Perbedaan Dharibah dan Pajak Dalam Islam
-
Go Ihsan -
Dalam syariat Islam, pajak disebut dengan *dharibah*. Kata *dharibah* berasal
dari akar kata *dharaba-yadhribu-dharban*. Ada banyak arti dari aka...
Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Catatan Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Muslimah. Tampilkan semua postingan
18.20
Politisi & Selebriti Swedia Dukung Solidaritas Wanita Berjilbab
Written By Unknown on Senin, 26 Agustus 2013 | 18.20
STOCKHOLM -- Ratusan wanita Swedia memposting foto mereka dengan
mengenakan jilbab di situs media sosial untuk menunjukkan solidaritas
pada seorang Muslimah.
Seorang Muslimah yang sedang hamil diserang di luar Stockholm karena mengenakan jilbab. Polisi sedang mencari saksi kejadian tersebut.
Serangan itu memicu gelombang protes online. Politisi dan selebritis berada di antara mereka yang memberikan dukungan dengan memposting foto di twitter. Pada Kamis lalu, lebih dari dua ribu orang telah memposting gambar dengan jilbab di Instragram. Sebagian besar menampilkan perempuan dari agama yang berbeda.
"Jumlah kejahatan karena kebencian terhadap Muslimah meningkat akhir-akhir ini," ujar salah satu penyelenggara kampanye, foujan Rouzbeh dikutip Al-Arabiya, Senin (26/8).
Kelompok yang membuat kampanye menuntut komisi kehakiman setempat untuk menyelidiki masalah kekerasan terhadap wanita berjilbab. Mereka juga ingin pemerintah memastikan tidak ada tindakan rasis di televisi.
Dewan Nasional untuk Pencegahan Kejahatan Swedia mencatat 306 kejahatan dilaporkan tahun lalu. Jumlah itu meningkat dari 278 kasus pada tahun sebelumnya.
Antropolong sosial Ahe carlbom dari Universitas Malmoe mengatakan, sikap Swedia terhadap jilbab sebagian besar positif. Namun, dia tidak tahu ada kenaikan jumlah orang yang menentang jilbab.
"Sejak kita mulai mengalami imigrasi dari dunia Arab, diklaim bahwa jumlah yang tidak menyukai jilbab meningkat, itu meluas. Tapi saya tidak tahu mengapa itu terjadi sekarang ini," ungkapnya.
Seorang Muslimah yang sedang hamil diserang di luar Stockholm karena mengenakan jilbab. Polisi sedang mencari saksi kejadian tersebut.
Serangan itu memicu gelombang protes online. Politisi dan selebritis berada di antara mereka yang memberikan dukungan dengan memposting foto di twitter. Pada Kamis lalu, lebih dari dua ribu orang telah memposting gambar dengan jilbab di Instragram. Sebagian besar menampilkan perempuan dari agama yang berbeda.
"Jumlah kejahatan karena kebencian terhadap Muslimah meningkat akhir-akhir ini," ujar salah satu penyelenggara kampanye, foujan Rouzbeh dikutip Al-Arabiya, Senin (26/8).
Kelompok yang membuat kampanye menuntut komisi kehakiman setempat untuk menyelidiki masalah kekerasan terhadap wanita berjilbab. Mereka juga ingin pemerintah memastikan tidak ada tindakan rasis di televisi.
Dewan Nasional untuk Pencegahan Kejahatan Swedia mencatat 306 kejahatan dilaporkan tahun lalu. Jumlah itu meningkat dari 278 kasus pada tahun sebelumnya.
Antropolong sosial Ahe carlbom dari Universitas Malmoe mengatakan, sikap Swedia terhadap jilbab sebagian besar positif. Namun, dia tidak tahu ada kenaikan jumlah orang yang menentang jilbab.
"Sejak kita mulai mengalami imigrasi dari dunia Arab, diklaim bahwa jumlah yang tidak menyukai jilbab meningkat, itu meluas. Tapi saya tidak tahu mengapa itu terjadi sekarang ini," ungkapnya.
Reporter : Nur Aini
Redaktur : Karta Raharja Ucu (REPUBLIKA.CO.ID)
Label:
Catatan Muslimah
21.21
Bulan Ramadan tampaknya membawa berkah bagi artis cantik Bella Saphira.
Dengan lantang,Bella mengucapkan dua kalimat syahadat dengan menirukan ucapan sang Imam Masjid Istiqlal itu. Dengan tegas pula, Bella membacakan artinya.
"Insya Allah saya siap. Bukan karena paksaan," tandas Bella.
Selepas mengucapkan syahadat, pemilik nama lengkap Bella Saphira Veronica Simanjuntak itu langsung pergi meninggalkan lokasi Masjid yang memang akan dilaksanakan sholat Jum'at.[oke/trbn/im/Islammedia]
Di Bulan Ramadhan Artis Bella Saphira Ikrarkan Keislamannya
Written By Unknown on Jumat, 26 Juli 2013 | 21.21
Bulan Ramadan tampaknya membawa berkah bagi artis cantik Bella Saphira.
