Perbedaan Dharibah dan Pajak Dalam Islam
-
Go Ihsan -
Dalam syariat Islam, pajak disebut dengan *dharibah*. Kata *dharibah* berasal
dari akar kata *dharaba-yadhribu-dharban*. Ada banyak arti dari aka...
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Wawasan Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawasan Muslimah. Tampilkan semua postingan
19.57
Ranti Aryani, drg: Menjadikan Jilbab Sebagai Jalan Hidup
Written By Unknown on Sabtu, 24 Agustus 2013 | 19.57
Oleh: Erdy Nasrul
Diskriminasi atas jilbab tak mengurungkan tekad Ranti untuk tetap menutup aurat.
Wanita asal Bogor yang kini tinggal di Amerika Serikat, Ranti Aryani, masih mengingat wajah dai sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, Mama' Abdullah bin Nuh. Wajahnya cerah.
Tatapan matanya tajam dan teduh. Hingga saat ini tak bisa aku lupakan pancaran matanya yang cerah dan memukau itu,” tulis Ranti dalam biografinya, In God We Trust, Ranti Aryani Merentang Jilbab dari Indonesia sampai Amerika.
Ranti memiliki kesan tersendiri ketika mengikuti pengajian Mama'. Dia pernah dipanggil Mama' langsung. Mama' pernah berpesan agar rajin mengaji selagi masih muda. Mama' juga mendoakan Ranti agar menjadi wanita salihah.
Pada suatu malam, Ranti memimpikan Mama' mengenakan jubah terbaiknya yang bersiap menaiki kapal layar. Mama' berpaling dan tersenyum simpul kepada Ranti di suatu dermaga.
Jangan sedih, Mama' tidak meninggal,” pesan Mama' dalam mimpi Ranti. Kemudian, Ranti terbangun. Dilihatnya sekeliling rumah tempat Mama' tinggal penuh dengan bendera kuning, tanda Mama' meninggal dunia.
Ranti banyak mendapatkan pengetahuan agama dari Mama'. Salah satu yang didapatnya adalah kewajiban menutup aurat.
Ranti kemudian bertekad untuk terus berjilbab ketika tampil di tempat umum. Hal ini bukanlah mudah. Ada saja rintangan yang dihadapi untuk menguji konsistensinya berjilbab.
Ranti mengenal jilbab sejak usia remaja. Jilbab dinilainya sebagai ketakwaan. Dia berjilbab sejak menjadi siswi SMPN 4 Bogor.
Ketika itu, anak-anak kerap memakai jilbab dari rumah. Kemudian, melepasnya ketika di sekolah. Ranti melakukan hal sama. Ketika itu, ada peraturan murid harus berseragam sesuai dengan yang ditetapkan.
Diskriminasi
Setamat SMP, Ranti terus berjilbab. Ketika menjadi siswa SMA 1 Bogor, dia tetap menutup rambutnya. Di sekolah itu, diskriminasi yang dialami semakin nyata.
Kepala sekolahnya memberikan pilihan, melanjutkan sekolah atau berjilbab di sekolah lain. Guru-gurunya mencap Ranti dan para sahabatnya sebagai pemberontak karena tak mematuhi aturan berseragam. Hasilnya, Ranti dikeluarkan dari sekolah.
Ranti dan kawan-kawannya yang berjilbab, Hepti dan Sari, harus berjuang mempertahankan idealisme. Berjilbab adalah kewajiban. Berjilbab tidak mengurangi, bahkan menambah keindahan dan kecantikan wanita.
Baginya, ada nilai yang terkandung di dalam jilbab. Jilbab adalah jalan hidup sebagai muslim. It is a way of life,” jelas Ranti kepada Republika, Senin (5/8).
Dengan bantuan orang tuanya, juga orang tua sahabatnya yang senasib, Ranti dan kawan-kawan dibantu lembaga bantuan hukum menggugat sekolahnya ke pengadilan atas perlakuan diskrimantif itu.
Setelah persidangan berjalan enam bulan, wali kota Bogor hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turun tangan, pihak sekolah bersedia berdamai dan mengakomodasi keinginan Ranti dan teman-temannya melalui musyawarah. Gugatan pun dicabut.
Menikah
Ranti bersuamikan seorang Muslim AS, Richard J Bennett Jr. Pria itu menikahi Ranti pada 5 Januari 1996. Ranti dan Rich tinggal di Amerika. Di sana, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Moestopo ini melanjutkan pendidikan penyetaraan di New York University (NYU).
Setelah lulus dari universitas itu, Ranti mengikuti program praktik residensi selama beberapa tahun. Dari beberapa klinik, Ranti memilih berpraktik menjadi dokter gigi di Angkatan Udara Amerika Serikat, tepatnya di Lanud AU AS Maxwell, Alabama. Saya memilih tempat itu karena praktik dokter gigi di sana dikenal paling bagus,” jelasnya.
Tetap berjilbab
Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab di lingkungan Angkatan Udara Amerika Serikat.
Ranti mengajukan syarat, bila diterima dia minta diizinkan tetap memakai jilbab. Perekrut Ranti sempat menolak, tapi kemudian ada perekrut lain yang berani menjamin Ranti.
Dia menceritakan, dulu ada kapten Yahudi yang memakai yarmulka atau penutup kepala pria Yahudi. Nah, bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada jilbab yang muncul.
''Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” jelasnya. Sayang, ternyata pengalaman pria Yahudi itu tidak sama seperti Ranti. Ketika itu, islamfobia berkembang pesat karena dibomnya menara kembar pada 11 September.
Namun demikian, Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang.
Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatannya. Tidak diizinkan membeli seragam tentara bila tidak menanggalkan jilbabnya.
Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan, tapi harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan. Opsi seperti ini dikhawatirkannya karena mengganggu konsistensinya dalam beragama.
Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya dan menunjukkan bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.
Kini, Ranti membuka praktik sendiri di Amerika Serikat. Ranti berperan sebagai dokter gigi. Sedangkan, suaminya berperan sebagai asisten. Selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi,” jelas Rich. Dia kemudian berpesan kepada istrinya agar bersabar dan selalu melawan nafsu amarah.
Wanita asal Bogor yang kini tinggal di Amerika Serikat, Ranti Aryani, masih mengingat wajah dai sekaligus pejuang kemerdekaan Indonesia, Mama' Abdullah bin Nuh. Wajahnya cerah.
Tatapan matanya tajam dan teduh. Hingga saat ini tak bisa aku lupakan pancaran matanya yang cerah dan memukau itu,” tulis Ranti dalam biografinya, In God We Trust, Ranti Aryani Merentang Jilbab dari Indonesia sampai Amerika.
Ranti memiliki kesan tersendiri ketika mengikuti pengajian Mama'. Dia pernah dipanggil Mama' langsung. Mama' pernah berpesan agar rajin mengaji selagi masih muda. Mama' juga mendoakan Ranti agar menjadi wanita salihah.
Pada suatu malam, Ranti memimpikan Mama' mengenakan jubah terbaiknya yang bersiap menaiki kapal layar. Mama' berpaling dan tersenyum simpul kepada Ranti di suatu dermaga.
Jangan sedih, Mama' tidak meninggal,” pesan Mama' dalam mimpi Ranti. Kemudian, Ranti terbangun. Dilihatnya sekeliling rumah tempat Mama' tinggal penuh dengan bendera kuning, tanda Mama' meninggal dunia.
Ranti banyak mendapatkan pengetahuan agama dari Mama'. Salah satu yang didapatnya adalah kewajiban menutup aurat.
Ranti kemudian bertekad untuk terus berjilbab ketika tampil di tempat umum. Hal ini bukanlah mudah. Ada saja rintangan yang dihadapi untuk menguji konsistensinya berjilbab.
Ranti mengenal jilbab sejak usia remaja. Jilbab dinilainya sebagai ketakwaan. Dia berjilbab sejak menjadi siswi SMPN 4 Bogor.
Ketika itu, anak-anak kerap memakai jilbab dari rumah. Kemudian, melepasnya ketika di sekolah. Ranti melakukan hal sama. Ketika itu, ada peraturan murid harus berseragam sesuai dengan yang ditetapkan.
Diskriminasi
Setamat SMP, Ranti terus berjilbab. Ketika menjadi siswa SMA 1 Bogor, dia tetap menutup rambutnya. Di sekolah itu, diskriminasi yang dialami semakin nyata.
Kepala sekolahnya memberikan pilihan, melanjutkan sekolah atau berjilbab di sekolah lain. Guru-gurunya mencap Ranti dan para sahabatnya sebagai pemberontak karena tak mematuhi aturan berseragam. Hasilnya, Ranti dikeluarkan dari sekolah.
Ranti dan kawan-kawannya yang berjilbab, Hepti dan Sari, harus berjuang mempertahankan idealisme. Berjilbab adalah kewajiban. Berjilbab tidak mengurangi, bahkan menambah keindahan dan kecantikan wanita.
Baginya, ada nilai yang terkandung di dalam jilbab. Jilbab adalah jalan hidup sebagai muslim. It is a way of life,” jelas Ranti kepada Republika, Senin (5/8).
Dengan bantuan orang tuanya, juga orang tua sahabatnya yang senasib, Ranti dan kawan-kawan dibantu lembaga bantuan hukum menggugat sekolahnya ke pengadilan atas perlakuan diskrimantif itu.
Setelah persidangan berjalan enam bulan, wali kota Bogor hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) turun tangan, pihak sekolah bersedia berdamai dan mengakomodasi keinginan Ranti dan teman-temannya melalui musyawarah. Gugatan pun dicabut.
Menikah
Ranti bersuamikan seorang Muslim AS, Richard J Bennett Jr. Pria itu menikahi Ranti pada 5 Januari 1996. Ranti dan Rich tinggal di Amerika. Di sana, alumnus Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Moestopo ini melanjutkan pendidikan penyetaraan di New York University (NYU).
Setelah lulus dari universitas itu, Ranti mengikuti program praktik residensi selama beberapa tahun. Dari beberapa klinik, Ranti memilih berpraktik menjadi dokter gigi di Angkatan Udara Amerika Serikat, tepatnya di Lanud AU AS Maxwell, Alabama. Saya memilih tempat itu karena praktik dokter gigi di sana dikenal paling bagus,” jelasnya.
Tetap berjilbab
Di awal pendaftaran, Ranti bertanya mengenai peraturan mengenakan simbol-simbol agama, termasuk jilbab di lingkungan Angkatan Udara Amerika Serikat.
Ranti mengajukan syarat, bila diterima dia minta diizinkan tetap memakai jilbab. Perekrut Ranti sempat menolak, tapi kemudian ada perekrut lain yang berani menjamin Ranti.
