwan berjilbab. Meski demikian, memang belum ada aturan jelas soal penggunaan jilbab.
Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Agus Rianto menjelaskan, peraturan seragam saat ini juga merupakan revisi. Peraturan Kapolri No Pol: Skep/702/IX/2005 yang kini berlaku, menurutnya, menyusul kewajiban berjilbab bagi polwan Muslim di Aceh yang terbit pada 2004.
Melalui peraturan itu, Polri menegaskan bahwa pengenaan jilbab bukan termasuk seragam bagi polwan di luar Aceh. Intinya, kata Agus, surat itu justru membuktikan Polri tak menutup pintu perubahan aturan. “Angka 702 dalam skep itu, kan adalah lambang adanya revisi dalam aturan tersebut, jadi ya kami terbuka,” kata Agus.
Namun, ketika ditanya apakah polwan berhak mengirimkan langsung surat kepada Kapolri agar permintaanya terkait jilbab dapat dikabulkan, Agus berujar biar semuanya diserahkan kepada pimpinan Polri. Dia mengatakan, tentu semua yang dirasakan anggotanya akan ditampung oleh Polri selama perasaan itu tampak nyata terjadi.
Ia menegaskan, sebelum ada peraturan baru, para polwan mesti menunda keinginan berjilbab. “Kira-kira demikian yang ingin pimpinan Polri sampaikan. Mohon menjadi pesan juga (untuk polwan) selama belum ada perubahan. laksanakan dulu yang ada,” kata Agus.
Pernyataan Polri kali ini menjawab tekanan masyarakat Muslim dan keinginan sejumlah polwan yang menuntut pelonggaran pembatasan jilbab untuk polwan. Sebelumnya, beberapa kali Polri mengatakan, penggunaan jilbab tidak sesuai aturan sehingga belum diperkenankan, bahkan bagi yang nekat berhijab akan dikategorikan sebagai pelanggar.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Syamsuddin mengecam aturan yang membatasi polwan untuk berjilbab. “Itu adalah kebijakan yang tidak bijak,” ujarnya. Din menanggapi aturan Polri soal seragam yang menutup celah penggunaan jilbab oleh polwan.
Menurut Din, kebijakan yang melarang polwan berjilbab melanggar konstitusi. Ia menegaskan, pada UUD 1945 Pasal 29 negara menjamin hak-hak warga negaranya dalam menjalankan ibadah sesuai agama yang dipeluknya.
Pemakaian jilbab, kata Din, merupakan ibadah karena itu merupakan salah satu pelaksanaan dalam syariat Islam bagi perempuan. Jika seorang Muslimah ingin mengenakan jilbab, menurutnya, tidak boleh ada yang melarang.
Aparatur negara, seperti kepolisian, harus bisa memberikan dispensasi melalui ketentuan umum. “Jika itu bisa dilaksanakan, berarti kepolisian bisa menjalankan amar dari konstitusi,” ujarnya. Petugas polwan yang ingin memakai jilbab, kata Din, harus dihormati, dihargai, dan tidak dianggap sebagai pelanggaran.[ROL/im]Islamedia
Label:
Catatan Muslimah
19.15
Salah seorang dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan dipecat karena menggunting paksa jilbab dan rok dua orang mahasiswi kampus tersebut.
Menurut laporan berbagai situs, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar telah memecat dosen pelaku tindakan tersebut dilakukan pada Ahad (02/06/2013) lalu.
“Pihak institusi sudah mengambil langkah tegas dengan menon-aktifkan oknum dosen tersebut,” kata Yasir, Ahad (02/06).
Tragedi Pengguntingan Jilbab & Rok Mahasiswi di STIKES Nani Hasanuddin
Written By Unknown on Selasa, 11 Juni 2013 | 19.15
Salah seorang dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan dipecat karena menggunting paksa jilbab dan rok dua orang mahasiswi kampus tersebut.
Menurut laporan berbagai situs, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Nani Hasanuddin Makassar telah memecat dosen pelaku tindakan tersebut dilakukan pada Ahad (02/06/2013) lalu.
“Pihak institusi sudah mengambil langkah tegas dengan menon-aktifkan oknum dosen tersebut,” kata Yasir, Ahad (02/06).
Kasus pengguntingan jilbab dan rok mahasiswi STIKES Nani Hasanuddin Makassar sebenarnya berawal dari tindakan yang dilakukan oleh salah seorang dosen berinisial HR terhadap dua orang mahasiswi Program Studi DIII Kebidanan STIKES Nani Hasanuddin Makassar angkatan 2011 bernama Asmi Ruslan dan Deci Sriawati yang dianggap melanggar peraturan.
Menurut Yasir, dosen HR melakukan pengguntingan itu di depan 100 mahasiswi angkatan 2012 dengan alasan kedua mahasiswi itu melakukan pelanggaran peraturan kampus mengenai busana akademik. Kedua mahasiswi itu mengenakan jilbab di luar standar dan rok sementara peraturan kampus mewajibkan mahasiswinya memakai celana dinas (bukan rok_red) dan jilbab standar yang menutup dada.
Selanjutnya, dosen menghukum kedua mahasiswi dengan menggunting jilbab dan rok keduanya sebagai bentuk pendisiplinan dan efek jera kepada keduanya agar tidak mengulanginya. Namun tindakan sang dosen ternyata berbuntut panjang karena dianggap berlebihan dan melanggar HAM.
Atas tindakan itu, sang dosen telah membuat surat pernyataan maaf yang ia tujukan untuk mahasiswi yang bersangkutan dan masyarakat luas, khususnya umat Muslim. Sementara pihak kampus menindaklanjuti dengan mengubah peraturan mengenai busana akademik kampus itu.
Permintaan Maaf STIKES
Melalui Ketuanya, pihak STIKES Nani Hasanuddin Makassar menyatakan permintaan maaf secara tertulis. Berikut pernyataan Ketua STIKES Nani Hasanuddin, Yasir Haskas, SE., M.MKes.
Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segenap keluarga besar dan senat STIKES Nani Hasanuddin Makassar memohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf yang telah dilakukan oleh salah seorang dosen kami yang berinisial HR atas perlakuan di luar kontrol yang dilakukan kepada mahasiswa kebidanan di kampus. Sebagai konsekuensi dari masalah tersebut maka kami telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan yang bersangkutan di institusi. Semoga permohonan maaf ini bisa diterima kepada semua pihak, insya Allah kita selalu berada pada jalan kebenaran Amin.
Makassar, 02 Juni 2013 Ketua STIKES Nani Hasanuddin
STIKES Nani Hasanuddin Ubah Peraturan
Pihak pimpinan kampus merespon lebih lanjut peristiwa pengguntingan Jilbab & Rok dengan mengubah peraturan seragam di kampus kesehatan itu. Melalui Surat Keputusan yang ditandatangani Ketua STIKES Nani Hasanuddin Makassar Yasir Haskas, SE., M.MKes. tanggal 3 Juni 2013 No. 1294/STIKES-NH/VI/2013 tentang Perubahan Peraturan Akademik No. 4238/SK/STIKES-NH/VI/2012, pihak Kampus STIKES Nani Hasanuddin membuat perubahan beberapa poin pada Bab VII pasal 32 tentang Busana Akademik.
(esqiel/dbs/muslimahzone.com)
Menurut Yasir, dosen HR melakukan pengguntingan itu di depan 100 mahasiswi angkatan 2012 dengan alasan kedua mahasiswi itu melakukan pelanggaran peraturan kampus mengenai busana akademik. Kedua mahasiswi itu mengenakan jilbab di luar standar dan rok sementara peraturan kampus mewajibkan mahasiswinya memakai celana dinas (bukan rok_red) dan jilbab standar yang menutup dada.
Selanjutnya, dosen menghukum kedua mahasiswi dengan menggunting jilbab dan rok keduanya sebagai bentuk pendisiplinan dan efek jera kepada keduanya agar tidak mengulanginya. Namun tindakan sang dosen ternyata berbuntut panjang karena dianggap berlebihan dan melanggar HAM.
Atas tindakan itu, sang dosen telah membuat surat pernyataan maaf yang ia tujukan untuk mahasiswi yang bersangkutan dan masyarakat luas, khususnya umat Muslim. Sementara pihak kampus menindaklanjuti dengan mengubah peraturan mengenai busana akademik kampus itu.
Permintaan Maaf STIKES
Melalui Ketuanya, pihak STIKES Nani Hasanuddin Makassar menyatakan permintaan maaf secara tertulis. Berikut pernyataan Ketua STIKES Nani Hasanuddin, Yasir Haskas, SE., M.MKes.
Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Segenap keluarga besar dan senat STIKES Nani Hasanuddin Makassar memohon maaf yang sebesar-besarnya atas khilaf yang telah dilakukan oleh salah seorang dosen kami yang berinisial HR atas perlakuan di luar kontrol yang dilakukan kepada mahasiswa kebidanan di kampus. Sebagai konsekuensi dari masalah tersebut maka kami telah mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan yang bersangkutan di institusi. Semoga permohonan maaf ini bisa diterima kepada semua pihak, insya Allah kita selalu berada pada jalan kebenaran Amin.
Makassar, 02 Juni 2013 Ketua STIKES Nani Hasanuddin
STIKES Nani Hasanuddin Ubah Peraturan
Pihak pimpinan kampus merespon lebih lanjut peristiwa pengguntingan Jilbab & Rok dengan mengubah peraturan seragam di kampus kesehatan itu. Melalui Surat Keputusan yang ditandatangani Ketua STIKES Nani Hasanuddin Makassar Yasir Haskas, SE., M.MKes. tanggal 3 Juni 2013 No. 1294/STIKES-NH/VI/2013 tentang Perubahan Peraturan Akademik No. 4238/SK/STIKES-NH/VI/2012, pihak Kampus STIKES Nani Hasanuddin membuat perubahan beberapa poin pada Bab VII pasal 32 tentang Busana Akademik.
(esqiel/dbs/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
10.55
Padang - Sejumlah masyarakat yang terdiri dari organisasi masyarakat Paga Nagari, Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) dan tokoh perantau Minangkabau meminta Hanung Bramantyo selaku supervisi dalam film Cinta Tapi Beda agar datang ke Minangkabau dalam kurun waktu 5x24 jam.
Hal ini disampaikan dalam jumpa pers, Kamis (10/1) di DPRD Sumbar. Menurut Ketua Paga Nagari Ibnu Aqil D.Ghani, kedatangan Hanung ke Minangkabau ini akan dijamin aman. Tujuannya untuk meminta pertangungjawaban Hanung yang dianggap melecehkan masyarakat Minangkabau melalui film Cinta Tapi Beda. Hanung harus mempertangungjawabkan perbuatannya di depan tokoh adat Minang. Menurut tetua adat Azwir Datuak Rajo Malano, perbuatan Hanung sudah tergolong kesalahan berat. Hukuman yang pantas adalah minimal menjalani pengabdian di Minangkabau selama 20 tahun. “Pengabdian ini berarti melakukan kegiatan kerja bakti. Dulu namanya, kerja paksa,” ujar Azwir.