Bintang sinetron yang juga penyanyi itu resmi memeluk agama Islam, pada
Jumat (26/7/2013) pagi ini. Namun, Bella enggan berbagi kisahnya pada
para pewarta yang sudah menunggu sejak pagi.
Bella mengucapkan syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, sekira pukul 09.45 WIB. Bella melafalkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang imam besar bernama Ali Mustofa Yaqub.
Bella mengucapkan syahadat di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, sekira pukul 09.45 WIB. Bella melafalkan dua kalimat syahadat di hadapan seorang imam besar bernama Ali Mustofa Yaqub.
Dengan lantang,Bella mengucapkan dua kalimat syahadat dengan menirukan ucapan sang Imam Masjid Istiqlal itu. Dengan tegas pula, Bella membacakan artinya.
"Insya Allah saya siap. Bukan karena paksaan," tandas Bella.
Selepas mengucapkan syahadat, pemilik nama lengkap Bella Saphira Veronica Simanjuntak itu langsung pergi meninggalkan lokasi Masjid yang memang akan dilaksanakan sholat Jum'at.[oke/trbn/im/Islammedia]
Label:
Catatan Muslimah
06.38
Sejumlah peneliti astronomi menyatakan awal puasa di
Indonesia akan dimulai pada 10 Juli 2013. Berdasarkan hasil penghitungan
untuk menentukan posisi bulan (hisab), kemunculan bulan sabit (hilal)
baru akan jelas disaksikan (rukyat) pada Selasa petang, 9 Juli 2013.
Astronom: Awal Puasa 10 Juli 2013
Written By Unknown on Selasa, 09 Juli 2013 | 06.38
Sejumlah peneliti astronomi menyatakan awal puasa di
Indonesia akan dimulai pada 10 Juli 2013. Berdasarkan hasil penghitungan
untuk menentukan posisi bulan (hisab), kemunculan bulan sabit (hilal)
baru akan jelas disaksikan (rukyat) pada Selasa petang, 9 Juli 2013.
Astronom dari Institut Teknologi Bandung, Mudji Raharto, mengatakan
ketinggian hilal pada 8 Juli masih kurang dari 1-2 derajat dari garis
ufuk. "Kalau pada 9 Juli bulannya sudah tinggi, sehingga pengamatan bisa
dimulai," katanya kepada Tempo, Selasa, 2 Juli 2013.
Peneliti astronomi lainnya dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa
Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, senada dengan Mudji. Menurut dia,
kemunculan hilal di seluruh Indonesia pada 8 Juli petang ketinggiannya
masih kurang dari 2 derajat. "Jadi, kalau ada yang mengaku melihat hilal
pada 8 Juli, kemungkinan besar akan ditolak. Karena cahaya bulan sabit
yang tipis tidak akan mengalahkan cahaya matahari terbenam," ujarnya.
Meskipun begitu, kata Djamaluddin, Muhammadiyah telah menetapkan awal puasa pada 9 Juli dan akan berpuasa selama 30 hari.
Baik Muhammadiyah maupun yang memulai puasa pada 10 Juli nantinya akan
merayakan Hari Lebaran serentak pada 8 Agustus. "Apa pun yang terjadi
dengan perbedaan itu, masyarakat disarankan ikuti saja penetapan awal
puasa dari pemerintah," kata dia.
Label:
Catatan Muslimah
06.32
Awal Puasa 2013 : Muslim Perancis, Turki, Bosnia Sepakat Awal Puasa 9 Juli 2013
Para pemimpin Muslim Perancis telah sepakat untuk mengakhiri
perbedaan penentuan awal Ramadhan, mereka beralih ke astronomi modern
untuk membantu menentukan hari pertama bulan puasa.
“Ini hari yang bersejarah,” kata Lyon Pemimpin Muslim Azzedine Gaci
Reuters pada Kamis, 9 Mei. “Sekarang semua Muslim di Perancis dapat
memulai Ramadhan pada hari yang sama.”
Menghadapi masalah perbedaan awal Ramadhan selalu terjadi setiap
tahunnya , Muslim Council (CFCM) Prancis pada hari Kamis menetapkan
menggunakan perhitungan astronomi untuk mengatur tanggal daripada
mengandalkan penglihatan mata telanjang untuk melihat awal bulan sabit
baru. Ramadhan biasanya dimulai setelah penampakan, yang di masa lalu
yang sering terhalang akibat kondisi cuaca.
“Sekarang semua perhitungan tersebut akan disederhanakan,” kata
Moussaoui. Oleh karena itu, CFCM mengumumkan bahwa, bulan suci Ramadhan
akan dimulai pada hari Selasa, 9 Juli berdasarkan perhitungan astronomi.
Selama lebih dari 1400 tahun, hari pertama Ramadhan dan penampakan
bulan selalu menjadi isu kontroversial di antara negara-negara Muslim,
dan bahkan beberapa ulama tampaknya bertentangan atas masalah ini.
Aturan baru ini memungkinkan Muslim untuk mengajukan kepastian liburan mereka untuk dimasukkan dalam kalender nasional.