Dia menceritakan, dulu ada kapten Yahudi yang memakai yarmulka atau penutup kepala pria Yahudi. Nah, bila yarmulka masuk ke semua peraturan itu, sekarang ada jilbab yang muncul.
''Saya melihat poin DOD itu semuanya masuk, aman, bahwa jilbab tak mengganggu keamanan dan aktivitas,” jelasnya. Sayang, ternyata pengalaman pria Yahudi itu tidak sama seperti Ranti. Ketika itu, islamfobia berkembang pesat karena dibomnya menara kembar pada 11 September.
Namun demikian, Ranti mencoba menjelaskan mengenai jilbab kepada setiap rekannya yang bertanya, tak lelah menjelaskan berulang-ulang.
Ranti sempat dikucilkan dari teman-teman seangkatannya. Tidak diizinkan membeli seragam tentara bila tidak menanggalkan jilbabnya.
Pihak AU AS sempat memberinya pilihan kompromi, diizinkan mengenakan jilbab bila berkegiatan di dalam ruangan, tapi harus menanggalkan bila berkegiatan di luar ruangan. Opsi seperti ini dikhawatirkannya karena mengganggu konsistensinya dalam beragama.
Ranti juga berfoto memakai jilbab dengan seragam barunya dan menunjukkan bahwa jilbab tetap serasi bila dipakai dengan seragam ketetentaraan dan tak menghalangi tugasnya. Ranti tetap bekerja secara profesional, melayani dan merawat gigi para tentara AU AS.
Kini, Ranti membuka praktik sendiri di Amerika Serikat. Ranti berperan sebagai dokter gigi. Sedangkan, suaminya berperan sebagai asisten. Selalu ada hikmah di balik apa yang terjadi,” jelas Rich. Dia kemudian berpesan kepada istrinya agar bersabar dan selalu melawan nafsu amarah.
REPUBLIKA.CO.ID,
Label:
Wawasan Muslimah
09.20
Sarah Joseph menempuh cara lain dalam menerjemahkan Islam kepada dunia Barat. Wanita asal London, Inggris itu meluncurkan sebuah majalah gaya hidup
Islam yang ditujukan terutama bagi kalangan muda, dan salah satu
targetnya adalah pembaca non-Muslim. Majalah itu, awalnya, dibiayai dari
tabungannya sendiri.
Sarah Joseph Berdakwah Lewat Majalah Gaya Hidup
Written By Unknown on Senin, 19 Agustus 2013 | 09.20
Sarah Joseph menempuh cara lain dalam menerjemahkan Islam kepada dunia Barat. Wanita asal London, Inggris itu meluncurkan sebuah majalah gaya hidup
Islam yang ditujukan terutama bagi kalangan muda, dan salah satu
targetnya adalah pembaca non-Muslim. Majalah itu, awalnya, dibiayai dari
tabungannya sendiri.
Kini, Majalah Emel mulai dikenal khalayak dan bersanding dengan
majalah-majalah terkenal lainnya di toko-toko buku. Emel, nama majalah
itu. Berasal dari dua huruf M dan L sebagai singkatan dari Muslim Life.
Rubrik-rubriknya menampilkan gaya hidup Islam menyangkut fasyen,
desain interior, keuangan, entrepreneur, kesehatan, makanan, hingga
kisah perjalanan.
Lalu ada juga rubrik berkebun dan ficer tentang
penemuan-penemuan ilmuwan Muslim di masa lampau. Semuanya dikemas secara
populer dengan menampilkan sisi Islam yang selama ini terlupakan di
tengah arus Islamofobia dan isu terorisme.
Melalui Emel, Sarah berupaya mempresentasikan Islam yang sebenarnya,
dengan menonjolkan kontribusi yang telah mereka buat, terutama untuk
membangun opini masyarakat Barat.
Dengan sentuhan desain dan tata letak yang menarik, pesan-pesan Islam
yang ditampilkan dalam setiap artikel dapat dipahami secara luas tanpa
dogma-dogma agama atau bumbu politik.
”Jadi, saya kira, Muslim Inggris dan di Barat umumnya, harus
menemukan jawaban atas apa yang terjadi saat ini. Harus jadi jembatan
antara dua dunia itu. Kita-kita yang lahir dan besar dalam masyarakat
Inggris, memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan Islam pada kalangan
Barat,’’ papar Sarah yang bersuamikan Mahmud al-Rashid, seorang pria Inggris keturunan Bangladesh
Ia mengatakan Islam memiliki kapasitas untuk memberikan yang terbaik.
Syaratnya, kata Sarah, Barat harus memulainya dengan melihat Islam
sebagai bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah yang harus
dijauhi.
Mengenai bisnis media yang dijalaninya, ungkap Sarah, banyak pihak
yang mengira dirinya telah mengeluarkan modal yang cukup besar untuk
memulai usahanya ini.
‘’Seorang wartawan BBC mengira kami punya modal hingga 5 juta
pounds. Saya tertawa. Kami mulai dengan modal awal 20 ribu pounds,” jelas ibu dari Hasan, Sumayah, dan Amirah itu.
Melalui majalah itu, Perempuan yang pernah mendapat undangan, saat
Toni Blair menjabat Perdana Menteri Inggris itu, Sarah ingin menunjukkan
sesuatu yang lain. Bahwa Islam bukan hanya ibadah shalat atau politik.
Tapi Islam juga mengatur gaya hidup.
Dulu banyak yang tidak tahu bagaimana konsep hidup seorang Muslim.
Namun kini perlahan mulai jelas setelah majalah ini diluncurkan. Emel
berhasil merebut pasar yang belum banyak dimanfaatkan media lain dan
meruntuhkan imej buruk sebagian kalangan yang membenci Islam. Oplahnya
kini lebih dari 20 ribu eksemplar dan memiliki tiga ribu pelanggan
tetap.
Sebagai Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Editor Emel,
Sarah giat membantu pengembangan ide dengan meramu Islam masa kini dan
masa lalu serta mengajak pembaca Muslim memberikan kontribusi mereka.
Majalah yang bermarkas di Whitechapel, timur London itu memiliki enam
orang staf dan beberapa relawan. sumber:KisahMuallaf.com
Label:
Wawasan Muslimah
20.28
Hikmah di Balik Puasa Ramadhan
Written By Unknown on Senin, 15 Juli 2013 | 20.28
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia
Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,
Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:
Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat
5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.
Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]
Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia.
Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]
Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Adapun hadits yang mengatakan,
Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Berikut adalah beberapa hikmah di balik puasa Ramadhan yang kami sarikan dari beberapa kalam ulama. Semoga bermanfaat.
1. Menggapai Derajat Takwa
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al Baqarah: 183). Ayat ini menunjukkan bahwa di antara hikmah
puasa adalah agar seorang hamba dapat menggapai derajat takwa dan puasa
adalah sebab meraih derajat yang mulia ini. Hal ini dikarenakan dalam
puasa, seseorang akan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi setiap
larangan-Nya. Inilah pengertian takwa. Bentuk takwa dalam puasa dapat
kita lihat dalam berbagai hal berikut.Pertama, orang yang berpuasa akan meninggalkan setiap yang Allah larang ketika itu yaitu dia meninggalkan makan, minum, berjima’ dengan istri dan sebagainya yang sebenarnya hati sangat condong dan ingin melakukannya. Ini semua dilakukan dalam rangka taqorrub atau mendekatkan diri pada Allah dan meraih pahala dari-Nya. Inilah bentuk takwa.
Kedua, orang yang berpuasa sebenarnya mampu untuk melakukan kesenangan-kesenangan duniawi yang ada. Namun dia mengetahui bahwa Allah selalu mengawasi diri-Nya. Ini juga salah bentuk takwa yaitu merasa selalu diawasi oleh Allah.
Ketiga, ketika berpuasa, setiap orang akan semangat melakukan amalan-amalan ketaatan. Dan ketaatan merupakan jalan untuk menggapai takwa.[1] Inilah sebagian di antara bentuk takwa dalam amalan puasa.
2. Hikmah di Balik Meninggalkan Syahwat dan Kesenangan Dunia
Di dalam berpuasa, setiap muslim diperintahkan untuk meninggalkan berbagai syahwat, makanan dan minuman. Itu semua dilakukan karena Allah. Dalam hadits qudsi[2], Allah Ta’ala berfirman,
يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى
“Dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.[3]Di antara hikmah meninggalkan syahwat dan kesenangan dunia ketika berpuasa adalah:
Pertama, dapat mengendalikan jiwa. Rasa kenyang karena banyak makan dan minum, kepuasan ketika berhubungan dengan istri, itu semua biasanya akan membuat seseorang lupa diri, kufur terhadap nikmat, dan menjadi lalai. Sehingga dengan berpuasa, jiwa pun akan lebih dikendalikan.
Kedua, hati akan menjadi sibuk memikirkan hal-hal baik dan sibuk mengingat Allah. Apabila seseorang terlalu tersibukkan dengan kesenangan duniawi dan terbuai dengan makanan yang dia lahap, hati pun akan menjadi lalai dari memikirkan hal-hal yang baik dan lalai dari mengingat Allah. Oleh karena itu, apabila hati tidak tersibukkan dengan kesenangan duniawi, juga tidak disibukkan dengan makan dan minum ketika berpuasa, hati pun akan bercahaya, akan semakin lembut, hati pun tidak mengeras dan akan semakin mudah untuk tafakkur (merenung) serta berdzikir pada Allah.
Ketiga, dengan menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi, orang yang berkecukupan akan semakin tahu bahwa dirinya telah diberikan nikmat begitu banyak dibanding orang-orang fakir, miskin dan yatim piatu yang sering merasakan rasa lapar. Dalam rangka mensyukuri nikmat ini, orang-orang kaya pun gemar berbagi dengan mereka yang tidak mampu.
Keempat, dengan berpuasa akan mempersempit jalannya darah. Sedangkan setan berada pada jalan darahnya manusia. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
“Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia pada tempat mengalirnya darah.”[4]
Jadi puasa dapat menenangkan setan yang seringkali memberikan was-was.
Puasa pun dapat menekan syahwat dan rasa marah. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan puasa sebagai salah satu obat mujarab bagi orang yang memiliki keinginan untuk menikah namun belum kesampaian.[5]3. Mulai Beranjak Menjadi Lebih Baik
Di bulan Ramadhan tentu saja setiap muslim harus menjauhi berbagai macam maksiat agar puasanya tidak sia-sia, juga agar tidak mendapatkan lapar dan dahaga saja. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga saja.”[6]Puasa menjadi sia-sia seperti ini disebabkan bulan Ramadhan masih diisi pula dengan berbagai maksiat. Padahal dalam berpuasa seharusnya setiap orang berusaha menjaga lisannya dari rasani orang lain (baca: ghibah), dari berbagai perkaataan maksiat, dari perkataan dusta, perbuatan maksiat dan hal-hal yang sia-sia.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah
mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia
tahan.”[7]Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ
وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ
سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ،
إِنِّي صَائِمٌ
“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi,
puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats.
Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu,
katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa”.”[8] Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.[9] Sedangkan rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita[10] atau dapat pula bermakna kata-kata kotor.[11]Oleh karena itu, ketika keluar bulan Ramadhan seharusnya setiap insan menjadi lebih baik dibanding dengan bulan sebelumnya karena dia sudah ditempa di madrasah Ramadhan untuk meninggalkan berbagai macam maksiat. Orang yang dulu malas-malasan shalat 5 waktu seharusnya menjadi sadar dan rutin mengerjakannya di luar bulan Ramadhan. Juga dalam masalah shalat Jama’ah bagi kaum pria, hendaklah pula dapat dirutinkan dilakukan di masjid sebagaimana rajin dilakukan ketika bulan Ramadhan. Begitu pula dalam bulan Ramadhan banyak wanita muslimah yang berusaha menggunakan jilbab yang menutup diri dengan sempurna, maka di luar bulan Ramadhan seharusnya hal ini tetap dijaga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَإِنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ
“(Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.”[12]Ibadah dan amalan ketaatan bukanlah ibarat bunga yang mekar pada waktu tertentu saja. Jadi, ibadah shalat
5 waktu, shalat jama’ah, shalat malam, gemar bersedekah dan berbusana muslimah, bukanlah jadi ibadah musiman. Namun sudah seharusnya di luar bulan Ramadhan juga tetap dijaga. Para ulama seringkali mengatakan, “Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah, -pen) hanya pada bulan Ramadhan saja.”
Ingatlah pula pesan dari Ka’ab, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas dari Ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).”[13]
4. Kesempatan untuk Saling Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaan Mereka
Puasa akan menyebabkan seseorang lebih menyayangi si miskin. Karena orang yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya. Keadaan ini pun ia rasakan begitu lama. Akhirnya ia pun bersikap lemah lembut terhadap sesama dan berbuat baik kepada mereka. Dengan sebab inilah ia mendapatkan balasan melimpah dari sisi Allah.
Begitu pula dengan puasa seseorang akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang-orang miskin, fakir, yang penuh kekurangan. Orang yang berpuasa akan merasakan lapar dan dahaga sebagaimana yang dirasakan oleh mereka-mereka tadi. Inilah yang menyebabkan derajatnya meningkat di sisi Allah.[14]
Inilah beberapa hikmah syar’i yang luar biasa di balik puasa Ramadhan. Oleh karena itu, para salaf sangatlah merindukan bertemu dengan bulan Ramadhan agar memperoleh hikmah-hikmah yang ada di dalamnya. Sebagian ulama mengatakan, “Para salaf biasa berdoa kepada Allah selama 6 bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Dan 6 bulan sisanya mereka berdoa agar amalan-amalan mereka diterima”.[15]
Hikmah Puasa yang Keliru
Adapun hikmah puasa yang biasa sering dibicarakan sebagian kalangan bahwa puasa dapat menyehatkan badan (seperti dapat menurunkan bobot tubuh, mengurangi resiko stroke, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi resiko diabetes[16]), maka itu semua adalah hikmah ikutan saja[17] dan bukan hikmah utama. Sehingga hendaklah seseorang meniatkan puasanya untuk mendapatkan hikmah syar’i terlebih dahulu dan janganlah dia berpuasa hanya untuk mengharapkan nikmat sehat semata. Karena jika niat puasanya hanya untuk mencapai kenikmatan dan kemaslahatan duniawi, maka pahala melimpah di sisi Allah akan sirna walaupun dia akan mendapatkan nikmat dunia atau nikmat sehat yang dia cari-cari.
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ
الآخِرَةِ نزدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami
tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki
keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan
dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy Syuraa: 20)Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Orang yang gemar berbuat riya’ akan diberi balasan kebaikan mereka di dunia.
Mereka sama sekali tidak akan dizholimi. Namun ingatlah, barangsiapa yang melakukan amalan puasa, amalan shalat atau amalan shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Akan tetapi, amalannya akan lenyap di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari keuntungan dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”.”[18]
Sehingga yang benar, puasa harus dilakukan dengan niat ikhlas untuk mengharap wajah Allah. Sedangkan nikmat kesehatan, itu hanyalah hikmah ikutan saja dari melakukan puasa, dan bukan tujuan utama yang dicari-cari. Jika seseorang berniat ikhlas dalam puasanya, niscaya nikmat dunia akan datang dengan sendirinya tanpa dia cari-cari. Ingatlah selalu nasehat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ
جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِى قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ
الدُّنْيَا وَهِىَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ
اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهَ وَلَمْ
يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai akhirat, maka
Allah akan memberikan kecukupan dalam hatinya, Dia akan menyatukan
keinginannya yang tercerai berai, dunia pun akan dia peroleh dan tunduk
hina padanya. Barangsiapa yang niatnya adalah untuk menggapai dunia,
maka Allah akan menjadikan dia tidak pernah merasa cukup, akan mencerai
beraikan keinginannya, dunia pun tidak dia peroleh kecuali yang telah
ditetapkan baginya.”[19]Adapun hadits yang mengatakan,
صُوْمُوْا تَصِحُّوْا
“Berpuasalah, niscaya kalian akan sehat.” Perlu diketahui bahwa hadits semacam ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) menurut ulama pakar hadits.[20]Semoga kita bisa menarik hikmah berharga di balik puasa kita di bulan penuh kebaikan, bulan Ramadhan.
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
Label:
Wawasan Muslimah
04.28
Para jagoan wanita di zaman Rasulullah SAW
Written By Unknown on Rabu, 10 Juli 2013 | 04.28
Jika kita membaca sejarah para sahabat perempuan di zaman Rasulullah
Shallallahu alaihi Wassalam, kita akan banyak menemukan
kekaguman-kekaguman yang luar biasa. Mereka bukan hanya berilmu,
berakhlaq, pandai membaca Al Qur’an, tapi juga jago pedang, berkuda dan
memanah, dan tidak sedikit yang juga menjadi “dokter” yang pintar
mengobati para sahabat yang terluka di medan perang. Bahkan, ada di
antara mereka yang terpotong tangannya karena melindungi Rasulullah!
Subhanallah… Simak kisah mereka..
Nusaibah si Jago Pedang
Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang mulia berdiri di puncak
bukit Uhud dan memandang musuh yang merangsek maju mengarah pada
dirinya. Beliau memandang ke sebelah kanan dan tampak olehnya seorang
perempuan mengayun-ayunkan pedangnya dengan gagah perkasa melindungi
dirinya. Beliau memandang ke kiri dan sekali lagi beliau melihat wanita
tersebut melakukan hal yang sama – menghadang bahaya demi melindungi
sang pemimpin orang-orang beriman.
Kata Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam kemudian, “Tidaklah aku
melihat ke kanan dan ke kiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat
Nusaibah binti Ka’ab berperang membelaku.”
Memang Nusaibah binti Ka’ab Ansyariyah demikian cinta dan setianya
kepada Rasulullah sehingga begitu melihat junjungannya itu terancam
bahaya, dia maju mengibas-ngibaskan pedangnya dengan perkasa sehingga
dikenal dengan sebutan Ummu Umarah, adalah pahlawan wanita Islam yang
mempertaruhkan jiwa dan raga demi Islam termasuk ikut dalam perang
Yamamah di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid sampai terpotong
tangannya. Ummu Umarah juga bersama Rasulullah Shallallahu alaihi
Wassalam dalam menunaikan Baitur Ridhwan, yaitu suatu janji setia untuk
sanggup mati syahid di jalan Allah.
Nusaibah adalah satu dari dua perempuan yang bergabung dengan 70
orang lelaki Ansar yang berbaiat kepada Rasulullah Shallallahu alaihi
Wassalam. Dalam baiat Aqabah yang kedua itu ia ditemani suaminya Zaid
bin Ahsim dan dua orang puteranya: Hubaib dan Abdullah. Wanita yang
seorang lagi adalah saudara Nusaibah sendiri. Pada saat baiat itu
Rasulullah menasihati mereka, “Jangan mengalirkan darah denga sia-sia.”
Dalam perang Uhud, Nusaibah membawa tempat air dan mengikuti suami
serta kedua orang anaknya ke medan perang. Pada saat itu Nusaibah
menyaksikan betapa pasukan Muslimin mulai kocar-kacir dan musuh
merangsek maju sementara Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berdiri
tanpa perisai. Seorang Muslim berlari mundur sambil membawa perisainya,
maka Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam berseru kepadanya, “berikan
perisaimu kepada yang berperang.” Lelaki itu melemparkan perisainya yang
lalu dipungut oleh Nusaibah untuk melindungi Nabi.
Ummu Umarah sendiri menuturkan pengalamannya pada Perang Uhud,
sebagaimana berikut: “…saya pergi ke Uhud dan melihat apa yang dilakukan
orang. Pada waktu itu saya membawa tempat air. Kemudian saya sampai
kepada Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam yang berada di
tengah-tengah para sahabat. Ketika kaum muslimin mengalami kekalahan,
saya melindungi Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam, kemudian ikut
serta di dalam medan pertempuran. Saya berusaha melindungi Rasulullah
Shallallahu alaihi Wassalam dengan pedang, saya juga menggunakan panah
sehingga akhirnya saya terluka.”
Ketika ditanya tentang 12 luka ditubuhnya, Nusaibah menjawab, “Ibnu
Qumaiah datang ingin menyerang Rasulullah ketika para sahabat sedang
meninggalkan baginda. Lalu (Ibnu Qumaiah) berkata, ‘mana Muhammad? Aku
tidak akan selamat selagi dia masih hidup.’ Lalu Mushab bin Umair dengan
beberapa orang sahabat termasuk saya menghadapinya. Kemudian Ibny
Qumaiah memukulku.”
Rasulullah juga melihat luka di belakang telinga Nusaibah, lalu
berseru kepada anaknya, “Ibumu, ibumu…balutlah lukanya! Ya Allah,
jadikanlah mereka sahabatku di surge!” Mendengar itu, Nusaibah berkata
kepada anaknya, “Aku tidak perduli lagi apa yang menimpaku di dunia
ini.”
Subhanallah, sungguh setianya beliau kepada baginda Rasulullah Shallallahu alaihi Wassalam.