(Film 'Cinta Tapi Beda') Hanung Diminta Datang ke Sumbar
Written By Unknown on Jumat, 11 Januari 2013 | 10.55
Padang - Sejumlah masyarakat yang terdiri dari organisasi masyarakat Paga Nagari, Majelis Tinggi Kerapatan Adat Alam Minangkabau (MTKAAM) dan tokoh perantau Minangkabau meminta Hanung Bramantyo selaku supervisi dalam film Cinta Tapi Beda agar datang ke Minangkabau dalam kurun waktu 5x24 jam.
Hal ini disampaikan dalam jumpa pers, Kamis (10/1) di DPRD Sumbar. Menurut Ketua Paga Nagari Ibnu Aqil D.Ghani, kedatangan Hanung ke Minangkabau ini akan dijamin aman. Tujuannya untuk meminta pertangungjawaban Hanung yang dianggap melecehkan masyarakat Minangkabau melalui film Cinta Tapi Beda. Hanung harus mempertangungjawabkan perbuatannya di depan tokoh adat Minang. Menurut tetua adat Azwir Datuak Rajo Malano, perbuatan Hanung sudah tergolong kesalahan berat. Hukuman yang pantas adalah minimal menjalani pengabdian di Minangkabau selama 20 tahun. “Pengabdian ini berarti melakukan kegiatan kerja bakti. Dulu namanya, kerja paksa,” ujar Azwir.
Hal ini sudah sesuai UUD 1945 pasal 18 B ayat 2. Menyebutkan, negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat serta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang. “Hukum adat Minangkabau masih berlaku di Sumbar. Jadi hukum adat ini bisa dipakai untuk kasus Hanung,” jelasnya.
Penerapan sanksi adat ini juga pernah terjadi dulunya, kata Ketua MTKAAM Irfianda Abidin Datuak Pangulu Basa. Yaitu terhadap Komandan Komando Distrik Militer 0309 Solok, Sumbar, Letnan Kolonel Infantri Untung Sunanto, tahun 2007 lalu. Akibat perbuataannya yang menewaskan warga, Untung diwajibkan membayar denda satu ekor kerbau atau senilai Rp10 juta. Hukuman terhadap Hanung ini, tambah Azwir, masuk dalam kategori hukum adat yang disebut tuok palang yang berarti hukum yang berlaku bagi anak di luar Minangkabau. Sedangkan hukum yang berlaku bagi anak nagari bernama guliang batang.
Dalam jumpa pers, elemen masayarakat menyatakan Hanung telah sengaja melecehkan orang Minang. Seperti cerita yang menunjukkan Diana, tokoh dalam film tersebut, yang menyukai makanan yang bahan dasarnya babi. Ditambah lagi, seperti yang diungkapkan banyak pihak, Diana yang dicerminkan sebagai gadis Padang penganut Katolik yang taat, tidak mencerminkan masyarakat Minangkabau.
Seperti diungkapkan Eis dan Rifki perantau dari Minangkabau, yang mengatakan masyarakat di luar Sumbar sudah mengganggap Padang itu sebagai Minangkabau. Tidak lagi Padang sebagai sebuah kota di Sumbar. Dalam jumpa pers ini, masyarakat ini juga mempertanyakan beberapa pihak yang tidak memberikan respon terhadap pelecehan ini. Seperti, Komnas HAM. “Karena, pelecehan terhadap Minangkabau ini merupakan bentuk menghormati HAM Hanung yang membuat film. Artinya, Hanung diberikan kebebasan berekspresi. Harusnya Komnas HAM bisa menilai ini sebagai tindakan negatif, tidak positif,” ujar Azwir. [ton]
Penerapan sanksi adat ini juga pernah terjadi dulunya, kata Ketua MTKAAM Irfianda Abidin Datuak Pangulu Basa. Yaitu terhadap Komandan Komando Distrik Militer 0309 Solok, Sumbar, Letnan Kolonel Infantri Untung Sunanto, tahun 2007 lalu. Akibat perbuataannya yang menewaskan warga, Untung diwajibkan membayar denda satu ekor kerbau atau senilai Rp10 juta. Hukuman terhadap Hanung ini, tambah Azwir, masuk dalam kategori hukum adat yang disebut tuok palang yang berarti hukum yang berlaku bagi anak di luar Minangkabau. Sedangkan hukum yang berlaku bagi anak nagari bernama guliang batang.
Dalam jumpa pers, elemen masayarakat menyatakan Hanung telah sengaja melecehkan orang Minang. Seperti cerita yang menunjukkan Diana, tokoh dalam film tersebut, yang menyukai makanan yang bahan dasarnya babi. Ditambah lagi, seperti yang diungkapkan banyak pihak, Diana yang dicerminkan sebagai gadis Padang penganut Katolik yang taat, tidak mencerminkan masyarakat Minangkabau.
Seperti diungkapkan Eis dan Rifki perantau dari Minangkabau, yang mengatakan masyarakat di luar Sumbar sudah mengganggap Padang itu sebagai Minangkabau. Tidak lagi Padang sebagai sebuah kota di Sumbar. Dalam jumpa pers ini, masyarakat ini juga mempertanyakan beberapa pihak yang tidak memberikan respon terhadap pelecehan ini. Seperti, Komnas HAM. “Karena, pelecehan terhadap Minangkabau ini merupakan bentuk menghormati HAM Hanung yang membuat film. Artinya, Hanung diberikan kebebasan berekspresi. Harusnya Komnas HAM bisa menilai ini sebagai tindakan negatif, tidak positif,” ujar Azwir. [ton]
Label:
Catatan Muslimah
21.16
Jakarta - Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak sutradara film "Cinta Tapi Beda" Hanung Bramantyo supaya meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.
"Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini," kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi dalam pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Kamis (3/1/2013).
KMM Jaya meminta agar Hanung Bramantyo yang menyutradarai film ini meminta maaf kepada mahasiswa dan masyarakat Minang dan menghentikan penayangan film ini di bioskop. Alasannya karena dapat merusak sendi-sendi adat dan budaya masyarakat Minang dalam berkehidupan sehari-hari yang sangat menjaga hubungan antarsesama.
"Kami mencium ada agenda terselubung dari orang-orang yang mendukung film ini menghancurkan adat dan budaya masyarakat di Indonesia," lanjut Rozi. Menurut Rozi, alur cerita film ini menyimpang dari falsafah "Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK)" yang berlaku di tanah Minang. Sebab sebagian lokasi shootingnya di Padang, Sumatera Barat.
"Film ini memutarbalikkan fakta dan memojokkan masyarakat Minang yang kental adatnya dengan agama Islam," tandasnya. Film besutan sineas liberal Hanung Bramantyo bercerita tentang pernikahan beda agama. Hanung ingin mengambarkan kisah cinta antara seorang gadis Minang beragama Katolik dan lelaki Jawa beragama Islam.
Kedua orang itu masing-masing akan dijodohkan oleh kedua orang masing-masing dengan calon pilihan keluarga yang seiman. Namun rupanya keduanya tidak mau dengan pilihan itu dan malah pada akhirnya mereka bertemu. "Sekedar catatan, film semacam ini sebenarnya gampang ditebak arahnya kemana. Baik arah alur cerita, maupun arah misi yang ‘menunggangi’ film ini. Selain bisa ditebak dari judulnya, juga bisa ditebak pada ending dari film ini yang tidak memberi gambaran pasti, kasus pernikahan beda agama ini bagaimana teknis dan hukum agamanya," kata penggemar film, Musthofa B Nahrawardaya, dalam resensinya.
Mahasiswa Minang Tuntut Hanung Minta Maaf dan Hentikan Penayangan Film Cinta Tapi Beda
Written By Unknown on Jumat, 04 Januari 2013 | 21.16
Jakarta - Keluarga Mahasiswa Minang Jaya (KMM Jaya) mendesak sutradara film "Cinta Tapi Beda" Hanung Bramantyo supaya meminta maaf kepada masyarakat Minangkabau sekaligus menghentikan penayangan film tersebut di bisokop-bioskop.
"Kami pengurus pengurus pusat Keluarga Mahasiswa Minangkabau Jaya (KMM JAYA) sangat terusik (terhina) dengan film ini," kata pengurus pusat KMM Jaya Muhammad Rozi dalam pernyataannya yang diterima Suara Islam Online, Kamis (3/1/2013).
KMM Jaya meminta agar Hanung Bramantyo yang menyutradarai film ini meminta maaf kepada mahasiswa dan masyarakat Minang dan menghentikan penayangan film ini di bioskop. Alasannya karena dapat merusak sendi-sendi adat dan budaya masyarakat Minang dalam berkehidupan sehari-hari yang sangat menjaga hubungan antarsesama.
"Kami mencium ada agenda terselubung dari orang-orang yang mendukung film ini menghancurkan adat dan budaya masyarakat di Indonesia," lanjut Rozi. Menurut Rozi, alur cerita film ini menyimpang dari falsafah "Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK)" yang berlaku di tanah Minang. Sebab sebagian lokasi shootingnya di Padang, Sumatera Barat.
"Film ini memutarbalikkan fakta dan memojokkan masyarakat Minang yang kental adatnya dengan agama Islam," tandasnya. Film besutan sineas liberal Hanung Bramantyo bercerita tentang pernikahan beda agama. Hanung ingin mengambarkan kisah cinta antara seorang gadis Minang beragama Katolik dan lelaki Jawa beragama Islam.
Kedua orang itu masing-masing akan dijodohkan oleh kedua orang masing-masing dengan calon pilihan keluarga yang seiman. Namun rupanya keduanya tidak mau dengan pilihan itu dan malah pada akhirnya mereka bertemu. "Sekedar catatan, film semacam ini sebenarnya gampang ditebak arahnya kemana. Baik arah alur cerita, maupun arah misi yang ‘menunggangi’ film ini. Selain bisa ditebak dari judulnya, juga bisa ditebak pada ending dari film ini yang tidak memberi gambaran pasti, kasus pernikahan beda agama ini bagaimana teknis dan hukum agamanya," kata penggemar film, Musthofa B Nahrawardaya, dalam resensinya.
Label:
Catatan Muslimah
21.50
Written By Unknown on Sabtu, 27 Agustus 2011 | 21.50
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin memastikan 1 Syawal 1432 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2011 jatuh pada 30 Agustus 2011. Keputusan itu berdasarkan pada metode hisab hakiki atau perhitungan yang dilakukan oleh majelis tarjih. ”Muhammadiyah Lebaran tanggal 30 Agustus,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 27 Agustus 2011.