Perancis bukanlah negara pertama di mana umat Islam telah memutuskan
untuk beralih ke perhitungan astronomi. Turki juga sudah mulai
menggunakan perhitungan ilmiah untuk menetapkan awal Ramadhan . Muslim
di Jerman, yang sebagian besar berasal dari Turki, dan orang-orang di
Bosnia juga menggunakan metode ini. (OI.net/Dz)
Label:
Catatan Muslimah
10.48
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Organisasi Islam
menggelar pertemuan untuk membahas penetapan awal Ramadhan 1434
Hijriyah.
MUI dan Organisasi Islam Sepakat Awal Puasa pada 9 Juli 2013
Written By Unknown on Senin, 08 Juli 2013 | 10.48
Majelis Ulama Indonesia (MUI) bersama dengan Organisasi Islam
menggelar pertemuan untuk membahas penetapan awal Ramadhan 1434
Hijriyah.
Disepakati, awal bulan puasa atau 1 Ramadan 1434
Hijriyah jatuh pada 9 Juli 2013. Penetapan itu sesuai dengan suara
mayoritas dalam menentukan hari pertama umat Islam berpuasa.
Demikian
dikatakan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI)
Amirsyah Tambunan di Kantor MUI, Jakarta Pusat, Kamis (13/6). Keputusan
MUI bersama organisasi Islam lain itu. Keputusan ini serempak dengan
penetapan Pengurus Pusat Muhammadiyah yang juga sudah menetapkan bahwa
awal puasa jatuh pada tanggal 9 Juli 2013.
Namun, cara menentukannya berbeda. Ada yang melakukan hitungan hisab atau rukyat, Ada pula yang melihat bulan baru alias hilal.
Amirsyah berharap tak ada kelompok yang memiliki penetapan berbeda.
Karena, penetapan MUI itu sesuai dengan kesepakatan suara mayoritas
organisasi Islam. Ia pun berharap pemerintah segera mengumumkan
penetapan tersebut.
Semoga keseragaman penetapan awal
puasa oleh MUI dan Muhammadiyah ini menjadi angin segar bagi umat Islam
yang tidak lama lagi akan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.
(lb/sbb/mtn/dakwatuna)
(Saiful Bahri/dakwatuna.com)
Label:
Catatan Muslimah
06.50
Ayesha Farook Wanita Pertama Pilot Jet Tempur Yang Berjilbab
Written By Unknown on Senin, 24 Juni 2013 | 06.50
Jilbab, ternyata tidak menjadi penghalang seorang
muslimah untuk berkiprah di dunia profesi, termasuk dunia militer yang
identik dengan kekerasan dan kekuatan fisik.
Ayesha Farooq (26)
contohnya. Pilot ‘Muslimah’ pertama Pakistan ini telah membuktikan bahwa
seorang muslimah yang mengenakan jilbab pun dapat berprestasi di dunia
militer.
Dengan jilbab hijau zaitun menyembul keluar dari helm,
Ayesha Farooq berkedip dan ter senyum ketika ditanya kesiapan menjadi
satu-satunya pilot pesawat tempur perempuan di republik Islam Pakistan.
Farooq merupakan salah satu dari 19 perempuan yang telah menjadi pilot
di Angkatan Udara Pakistan selama dekade terakhir.
Lihat saja,
tanpa canggung sedikit pun Ayesha dengan tangkas nya menaiki jet tempur
F-7PG di bandara militer Mushaf, Sargoda, Pakistan Utara. Bahkan aksi
nya di udara tidak kalah dengan pilot lainnya.
Ini jadi satu bukti
bahwa keinginan polwan di Indonesia untuk mengenakan jilbab tidak patut
untuk dihalang-halangi, apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama
Islam.
Jadi bukan alasan bahwa seorang ‘muslimah’ berjilbab tidak bisa berkarir di dunia militer dengan dalih apapun. [vvn/tmp/dktn/Islamedia)
Label:
Catatan Muslimah
21.32
Hijab Day di Universitas Boston, Mahasiswi Non-Muslim Mengaku Tertarik Berkerudung
Written By Unknown on Kamis, 20 Juni 2013 | 21.32
Mahasiswi non-Muslim di Boston University dengan sukarela menjalani
satu hari mereka dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari bulan
Bulan Kesadaran Islam Maret ini dalam rangka untuk mengoreksi
kesalahpahaman tentang konsep Islam dan hijab, seperti dilansir OnIslam pada Jumat (29/3/2013).
“Saya melihat posternya di link GSU dan berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan,” kata Dian Qu, seorang mahasiswi Seni dan Sains, kepada BU Today. “Saya meminta mereka untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara memakainya, tapi saya lupa, jadi saya memakainya dengan cara saya sendiri,” Qu, yang berasal dari Cina, menambahkan.
Ia adalah salah satu dari 40 wanita non-Muslim di BU yang mengajukan diri untuk menghabiskan satu harinya dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari tantangan Hari Hijab di Boston University.
Teman lelakinya memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai saat mereka berjalan bersama-sama. Dan ia menolak.“Saya hanya berbalik dan berjalan sendiri,” katanya.
Hari hijab adalah salah satu dari beberapa acara yang disponsori oleh Masyarakat Islam BU sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam pada Maret.