Khaulah binti Azur (Ksatria Berkuda Hitam)
Siapa Ksatria Berkuda Hitam ini? Itulah Khaulah binti Azur. Dia
seorang muslimah yang kuat jiwa dan raga. Sosok tubuhnya tinggi langsing
dan tegap. Sejak kecil Khaulah suka dan pandai bermain pedang dan
tombak, dan terus berlatih sampai tiba waktunya menggunakan
keterampilannya itu untuk membela Islam bersama para mujahidah lainnya.
Diriwayatkan betapa dalam salah satu peperangan melawan pasukan kafir
Romawi di bawah kepemimpinan Panglima Khalid bin Walid, tiba-tiba saja
muncul seorang penunggang kuda berbalut pakaian serba hitam yang dengan
tangkas memacu kudanya ke tengah-tengah medan pertempuran. Seperti singa
lapar yang siap menerkam, sosok berkuda itu mengibas-ngibaskan
pedangnya dan dalam waktu singkat menumbangkan tiga orang musuh.
Panglima Khalid bin Walid serta seluruh pasukannya tercengang melihat
ketangkasan sosok berbaju hitam itu. Mereka bertanya-tanya siapakah
pejuang tersebut yang tertutup rapat seluruh tubuhnya dan hanya terlihat
kedua matanya saja itu. Semangat jihad pasukan Muslimin pun terbakar
kembali begitu mengetahui bahwa the Black Rider, di penunggang kuda
berbaju hitam itu adalah seorang wanita!
Keberanian Khaulah teruji ketika dia dan beberapa mujahidah tertawan
musuh dalam peperangan Sahura. Mereka dikurung dan dikawal ketat selama
beberapa hari. Walaupun agak mustahil untuk melepaskan diri, namun
Khaulah tidak mau menyerah dan terus menyemangati sahabat-sahabatnya.
Katanya, “Kalian yang berjuang di jalan Allah, apakah kalian mau menjadi
tukang pijit orang-orang Romawi? Mau menjadi budak orang-orang kafir?
Dimana harga diri kalian sebagai pejuang yang ingin mendapatkan surga
Allah? Dimana kehormatan kalian sebagai Muslimah? Lebih baik kita mati
daripada menjadi budak orang-orang Romawi!”
Demikianlah Khaulah terus membakar semangat para Muslimah sampai
mereka pun bulat tekad melawan tentara musuh yang mengawal mereka. Rela
mereka mati syahid jika gagal melarikan diri. “Janganlah saudari
sekali-kali gentar dan takut. Patahkan tombak mereka, hancurkan pedang
mereka, perbanyak takbir serta kuatkan hati. Insya Allah pertolongan
Allah sudah dekat.
Dikisahkan bahwa akhirnya, karena keyakinan mereka, Khaulah dan
kawan-kawannya berhasil melarikan diri dari kurungan musuh! Subhanallah…
Nailah si Cantik yang Pemberani
Nailah binti al-Farafishah adalah istri Khalifah Ustman bin Affan.
Dia terkenal cantik dan pandai. Bahkan suaminya sendiri memujinya
begini: “Saya tidak menemui seorang wanita yang lebih sempurna akalnya
dari dirinya. Saya tidak segan apabila ia mengalahkan akalku.”
Subhanallah!
Mereka menikah di Madinah al-Munawwarah dan sejak itu Ustman kagum
pada tutur kata dan keahlian Nailah di bidang sastra. Karena cintanya,
Ustman paling senang memberikan hadiah untuk istrinya itu. Mereka punya
satu orang anak perempuan, Maryan binti Ustman.
Ketika terjadi fitnah yang memecah belah umat Islam pada tahun 35
Hijriyah, Nailah ikut mengangkat pedang untuk membela suaminya. Seorang
musuh menerobos masuk dan menyerang dengan pedang pada saat Ustman
sedang memegang mushaf atau Al Qur’an. Tetesan darahnya jatuh pada ayat
137 surah Al Baqarah yang berbunyi, “Maka Allah akan memelihara engkau
dari mereka.”
Seseorang pemberontak lain masuk dengan pedang terhunus. Nailah
berhasil merebut pedang itu namun si musuh kembali merampas senjata itu,
dan menyebabkan jari-jari Nailah terputus Ustman syahid karena sabetan
pedang pemberontak. Air mata Nailah tumpah ruah saat memangku jenazah
sang suami. Ketika kemudian ada musuh yang dengan penuh kebencian
menampari wajah Ustman yang sudah wafat itu, Nailah lalu berdoa, “Semoga
Allah menjadikan tanganmu kering, membutakan matamu dan tidak ada
ampunan atas dosa-dosamu!”
Dikisahkan dalam sejarah bahwa si penampar itu keluar dari rumah Ustman dalam keadaan tangannya menjadi kering dan matanya buta!
Sesudah Ustman wafat, Nailah berkabung selama 4 bulan 10 hari. Ia tak
berdandan dan berhias dan tidak meninggalkan rumah Ustman ke rumah
ayahnya.
Nailah memandang kesetiaan terhadap suaminya sepeninggalnya lebih
berpengaruh dan lebih besar dari apa yang dilihatnya terhadap ayahnya,
saudara perempuannya, ibunya dan juga kerabatnya. Ia selalu mendahulukan
keutamaannya, mengingat kebaikannya di setiap tempat dan kesempatan.
Ketika Ustman terbunuh, ia mengatakan, “Sungguh kalian telah membunuhnya
padahal ia telah menghidupkan malam dengan Al Qur’an dalam rangkaian
rakaat.”
Subhanallah yah, ternyata umat muslim juga memiliki jagoan wanita
yang memang nyata adanya, semoga kita, para muslimah dapat mengambil
teladan dari mereka, aamiin.
(http://arrahmah.com)
Label:
Wawasan Muslimah
07.23
Hukum Operasi Selaput Dara
Written By Unknown on Selasa, 18 Juni 2013 | 07.23
Selaput dara adalah selaput tipis yang ada dalam kemaluan
wanita, yang oleh masyarakat disebut keperawanan, karena jika selaput
dara itu belum pecah atau sobek menunjukkan bahwa wanita itu belum
pernah melakukan hubungan seksual dengan lelaki. Walalupun tanda ini
tidaklah mutlak karena ada sebagian wanita yang tidak pecah selaput
daranya saat melakukan hubungan seksual.
Operasi selaput dara adalah cara untuk memperbaiki atau
mengembalikannya ke tempat semula. Untuk memudahkan menggali hukum
tentang operasi selaput dara, masalah ini dibagi menjadi beberapa
bagian, sesuai dengan sebab hilangnya (robeknya) selaput dara;
1. Hilang selaput dara bukan karena maksiat.
Seorang gadis mungkin saja kehilangan selaput daranya karena kecelakaan, membawa beban terlalu berat, jatuh, dan lain-lain. Begitu juga jika ia dalam keadaan masih kecil dan tertidur kemudian diperkosa orang atau ditipu.
Jika si gadis yang tidak berdosa itu melakukan operasi selaput dara, maka ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, sebagian ulama berpendapat itu dibolehkan, atau disunnahkan, atau malah menjadi wajib, dengan alasan-alasan sebagai berikut;
a) Kejadian yang menimpanya merupakan musibah, sebagaimana orang yang patah tulang atau luka bakar akibat kecelakaan. Jika orang-orang yang kena musibah seperti ini diperkenankan melakukan operasi dengan tujuan memperbaiki tubuhnya yang rusak, maka orang yang kehilangan selaput daranya pun diboleh kan untuk melakukan operasi demi mengembalikan bagian tubuh yang rusak tadi.
b) Menyelamatkan si gadis dari tuduhan miring fitnah, sekaligus menutupi aib yang menimpa dirinya. Hal ini sejalan dengan ruh Islam, yang memerintahkan untuk menutupi aib saudaranya.
“Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Namun, walaupun begitu, sebagian ulama tidak membolehkan operasi selaput dara karena mungkin saja orang lain tahu dari pihak-pihak tertentu, walaupun si gadis sudah melakukan operasi selaput dara.
Selain itu, aurat si gadis tadi akan terlihat oleh dokter padahal operasi ini bukanlah hal yang darurat. Sedangkan untuk menghindari fitnah, bisa saja dengan menjelaskan kepada calon suami atau kepada masyarakat bahwa selaput dara yang hilang itu karena kecelakaan bukan karena zina.
Dari dua pendapat diatas, maka siapa saja yang selaput daranya robek, atau hilang karena kecelakaan, atau karena hal-hal lain yang tidak termasuk maksiat, sebaiknya tidak usah melakukan operasi karena hal itu bukanlah hal yang darurat. Akan tetapi, jika memang keadaannya sangat mendesak dan benar-benar membawa maslahat yang besar, maka hal itu dibolehkan juga.
2. Hilang selaput dara karena zina dan masyarakat mengetahuinya.
Orang yang berzina dibagi menjadi dua keadaan;
3. Hilangnya selaput dara karena pernikahan.
Hilangnya selaput dara dalam pernikahan adalah sesuatu yang wajar dan normal. Sehingga melakukan operasi selaput dara pada keadaan seperti ini merupakan tindakan yang sia-sia dan menghambur-hamburkan uang dan waktu.
Selain itu, mau tidak mau , harus membuka auratnya yang paling vital dan tentunya akan dilihat oleh para dokter yang melakukan operasi. Dengan demikian melakukan operasi selaput dara dalam kondisi seperti ini merupakan tindakan yang tercela dan dilarang dalam Islam. Para dokter yang melakukan operasi juga ikut berdosa. Para ulama sepakat dalam hal ini. Wallahua’lam bish shawab.
Sumber: Halal dan Haram dalam Pengobatan, Dr. Ahmad Zain An Najah, MA
1. Hilang selaput dara bukan karena maksiat.
Seorang gadis mungkin saja kehilangan selaput daranya karena kecelakaan, membawa beban terlalu berat, jatuh, dan lain-lain. Begitu juga jika ia dalam keadaan masih kecil dan tertidur kemudian diperkosa orang atau ditipu.
Jika si gadis yang tidak berdosa itu melakukan operasi selaput dara, maka ulama berbeda pendapat mengenai hal ini, sebagian ulama berpendapat itu dibolehkan, atau disunnahkan, atau malah menjadi wajib, dengan alasan-alasan sebagai berikut;
a) Kejadian yang menimpanya merupakan musibah, sebagaimana orang yang patah tulang atau luka bakar akibat kecelakaan. Jika orang-orang yang kena musibah seperti ini diperkenankan melakukan operasi dengan tujuan memperbaiki tubuhnya yang rusak, maka orang yang kehilangan selaput daranya pun diboleh kan untuk melakukan operasi demi mengembalikan bagian tubuh yang rusak tadi.
b) Menyelamatkan si gadis dari tuduhan miring fitnah, sekaligus menutupi aib yang menimpa dirinya. Hal ini sejalan dengan ruh Islam, yang memerintahkan untuk menutupi aib saudaranya.