Hasil perhitungan itu menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadan 1432 Hijriah akan terjadi pada 29 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1432 H antara 10.04.03 WIB sampai pukul 10.05.16 WIB. Pada saat itu, matahari terbenam pada pukul 17.30.53 WIB dengan "hilal" (rembulan usia muda sebagai pertanda awal bulan/kalender) akan terlihat pada ketinggian 1 derajat 55 menit 11 detik hingga 2 derajat.
"Dengan tampaknya hilal ini, kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadan," kata dia. Menurut Din, tahun ini Lebaran berpotensi tidak sama. Biasanya, perbedaan Lebaran terjadi sekali dalam empat tahun.
Namun ia meminta semua pihak tidak membesar-besarkan masalah tersebut. Setiap organisasi keagamaan memiliki keyakinan dalil dan hadis sendiri-sendiri. ”Artinya ada alasan-alasan kenapa berbeda. Dan itu sudah biasa,” kata dia. Dia juga meminta pemerintah mengayomi semua organisasi yang memiliki perbedaan pandangan tersebut. Tidak boleh memihak salah satu karena mereka memiliki alasan yang berbeda. ”Pemerintah tidak boleh berpihak,” ujarnya. MUHAMMAD TAUFIK(TEMPO Interaktif)
"Dengan tampaknya hilal ini, kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadan," kata dia. Menurut Din, tahun ini Lebaran berpotensi tidak sama. Biasanya, perbedaan Lebaran terjadi sekali dalam empat tahun.
Namun ia meminta semua pihak tidak membesar-besarkan masalah tersebut. Setiap organisasi keagamaan memiliki keyakinan dalil dan hadis sendiri-sendiri. ”Artinya ada alasan-alasan kenapa berbeda. Dan itu sudah biasa,” kata dia. Dia juga meminta pemerintah mengayomi semua organisasi yang memiliki perbedaan pandangan tersebut. Tidak boleh memihak salah satu karena mereka memiliki alasan yang berbeda. ”Pemerintah tidak boleh berpihak,” ujarnya. MUHAMMAD TAUFIK(TEMPO Interaktif)
Label:
Catatan Muslimah
21.04
Majalah itu menggambarkan Rahnavard sebagai otak di balik Revolusi Hijau Iran dan kampanye suaminya.
Dijuluki sebagai Michelle Obama-nya Iran, Rahnavard berkampanye untuk suaminya yang mencalonkan diri dalam pemilu presidensial bulan Juni lalu.
Pemegang gelar doktoral dalam ilmu politik, wanita berusia 64 tahun ini pernah menjabat sebagai penasihat Mohamed Khatami, presiden Iran dari tahun 1997 hingga 2005.
Rahnavard adalah peneliti Al Quran dan penulis beberapa buku tentang seni dan politik.
Seorang advokat hak-hak wanita, ia telah lama mengkampanyekan pemberdayaan ekonomi kaum wanita dan mengubah hukum Iran yang cenderung diskriminatif terhadap para wanita.
Sayyid Imam al Sharif, pemimpin spiritual kelompok militan jihad Mesir, berada di posisi ke-10 dalam daftar tahunan majalah tersebut.
"Ia menyusun Merasionalisasi Jihad di Mesir dan di Dunia, sebuah revisi lengkap dari dukungannya yang terdahulu terhadap perang relijius."
Imam, pendiri awal Al Qaeda bersama dengan rekan lamanya Ayman Al Zawahiri, menulis dua buku yang dianggap sebagai pondasi ideologis bagi jihad.
Namun di tahun 2007, ia mengakui di hadapan publik bahwa ia telah mengubah pemahamannya yang terdahulu, menyerukan untuk merasionalisasi jihad.
"Karyanya ini, yang telah menyebar ke seluruh lingkaran jihad, melemahkan legitimasi Al Qaeda dan kelompok-kelompok sejenis lainnya dengan menggunakan narasi teologis mereka sendiri," ujar majalah tersebut.
Ekonom Muslim Amerika Mohamed El Erian berada di peringkat ke-16 dalam daftar "100 Pemikir Utama Global".
"El Erian ikut memimpin salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia, Pimco, Pacific Investment Management Company, yang memiliki aset USD 842 miliar."
Seorang spesialis dalam pasar baru di IMF, ia menjadi kepala penegakan agama di Harvard sebelum bergabung dengan dunia bisnis.
Strategi investasinya dipuji membantu mengubah Pimco menjadi perusahaan investasi terbesar di dunia.
Mantan menteri keuangan Afghanistan Ashraf Ghani berada di ranking 20 untuk usahanya memberantas korupsi.
Majalah itu juga memasukkan mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim di posisi ke-32 atas perjuangan pro-demokrasinya.
Jurnalis terkenal, Fareed Zakaria, seorang Muslim Amerika keturunan India, berada di peringkat ke-37 karena mendefinisikan batas kekuasaan Amerika dan mengerahkan diskusi publik yang paling cerdas tentang hal itu.
Banker Bangladesh dan pemenang Nobel Muhammad Yunus berada di posisi ke-46 atas perannya memerangi kemiskinan.
Dijuluki "banker orang miskin", mantan profesor ekonomi ini dan bank Grameen-nya mendapat penghargaan Nobel atas upaya akar rumputnya untuk mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan.
Bank yang mentarget kaum wanita karena meyakini bahwa mereka lebih baik daripada laki-laki dalam mengelola keuangan keluarga ini menawarkan pinjaman kecil ke para peminjam miskin untuk membantu mereka membuka usaha.
Pemikir Muslim dari Swiss Tariq Ramadan berada di urutan ke-49 dalam daftar majalah itu. Disebutkan bahwa Ramadan mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa Islam sesuai dengan kehidupan Barat.
"Ramadan ingin menyampaikan Islam yang sesuai dengan demokrasi Eropa (di mana ia tumbuh dan kini bertempat tinggal), salah satu advokat yang terlibat dalam realita politik dunia."
Seorang warga negara Swiss keturunan Mesir, Ramadan adalah salah satu pemikir terdepan Muslim di Eropa dan telah seringkali mengecam terorisme dan ekstremisme.
Ia juga seorang profesor Studi Islam di Universitas Oxford dan peneliti di Universitas Doshisha, Jepang.
Penulis 20 buku dan 700 artikel tentang Islam, ia dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu dari 100 inovator abad 21 untuk kinerjanya dalam menciptakan Islam Eropa yang independen.
"Selama hidupnya, cucu pendiri Persaudaraan Muslim Hassan al Banna ini telah menjadi sebuah kontradiksi berjalan. Seorang intelektual Islam yang menganut demokrasi namun meyakini bahwa hukum relijius bersifat universal."
Penulis Pakistan Ahmed Rashid berada di posisi ke-51 untuk tulisannya tentang bahaya global di Asia Selatan.
Majalah itu juga memasukkan Perdana Menteri Palestina, Salam Fayyad, di posisi ke- 61 karena menunjukkan bagaimana memimpin dengan efektif di tengah-tengah konflik. (rin/io) www.suaramedia.com
Deretan Muslim Dalam 100 Tokoh Pemikir Global
Written By Unknown on Sabtu, 20 Agustus 2011 | 21.04
WASHINGTON – Majalah berpengaruh Foreign Policy baru
saja mengeluarkan daftar "100 Pemikir Utama Global", memberikan sepuluh
tempat bagi profesor, akademisi, politisi, banker, dan jurnalis Muslim.
Zahra Rahnavard, istri pemimpin oposisi Iran Mir Hossein Mousavi,
berada di ranking ketiga dalam daftar itu, persis di bawah pemimpin US
Federal Reserve Ben Bernanke yang terpilih karena mencegah runtuhnya
perekonomian AS, dan Presiden Barack Obama karena mengubah peran Amerika
di dunia.
Majalah itu menggambarkan Rahnavard sebagai otak di balik Revolusi Hijau Iran dan kampanye suaminya.
Dijuluki sebagai Michelle Obama-nya Iran, Rahnavard berkampanye untuk suaminya yang mencalonkan diri dalam pemilu presidensial bulan Juni lalu.
Pemegang gelar doktoral dalam ilmu politik, wanita berusia 64 tahun ini pernah menjabat sebagai penasihat Mohamed Khatami, presiden Iran dari tahun 1997 hingga 2005.
Rahnavard adalah peneliti Al Quran dan penulis beberapa buku tentang seni dan politik.
Seorang advokat hak-hak wanita, ia telah lama mengkampanyekan pemberdayaan ekonomi kaum wanita dan mengubah hukum Iran yang cenderung diskriminatif terhadap para wanita.
Sayyid Imam al Sharif, pemimpin spiritual kelompok militan jihad Mesir, berada di posisi ke-10 dalam daftar tahunan majalah tersebut.
"Ia menyusun Merasionalisasi Jihad di Mesir dan di Dunia, sebuah revisi lengkap dari dukungannya yang terdahulu terhadap perang relijius."
Imam, pendiri awal Al Qaeda bersama dengan rekan lamanya Ayman Al Zawahiri, menulis dua buku yang dianggap sebagai pondasi ideologis bagi jihad.
Namun di tahun 2007, ia mengakui di hadapan publik bahwa ia telah mengubah pemahamannya yang terdahulu, menyerukan untuk merasionalisasi jihad.
"Karyanya ini, yang telah menyebar ke seluruh lingkaran jihad, melemahkan legitimasi Al Qaeda dan kelompok-kelompok sejenis lainnya dengan menggunakan narasi teologis mereka sendiri," ujar majalah tersebut.
Ekonom Muslim Amerika Mohamed El Erian berada di peringkat ke-16 dalam daftar "100 Pemikir Utama Global".
"El Erian ikut memimpin salah satu perusahaan investasi paling sukses di dunia, Pimco, Pacific Investment Management Company, yang memiliki aset USD 842 miliar."
Seorang spesialis dalam pasar baru di IMF, ia menjadi kepala penegakan agama di Harvard sebelum bergabung dengan dunia bisnis.
Strategi investasinya dipuji membantu mengubah Pimco menjadi perusahaan investasi terbesar di dunia.
Mantan menteri keuangan Afghanistan Ashraf Ghani berada di ranking 20 untuk usahanya memberantas korupsi.
Majalah itu juga memasukkan mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim di posisi ke-32 atas perjuangan pro-demokrasinya.
Jurnalis terkenal, Fareed Zakaria, seorang Muslim Amerika keturunan India, berada di peringkat ke-37 karena mendefinisikan batas kekuasaan Amerika dan mengerahkan diskusi publik yang paling cerdas tentang hal itu.
Banker Bangladesh dan pemenang Nobel Muhammad Yunus berada di posisi ke-46 atas perannya memerangi kemiskinan.