Mendaftar di asrama mereka atau pada link George Sherman Union, para mahasiswi diberi link video instruksional dan tombol merah muda bertuliskan ” Tantangan Hari Hijab BU-Ask Me About My Hijab.”
Sonia Perez Arias, mahasiswi lainnya mengatakan temannya tersenyum ketika melihat ia berpenampilan baru di Commonwealth Avenue dan menyapa temannya dengan kata “Salaam”.
“Saya ingin melakukan hal-hal yang menantang saya,” kata Arias.
“Orang-orang Muslim memberi salam kepada saya dalam bahasa Arab,” kata Perez Arias, yang menyatakan dirinya adalah seorang ateis.
“Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.”
Sedangkan Anya Gonzales merasakan apa yang ia sebut sebagai “rasa hormat yang baru ditemukan” karena Islam, sementara Richa Kaul yang awalnya mengaku merasa takut, akhirnya memperoleh pemahaman dan keyakinan.
“Saya merasakan penghormatan baru yang dirasakan para perempuan Muslim,” kata Gonzales.
Kaul, seorang Hindu, bergabung dengan tantangan ini dengan rasa ingin tahu dan ingin menunjukkan “solidaritas dengan budaya Islam.”
“Satu-satunya saat di mana saya merasa takut atau cemas adalah tepat sebelum saya membuka pintu ke ruang kelas saya, beberapa orang menengok ke arah saya. Dalam hal ini saya bisa melihat bahwa pertama-tama yang mereka lihat adalah kerudung Anda, baru kemudian Anda.”
Mendukung hari hijab, para non-Muslim memujinya karena memberi pemahaman yang benar tentang Islam dan hijab.
“Saya salut pada para mahasiswi Boston University yang rela mengambil bagian dalam tantangan Hari Hijab dan memutuskan untuk mengalami penghargaan subjektif yang mungkin muncul dengan pilihan pribadi mereka atau bahaya menjadi obyek tatapan publik yang menyatakan permusuhan,” kata Shahla Haeri, seorang dari asosiasi professor antropologi jurusan Seni & Sains , yang telah banyak menulis tentang dinamika agama, hukum, dan gender di dunia Muslim.
Hari hijab bukanlah satu-satunya acara yang diselenggarakan universitas tersebut selama Bulan Kesadaran Islam. Beberapa acara lainnya yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai Islam juga diselenggarakan di sana. (arrahmah.com/muslimahzone.com)
“Saya melihat posternya di link GSU dan berpikir bahwa ini adalah hal yang sangat menarik untuk dilakukan,” kata Dian Qu, seorang mahasiswi Seni dan Sains, kepada BU Today. “Saya meminta mereka untuk menunjukkan pada saya bagaimana cara memakainya, tapi saya lupa, jadi saya memakainya dengan cara saya sendiri,” Qu, yang berasal dari Cina, menambahkan.
Ia adalah salah satu dari 40 wanita non-Muslim di BU yang mengajukan diri untuk menghabiskan satu harinya dengan mengenakan kerudung sebagai bagian dari tantangan Hari Hijab di Boston University.
Teman lelakinya memaksanya untuk melepas kerudung yang ia pakai saat mereka berjalan bersama-sama. Dan ia menolak.“Saya hanya berbalik dan berjalan sendiri,” katanya.
Hari hijab adalah salah satu dari beberapa acara yang disponsori oleh Masyarakat Islam BU sebagai bagian dari Bulan Kesadaran Islam pada Maret.
Mendaftar di asrama mereka atau pada link George Sherman Union, para mahasiswi diberi link video instruksional dan tombol merah muda bertuliskan ” Tantangan Hari Hijab BU-Ask Me About My Hijab.”
Sonia Perez Arias, mahasiswi lainnya mengatakan temannya tersenyum ketika melihat ia berpenampilan baru di Commonwealth Avenue dan menyapa temannya dengan kata “Salaam”.
“Saya ingin melakukan hal-hal yang menantang saya,” kata Arias.
“Orang-orang Muslim memberi salam kepada saya dalam bahasa Arab,” kata Perez Arias, yang menyatakan dirinya adalah seorang ateis.
“Saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.”
Sedangkan Anya Gonzales merasakan apa yang ia sebut sebagai “rasa hormat yang baru ditemukan” karena Islam, sementara Richa Kaul yang awalnya mengaku merasa takut, akhirnya memperoleh pemahaman dan keyakinan.
“Saya merasakan penghormatan baru yang dirasakan para perempuan Muslim,” kata Gonzales.
Kaul, seorang Hindu, bergabung dengan tantangan ini dengan rasa ingin tahu dan ingin menunjukkan “solidaritas dengan budaya Islam.”
“Satu-satunya saat di mana saya merasa takut atau cemas adalah tepat sebelum saya membuka pintu ke ruang kelas saya, beberapa orang menengok ke arah saya. Dalam hal ini saya bisa melihat bahwa pertama-tama yang mereka lihat adalah kerudung Anda, baru kemudian Anda.”
Mendukung hari hijab, para non-Muslim memujinya karena memberi pemahaman yang benar tentang Islam dan hijab.