“Barangsiapa yang menutupi aib saudaranya di dunia, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Namun, walaupun begitu, sebagian ulama tidak membolehkan operasi selaput dara karena mungkin saja orang lain tahu dari pihak-pihak tertentu, walaupun si gadis sudah melakukan operasi selaput dara.
Selain itu, aurat si gadis tadi akan terlihat oleh dokter padahal operasi ini bukanlah hal yang darurat. Sedangkan untuk menghindari fitnah, bisa saja dengan menjelaskan kepada calon suami atau kepada masyarakat bahwa selaput dara yang hilang itu karena kecelakaan bukan karena zina.
Dari dua pendapat diatas, maka siapa saja yang selaput daranya robek, atau hilang karena kecelakaan, atau karena hal-hal lain yang tidak termasuk maksiat, sebaiknya tidak usah melakukan operasi karena hal itu bukanlah hal yang darurat. Akan tetapi, jika memang keadaannya sangat mendesak dan benar-benar membawa maslahat yang besar, maka hal itu dibolehkan juga.
2. Hilang selaput dara karena zina dan masyarakat mengetahuinya.
Orang yang berzina dibagi menjadi dua keadaan;
a) Dia telah melakukan zina tapi
masyarakat belum mengetahuinya. Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.
Sebagian membeolehkan dengan alasan menutupi aibnya. Namun, sebagian
tidak membolehkannya dengan alasan hal itu akan mendorongnya dan
mendorong orang lain terus-menerus berbuat zina, karena dengan mudah ia
akan melakukan operasi selapu dara dan hal ini akan membawa mafsadat
yang besar bagi masyarakat.Jadi, dalam hal ini dilihat jika memang
operasi tersebut benar-benar membawa maslahat yang besar tidak apa-apa
dilakukan, tapi jika tidak, sebaiknya diurungkan melakukan operasi
selaput dara.
b) Dia sudah melakukan zina dan masyarakat
sudah mengetahuninya. Dalam hal ini para ulama bersepakat untuk
mengharamkan operasi selaput dara karena mafsadat yang ditimbulkan jauh
lebih besar dan tidak ada maslahat sama sekali dalam hal itu.
3. Hilangnya selaput dara karena pernikahan.
Hilangnya selaput dara dalam pernikahan adalah sesuatu yang wajar dan normal. Sehingga melakukan operasi selaput dara pada keadaan seperti ini merupakan tindakan yang sia-sia dan menghambur-hamburkan uang dan waktu.
Selain itu, mau tidak mau , harus membuka auratnya yang paling vital dan tentunya akan dilihat oleh para dokter yang melakukan operasi. Dengan demikian melakukan operasi selaput dara dalam kondisi seperti ini merupakan tindakan yang tercela dan dilarang dalam Islam. Para dokter yang melakukan operasi juga ikut berdosa. Para ulama sepakat dalam hal ini. Wallahua’lam bish shawab.
Sumber: Halal dan Haram dalam Pengobatan, Dr. Ahmad Zain An Najah, MA
Label:
Wawasan Muslimah
07.18
Rahmah El Yunusiyyah, Mujahidah tanpa Emansipasi
Di antara para pahlawan Nasional, terdapat sederet nama-nama wanita
dari berbagai daerah dan beragam cara berjuangnya. Kalau Cut Nyak Dien
dan Keumalahayati berjuang dengan mengangkat senjata tanpa mendirikan
sekolah, sementara Dewi Sartika berjuang dengan mendirikan sekolah tanpa
mengangkat senjata. Tapi selain mereka, lihatlah Rahmah El Yunusiyah,
yang berjuang dengan mendirikan sekolah sekaligus mengangkat senjata.
Dan ia pertaruhkan seluruh jiwa raganya demi agama.
Jilbabnya yang panjang nan lebar melebihi dada selalu dikenakannya,
memperlihatkan didikan dan penanaman agama yang sangat kuat pada
dirinya.
“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap
terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan
dituntut dari diri saya”, kata Rahmah El Yunusiyah suatu hari bertekad.
Ia merasa gelisah ketika melihat perempuan di daerahnya belum
mendapatkan pendidikan yang sama seperti yang didapatkan laki-laki,
utamanya pendidikan agama. Padahal Islam sendiri tidak pernah membatasi
perempuan untuk menuntut ilmu. Ia gelisah, karena kaumnya masih terjerat
dengan kebodohan dan ia ingin mengeluarkan kaumnya dari jerat kebodohan
melalui pendidikan. Rahmah sadar benar bahwa hanya dengan pendidikan
lah, ia bisa memajukan kaumnya dan bisa mengeluarkan kaumnya dari
ketertinggalan.
Pelopor Pendidikan Perempuan
Rahmah El Yunusiyah lahir pada tanggal 1 Rajab 1318 Hijriyah atau 20
Desember 1900. Bukit Surungan, Padang Panjang menjadi saksi bahwa dari
sanalah calon Mujahidah lahir dan tumbuh. Anak bungsu dari lima
bersaudara ini terlahir dari seorang Ayah yang bekerja sebagai Hakim dan
ahli Ilmu Falak (astronomi) bernama Muhammad Yunus bin Imanuddin dengan
seorang ibu bernama Rafi’ah.
Rahmah kecil telah mendapat pendidikan formal sekolah dasar selama
tiga tahun di kota kelahirannya, Padang Panjang. Saat ia berusia 15
tahun, pendidikan bahasa Arab dan Latin ia dapatkan dari Diniyah School
(1915) dan dari kedua kakaknya, Zaenuddin Labay dan Muhammad Rasyid.
Setiap sore, Rahmah remaja rutin mengaji pada Haji Abdul Karim Amrullah
yang merupakan ayah dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau HAMKA di
surau Jembatan Besi, Padang Panjang.
Saat berumur 23 tahun, Rahmah nampak sempurna dan begitu istimewa
untuk ukuran perempuan seusianya. Keinginan besarnya untuk memajukan
keilmuan kaumnya dan mengeluarkan kaumnya dari kebodohan begitu
bergelora. Karena bagi Rahmah sendiri, perempuan memiliki peran yang
penting dalam kehidupan, utamanya dalam rumah tangga. Karena rumah
tangga adalah bagian dari tiang masyarakat dan masyarakat adalah tiang
negara. Tentulah ia tidak mau, kaumnya yang mempunyai peran penting
dalam tiang negara dan pendidikan anak-anaknya tertinggal dari
laki-laki.
Akhirnya pada tanggal 01 November 1923, Rahmah dengan dukungan dari
kakaknya, Zaenuddin Labay dan teman-teman perempuannya di PMDS
(Persatuan Murid-murid Diniyyah School) memutuskan untuk mendirikan
sekolah khusus Perempuan yang dinamai Diniyah School Putri atau Madrasah
Diniyah li al-Banat yang bertempat di Masjid Pasar Usang.
Saat itu, muridnya masih berjumlah 71 orang dan terdiri dari ibu-ibu
muda, termasuk putri dari Teungku Panglima Polim dan Hajjah Rangkayo
Rasuna Said. Pelajaran yang ajarkan yaitu ilmu agama dan tata bahasa
Arab, namun belakangan sekolah ini menerapkan pendidikan modern dengan
menggabungkan pendidikan agama, pendidikan sekuler dan pendidikan
keterampilan.
“Diniyah School Puteri ini selalu akan mengikhtiarkan
penerangan agama dan meluaskan kemajuannya kepada perempuan-perempuan
yang selama ini susah mendapatkan penerangan agama Islam dengan
secukupnya daripada kaum Lelaki…, Inilah yang menyebabkan terjauhnya
penerangan perempuan Islam daripada penerangan agamanya sehingga
menjadikan kaum perempuan itu rendam karam ke dalam kejahilan”, kata
Rahmah.
Tiga tahun kemudian, gempa hebat mengguncang Sumatera Barat pada
tahun 1926, bangunan sekolah dan asrama yang baru ia rintis luluh
lantak, meski begitu Rahmah tidak menangis, Rahmah langsung bangkit
kembali. Dengan susah payah, ia membangun kembali sekolahnya dengan
batangan bambu dua lantai berukuran 12×7 m2 dan menghimpun kembali para
muridnya.
Namun, rupanya hal itu tidak cukup, bersama pamannya ia menjelajahi
Aceh, Sumatera Utara hingga menyebrangi selat malaka untuk mencari
bantuan dana ke Malaysia. Ternyata usahanya tidak sia-sia, Rahmah
berhasil mengumpulkan dana yang cukup besar, yaitu sekitar 1569 gulden.
Kiprahnya dalam memajukan pendidikan bagi perempuan, tidak hanya
membangun Diniyyah Putri School, tapi Rahmah juga mempelopori sekolah
khusus perempuan.
Pada tahun 1955, Rektor Universitas Al Azhar Kairo, Syaikh
Abdurrahman Taj berkunjung ke Diniyyah Putri School, ia tertarik dengan
sistem pembelajaran khusus yang ada di sekolah tersebut. Dari sana, ia
menimba pengalaman dari sekolah yang didirikan oleh Rahmah.
Tidak
lama setelah kunjungan tersebut, kampus Islam tertua di dunia itu
membuka pendidikan khusus Perempuan yang bernama kulliyyât al-banât.
Waktu itu memang, Al Azhar belum memiliki sekolah pendidikan khusus
perempuan.
Dari rektor Al Azhar ini pula, pada tahun 1957, Rahmah mendapat gelar
Syaikhah, gelar istimewa yang diberikan hanya untuk orang-orang yang
ahli dalam bidang tertentu dan menguasai khazanah ilmu-ilmu keislaman.
Gelar tersebut setara dengan gelar Syaikh Mahmoud Shaltout, yang
merupakan mantan Rektor Al Azhar.
Menolak Kesetaraan Gender
Pada saat Rahmah masih
hidup, gelombang dan wacana tentang emansipasi dan kesetaraan gender di
Barat masih terus berlanjut. Meski demikian hal ini tidak mempengaruhi
sikap dan pemikirannya, ia tetap pada fitrahnya sebagai perempuan. Cicit
atau keturunan keempat Rahmah, Fauziah Fauzan El Muhammady pun mengakui
hal ini.
“Apa pandangan Bunda Rahmah terhadap emansipasi wanita? Mengacu pada
surat an-Nahl ayat 97 bahwa barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik
laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik. Jadi bunda Rahmah menganggap
tidak ada lagi emansipasi wanita karena Islam sudah memberikan porsi”,
kata Fauziah Fauzan, pemimpin Perguruan Diniyyah Putri Padang Panjang.