Dijuluki "banker orang miskin", mantan profesor ekonomi ini dan bank Grameen-nya mendapat penghargaan Nobel atas upaya akar rumputnya untuk mengentaskan jutaan orang dari kemiskinan.
Bank yang mentarget kaum wanita karena meyakini bahwa mereka lebih baik daripada laki-laki dalam mengelola keuangan keluarga ini menawarkan pinjaman kecil ke para peminjam miskin untuk membantu mereka membuka usaha.
Pemikir Muslim dari Swiss Tariq Ramadan berada di urutan ke-49 dalam daftar majalah itu. Disebutkan bahwa Ramadan mendedikasikan hidupnya untuk membuktikan bahwa Islam sesuai dengan kehidupan Barat.
"Ramadan ingin menyampaikan Islam yang sesuai dengan demokrasi Eropa (di mana ia tumbuh dan kini bertempat tinggal), salah satu advokat yang terlibat dalam realita politik dunia."
Seorang warga negara Swiss keturunan Mesir, Ramadan adalah salah satu pemikir terdepan Muslim di Eropa dan telah seringkali mengecam terorisme dan ekstremisme.
Ia juga seorang profesor Studi Islam di Universitas Oxford dan peneliti di Universitas Doshisha, Jepang.
Penulis 20 buku dan 700 artikel tentang Islam, ia dinobatkan oleh majalah Time sebagai salah satu dari 100 inovator abad 21 untuk kinerjanya dalam menciptakan Islam Eropa yang independen.
"Selama hidupnya, cucu pendiri Persaudaraan Muslim Hassan al Banna ini telah menjadi sebuah kontradiksi berjalan. Seorang intelektual Islam yang menganut demokrasi namun meyakini bahwa hukum relijius bersifat universal."
Penulis Pakistan Ahmed Rashid berada di posisi ke-51 untuk tulisannya tentang bahaya global di Asia Selatan.
Majalah itu juga memasukkan Perdana Menteri Palestina, Salam Fayyad, di posisi ke- 61 karena menunjukkan bagaimana memimpin dengan efektif di tengah-tengah konflik. (rin/io) www.suaramedia.com
Label:
Catatan Muslimah
16.49
Hilal merupakan awal masuknya bulan baru pada kalender Hijriah. Banyak kegiatan penting umat Islam mengambil dasar posisi bulan di langit, seperti Tahun Baru Hijriah, awal shaum Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
"Dengan demikian dipandang penting untuk menyebarluaskan informasi awal bulan baru yang ditandai oleh tampakan hilal," kata Gatot S. Dewa Broto, Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam keterangannya, Jumat (29/7/2011).
Untuk memberikan informasi hilal astronomi secara lebih luas dan terbuka kepada masyarakat, Kementerian Kominfo bekejasama dengan PT Telkom, Observatorium Bosscha serta Fakultas MIPA ITB menyediakan layanan tayangan langsung pengamatan hilal astronomi melalui halaman web.
Pelaksanaan pengamatan hilal tahun ini didukung juga oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Agama, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Karim, Rukyatul Hilal Indonesia, Universitas Mataram, Universitas Hasanuddin, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Lampung dan LAPAN.
"Melalui tayangan langsung ini diharapkan agar masyarakat luas berkesempatan untuk dapat ikut menyaksikan hilal dan memahami fenomena alam yang terkait," tukas Gatot.
Tayangan langsung ini tidak dimaksudkan untuk menjamin bahwa hilal dapat dilihat. Pun demikian, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penampakan hilal. Salah satunya adalah keadaan cuaca pada arah pandang ke bulan/hilal.
"Kondisi cuaca berperan penting pada kualitas hasil penampakan hilal. Proses tayangan langsung ini dilakukan dengan sebenarnya seperti apa yang tampak di langit. Hal ini mutlak dilakukan guna menjamin tersampaikannya informasi hilal secara utuh kepada masyarakat," kata gatot.
Informasi hilal astronomi yang disampaikan ini selanjutnya dapat menjadi salah satu pertimbangan yang diperlukan bagi pengambilan keputusan oleh institusi yang berwenang secara kenegaraan.
Adapun situs yang bisa dikunjungi untuk pengamatan hilal ini adalah: http://hilal.kominfo.go.id, http://bosscha.itb.ac.id/hilal, serta http://bmkg.go.id http://rukyatulhilal.org.
Berikut lokasi pengamatan yang di-relay ke video streaming Hilal Ramadhan dan Syawal dari website Kementerian Kominfo:
Lhoknga – Aceh.
Medan – Sumatera Utara.
Pekanbaru – Riau.
Dermaga TPI Kalianda – Lampung.
Obs. Bosscha Bandung – Jawa Barat.
SPD Lapan Pameungpeuk – Jawa Barat.
Pelabuhan Ratu Sukabumi – Jawa Barat.
Yogyakarta – DIY.
Bangkalan Madura – Jawa Timur.
Denpasar – Bali.
Mataram – NTB.
Kupang – NTT.
SPD Lapan Pontianak – Kalimantan Barat.
Makassar – Sulawesi Selatan.
SPD Lapan Biak – Papua.
( ash / fyk /detikinet.com)
Written By Unknown on Jumat, 29 Juli 2011 | 16.49
Jakarta - Masyarakat saat ini pasti banyak yang menanyakan kepastian, kapan sebenarnya awal puasa atau 1 Ramadhan tiba? Untuk itu diperlukan perhitungan hilal dari sejumlah titik lokasi pengamatan. Ingin ikut memantau? Bisa kok via web.
Hilal merupakan awal masuknya bulan baru pada kalender Hijriah. Banyak kegiatan penting umat Islam mengambil dasar posisi bulan di langit, seperti Tahun Baru Hijriah, awal shaum Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.
"Dengan demikian dipandang penting untuk menyebarluaskan informasi awal bulan baru yang ditandai oleh tampakan hilal," kata Gatot S. Dewa Broto, Kepala Humas dan Pusat Informasi Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam keterangannya, Jumat (29/7/2011).
Untuk memberikan informasi hilal astronomi secara lebih luas dan terbuka kepada masyarakat, Kementerian Kominfo bekejasama dengan PT Telkom, Observatorium Bosscha serta Fakultas MIPA ITB menyediakan layanan tayangan langsung pengamatan hilal astronomi melalui halaman web.
Pelaksanaan pengamatan hilal tahun ini didukung juga oleh Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Agama, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Karim, Rukyatul Hilal Indonesia, Universitas Mataram, Universitas Hasanuddin, Universitas Pendidikan Indonesia, Universitas Lampung dan LAPAN.
"Melalui tayangan langsung ini diharapkan agar masyarakat luas berkesempatan untuk dapat ikut menyaksikan hilal dan memahami fenomena alam yang terkait," tukas Gatot.
Tayangan langsung ini tidak dimaksudkan untuk menjamin bahwa hilal dapat dilihat. Pun demikian, ada beberapa faktor yang mempengaruhi penampakan hilal. Salah satunya adalah keadaan cuaca pada arah pandang ke bulan/hilal.
"Kondisi cuaca berperan penting pada kualitas hasil penampakan hilal. Proses tayangan langsung ini dilakukan dengan sebenarnya seperti apa yang tampak di langit. Hal ini mutlak dilakukan guna menjamin tersampaikannya informasi hilal secara utuh kepada masyarakat," kata gatot.
Informasi hilal astronomi yang disampaikan ini selanjutnya dapat menjadi salah satu pertimbangan yang diperlukan bagi pengambilan keputusan oleh institusi yang berwenang secara kenegaraan.
Adapun situs yang bisa dikunjungi untuk pengamatan hilal ini adalah: http://hilal.kominfo.go.id, http://bosscha.itb.ac.id/hilal, serta http://bmkg.go.id http://rukyatulhilal.org.
Berikut lokasi pengamatan yang di-relay ke video streaming Hilal Ramadhan dan Syawal dari website Kementerian Kominfo:
Lhoknga – Aceh.
Medan – Sumatera Utara.
Pekanbaru – Riau.
Dermaga TPI Kalianda – Lampung.
Obs. Bosscha Bandung – Jawa Barat.
SPD Lapan Pameungpeuk – Jawa Barat.
Pelabuhan Ratu Sukabumi – Jawa Barat.
Yogyakarta – DIY.
Bangkalan Madura – Jawa Timur.
Denpasar – Bali.
Mataram – NTB.
Kupang – NTT.
SPD Lapan Pontianak – Kalimantan Barat.
Makassar – Sulawesi Selatan.
SPD Lapan Biak – Papua.
( ash / fyk /detikinet.com)
Label:
Catatan Muslimah
07.43
Empat bulan kemudian, gadis berusia 20 tahun itu mengatakan seorang manajer distrik dan manajer sumber daya manusia bertanya apakah ia bisa melepaskan jilbab saat bekerja, dan dia diskors dan kemudian dipecat karena menolak untuk melakukannya.
Ini merupakan tuntutan diskriminasi kerja terbaru terhadap apa yang perusahaan itu sebut sebagai "kebijakan lihat," yang para kritikus mengatakan berarti gambaran dari sebagian besar berkulit putih, muda, terlihat atletis.
Abercrombie telah menjadi target tuntutan hukum dari banyak diskriminasi, termasuk gugatan class action federal yang diajukan oleh karyawan kulit hitam, Hispanik dan Asia dan para pelamar pekerjaan yang diselesaikan dengan ganti rugi sebesar $ 40 juta pada tahun 2004. Perusahaan tersebut mengakui tidak ada kesalahan dibuat, meskipun dipaksa untuk melaksanakan program dan kebijakan baru untuk meningkatkan keragaman.
"Tumbuh di negara di mana Bill of Rights menjamin kebebasan beragama, saya merasa dikecewakan," kata Khan, yang seat ini merupakan mahasiswa jurusan ilmu politik, pada konferensi pers. "Kasus ini adalah tentang prinsip-prinsip, hak asasi untuk dapat mengekspresikan kebebasan agama Anda dan dapat bekerja di negara ini."
Abercrombie membela diri dalam rekaman komentar yang diberikan kepada The Associated Press, mengatakan keragaman di toko-toko perusahaan itu "jauh melampaui keragaman dalam populasi Amerika Serikat."
"Kami mematuhi hukum mengenai akomodasi agama yang wajar, dan kami akan terus melakukannya," kata Rocky Robbins, penasihat umum perusahaan. "Kami yakin bahwa ketika hal ini dicoba, juri akan menemukan bahwa kita telah sepenuhnya mematuhi hukum."
Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di San Francisco datang setelah Komisi Equal Employment Opportunity (EEOC) memutuskan pada bulan September bahwa Khan dipecat secara ilegal. Gugatan Khan diajukan dalam hubungannya dengan gugatan EEOC.