“Saya salut pada para mahasiswi Boston University yang rela mengambil bagian dalam tantangan Hari Hijab dan memutuskan untuk mengalami penghargaan subjektif yang mungkin muncul dengan pilihan pribadi mereka atau bahaya menjadi obyek tatapan publik yang menyatakan permusuhan,” kata Shahla Haeri, seorang dari asosiasi professor antropologi jurusan Seni & Sains , yang telah banyak menulis tentang dinamika agama, hukum, dan gender di dunia Muslim.
Hari hijab bukanlah satu-satunya acara yang diselenggarakan universitas tersebut selama Bulan Kesadaran Islam. Beberapa acara lainnya yang bertujuan untuk memberi pemahaman yang benar mengenai Islam juga diselenggarakan di sana. (arrahmah.com/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
21.24
Kebangkitan Muslimah Tak Memerlukan Emansipasi Apalagi Feminisme!
Merasuknya ide-ide emansipasi dan feminisme ke dalam berbagai sektor
kehidupan ummat Islam Indonesia semakin hari semakin terasa dampak
buruknya. Kesetaraan gender yang dikehendaki oleh kaum feminis dan
penggiat emansipasi menggerus konsep nilai dan tatanan sosial yang telah
Allah gariskan bagi lelaki dan perempuan dalam Islam. Penyusupan ini
demikian kentara dalam ranah akademik, politik praktis, dan kehidupan
sosial-ekonomi di negeri berpenduduk muslim terbesar ini.
Keadaan diatas menggerakkan kawan-kawan muslimah dari Asrama Putri Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) menggelar sebuah seminar bertajuk “Kebangkitan Perempuan Tanpa Emansipasi-Feminisme”. Seminar yang berlangsung hangat pada hari Rabu, 22 Mei 2013 ini menghadirkan dua orang narasumber yang memang dikenal sebagai aktivis Muslimah yang concern mengkritisi dan membendung ide-ide feminisme. Mereka adalah Dr. Dinar Dewi Kania, yang merupakan Direktur Eksekutif Centre of Gender Study (CGS) dan peneliti dari Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS) dan Dr. Erma Pawitasari, pengasuh Rubrik Konsultasi Pendidikan dalam Tabloid Suara Islam dan Direktur Andalusia Islamic Education and Management Services (AIEMS).
Dalam seminar ini Dr. Dinar Kania memaparkan lebih jauh mengenai seluk beluk gerakan feminisme dan perkembangannya juga dampak yang ditimbulkan ketika ide ini menyusup dalam ranah konsep dan tatanan sosial kaum Muslimin. Beliau memberikan konklusinya, ”Umat Islam seharusnya lebih cerdas dan kritis dalam menyikapi agenda-agenda feminisme yang sering kali disusupkan melalui program pemberdayaan perempuan. Kemunduran yang dialami umat Islam saat ini tidak dapat diselesaikan dengan mengadopsi mentah-mentah pemikiran Barat, apalagi dengan memaksakan syariat Islam agar tunduk kepada pemikiran tersebut. Gerakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan perempuan adalah dengan kembali meneladani para muslimah di jaman keemasan Islam, bukan malah menjiplak pemikiran dan gaya hidup perempuan Barat yang kebablasan.”
Sementara Dr. Erma Pawitasari memberikan pemaparan tentang Peran Muslimah dalam Ruang Publik, beliau menyimpulkan, “Islam telah memberikan petunjuk secara jelas mengenai hukum aktivitas muslimah dalam ruang publik beserta prioritas amal baginya. Islam tidak hanya memperbolehkan wanita beraktivitas di ruang publik, adakalanya Islam justru mewajibkan yakni ketika posisi tersebut mengharuskan kehadiran wanita. Namun, tugas ini tidak dapat digeneralisir. Ada prioritas mengenai wanita mana yang lebih terbebani suatu kewajiban atas kewajiban lainnya. Prioritas ini dilihat dari kondisi masing-masing individu, sebab Allah memang menciptakan perbedaan-perbedaan pada hambaNya agar manusia dapat saling mengisi dan membantu.”
Seminar yang berlangsung di Aula UIKA ini cukup menarik perhatian para mahasiswi, terbukti bangku yang disediakan panitia untuk peserta perempuan terisi hingga baris terakhir. Para audiens pun terlihat antusias menyimak pemaparan narasumber, suasana semakin bertambah hangat ketika memasuki sesi tanya-jawab. Beberapa kali gema takbir dan tepuk tangan membahana ketika terlontar statemen-statemen menyentil dan kritis dari para pembicara.
Semoga langkah kawan-kawan muslimah dari Asrama UIKA dalam membendung ide-ide godless semacam feminisme ini tak berhenti di sini, karena memang diperlukan follow up yang serius dan berkesinambungan sebagaimana musuh-musuh Islam pun memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam memasarkan dan menyusupkan ide-ide rusaknya hingga kini mereka menuai beberapa keberhasilan.