Meski menentang pembatasan mencari ilmu bagi perempuan, namun Rahmah
tidak serta merta menjadi seorang Feminis, hal ini terlihat saat Rahmah
mengikuti kongres Kaum Perempuan di Batavia pada tahun 1935, ia mewakili
kaum ibu Sumatera Tengah.
Dalam kongres tersebut ia memperjuangkan
pemakaian busana perempuan Indonesia yang hendaknya memakai kerudung.
Selain itu, dalam kongres tersebut, ia juga berusaha memberikan ciri
khas budaya Islam ke dalam kebudayaan Indonesia.
Mujahidah Sejati
Jati dirinya sebagai mujahidah sejati, tetap ia buktikan saat
menentang pemerintah Jepang yang kala itu masih menjajah Indonesia, ia
dan temannya mendirikan organisasi sosial politik seperti ADI (Anggota
Daerah Ibu) Sumatera Tengah, tujuannya untuk menentang pengerahan kaum
perempuan Indonesia terutama di Sumatera Tengah sebagai jugun ianfu
(perempuan penghibur) tentara Jepang.
Kelompok ini menuntut pemerintah Jepang agar menutup rumah kuning
(istilah untuk prostitusi waktu itu) karena tidak sesuai dengan
kebudayaan dan agama yang dipeluk oleh bangsa Indonesia. Ternyata
tuntutan itu berhasil. Perempuan Indonesia tidak lagi menjadi budak
pemuas nafsu seks tentara Jepang. Sebagai gantinya, Jepang mendatangkan
perempuan-perempuan dari Singapura dan Korea.
Begitu pun saat masa pemerintahan Soekarno, Rahmah berani dan rela
dikucilkan Soekarno, karena menentang kedekatan antara presiden
Indonesia pertama ini dengan Komunis. Meski dicap sebagai pemberontak
oleh pemerintah pusat saat itu karena bergabung dengan PRRI/PERMESTA,
namun Rahmah tidak perduli dan menerima kebencian Soekarno pada dirinya
dengan lapang dada.
Tidak cukup berhenti sampai di situ, pada tanggal 12 Oktober 1945,
Rahmah mempelopori berdirinya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang
anggotanya berasal dari Gyu Gun Ko En Kai atau Laskar Rakyat. Dapur
asrama dan harta miliknya direlakan untuk pembinaan TKR yang rata-rata
masih muda usia. Ia tidak hanya terkait dengan BKR, TKR, TRI (kemudian
berubah jadi TNI), tetapi juga mengayomi barisan pejuang yang dibentuk
organisasi Islam seperti laskar Sabilillah, laskar Hizbullah dan
lain-lain. Karena sifatnya yang mengayomi, pemuda-pemuda pejuang
kemerdekaan menyebutnya sebagai Bundo Kanduang dari barisan perjuangan.
Pada tahun 1952-1954, Rahmah menjadi anggota Dewan Pimpinan Pusat Masyumi di Jakarta dan terpilih sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara untuk periode tahun 1955-1958. Rahmah menghembuskan nafas terakhirnya pada malam Idul Adha, tanggal
26 Februari 1969. Setidaknya ia telah memberikan kita, kaum perempuan,
banyak pelajaran, bahwa menjadi pejuang, menjadi seorang Mujahidah,
tidak perlu sampai mengorbankan kewajiban kita sebagai Ibu dan Wanita.
Cukuplah Khadijah, Aisyah, Khansa dan Rahmah El Yunusiyah sebagai contoh
kita bahwa betapa mulianya tugas kita di hadapan-Nya.
Referensi :
Beberapa bahan diambil dari
Keterangan langsung Fauziah Fauzan saat mengisi Seminar Kepahlawanan
tanggal 10 November 2012 di Universitas Negeri Jakarta.
Dialog
Rahmah diambil dari buku Jajat Burhanuddin, Tentang Perempuan Islam :
Wacana dan Gerakan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.
Ahmad Rifa’I, Pahlawan Muslimah tanpa Penghargaan, http://ranahbundo.blogspot.com
Abdullah Ubaid Matraji, Rahmah El Yunusiyah Pendiri Diniyyah Putri
Padang Panjang,
http://buyamasoedabidin.blogspot.com/2008/08/rahmah-el-yunusiah-pendiri-diniyah.html
Unknown, http://anaksaleh.com/dunia-islam/70-tokoh-islam-dunia/346-syaikhah-rahmah-el-yunusiah
Oleh, Sarah Mantovani
sumber: ThisIsGender
(esqiel/muslimahzone.com)
Label:
Wawasan Muslimah
21.25
Dalam permasalahan ini ada dua pendapat:
Pertama: Wanita haidh dan nifas wajib menahan diri (dari pembatal puasa seperti makan dan minum, pen) dan juga mereka wajib mengqodho’ puasanya. Adapun alasan kenapa harus tetap menahan diri (dari pembatal puasa hingga sore hari, pen) karena sudah tidak adanya lagi halangan untuk tidak berpuasa. Adapun qodho’ tetap ada karena mereka tidak ada niat berpuasa sejak pagi hari.
Kedua: Wanita haidh dan nifas tetap wajib qodho’ puasa namun tidak ada keharusan menahan diri (dari pembatal puasa seperti makan dan minum, pen). Alasannya karena waktu siang bukanlah waktu terlarang bagi wanita haidh dan nifas. Jadi mereka boleh tidak puasa di awal siang secara lahir dan batin. Begitu pula karena menahan diri dari pembatal puasa (semisal menahan diri dari makan dan minum, pen) tidak bermanfaat sama sekali untuk mereka.
Hal ini berlaku pula untuk musafir, yaitu boleh baginya tidak berpuasa di awal siang secara lahir dan batin (artinya ketika ia tidak bersafar lagi di awal siang, ia boleh untuk makan dan minum, tidak mesti berpuasa hingga sore hari, pen). Pendapat kedua inilah yang rojih (terkuat).
Yang terkait dengan permasalahan di atas adalah orang sakit yang sembuh di pertengahan siang. Ia pun berlaku hal yang sama.1
Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di atas menunjukkan bahwa wanita haidh dan nifas jika mereka suci di pertengahan siang bisa langsung untuk makan dan minum ketika itu, tanpa mesti menahan diri dari makan dan minum (artinya berpuasa) hingga sore hari. Karena berpuasa pun tidak ada manfaatnya. Begitu pula hal ini berlaku untuk musafir yang tiba dari safar di siang hari dan orang yang sakit lalu sembuh di siang hari. Semoga sajian singkat ini bermanfaat. *** Muhammad Abduh Tuasikal
Bila Mendapati Haidh Di Tengah Puasa
Written By Unknown on Jumat, 12 Agustus 2011 | 21.25
Kita sudah ketahui bersama bahwa apabila wanita mendapati haidh maka ia tidak boleh puasa atau puasanya batal dan ia pun harus mengqodho’ di hari lainnya selepas Ramadhan. Lantas apa yang mesti dilakukan, jika wanita muslimah mendapati haidh di tengah-tengah ia berpuasa? Puasanya jelas batal, apakah ia tetap menahan diri dari makan dan minum hingga terbenam matahari?
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya, “Apa yang mesti dilakukan oleh wanita haidh dan nifas jika ia telah suci di pertengahan Ramadhan, begitu pula bagi musafir jika ia tidak lagi bersafar di siang hari?”
Beliau rahimahullah menjawab,
Dalam permasalahan ini ada dua pendapat:
Pertama: Wanita haidh dan nifas wajib menahan diri (dari pembatal puasa seperti makan dan minum, pen) dan juga mereka wajib mengqodho’ puasanya. Adapun alasan kenapa harus tetap menahan diri (dari pembatal puasa hingga sore hari, pen) karena sudah tidak adanya lagi halangan untuk tidak berpuasa. Adapun qodho’ tetap ada karena mereka tidak ada niat berpuasa sejak pagi hari.
Kedua: Wanita haidh dan nifas tetap wajib qodho’ puasa namun tidak ada keharusan menahan diri (dari pembatal puasa seperti makan dan minum, pen). Alasannya karena waktu siang bukanlah waktu terlarang bagi wanita haidh dan nifas. Jadi mereka boleh tidak puasa di awal siang secara lahir dan batin. Begitu pula karena menahan diri dari pembatal puasa (semisal menahan diri dari makan dan minum, pen) tidak bermanfaat sama sekali untuk mereka.
Hal ini berlaku pula untuk musafir, yaitu boleh baginya tidak berpuasa di awal siang secara lahir dan batin (artinya ketika ia tidak bersafar lagi di awal siang, ia boleh untuk makan dan minum, tidak mesti berpuasa hingga sore hari, pen). Pendapat kedua inilah yang rojih (terkuat).
Yang terkait dengan permasalahan di atas adalah orang sakit yang sembuh di pertengahan siang. Ia pun berlaku hal yang sama.1
Penjelasan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah di atas menunjukkan bahwa wanita haidh dan nifas jika mereka suci di pertengahan siang bisa langsung untuk makan dan minum ketika itu, tanpa mesti menahan diri dari makan dan minum (artinya berpuasa) hingga sore hari. Karena berpuasa pun tidak ada manfaatnya. Begitu pula hal ini berlaku untuk musafir yang tiba dari safar di siang hari dan orang yang sakit lalu sembuh di siang hari. Semoga sajian singkat ini bermanfaat. *** Muhammad Abduh Tuasikal
Label:
Keluarga Muslimah,
Wawasan Muslimah
22.32
Cukuplah Menjadi Muslimah: Katakan Tidak untuk Faham Feminisme!!
Written By Unknown on Senin, 08 Agustus 2011 | 22.32
Oleh: Yulianna PS
Penulis Cerpen ‘Hidayah Pelipur Cinta’
Wanita-wanita feminin mengatakan bahwa di era kebebasan ini wanita perlu menggugat agar posisi wanita setara dengan kaum laki-laki, wanita harus mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.
Maka aku katakan “tidak!” pada kaum feminin, aku seorang muslimah, sudah cukup dengan karunia Allah yang berlimpah. Allah menjadikan wanita mengandung, melahirkan, bagaimana mungkin seorang yang menjadi ibu menggugat untuk disamakan dengan seorang yang menjadi ayah? Seorang wanita yang menjadi ibu adalah madrasah pertama bagi sang anak.
Maka aku katakan “tidak!” pada kaum feminin, aku seorang muslimah, sudah cukup dengan karunia Allah yang berlimpah. Allah menjadikan wanita mengandung, melahirkan, bagaimana mungkin seorang yang menjadi ibu menggugat untuk disamakan dengan seorang yang menjadi ayah? Seorang wanita yang menjadi ibu adalah madrasah pertama bagi sang anak.