Ini bukan pertama kalinya perusahaan tersebut telah dituntut atas diskriminasi terhadap perempuan Muslim yang mengenakan jilbab.
Pada tahun 2009, Samantha Elauf, yang berusia 17 tahun pada waktu itu, mengajukan gugatan federal di Oklahoma, menyatakan perusahaan tersebut menolak untuk pekerjaan dia karena dia mengenakan jilbab. Kasus itu masih berlangsung hingga kini.
EEOC mengajukan gugatan lain untuk alasan yang sama, mengatakan perusahaan menolak untuk mempekerjakan seorang wanita yang mengenakan jilbab-yang melamar untuk posisi penyimpanan pada 2008 di sebuah toko Abercrombie Kids di Mall Besar di Milpitas, California.
Pengacara Khan mengatakan kliennya sedang berusaha membuat Abercrombie untuk mengubah "kebijakan melihat" perusahaan tersebut untuk memungkinkan jilbab dikenakan oleh para karyawan, dan untuk kerusakan yang tidak ditentukan. Gugatan itu menuduh pelanggaran hak-hak sipil federal dan negara dan undang-undang ketenagakerjaan. (by/AP/voa-islam.com)
Dipecat Karena Jilbab, Muslimah AS Tuntut Perusahaan
Written By Unknown on Rabu, 29 Juni 2011 | 07.43
SAN FRANCISCO - Seorang mantan pegawai gudang Abercrombie & Fitch Co menggugat pengecer pakaian tersebut di pengadilan federal Senin, mengatakan ia secara ilegal dipecat setelah menolak untuk melepas jilbab sementara bekerja.
Hani Khan mengatakan seorang manajer di perusahaan toko Hollister Co di Mal Hillsdale di San Mateo mempekerjakannya saat dia mengenakan jilbab. Manajer itu mengatakan tidak masalah untuk memakainya asalkan jilbab itu dalam warna seragam perusahaan, kata Khan.
Empat bulan kemudian, gadis berusia 20 tahun itu mengatakan seorang manajer distrik dan manajer sumber daya manusia bertanya apakah ia bisa melepaskan jilbab saat bekerja, dan dia diskors dan kemudian dipecat karena menolak untuk melakukannya.
Ini merupakan tuntutan diskriminasi kerja terbaru terhadap apa yang perusahaan itu sebut sebagai "kebijakan lihat," yang para kritikus mengatakan berarti gambaran dari sebagian besar berkulit putih, muda, terlihat atletis.
Abercrombie telah menjadi target tuntutan hukum dari banyak diskriminasi, termasuk gugatan class action federal yang diajukan oleh karyawan kulit hitam, Hispanik dan Asia dan para pelamar pekerjaan yang diselesaikan dengan ganti rugi sebesar $ 40 juta pada tahun 2004. Perusahaan tersebut mengakui tidak ada kesalahan dibuat, meskipun dipaksa untuk melaksanakan program dan kebijakan baru untuk meningkatkan keragaman.
"Tumbuh di negara di mana Bill of Rights menjamin kebebasan beragama, saya merasa dikecewakan," kata Khan, yang seat ini merupakan mahasiswa jurusan ilmu politik, pada konferensi pers. "Kasus ini adalah tentang prinsip-prinsip, hak asasi untuk dapat mengekspresikan kebebasan agama Anda dan dapat bekerja di negara ini."
Abercrombie membela diri dalam rekaman komentar yang diberikan kepada The Associated Press, mengatakan keragaman di toko-toko perusahaan itu "jauh melampaui keragaman dalam populasi Amerika Serikat."
"Kami mematuhi hukum mengenai akomodasi agama yang wajar, dan kami akan terus melakukannya," kata Rocky Robbins, penasihat umum perusahaan. "Kami yakin bahwa ketika hal ini dicoba, juri akan menemukan bahwa kita telah sepenuhnya mematuhi hukum."
Gugatan yang diajukan di Pengadilan Distrik AS di San Francisco datang setelah Komisi Equal Employment Opportunity (EEOC) memutuskan pada bulan September bahwa Khan dipecat secara ilegal. Gugatan Khan diajukan dalam hubungannya dengan gugatan EEOC.
Ini bukan pertama kalinya perusahaan tersebut telah dituntut atas diskriminasi terhadap perempuan Muslim yang mengenakan jilbab.
Pada tahun 2009, Samantha Elauf, yang berusia 17 tahun pada waktu itu, mengajukan gugatan federal di Oklahoma, menyatakan perusahaan tersebut menolak untuk pekerjaan dia karena dia mengenakan jilbab. Kasus itu masih berlangsung hingga kini.
EEOC mengajukan gugatan lain untuk alasan yang sama, mengatakan perusahaan menolak untuk mempekerjakan seorang wanita yang mengenakan jilbab-yang melamar untuk posisi penyimpanan pada 2008 di sebuah toko Abercrombie Kids di Mall Besar di Milpitas, California.
Pengacara Khan mengatakan kliennya sedang berusaha membuat Abercrombie untuk mengubah "kebijakan melihat" perusahaan tersebut untuk memungkinkan jilbab dikenakan oleh para karyawan, dan untuk kerusakan yang tidak ditentukan. Gugatan itu menuduh pelanggaran hak-hak sipil federal dan negara dan undang-undang ketenagakerjaan. (by/AP/voa-islam.com)
Label:
Catatan Muslimah
08.00
“Have I ever said that the path to God passes through Mecca? If there were any essential difference between a path that passes through Benaris and one that passes through Mecca, how could you think that I would wish to come to God “through Mecca,” and thereby betray Christ and the Vedanta? In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome. Is the Nirvana of Mecca different from the Nirvana of Benares?”
Yang artinya kira-kira begini: Apakah aku pernah bilang bahwa jalan menuju Tuhan hanya bisa dilalui lewat Mekkah? Jika disana ada perbedaan mendasar antara jalan yang melewati Benaris (India) dan satu yang melalui Mekkah, bagaimana mungkin Anda berpikir bahwa aku ingin datang kepada Tuhan "melalui Mekah," dan dengan cara demikian mengkhianati Kristus dan Vedanta? Mengapa jalan spiritual tertinggi melewati Mekah atau Benares atau Lhasa atau Jerussalem atau Roma? Apakah nirvana dari Mekah berbeda dengan nirvana dari Benares?
Bentuk-bentuk pertanyaan menyentil itulah yang dipakai Schuon untuk menyadarkan orang-orang agar tidak mengklaim bahwa agamanya adalah paling benar. Fritjof Schuon adalah seorang kelahiran Swiss yang mencoba memetakan jalan berbeda untuk menuju satu Tuhan tanpa harus mengkhianati Tuhan itu sendiri.
Pergulatannya mencari spiritualitas mengantarkannya bertemu Rene Guénon (baca: Gino) salah seorang freemason kenamaan dari Perancis. Sejak berusia 16 tahun, Schuon telah membaca karya Guénon, Orient et Occident. Kagum dengan pemikiran Guénon, Schuon saling berkirim surat dengan Guénon selama 20 tahun.
Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya, untuk pertama kalinya Schuon bertemu dengan Guénon di Mesir pada tahun 1938. Schuon akhirnya memeluk Islam dengan nama Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.
Bagi Schuon, agama memang berbeda pada tiap-tiap simbolnya. Orang Islam mendirikan shalat, umat Kristen berdoa di gereja, dan Hindu beribadah demi Nirwana. Namun, bagi Schuon, pada substansinya masing-masing agama merujuk pada satu Tuhan yang sama.
Kalimat inilah yang kemudian ia namakan menjadi religio perennis (agama abadi) dan diterjemahkan Nurcholish Madjid empat puluh tahun kemudian dengan nama inklusifisme. Apa yang dimaksud agama abadi tidak lain ada kebenaran abadi yang dibawa masing-masing agama hingga saat ini.
Menariknya kalimat “In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome” itu pula yang menggema di pikiran Komarudin Hidayat hingga kemudian ia berujar:
“Implikasi praktisnya dalam beragama adalah tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai satu-satunya yang benar secara otomatis adalah jaminan memperoleh keselamatan. Demikian sebaliknya, tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai sesat dan kafir sekalipun tidak secara otomatis memperoleh neraka dan kesengsaraan di akhirat kelak”
Perenialisme berbeda dengan New Age, jika New Age meminta manusia untuk tidak mementingkan lagi agama, perenialisme masih butuh agama. Karena agama adalah kunci ekspresi spiritualitas seseorang, walau tidak lama kemudian perenialisme menyatakan tidak semua agama benar, sekaligus tidak semua agama salah. Yang salah jika sebuah agama tertentu mengklaim diri paling jitu. Ini problem, bagi pengikut “agama” Schuon.
Pemikiran Schuon tentang titik temu agama-agama pada level esoteris secara konseptual masih bermasalah. Sebab pada tingkat esoteris pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.
Schuon ini nampaknya didorong oleh suatu motif agar antar agama-agama yang ada di dunia tidak terjadi pertentangan. Tapi teorinya cenderung membenarkan semua agama. Padahal Islam adalah agama yang justru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama-agama sebelumnya.
Rupanya ini pula yang dimaksud Hanung. Filmnya berjudul ?, walau memang rilis tahun 2011, namun sejatinya skenario itu sudah ditulis oleh Schuon jauh hari Hanung hanya mengkopinya ke layar kaca lewat tokoh Rika, Surya, dan Hendra.
Yang menjadi pertanyaan sekarang sebenarnya sederhana: apakah Hanung Bramantyo adalah juga seorang freemason sama dengan Schuon? Semoga saja tidak. (pz/Voa-Islam)
Referensi
Adnin Armas, Gagasan Fritjof Schuon Tentang Titik Temu Agama-agama, dalam Jurnal Islamia, Dibalik Pahama Pluralisme Agama, (Thn 1 No 3: Pustaka Khairul Bayyan, 2004)
Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001)
Dinar Dewi Kania, Mewaspadai Kebangkitan Filsafat Perenial, Makalah Diskusi Sabtuan INSISTS, 16/04/2011
Komaruddin Hidayat, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, (Jakarta: Paramadina, 1995
Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, (Jakarta : Penerbit Kompas, 2001)
Skenario Film Hanung Ternyata Ditulis Oleh Fritjof Schuon Tahun 1932
Written By Unknown on Selasa, 19 April 2011 | 08.00
“Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing. Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama, menuju tujuan yang sama, yaitu Tuhan… Aku pindah agama bukan berarti aku mengkhianati Tuhan.”
Kata-kata itu betul-betul saya garis bawahi, satu bulan sebelum Film ? garapan hanung launching. Entah kebetulan atau tidak, kalimat dalalm cuplikan film ? tersebut ternyata persis dengan bunyi surat Fritjof Schuon kepada Albert Ossey, tahun 1932. Coba anda bandingkan:
“Have I ever said that the path to God passes through Mecca? If there were any essential difference between a path that passes through Benaris and one that passes through Mecca, how could you think that I would wish to come to God “through Mecca,” and thereby betray Christ and the Vedanta? In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome. Is the Nirvana of Mecca different from the Nirvana of Benares?”