(esqiel/muslimahzone.com)
Keadaan diatas menggerakkan kawan-kawan muslimah dari Asrama Putri Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) menggelar sebuah seminar bertajuk “Kebangkitan Perempuan Tanpa Emansipasi-Feminisme”. Seminar yang berlangsung hangat pada hari Rabu, 22 Mei 2013 ini menghadirkan dua orang narasumber yang memang dikenal sebagai aktivis Muslimah yang concern mengkritisi dan membendung ide-ide feminisme. Mereka adalah Dr. Dinar Dewi Kania, yang merupakan Direktur Eksekutif Centre of Gender Study (CGS) dan peneliti dari Institute for The Study of Islamic Thought and Civilization(INSISTS) dan Dr. Erma Pawitasari, pengasuh Rubrik Konsultasi Pendidikan dalam Tabloid Suara Islam dan Direktur Andalusia Islamic Education and Management Services (AIEMS).
Dalam seminar ini Dr. Dinar Kania memaparkan lebih jauh mengenai seluk beluk gerakan feminisme dan perkembangannya juga dampak yang ditimbulkan ketika ide ini menyusup dalam ranah konsep dan tatanan sosial kaum Muslimin. Beliau memberikan konklusinya, ”Umat Islam seharusnya lebih cerdas dan kritis dalam menyikapi agenda-agenda feminisme yang sering kali disusupkan melalui program pemberdayaan perempuan. Kemunduran yang dialami umat Islam saat ini tidak dapat diselesaikan dengan mengadopsi mentah-mentah pemikiran Barat, apalagi dengan memaksakan syariat Islam agar tunduk kepada pemikiran tersebut. Gerakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan perempuan adalah dengan kembali meneladani para muslimah di jaman keemasan Islam, bukan malah menjiplak pemikiran dan gaya hidup perempuan Barat yang kebablasan.”
Sementara Dr. Erma Pawitasari memberikan pemaparan tentang Peran Muslimah dalam Ruang Publik, beliau menyimpulkan, “Islam telah memberikan petunjuk secara jelas mengenai hukum aktivitas muslimah dalam ruang publik beserta prioritas amal baginya. Islam tidak hanya memperbolehkan wanita beraktivitas di ruang publik, adakalanya Islam justru mewajibkan yakni ketika posisi tersebut mengharuskan kehadiran wanita. Namun, tugas ini tidak dapat digeneralisir. Ada prioritas mengenai wanita mana yang lebih terbebani suatu kewajiban atas kewajiban lainnya. Prioritas ini dilihat dari kondisi masing-masing individu, sebab Allah memang menciptakan perbedaan-perbedaan pada hambaNya agar manusia dapat saling mengisi dan membantu.”
Seminar yang berlangsung di Aula UIKA ini cukup menarik perhatian para mahasiswi, terbukti bangku yang disediakan panitia untuk peserta perempuan terisi hingga baris terakhir. Para audiens pun terlihat antusias menyimak pemaparan narasumber, suasana semakin bertambah hangat ketika memasuki sesi tanya-jawab. Beberapa kali gema takbir dan tepuk tangan membahana ketika terlontar statemen-statemen menyentil dan kritis dari para pembicara.
Semoga langkah kawan-kawan muslimah dari Asrama UIKA dalam membendung ide-ide godless semacam feminisme ini tak berhenti di sini, karena memang diperlukan follow up yang serius dan berkesinambungan sebagaimana musuh-musuh Islam pun memerlukan waktu yang tidak sebentar dalam memasarkan dan menyusupkan ide-ide rusaknya hingga kini mereka menuai beberapa keberhasilan.
(esqiel/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
21.20
Para Mualaf Wanita Amerika Semakin Kuat Pasca Bom Boston
Ketika Karen Hunt Ahmed dan suaminya bercerai empat tahun lalu,
banyak temannya yang bertanya, “Sekarang kau bisa keluar dari Islam
lagi, kan?”
“Bagi mereka mungkin ini hanya seperti hobi. Memeluk Islam ketika saya menikah dengan seorang Muslim lalu kembali murtad ketika saya bercerai dengannya,” kata Hunt Ahmed, pemimpin Chicago Islamic Microfinance Project, yang ia dirikan bersama dua rekannya pada tahun 2009.
Hunt Ahmed (45) adalah seorang wanita Amerika yang menjadi mualaf saat akan menikah dengan seorang pria Muslim. Masuknya wanita ke dalam Islam terutama saat mereka akan atau telah menikah dengan pria Muslim, membuat beberapa orang berpersepsi bahwa mereka masuk Islam karena calon suami atau suami mereka yang mendominasi.
Stereotip seperti itu seakan semakin dihidupkan saat berita pemboman Marathon Boston mencuat. Ketika itu muncul kabar bahwa istri “tersangka” pemboman Tamerlan Tsarnaev, Katherine Russell, masuk Islam setelah bertemu Tsarnaev pada tahun 2009 atau 2010 ketika ia berusia sekitar 21 tahun.
Tamerlan Tsarnaev (26), ditembak polisi Boston dan gugur setelah penangkapannya. Sementara adiknya Dzhokhar (19), kini masih ditahan dan menghadapi tuduhan “terorisme”.