Ketika orang feminin mengatakan bahwa wanita harus mengikuti mode, tidak boleh mengikuti pakaian adat masa lampau dengan menutup kepala. Maka aku katakan “tidak!” pada kaum feminin. Pakaian muslimah adalah pakaian syar’i yang mempunyai sifat multi fungsi, sebagai pelindung bagi muslimah dari tatapan mata laki-laki jalang, sebagai pelindung kulit di saat panas mentari menyengat, sebagai pelindung tubuh dari cuaca dingin, sebagai kehormatan wanita yang mempunyai izzah.
Hijab adalah identitas, pakaian indah yang membuat muslimah berwibawa. Muslimah bukanlah budak mode yang hanya patuh pada kemauan designer murahan.
Ketika kaum feminin bilang, wanita harus memberontak jika diminta patuh pada laki-laki, mengasuh anak di rumah. Maka aku katakan “tidak!” pada golongan feminisme. Muslimah adalah wanita merdeka, tidak ada kewajiban menafkahi keluarga, semua tanggungan nafkah ada di tangan suami, tidak perlu lagi bersusah payah memaksa bekerja keluar rumah. Allah memuliakan wanita muslimah, jika mereka mempunyai penghasilan dan memberikan penghasilan tersebut untuk kebutuhan keluarga demi menolong suami, maka dihitung sebagai sedekah. Betapa merdekanya seorang muslimah.
Ketika kaum feminin menuduh muslimah itu tertindas, tidak punya hak untuk menceraikan suami, karena hak thalak ada di tangan laki-laki. Kukatakan pada golongan feminin, memang benar, tetapi Allah melebihkan wanita muslimah, harta dari istri tetap menjadi hak istri jika terjadi perceraian, sedangkan laki-laki harus membagi dengan istri harta yang dimiliki jika terjadi perceraian.
Itulah kelebihan menjadi muslimah, hartanya terjaga. Maka tidak perlu lagi bagi muslimah menggugat dengan embel-embel kesetaraan gender, karena muslimah adalah wanita merdeka. [voa-islam.com]
Hijab adalah identitas, pakaian indah yang membuat muslimah berwibawa. Muslimah bukanlah budak mode yang hanya patuh pada kemauan designer murahan.
Ketika kaum feminin bilang, wanita harus memberontak jika diminta patuh pada laki-laki, mengasuh anak di rumah. Maka aku katakan “tidak!” pada golongan feminisme. Muslimah adalah wanita merdeka, tidak ada kewajiban menafkahi keluarga, semua tanggungan nafkah ada di tangan suami, tidak perlu lagi bersusah payah memaksa bekerja keluar rumah. Allah memuliakan wanita muslimah, jika mereka mempunyai penghasilan dan memberikan penghasilan tersebut untuk kebutuhan keluarga demi menolong suami, maka dihitung sebagai sedekah. Betapa merdekanya seorang muslimah.
Ketika kaum feminin menuduh muslimah itu tertindas, tidak punya hak untuk menceraikan suami, karena hak thalak ada di tangan laki-laki. Kukatakan pada golongan feminin, memang benar, tetapi Allah melebihkan wanita muslimah, harta dari istri tetap menjadi hak istri jika terjadi perceraian, sedangkan laki-laki harus membagi dengan istri harta yang dimiliki jika terjadi perceraian.
Itulah kelebihan menjadi muslimah, hartanya terjaga. Maka tidak perlu lagi bagi muslimah menggugat dengan embel-embel kesetaraan gender, karena muslimah adalah wanita merdeka. [voa-islam.com]
Label:
Akhlak Muslimah,
Wawasan Muslimah
20.05
Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nisaa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata.
Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)
Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailhlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)
Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”
Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)
Bila dikatakan “Cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami,bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim)
Sehingga apa pun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.
Wallahu a’lam.
Sumber:
Tanya Jawab Majalah As Sunnah ed 04/IX/1426H/2005M (dengan sedikit pengeditan)
Murajaah: Ust Abu Rumaysho M A Tausikal
Ucapan “Shadaqallahul ‘Azhim” setelah membaca Al Quran?
Written By Unknown on Selasa, 12 April 2011 | 20.05
Bacaan “shadaqallahul ‘azhim” setelah membaca Al Qur’an merupakan perkara yang tidak asing bagi kita tetapi sebenarnya tidak ada tuntunannya, termasuk amalan yang tidak ada contoh dari Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan menyelisihi amalan Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam ketika memerintahkan Ibnu Mas’ud untuk berhenti dari membaca Al Qur’an dengan kata “hasbuk”(cukup), dan Ibnu Mas’ud tidak membaca shadaqallahul’adzim.
Dalam Shahih Al Bukhari disebutkan:
Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata bahwa Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam telah berkata kepadaku, “Bacakan kepadaku (Al Qur’an)!” Aku menjawab, “Aku bacakan (Al Qur’an) kepadamu? Padahal Al Qur’an sendiri diturunkan kepadamu.” Maka Beliau menjawab, “Ya”. Lalu aku membacakan surat An Nisaa’ sampai pada ayat 41. Lalu beliau berkata, “Cukup, cukup.” Lalu aku melihat beliau, ternyata kedua matanya meneteskan air mata.
Syaikh Muhammad Musa Nashr menyatakan, “Termasuk perbuatan yang tidak ada tuntunannya (baca: bid’ah) yaitu mayoritas qori’ (orang yang membaca Al Qur’an) berhenti dan memutuskan bacaannya dengan mengatakan shadaqallahul ‘azhim, padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghentikan bacaan Ibnu Mas’ud dengan mengatakan hasbuk (cukup). Inilah yg dikenal para salaf dan tidak ada keterangan bahwa mereka memberhentikan atau mereka berhenti dengan mengucapkan shadaqallahul ‘azhim sebagaimana dianggap baik oleh orang-orang sekarang”. (Al Bahtsu wa Al Istiqra’ fi Bida’ Al Qurra’, Dr Muhammad Musa Nashr, cet 2, th 1423H)
Kemudian beliau menukil pernyataaan Syaikh Mustafa bin Al ‘Adawi dalam kitabnya Shahih ‘Amal Al Yaumi Wa Al Lailhlm 64 yang berbunyi, “Keterangan tentang ucapan Shadaqallahul’azhim ketika selesai membaca Al Qur’an: memang kata shadaqallah disampaikan Allah dalam Al Qur’an dalam firman-Nya,
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah:’Benarlah (apa yang difirmankan) Allah.’ Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang musyrik.” (Qs Ali Imran:95)
Memang benar, Allah Maha Benar dalam setiap waktu. Namun masalahnya kita tidak pernah mendapatkan satu hadits pun yang menjelaskan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhiri bacaannya dengan kata “Shadaqallahul’azhim.”
Di sana ada juga orang yang menganggap baik hal-hal yang lain namun kita memiliki Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam sebagai contoh teladan yang baik. Demikian juga kita tidak menemukan satu atsar, meski dari satu orang sahabat walaupun kita mencukupkan pada hadits-hadits Nabi shallallanhu’alaihi wa sallam setelah kitab Allah dalam berdalil terhadap masalah apa pun. Kami telah merujuk kepada kitab Tafsir Ibnu Katsir, Adhwa’ Al Bayan, Mukhtashar Ibnu katsir dan Fathul Qadir, ternyata tak satu pun yang menyampaikan pada ayat ini, bahwa Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam pernah mengakhiri bacaannya dengan shadaqallahul ‘azhim.(Lihat Hakikat Al Maru Bil Ma’ruf Wa Nahi ‘Anil munkar, Dr Hamd bin Nashir Al ‘Amar,cet 2)
Bila dikatakan “Cuma perkataan saja, apa dapat dikatakan bid’ah?” Perlu kita pahami,bahwa perbuatan bid’ah itu meliputi perkataan dan perbuatan sebagaimana sabda Rasulullah shallallanhu’alaihi wa sallam,
“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR Muslim)
Sehingga apa pun bentuknya, perkataan atau perbuatan yang dimaksudkan untuk ibadah yang tidak ada contohnya dalam agama, maka ia dikategorikan bid’ah. Bid’ah ialah tata cara baru dalam agama yang tidak ada contohnya, yang menyelisihi syariat dan dalam mengamalkannya dimaksudkan sebagai ibadah kepada Allah.
Wallahu a’lam.
Sumber:
Tanya Jawab Majalah As Sunnah ed 04/IX/1426H/2005M (dengan sedikit pengeditan)
Murajaah: Ust Abu Rumaysho M A Tausikal
Label:
Wawasan Muslimah
07.14
Tapi kacamata seorang muslimah, wanita yang berserah diri kepada syariat-Nya, tentunya tidak demikian. Imannya akan membuat lensanya lebih jernih dalam membaca dan menyelami isi dari setiap kata yang disabdakan utusan-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Pandangannya akan lebih dalam menembus sampai ke dasar hikmah. Ada ‘material’ husnudzan, rasa berserah diri dan keyakinan bahwa sabda Rasul n adalah al haq, yang menyusun potongan kaca yang dipakainya. Dan inilah yang membuat objek yang tampil di retina hatinya berwujud sempurna, tidak terbalik dan indah sebagaimana mestinya.
Oleh karenanya, image yang ditangkap dari hadits-hadits seperti di atas bukanlah “Islam mendeskreditkan wanita”. Sama sekali bukan. Tapi yang tampak justru ke dalaman rahmat dari sang pencipta kepada kaum Hawa. Sabda baginda itu diterima sebagai pemberitahuan dan peringatan atas sisi lemah wanita yang sangat krusial. Kelemahan pada wanita yang harus diwaspadai atau ditambal dengan sisi kelebihan yang lain. Bukankah semua makhluk memang dicipta memiliki kelemahan?
Wanita itu fitnah atau godaan yang sangat besar bagi kaum lelaki. Terhadap hadits ini, seorang muslimah tidak akan bersu’udzan bahwa Islam menganggap wanita hanyalah makhluk penggoda dan pengganggu bagi lelaki. Tidak. Sabda ini akan dipahami sebagai peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa potensi fitnah (godaan) dalam diri wanita sangatlah besar. Karenanya wanita pun akan sadar dan waspada lalu menjaga agar potensi itu tidak menyelinap keluar atau bahkan meledak. Wanita memang ditakdirkan untuk memiliki daya tarik yang menggoda itu, tapi di sisi lain, wanita juga diwajibkan menjaganya.Nah, Islam pun memberikan cara bagaimana menjaga diri agar potensi itu tidak keluar. Ada jurus menjaga aurat, menundukkan pandangan, menjaga hubungan dengan lelaki, menghindari make up berlebihan dan sebagainya. Dengan mengaplikasikan jurus-jurus ini, yang akan merasa aman bukan hanya lelaki saja tapi juga wanita.