Yang artinya kira-kira begini: Apakah aku pernah bilang bahwa jalan menuju Tuhan hanya bisa dilalui lewat Mekkah? Jika disana ada perbedaan mendasar antara jalan yang melewati Benaris (India) dan satu yang melalui Mekkah, bagaimana mungkin Anda berpikir bahwa aku ingin datang kepada Tuhan "melalui Mekah," dan dengan cara demikian mengkhianati Kristus dan Vedanta? Mengapa jalan spiritual tertinggi melewati Mekah atau Benares atau Lhasa atau Jerussalem atau Roma? Apakah nirvana dari Mekah berbeda dengan nirvana dari Benares?
Bentuk-bentuk pertanyaan menyentil itulah yang dipakai Schuon untuk menyadarkan orang-orang agar tidak mengklaim bahwa agamanya adalah paling benar. Fritjof Schuon adalah seorang kelahiran Swiss yang mencoba memetakan jalan berbeda untuk menuju satu Tuhan tanpa harus mengkhianati Tuhan itu sendiri.
Pergulatannya mencari spiritualitas mengantarkannya bertemu Rene Guénon (baca: Gino) salah seorang freemason kenamaan dari Perancis. Sejak berusia 16 tahun, Schuon telah membaca karya Guénon, Orient et Occident. Kagum dengan pemikiran Guénon, Schuon saling berkirim surat dengan Guénon selama 20 tahun.
Setelah berkorespodensi sekian lama, akhirnya, untuk pertama kalinya Schuon bertemu dengan Guénon di Mesir pada tahun 1938. Schuon akhirnya memeluk Islam dengan nama Isa Nuruddin Ahmad al-Shadhili al-Darquwi al-Alawi al-Maryami.
Bagi Schuon, agama memang berbeda pada tiap-tiap simbolnya. Orang Islam mendirikan shalat, umat Kristen berdoa di gereja, dan Hindu beribadah demi Nirwana. Namun, bagi Schuon, pada substansinya masing-masing agama merujuk pada satu Tuhan yang sama.
Kalimat inilah yang kemudian ia namakan menjadi religio perennis (agama abadi) dan diterjemahkan Nurcholish Madjid empat puluh tahun kemudian dengan nama inklusifisme. Apa yang dimaksud agama abadi tidak lain ada kebenaran abadi yang dibawa masing-masing agama hingga saat ini.
Menariknya kalimat “In what why does the highest spiritual path pass through Mecca or Benares or Lhasa or Jerussalem or Rome” itu pula yang menggema di pikiran Komarudin Hidayat hingga kemudian ia berujar:
“Implikasi praktisnya dalam beragama adalah tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai satu-satunya yang benar secara otomatis adalah jaminan memperoleh keselamatan. Demikian sebaliknya, tidak setiap kaum beragama yang agamanya diakui sebagai sesat dan kafir sekalipun tidak secara otomatis memperoleh neraka dan kesengsaraan di akhirat kelak”
Perenialisme berbeda dengan New Age, jika New Age meminta manusia untuk tidak mementingkan lagi agama, perenialisme masih butuh agama. Karena agama adalah kunci ekspresi spiritualitas seseorang, walau tidak lama kemudian perenialisme menyatakan tidak semua agama benar, sekaligus tidak semua agama salah. Yang salah jika sebuah agama tertentu mengklaim diri paling jitu. Ini problem, bagi pengikut “agama” Schuon.
Pemikiran Schuon tentang titik temu agama-agama pada level esoteris secara konseptual masih bermasalah. Sebab pada tingkat esoteris pun terdapat perbedaan mendasar antara Islam dengan agama-agama lain.
Schuon ini nampaknya didorong oleh suatu motif agar antar agama-agama yang ada di dunia tidak terjadi pertentangan. Tapi teorinya cenderung membenarkan semua agama. Padahal Islam adalah agama yang justru menjelaskan kesalahan-kesalahan yang terdapat pada agama-agama sebelumnya.
Rupanya ini pula yang dimaksud Hanung. Filmnya berjudul ?, walau memang rilis tahun 2011, namun sejatinya skenario itu sudah ditulis oleh Schuon jauh hari Hanung hanya mengkopinya ke layar kaca lewat tokoh Rika, Surya, dan Hendra.
Yang menjadi pertanyaan sekarang sebenarnya sederhana: apakah Hanung Bramantyo adalah juga seorang freemason sama dengan Schuon? Semoga saja tidak. (pz/Voa-Islam)
Referensi
Adnin Armas, Gagasan Fritjof Schuon Tentang Titik Temu Agama-agama, dalam Jurnal Islamia, Dibalik Pahama Pluralisme Agama, (Thn 1 No 3: Pustaka Khairul Bayyan, 2004)
Budhy Munawar Rachman, Islam Pluralis: Wacana Kesetaraan Kaum Beriman, (Jakarta: Paramadina, 2001)
Dinar Dewi Kania, Mewaspadai Kebangkitan Filsafat Perenial, Makalah Diskusi Sabtuan INSISTS, 16/04/2011
Komaruddin Hidayat, Agama Masa Depan Perspektif Filsafat Perenial, (Jakarta: Paramadina, 1995
Sukidi, Teologi Inklusif Cak Nur, (Jakarta : Penerbit Kompas, 2001)
Label:
Catatan Muslimah
10.55
Pertama, kalau anda membela diri bahwa yang menusuk Pastor itu bukan mencerminkan orang Islam karena memakai jaket coklat dan mengendarai sepeda motor, siapapun pasti tahu bahwa yang anda maksud adalah orang Islam. Anda jelas mengacu pada peristiwa di Ciketing Bekasi tahun lalu, dimana seorang Pendeta HKBP ditusuk pemuda Islam setelah sebelumnya mereka diprovokasi jemaat HKBP Ciketing dan terjadi bentrokan.
Ketika terjadi pemboman di Gereja, anda jelas mengacu pada pemboman beberapa tahun lalu yang menewaskan seorang Banser yang menjaga malam Natal. Secara tersirat anda menuding yang membom Gereja adalah orang Islam, padahal ada investigasi yang menyebutkan pemboman itu hasil dari operasi intelijen dengan sengaja untuk mendiskreditkan umat Islam sebagaimana bom buku bulan lalu.
Kalau anda mengatakan diawal film itu digambarkan beberapa pemuda yang merawat masjid, itu hanyalah strategi anda agar film itu bisa diterima umat Islam. Namun ternyata jalan cerita selanjutnya penuh dengan kebohongan, murahan dan ternyata anda memiliki daya khayal yang lumayan tinggi. Pantas kalau akhirnya anda bisa merayu bintang sinetron untuk dijadikan istri setelah sebelumnya dengan kejam mendepak mamanya Bhumi dan menelantarkannya.
Kedua, justru pernyataan saya sebelumnya mengatakan anda menolak poligami dan mendukung pemurtadan, seperti dalam kasus murtadnya Rika. Jadi anda keliru dalam menanggapi pernyataan saya. Justru saya heran seandainya dalam film “?” anda mendukung poligami, karena poligami dibolehkan dan murtad dilarang keras dalam Islam. Terbukti dalam film itu anda menolak poligami seperti dalam kasus Rika.
Padahal seandainya anda setuju poligami, saya haqqul yakin anda tidak perlu bertindak kejam dengan mendepak mamanya Bhumi demi memiliki cintanya si bintang sinetron. Cukup mamanya Bhumi dijadikan istri pertama (istri Jogja) dan si bintang sinetron jadi istri kedua (istri Jakarta). Jadi kalau singgah di Jogja atau Jakarta untuk mensutradarai film, sudah ditunggui para istri yang selalu siap menyambut kehadiran anda.
Kalau anda berdalih murtadnya Rika karena merupakan pilihan hidup setelah dendam karena ditinggal suaminya poligami, apalagi anda memasang dalil surat Al Hajj ayat 17 (bukan ayat 7), jelas itu menunjukkan anda tidak faham tafsir Al Qur’an. Cobalah buka kembali beberapa kitab tafsir Al Qur’an mengenai surat Al Hajj ayat 17 tersebut. Saya kira anda mempunyai masalah pada paradigma berfikir, mengemukakan sesuatu berdasarkan keinginan hawa nafsu anda yang mendukung pluralisme, baru dicari-carikan ayatnya.
Adapun tafsir Surat Al Hajj ayat 17 adalah, ayat itu menunjukkan orang-orang sebelum kedatangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Tetapi setelah datangnya Islam, mereka wajib memeluk Islam. Jika mereka bersyahadat dan memeluk Islam, maka kebaikannya sebelum Islam akan dihitung dan dosanya akan dihapus. Tetapi sebaliknya kalau mereka menolak Islam atau murtad dari Islam, maka kebaikannya ketika Islam akan dihapuskan dan dosanya akan ditimpakan kepada dirinya akibat kemurtadannya.
Jadi ayat itu bukan menganjurkan orang bebas memilih keyakinan agamanya. Sedangkan murtad dari Islam bukan suatu pilihan hidup tetapi suatu kesalahan hidup yang fatal dan berakibat pada hukuman qishash. Islam sudah menarik garis tegas bagi orang yang murtad menjadi Nasrani, baca surat Maryam ayat 88-91 dan surat Al-Maidah ayat 73-74. Jadi sesungguhnya film “?” yang anda sutradarai itu jelas untuk menipu dan menjurumuskan manusia kedalam kesesatan, seperti disebutkan dalam surat Al An’am ayat 112. Hanya temannya syetan yang menjerumuskan manusia kedalam kesesatan. Jadi anda itu temannya syetan, karena ingin menjerumuskan manusia kedalam kesesatan.
Kalau dalam film berkualitas sampah itu anda mengatakan tidak mendukung pemurtadan, jelas itu suatu kebohongan. Pertama, pada film itu akhirnya Abi dan kedua orang tua Rika menerima kembali kehadirannya meski telah menjadi Katolik. Kedua, anda menggambarkan setelah murtad dan menjadi aktivis Gereja, ternyata hidup Rika lebih bahagia daripada ketika masih menjadi muslimah.
Apalagi dikatakan Rika telah melakukan perubahan besar dalam kehidupannya, seolah-olah menuju kehidupan yang lebih baik. Kalau anda mengatakan Abi menghargai pilihan Rika untuk murtad, betapa jumudnya pemikiran anda. Masak pilihan untuk menjadi murtad kok dihargai. Tidak menutup kemungkinan kalau pilihan itu dibiarkan, Abi yang masih kecil dan tak tahu apa-apa itu bisa saja menjadi Katolik mengikuti agama baru ibunya karena dialah yang mengasuh sehari-harinya.