“Banyak media yang telah menggambarkannya [Russel] sebagai seseorang yang dicuci otaknya dan tidak tahu apa yang ia lakukan,” kata Edlyn Sammanasu, yang lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang Katolik. Sammanasu mulai mempelajari Islam ketika ia bertemu dengan suaminya yang seorang Muslim di perguruan tinggi, dan ia memeluk Islam ketika ia berusia 21 tahun.
“Ketika saya melihat liputan itu, saya pikir ini konyol,” kata Sammanasu, yang sekarang berusia 32 tahun. Ia adalah seorang penulis teknis di Fremont, California.
Seema Imam, seorang profesor pendidikan di Louis National University di Lisle, Illinois, juga melihat hal yang sama. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim, tapi akhirnya ia memeluk Islam 40 tahun yang lalu pada usia 17 tahun.
“Setiap kali seseorang berbicara tentang mualaf Muslim, mereka mengaitkannya dengan sesuatu yang negatif, hal itu mereka lakukan dengan cara mengatakan, ‘Hati-hati, lihatlah apa yang terjadi ketika Anda menjadi Muslim,’” katanya.
Orang-orang Amerika yang masuk ke dalam Islam berasal dari latar belakang, ras dan etnis, serta interpretasi iman mereka yang berbeda-beda. Beberapa mualaf perempuan langsung memakai kerudung, beberapa lainnya tidak langsung.
Apa yang mereka dengar kemudian adalah tentang persepsi orang lain bahwa mereka tidak mampu membuat pilihan mereka sendiri dalam keputusan yang melibatkan pergulatan spiritual yang substansial.
Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Wanita adalah makhluk yang bisa berpikir sendiri. Demikian juga yang dirasakan Malika MacDonald Rushdan yang menjadi mualaf pada tahun 1995 setelah bercerai dengan suaminya yang Kristen. Dia mengucap syahadat di masjid Islamic Society of Boston di Cambridge, di mana Tsarnaev bersaudara sesekali shalat di sana.
“Keyakinan saya, menurut definisi, adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk suami saya,” tulis pengacara Ohio, Sarah Anjum, yang menjadi mualaf sejak hampir 10 tahun yang lalu, saat dia masih kuliah mempelajari gerakan politik Islam dan Arab, empat tahun sebelum ia bertemu dengan suaminya.
Sementara itu, beberapa Muslimah Amerika lainnya menjadi mualaf sebelum mereka menikah. Mereka mulai membaca segala hal tentang Islam. Mereka mengatakan hal itu sangat menyenangkan, mempelajari Islam sebelum bertemu dengan suami mereka di masa depan.
Kelly Wentworth (35), mengatakan kepada temannya yang berasal dari Yaman bahwa ia tertarik untuk belajar tentang Islam. Temannya itu lalu mengenalkan ia pada seorang profesor Muslim yang mengajar di Tennessee Tech, di mana pada saat itu ia dan teman Yaman-nya adalah mahasiswa yang sama-sama belajar di sana. Ketika ia kemudian mengatakan bahwa ia ingin memeluk Islam, temannya tidak merayakannya.
“Dia khawatir orang-orang akan berpikir bahwa saya memeluk Islam karena dia, atau bahwa dia yang memaksa saya untuk mengubah agama saya,” kata Wentworth, yang kini menjadi seorang insinyur perangkat lunak di Atlanta dan anggota dewan Muslim untuk Progressive Values, sebuah kelompok advokasi nasional. “Stereotip di luar sana, kami sedang bertarung melawan itu sekarang.”
Wentworth menjadi begitu khawatir tentang bagaimana teman-teman dan keluarga akan menilainya setelah berita tentang Russell Katherine mencuat. Hal itu membuat dia tidak bisa tidur selama beberapa malam.
Sebuah studi dari Pew Research Center 2011 menemukan bahwa sekitar 20 persen dari sekitar 1,8 juta Muslim di Amerika merupakan mualaf. Sementara studi Pew 2007 menemukan bahwa 49 persen menjadi mualaf pada usia 21 tahun. Penelitian 2007 juga menemukan bahwa 58 persen dari mualaf menjadi mualaf karena tertarik dengan Islam, dan 18 persennya karena alasan keluarga dan pernikahan.
Para mualaf wanita tersebut mengakui bahwa mereka telah mendengar tentang wanita Muslim yang terjebak dalam hubungan keluarga yang kurang harmonis, tapi kemudian mereka mengatakan bahwa hubungan seperti itu bisa dialami oleh semua wanita, bukan hanya wanita Muslim.
“Itu tidak ada hubungannya dengan agama,” kata Wentworth. “Itu masalah kepribadian.”
Katherine Wilson, seorang mualaf dan penduduk Rhode Island yang bekerja dengan perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual, meyakini itu. Ia mengatakan kepada media, hanya dengan mengacu pada kisah Russell, mualaf wanita dipandang secara negatif oleh beberapa orang yang tidak mengenal mereka dan menganggap mereka mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak mereka sendiri.