Kalau direnungkan secara mendalam, hadits ini bukan hanya peringatan bagi lelaki, tapi juga wanita. Memang, yang terkena dampak fitnah wanita secara langsung adalah lelaki. Hanya saja dalam beberapa kondisi, fitnah wanita yang dibiarkan terumbar liar juga akan berimplikasi buruk terhadap sesama wanita.
Ambil contoh, saat anda sedang bersama suami, tiba-tiba datang atau lewat seorang wanita yang membiarkan dua biji ‘kamera’ di kepala lelaki yang menatapnya bebas menelusuri kulit kakinya hingga 50 % di atas lutut, atau kulit lehernya hingga 50 % ke dadanya. Itu fitnah yang diumbar. Dan fitnah itu jelas ditujukan kepada lelaki. Tapi apa yang anda rasakan jika suami anda melirik? Sakit bukan? Lebih menyakitkan lagi jika kulit si wanita itu lebih bagus dari milik anda. Bahkan wanita bercelana jins dan berkaus ketat yang tengah bersama pacarnya di sebelah sana pun –misalnya ada-, boleh jadi akan mencubit pacarnya, sambil pasang muka cemberut lagi mengancam jika pacarnya ikut-ikutan melirik. Apa lagi jika masalahnya bukan sekadar melirik, selingkuh misalnya, tentu akan lebih menyakitkan lagi. Jadi, wanita juga akan terganggu dengan fitnah wanita yang tidak dijaga.
Nah, coba bandingkan jika yang hadir adalah seorang wanita berjilbab rapi dengan warna kain yang tidak mencolok, atau bahkan memaki cadar misalnya. Adem. Anda, suami anda dan juga semua orang di sekeliling anda akan merasakannya. Jadi, pada dasarnya sabda Rasul n di atas adalah peringatan untuk wanita dari bahaya fitnah wanita yang juga akan berdampak kepada wanita.
Soal status wanita yang diennya disebut “kurang” dan menjadi mayoritas ahli neraka, Rasulullah ingin memberi peringatan pada sisi lemah wanita dalam hal ini. Wanita secara kodrati mendapatkan haid dan menghalanginya dari ibadah selama sekian waktu. Ini kelemahan. Dengan menyadari hal ini, wanita diharapkan dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sisi-sisi lebih yang diberikan kepadanya untuk meningkatkan value(nilai) dirinya. Semangat inilah yang akan muncul dalam diri muslimah dan bukan perasaan kecewa karena menganggap Islam menganak tirikan wanita. Dan bukankah pada tataran praktis, tidak sedikit kaum wanita yang kualitas diennya jauh lebih baik dari lelaki?
Kalau ternyata rasul mengatakan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka, itu berarti Beliau ingin menyampaikan bahwa realitanya kebanyakan wanita tidak mengikuti bimbingan rel syariat. Karena jika patuh pada syariat, dia akan masuk jannah. Bahkan ratunya para bidadari surga adalah wanita-wanita shalihah yang masuh jannah. Oleh karenanya, kalau tidak ingin merasa tersinggung dengan hadits ini, caranya mudah yaitu dengan menjadi wanita shalihah.
Kesimpulannya, saat membaca hadits-hadits semacam ini yang harus dikedepankan adalah iman. Para shahabiyah dulu tidak pernah komplain dengan hadits-hadits di atas dan menganggapnya sebagai diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keyakinan mereka bahwa sabda Nabi adalah bimbingan ilahi memudahkan hati mereka menerima dan mencoba mendulang hikmahnya. Jangan terkecoh dengan bualan kaum liberal, mereka hanya ingin agar kita menentang syariat, merasa punya dalil saat bermaksiat dan akhirnya celaka di akhirat.Wallahua’lam. (ar-risalah)
Peringatan, bukan Hinaan
Written By Unknown on Kamis, 31 Maret 2011 | 07.14
“Sepeninggalku, tidak aku tinggalkan fitnah (godaan) yang lebih berbahaya untuk lelaki melebihi wanita.”(Mutafaq ‘alaih) “Wanita itu kurang agamanya.” “Kebanyakan penduduk neraka adalah wanita.” (al Hadits)
Jika dibaca dengan kacamata buram milik orientalis dan kaum liberal, mungkin yang bakal tampak dari petikan hadits di atas adalah “Islam merendahkan kaum perempuan. Hadits-hadits ini mestinya dinonaktifkan dari fungsinya sebagai dalil karena sudah tidak sesuai dengan jaman. Jika tidak, Islam bisa tercoreng namanya karena masih saja mendeskreditkan perempuan, padahal di zaman sekarang persamaan gender telah menjadi tuntutan.”
Tapi kacamata seorang muslimah, wanita yang berserah diri kepada syariat-Nya, tentunya tidak demikian. Imannya akan membuat lensanya lebih jernih dalam membaca dan menyelami isi dari setiap kata yang disabdakan utusan-Nya, Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Pandangannya akan lebih dalam menembus sampai ke dasar hikmah. Ada ‘material’ husnudzan, rasa berserah diri dan keyakinan bahwa sabda Rasul n adalah al haq, yang menyusun potongan kaca yang dipakainya. Dan inilah yang membuat objek yang tampil di retina hatinya berwujud sempurna, tidak terbalik dan indah sebagaimana mestinya.
Oleh karenanya, image yang ditangkap dari hadits-hadits seperti di atas bukanlah “Islam mendeskreditkan wanita”. Sama sekali bukan. Tapi yang tampak justru ke dalaman rahmat dari sang pencipta kepada kaum Hawa. Sabda baginda itu diterima sebagai pemberitahuan dan peringatan atas sisi lemah wanita yang sangat krusial. Kelemahan pada wanita yang harus diwaspadai atau ditambal dengan sisi kelebihan yang lain. Bukankah semua makhluk memang dicipta memiliki kelemahan?
Wanita itu fitnah atau godaan yang sangat besar bagi kaum lelaki. Terhadap hadits ini, seorang muslimah tidak akan bersu’udzan bahwa Islam menganggap wanita hanyalah makhluk penggoda dan pengganggu bagi lelaki. Tidak. Sabda ini akan dipahami sebagai peringatan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa potensi fitnah (godaan) dalam diri wanita sangatlah besar. Karenanya wanita pun akan sadar dan waspada lalu menjaga agar potensi itu tidak menyelinap keluar atau bahkan meledak. Wanita memang ditakdirkan untuk memiliki daya tarik yang menggoda itu, tapi di sisi lain, wanita juga diwajibkan menjaganya.Nah, Islam pun memberikan cara bagaimana menjaga diri agar potensi itu tidak keluar. Ada jurus menjaga aurat, menundukkan pandangan, menjaga hubungan dengan lelaki, menghindari make up berlebihan dan sebagainya. Dengan mengaplikasikan jurus-jurus ini, yang akan merasa aman bukan hanya lelaki saja tapi juga wanita.
Kalau direnungkan secara mendalam, hadits ini bukan hanya peringatan bagi lelaki, tapi juga wanita. Memang, yang terkena dampak fitnah wanita secara langsung adalah lelaki. Hanya saja dalam beberapa kondisi, fitnah wanita yang dibiarkan terumbar liar juga akan berimplikasi buruk terhadap sesama wanita.
Ambil contoh, saat anda sedang bersama suami, tiba-tiba datang atau lewat seorang wanita yang membiarkan dua biji ‘kamera’ di kepala lelaki yang menatapnya bebas menelusuri kulit kakinya hingga 50 % di atas lutut, atau kulit lehernya hingga 50 % ke dadanya. Itu fitnah yang diumbar. Dan fitnah itu jelas ditujukan kepada lelaki. Tapi apa yang anda rasakan jika suami anda melirik? Sakit bukan? Lebih menyakitkan lagi jika kulit si wanita itu lebih bagus dari milik anda. Bahkan wanita bercelana jins dan berkaus ketat yang tengah bersama pacarnya di sebelah sana pun –misalnya ada-, boleh jadi akan mencubit pacarnya, sambil pasang muka cemberut lagi mengancam jika pacarnya ikut-ikutan melirik. Apa lagi jika masalahnya bukan sekadar melirik, selingkuh misalnya, tentu akan lebih menyakitkan lagi. Jadi, wanita juga akan terganggu dengan fitnah wanita yang tidak dijaga.
Nah, coba bandingkan jika yang hadir adalah seorang wanita berjilbab rapi dengan warna kain yang tidak mencolok, atau bahkan memaki cadar misalnya. Adem. Anda, suami anda dan juga semua orang di sekeliling anda akan merasakannya. Jadi, pada dasarnya sabda Rasul n di atas adalah peringatan untuk wanita dari bahaya fitnah wanita yang juga akan berdampak kepada wanita.
Soal status wanita yang diennya disebut “kurang” dan menjadi mayoritas ahli neraka, Rasulullah ingin memberi peringatan pada sisi lemah wanita dalam hal ini. Wanita secara kodrati mendapatkan haid dan menghalanginya dari ibadah selama sekian waktu. Ini kelemahan. Dengan menyadari hal ini, wanita diharapkan dapat memanfaatkan dan mengoptimalkan sisi-sisi lebih yang diberikan kepadanya untuk meningkatkan value(nilai) dirinya. Semangat inilah yang akan muncul dalam diri muslimah dan bukan perasaan kecewa karena menganggap Islam menganak tirikan wanita. Dan bukankah pada tataran praktis, tidak sedikit kaum wanita yang kualitas diennya jauh lebih baik dari lelaki?
Kalau ternyata rasul mengatakan wanita menjadi mayoritas penduduk neraka, itu berarti Beliau ingin menyampaikan bahwa realitanya kebanyakan wanita tidak mengikuti bimbingan rel syariat. Karena jika patuh pada syariat, dia akan masuk jannah. Bahkan ratunya para bidadari surga adalah wanita-wanita shalihah yang masuh jannah. Oleh karenanya, kalau tidak ingin merasa tersinggung dengan hadits ini, caranya mudah yaitu dengan menjadi wanita shalihah.
Kesimpulannya, saat membaca hadits-hadits semacam ini yang harus dikedepankan adalah iman. Para shahabiyah dulu tidak pernah komplain dengan hadits-hadits di atas dan menganggapnya sebagai diskriminasi terhadap kaum perempuan. Keyakinan mereka bahwa sabda Nabi adalah bimbingan ilahi memudahkan hati mereka menerima dan mencoba mendulang hikmahnya. Jangan terkecoh dengan bualan kaum liberal, mereka hanya ingin agar kita menentang syariat, merasa punya dalil saat bermaksiat dan akhirnya celaka di akhirat.Wallahua’lam. (ar-risalah)
Label:
Akhlak Muslimah,
Wawasan Muslimah

.jpg)