Lain halnya kalau Abi ikut kakeknya. Lebih menggelikan lagi, anda mengatakan orang tua Rika mengambil sikap bijaksana sebagai seorang muslim dengan anaknya menjadi Katolik. Demikian itu bukan sikap bijaksana bung, tetapi sikap keterlaluan karena membiarkan anaknya masuk Neraka. Baca tafsir surat At Tahrim ayat 6.
Ketiga, film itu mendorong penonton untuk membenci poligami dan menyetujui pemurtadan sebagai sebuah pilihan hidup. Padahal dalam Syariah Islam, poligami dibolehkan hingga empat istri dan hukuman bagi seorang murtad tidak lain adalah qishash (hukuman mati). Berarti dengan tegas anda menolak Syariah Islam.
Anda ingin membela diri kalau restoran babi pak Tan semuanya sudah dipisahkan, antara memasak babi dan ayam serta bebek. Tetapi disitu anda jelas lebih mendukung masakan babi yang haram daripada ayam atau bebek yang halal. Terbukti anda mengejek masakan halal itu dengan kata-kata: “babi rasanya gurih tanpa banyak bumbu”, seperti yang dikatakan pak Tan.
Bahkan juga dikampanyekan betapa nikmatnya makan daging babi daripada ayam atau bebek yang harus banyak bumbunya supaya menjadi nikmat. Tetapi kalau babi tidak perlu bumbu sudah nikmat sekali. Apa ini tidak berarti anda secara tidak langsung menyarankan agar umat Islam tidak perlu ragu-ragu lagi makan daging babi yang nikmat dan gurih meski haram ! Maklumlah anda masih keturunan Cina !
Adapun yang lebih konyol lagi adalah si Menuk yang muslimah sholat disamping onggokan daging babi yang haram bahkan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan agama Konghuchu yang penuh dengan dupa dan patung-patung dewa. Padahal itulah yang dilakukan Menuk setiap harinya ketika bekerja di restoran pak Tan.
Apakah itu bukan penghinaan ketika sholat menghadap Allah SWT sementara didekatnya ada onggokan daging babi dan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan Konghuchu. Sebelumnya anda telah menghina Allah SWT dengan kalimat suci Asmaul Husna dibacakan dengan nada sinis dan ekspresi mengejek oleh seorang Pastor di Gereja.
wartawan SI (16 April jam 7:33):
Keempat, lebih tragis lagi penghinaan anda terhadap Islam. Bayangkan, Masjid sebagai tempat suci anda gunakan untuk latihan memerankan Yesus yang akan dilakukan Surya, hal ini menunjukkan anda telah menodai kesucian Masjid. Apalagi Surya sebagai seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Padahal masuk Gereja diharamkan bagi seorang muslim, apalagi memerankan Yesus didalam gereja.
Anda perlu membaca sejarah Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab yang menolak masuk ke Gereja Suci di Baitul Maqdis (Yerusallem) setelah Kota Suci itu ditaklukkan pasukan Islam secara damai tanpa setetes darahpun tumpah pada tahun 16 Hijriyyah.
Kelima, penyerbuan rumah makan Cina oleh umat Islam pada hari kedua lebaran barangkali baru pertama kali ini terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Kalau biasanya peristiwa itu terjadi pada bulan puasa, dimana pada siang hari restoran atau warung makan tetap buka, itupun jarang sekali terjadi. Lha ini justru terjadi pada hari lebaran apalagi terhadap restoran Cina.
Hal ini menunjukkan anda akan mengirimg opini agar umat Islam tidak segan-segan melakukan tindakan anarkhis terhadap orang Cina meski hari lebaran sekalipun. Sudah jelas anda ingin mencoba mendorong terjadinya konflik horisontal di negara ini.
Keenam, tidak hanya menghina kesucian Islam, anda juga mencoba melecehkan Banser sebagai salah satu organ NU. Masak menjadi Banser sebagai pekerjaan atau tempat penampungan para pengangguran, seperti yang dikatakan Sholeh kepada Menuk. Lebih tragis lagi, Banser kok sampai bunuh diri hanya karena supaya lebih berarti dimata istrinya. Apalagi sebelum bunuh diri dengan memeluk bom, terlebih dahulu Sholeh berteriak laa illaha illallah, apa ini bukan penghinaan !!! Padahal bunuh diri hukumannya langsung masuk Neraka.
Kalau dalam analisis politik saya, anda tampaknya ingin membenturkan antara Banser NU dan Kokam (Komando Keamanan Muhammadiyah). Logikanya, anda baru saja mensutradarai film “Sang Pencerah” dan dimana-mana anda berkoar-koar menjadi keluarga besar Muhammadiyah. Dengan sendirinya, nanti kalau anggota Banser memburu anda karena dianggap telah menghinanya, anda akan kabur dengan meminta perlindungan pada Kokam dari buruan Banser karena anda merasa telah berjasa membuat film “Sang Pencerah”, apalagi anda selalu mengaku dari keluarga besar Muhammadiyah.
Dengan sendirinya akan terjadi konflik horizontal antara Banser vs Kokam. Apakah itu yang anda kehendaki ? Adapun yang saya dengar, sekarang para anggota Banser sudah mulai marah dengan penghinaan tersebut. Semoga saja Kokam tidak terpancing untuk membela, biar anda sendirian menghadapi Banser.
Ketujuh, kalau anda menyatakan mengapa umat Islam protes ketika KH Ahmad Dahlan dimainkan seorang murtad, sementara tidak satupun orang Kristen protes ketika Yesus dimainkan oleh figuran seperti Surya yang beragama Islam, hal itu menunjukkan kepicikan pengetahuan anda tentang Islam.
Hal itu menunjukkan anda menyamakan semua agama alias pendukung pluralisme, sehingga ketika simbol agama atau tokohnya dilecehkan tidak perlu protes. Lha itulah perbedaan antara Islam dan Kristen, bung. Kalau umat Islam protes karena tokohnya anda lecehkan, itu hak umat Islam. Kalau orang Kristen tidak protes meskipun Yesus diperankan figuran seperti Surya yang muslim, ya itu hak orang Kristen. Tetapi yang jelas anda telah merendahkan maratabat tokoh Islam karena diperankan oleh seorang murtad.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin bertanya dan jawablah dengan sejujur-jujurnya. Kalau anda berani menjawab berarti gentleman, tetapi kalau tidak berarti pengecut.
Pertama, ide pembuatan film “?” dari siapa, sehingga anda bersedia menjadi sutradaranya ?
Kedua, siapa yang membiayai pembuatan film “?” yang katanya sampai menghabiskan Rp 5 miliar itu ?
Ketiga, siapa dalang sesungguhnya dibelakang film “?” ?
Keempat, sebagai sutradara berpengalaman, mengapa anda berani mengabaikan empat pilar utama dalam sebuah film yang bagus yakni mengedepankan etika, moral, agama dan sosial. Apa yang mendorong anda bertindak nekat seperti itu ?
Kelima, mengapa anda berani mengorbankan idealisme dan intergritas sebagai seorang sutradara demi sebuah film berkualitas sampah ini ?
Keenam, mengapa mayoritas film anda selalu bertemakan penghinaan terhadap ajaran Islam, umat Islam dan institusi Islam ?
Hingga perdebatan ini dibuat, Hanung Bramantyo belum memberi tanggapannya. (Voa-Islam)
Perdebatan Lanjutan Hanung Bramantyo vs Wartawan 'Suara Islam' (2)
Written By Unknown on Minggu, 17 April 2011 | 10.55
Inilah Debat Lanjutan Wartawan Suara Islam (Abdul Halim Ayim) dengan Sutradara film "?" Hanung Bramantyo via Facebook:
wartawan SI (16 April jam 7:32):
Terima kasih atas jawabannya yang cukup panjang. Namun jawaban tersebut saya nilai kabur dan terkesan hanya ingin membela diri, hanya ingin mendongkrak film ”?” yang berkualits sampah dan rombengan menjadi berkualitas perunggu, (bukan perak atau emas, terlalu tinggi).
Jawaban tersebut justru menunjukkan anda telah mengadaikan idealisme dan integritas sebagai seorang sutradara film demi rasa kebencian terhadap Islam dan umat Islam. Padahal umat Islam mayoritas di negara ini sudah tertindas oleh minoritas Kristen, Katolik dan Cina dari segi politik, ekonomi dan media massa, sekarang anda malah menambahi dengan menindas dari sisi budaya. Sebelumnya saya akan menjawab dulu beberapa argumentasi anda.
Pertama, kalau anda membela diri bahwa yang menusuk Pastor itu bukan mencerminkan orang Islam karena memakai jaket coklat dan mengendarai sepeda motor, siapapun pasti tahu bahwa yang anda maksud adalah orang Islam. Anda jelas mengacu pada peristiwa di Ciketing Bekasi tahun lalu, dimana seorang Pendeta HKBP ditusuk pemuda Islam setelah sebelumnya mereka diprovokasi jemaat HKBP Ciketing dan terjadi bentrokan.
Ketika terjadi pemboman di Gereja, anda jelas mengacu pada pemboman beberapa tahun lalu yang menewaskan seorang Banser yang menjaga malam Natal. Secara tersirat anda menuding yang membom Gereja adalah orang Islam, padahal ada investigasi yang menyebutkan pemboman itu hasil dari operasi intelijen dengan sengaja untuk mendiskreditkan umat Islam sebagaimana bom buku bulan lalu.
Kalau anda mengatakan diawal film itu digambarkan beberapa pemuda yang merawat masjid, itu hanyalah strategi anda agar film itu bisa diterima umat Islam. Namun ternyata jalan cerita selanjutnya penuh dengan kebohongan, murahan dan ternyata anda memiliki daya khayal yang lumayan tinggi. Pantas kalau akhirnya anda bisa merayu bintang sinetron untuk dijadikan istri setelah sebelumnya dengan kejam mendepak mamanya Bhumi dan menelantarkannya.
Kedua, justru pernyataan saya sebelumnya mengatakan anda menolak poligami dan mendukung pemurtadan, seperti dalam kasus murtadnya Rika. Jadi anda keliru dalam menanggapi pernyataan saya. Justru saya heran seandainya dalam film “?” anda mendukung poligami, karena poligami dibolehkan dan murtad dilarang keras dalam Islam. Terbukti dalam film itu anda menolak poligami seperti dalam kasus Rika.
Padahal seandainya anda setuju poligami, saya haqqul yakin anda tidak perlu bertindak kejam dengan mendepak mamanya Bhumi demi memiliki cintanya si bintang sinetron. Cukup mamanya Bhumi dijadikan istri pertama (istri Jogja) dan si bintang sinetron jadi istri kedua (istri Jakarta). Jadi kalau singgah di Jogja atau Jakarta untuk mensutradarai film, sudah ditunggui para istri yang selalu siap menyambut kehadiran anda.
Kalau anda berdalih murtadnya Rika karena merupakan pilihan hidup setelah dendam karena ditinggal suaminya poligami, apalagi anda memasang dalil surat Al Hajj ayat 17 (bukan ayat 7), jelas itu menunjukkan anda tidak faham tafsir Al Qur’an. Cobalah buka kembali beberapa kitab tafsir Al Qur’an mengenai surat Al Hajj ayat 17 tersebut. Saya kira anda mempunyai masalah pada paradigma berfikir, mengemukakan sesuatu berdasarkan keinginan hawa nafsu anda yang mendukung pluralisme, baru dicari-carikan ayatnya.
Adapun tafsir Surat Al Hajj ayat 17 adalah, ayat itu menunjukkan orang-orang sebelum kedatangan Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Tetapi setelah datangnya Islam, mereka wajib memeluk Islam. Jika mereka bersyahadat dan memeluk Islam, maka kebaikannya sebelum Islam akan dihitung dan dosanya akan dihapus. Tetapi sebaliknya kalau mereka menolak Islam atau murtad dari Islam, maka kebaikannya ketika Islam akan dihapuskan dan dosanya akan ditimpakan kepada dirinya akibat kemurtadannya.
Jadi ayat itu bukan menganjurkan orang bebas memilih keyakinan agamanya. Sedangkan murtad dari Islam bukan suatu pilihan hidup tetapi suatu kesalahan hidup yang fatal dan berakibat pada hukuman qishash. Islam sudah menarik garis tegas bagi orang yang murtad menjadi Nasrani, baca surat Maryam ayat 88-91 dan surat Al-Maidah ayat 73-74. Jadi sesungguhnya film “?” yang anda sutradarai itu jelas untuk menipu dan menjurumuskan manusia kedalam kesesatan, seperti disebutkan dalam surat Al An’am ayat 112. Hanya temannya syetan yang menjerumuskan manusia kedalam kesesatan. Jadi anda itu temannya syetan, karena ingin menjerumuskan manusia kedalam kesesatan.
Kalau dalam film berkualitas sampah itu anda mengatakan tidak mendukung pemurtadan, jelas itu suatu kebohongan. Pertama, pada film itu akhirnya Abi dan kedua orang tua Rika menerima kembali kehadirannya meski telah menjadi Katolik. Kedua, anda menggambarkan setelah murtad dan menjadi aktivis Gereja, ternyata hidup Rika lebih bahagia daripada ketika masih menjadi muslimah.
Apalagi dikatakan Rika telah melakukan perubahan besar dalam kehidupannya, seolah-olah menuju kehidupan yang lebih baik. Kalau anda mengatakan Abi menghargai pilihan Rika untuk murtad, betapa jumudnya pemikiran anda. Masak pilihan untuk menjadi murtad kok dihargai. Tidak menutup kemungkinan kalau pilihan itu dibiarkan, Abi yang masih kecil dan tak tahu apa-apa itu bisa saja menjadi Katolik mengikuti agama baru ibunya karena dialah yang mengasuh sehari-harinya.
Lain halnya kalau Abi ikut kakeknya. Lebih menggelikan lagi, anda mengatakan orang tua Rika mengambil sikap bijaksana sebagai seorang muslim dengan anaknya menjadi Katolik. Demikian itu bukan sikap bijaksana bung, tetapi sikap keterlaluan karena membiarkan anaknya masuk Neraka. Baca tafsir surat At Tahrim ayat 6.
Ketiga, film itu mendorong penonton untuk membenci poligami dan menyetujui pemurtadan sebagai sebuah pilihan hidup. Padahal dalam Syariah Islam, poligami dibolehkan hingga empat istri dan hukuman bagi seorang murtad tidak lain adalah qishash (hukuman mati). Berarti dengan tegas anda menolak Syariah Islam.
Anda ingin membela diri kalau restoran babi pak Tan semuanya sudah dipisahkan, antara memasak babi dan ayam serta bebek. Tetapi disitu anda jelas lebih mendukung masakan babi yang haram daripada ayam atau bebek yang halal. Terbukti anda mengejek masakan halal itu dengan kata-kata: “babi rasanya gurih tanpa banyak bumbu”, seperti yang dikatakan pak Tan.
Bahkan juga dikampanyekan betapa nikmatnya makan daging babi daripada ayam atau bebek yang harus banyak bumbunya supaya menjadi nikmat. Tetapi kalau babi tidak perlu bumbu sudah nikmat sekali. Apa ini tidak berarti anda secara tidak langsung menyarankan agar umat Islam tidak perlu ragu-ragu lagi makan daging babi yang nikmat dan gurih meski haram ! Maklumlah anda masih keturunan Cina !
Adapun yang lebih konyol lagi adalah si Menuk yang muslimah sholat disamping onggokan daging babi yang haram bahkan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan agama Konghuchu yang penuh dengan dupa dan patung-patung dewa. Padahal itulah yang dilakukan Menuk setiap harinya ketika bekerja di restoran pak Tan.
Apakah itu bukan penghinaan ketika sholat menghadap Allah SWT sementara didekatnya ada onggokan daging babi dan kiblatnya sengaja dihadapkan ke altar pemujaan Konghuchu. Sebelumnya anda telah menghina Allah SWT dengan kalimat suci Asmaul Husna dibacakan dengan nada sinis dan ekspresi mengejek oleh seorang Pastor di Gereja.
wartawan SI (16 April jam 7:33):
Keempat, lebih tragis lagi penghinaan anda terhadap Islam. Bayangkan, Masjid sebagai tempat suci anda gunakan untuk latihan memerankan Yesus yang akan dilakukan Surya, hal ini menunjukkan anda telah menodai kesucian Masjid. Apalagi Surya sebagai seorang muslim memerankan Yesus di Gereja. Padahal masuk Gereja diharamkan bagi seorang muslim, apalagi memerankan Yesus didalam gereja.
Anda perlu membaca sejarah Amirul Mukminin Khalifah Umar bin Khattab yang menolak masuk ke Gereja Suci di Baitul Maqdis (Yerusallem) setelah Kota Suci itu ditaklukkan pasukan Islam secara damai tanpa setetes darahpun tumpah pada tahun 16 Hijriyyah.
Kelima, penyerbuan rumah makan Cina oleh umat Islam pada hari kedua lebaran barangkali baru pertama kali ini terjadi di Indonesia bahkan di dunia. Kalau biasanya peristiwa itu terjadi pada bulan puasa, dimana pada siang hari restoran atau warung makan tetap buka, itupun jarang sekali terjadi. Lha ini justru terjadi pada hari lebaran apalagi terhadap restoran Cina.
Hal ini menunjukkan anda akan mengirimg opini agar umat Islam tidak segan-segan melakukan tindakan anarkhis terhadap orang Cina meski hari lebaran sekalipun. Sudah jelas anda ingin mencoba mendorong terjadinya konflik horisontal di negara ini.
Keenam, tidak hanya menghina kesucian Islam, anda juga mencoba melecehkan Banser sebagai salah satu organ NU. Masak menjadi Banser sebagai pekerjaan atau tempat penampungan para pengangguran, seperti yang dikatakan Sholeh kepada Menuk. Lebih tragis lagi, Banser kok sampai bunuh diri hanya karena supaya lebih berarti dimata istrinya. Apalagi sebelum bunuh diri dengan memeluk bom, terlebih dahulu Sholeh berteriak laa illaha illallah, apa ini bukan penghinaan !!! Padahal bunuh diri hukumannya langsung masuk Neraka.
Kalau dalam analisis politik saya, anda tampaknya ingin membenturkan antara Banser NU dan Kokam (Komando Keamanan Muhammadiyah). Logikanya, anda baru saja mensutradarai film “Sang Pencerah” dan dimana-mana anda berkoar-koar menjadi keluarga besar Muhammadiyah. Dengan sendirinya, nanti kalau anggota Banser memburu anda karena dianggap telah menghinanya, anda akan kabur dengan meminta perlindungan pada Kokam dari buruan Banser karena anda merasa telah berjasa membuat film “Sang Pencerah”, apalagi anda selalu mengaku dari keluarga besar Muhammadiyah.
Dengan sendirinya akan terjadi konflik horizontal antara Banser vs Kokam. Apakah itu yang anda kehendaki ? Adapun yang saya dengar, sekarang para anggota Banser sudah mulai marah dengan penghinaan tersebut. Semoga saja Kokam tidak terpancing untuk membela, biar anda sendirian menghadapi Banser.
Ketujuh, kalau anda menyatakan mengapa umat Islam protes ketika KH Ahmad Dahlan dimainkan seorang murtad, sementara tidak satupun orang Kristen protes ketika Yesus dimainkan oleh figuran seperti Surya yang beragama Islam, hal itu menunjukkan kepicikan pengetahuan anda tentang Islam.
Hal itu menunjukkan anda menyamakan semua agama alias pendukung pluralisme, sehingga ketika simbol agama atau tokohnya dilecehkan tidak perlu protes. Lha itulah perbedaan antara Islam dan Kristen, bung. Kalau umat Islam protes karena tokohnya anda lecehkan, itu hak umat Islam. Kalau orang Kristen tidak protes meskipun Yesus diperankan figuran seperti Surya yang muslim, ya itu hak orang Kristen. Tetapi yang jelas anda telah merendahkan maratabat tokoh Islam karena diperankan oleh seorang murtad.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya ingin bertanya dan jawablah dengan sejujur-jujurnya. Kalau anda berani menjawab berarti gentleman, tetapi kalau tidak berarti pengecut.
Pertama, ide pembuatan film “?” dari siapa, sehingga anda bersedia menjadi sutradaranya ?
Kedua, siapa yang membiayai pembuatan film “?” yang katanya sampai menghabiskan Rp 5 miliar itu ?
Ketiga, siapa dalang sesungguhnya dibelakang film “?” ?
Keempat, sebagai sutradara berpengalaman, mengapa anda berani mengabaikan empat pilar utama dalam sebuah film yang bagus yakni mengedepankan etika, moral, agama dan sosial. Apa yang mendorong anda bertindak nekat seperti itu ?
Kelima, mengapa anda berani mengorbankan idealisme dan intergritas sebagai seorang sutradara demi sebuah film berkualitas sampah ini ?
Keenam, mengapa mayoritas film anda selalu bertemakan penghinaan terhadap ajaran Islam, umat Islam dan institusi Islam ?
Hingga perdebatan ini dibuat, Hanung Bramantyo belum memberi tanggapannya. (Voa-Islam)
Label:
Catatan Muslimah

