Sementara stereotip seperti itu masih mengganggu para mualaf wanita ini, banyak yang mengatakan bahwa mereka telah “kelelahan” karena harus menjelaskan keputusan mereka dalam memeluk Islam. Tapi hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak berusaha untuk menjelaskannya kepada orang-orang yang belum memahaminya. Mereka tidak menyerah. Mereka semakin kuat.
“Akan selalu ada orang-orang yang menilai berdasarkan pada ketidaktahuan,” kata MacDonald Rushdan. “Saya akan terus melakukan apa yang saya selalu lakukan. Saya tidak akan menyesal menjadi seorang wanita yang takut kepada Allah, yang dengan imannya memberikan ia kedamaian dan kepuasan batin.”
(esqiel/arrahmah.com/muslimahzone.com)
“Bagi mereka mungkin ini hanya seperti hobi. Memeluk Islam ketika saya menikah dengan seorang Muslim lalu kembali murtad ketika saya bercerai dengannya,” kata Hunt Ahmed, pemimpin Chicago Islamic Microfinance Project, yang ia dirikan bersama dua rekannya pada tahun 2009.
Hunt Ahmed (45) adalah seorang wanita Amerika yang menjadi mualaf saat akan menikah dengan seorang pria Muslim. Masuknya wanita ke dalam Islam terutama saat mereka akan atau telah menikah dengan pria Muslim, membuat beberapa orang berpersepsi bahwa mereka masuk Islam karena calon suami atau suami mereka yang mendominasi.
Stereotip seperti itu seakan semakin dihidupkan saat berita pemboman Marathon Boston mencuat. Ketika itu muncul kabar bahwa istri “tersangka” pemboman Tamerlan Tsarnaev, Katherine Russell, masuk Islam setelah bertemu Tsarnaev pada tahun 2009 atau 2010 ketika ia berusia sekitar 21 tahun.
Tamerlan Tsarnaev (26), ditembak polisi Boston dan gugur setelah penangkapannya. Sementara adiknya Dzhokhar (19), kini masih ditahan dan menghadapi tuduhan “terorisme”.
“Banyak media yang telah menggambarkannya [Russel] sebagai seseorang yang dicuci otaknya dan tidak tahu apa yang ia lakukan,” kata Edlyn Sammanasu, yang lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang Katolik. Sammanasu mulai mempelajari Islam ketika ia bertemu dengan suaminya yang seorang Muslim di perguruan tinggi, dan ia memeluk Islam ketika ia berusia 21 tahun.
“Ketika saya melihat liputan itu, saya pikir ini konyol,” kata Sammanasu, yang sekarang berusia 32 tahun. Ia adalah seorang penulis teknis di Fremont, California.
Seema Imam, seorang profesor pendidikan di Louis National University di Lisle, Illinois, juga melihat hal yang sama. Ia tidak dibesarkan dalam keluarga Muslim, tapi akhirnya ia memeluk Islam 40 tahun yang lalu pada usia 17 tahun.
“Setiap kali seseorang berbicara tentang mualaf Muslim, mereka mengaitkannya dengan sesuatu yang negatif, hal itu mereka lakukan dengan cara mengatakan, ‘Hati-hati, lihatlah apa yang terjadi ketika Anda menjadi Muslim,’” katanya.
Orang-orang Amerika yang masuk ke dalam Islam berasal dari latar belakang, ras dan etnis, serta interpretasi iman mereka yang berbeda-beda. Beberapa mualaf perempuan langsung memakai kerudung, beberapa lainnya tidak langsung.
Apa yang mereka dengar kemudian adalah tentang persepsi orang lain bahwa mereka tidak mampu membuat pilihan mereka sendiri dalam keputusan yang melibatkan pergulatan spiritual yang substansial.
Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Wanita adalah makhluk yang bisa berpikir sendiri. Demikian juga yang dirasakan Malika MacDonald Rushdan yang menjadi mualaf pada tahun 1995 setelah bercerai dengan suaminya yang Kristen. Dia mengucap syahadat di masjid Islamic Society of Boston di Cambridge, di mana Tsarnaev bersaudara sesekali shalat di sana.
“Keyakinan saya, menurut definisi, adalah untuk Sang Pencipta, bukan untuk suami saya,” tulis pengacara Ohio, Sarah Anjum, yang menjadi mualaf sejak hampir 10 tahun yang lalu, saat dia masih kuliah mempelajari gerakan politik Islam dan Arab, empat tahun sebelum ia bertemu dengan suaminya.
Sementara itu, beberapa Muslimah Amerika lainnya menjadi mualaf sebelum mereka menikah. Mereka mulai membaca segala hal tentang Islam. Mereka mengatakan hal itu sangat menyenangkan, mempelajari Islam sebelum bertemu dengan suami mereka di masa depan.
Kelly Wentworth (35), mengatakan kepada temannya yang berasal dari Yaman bahwa ia tertarik untuk belajar tentang Islam. Temannya itu lalu mengenalkan ia pada seorang profesor Muslim yang mengajar di Tennessee Tech, di mana pada saat itu ia dan teman Yaman-nya adalah mahasiswa yang sama-sama belajar di sana. Ketika ia kemudian mengatakan bahwa ia ingin memeluk Islam, temannya tidak merayakannya.
“Dia khawatir orang-orang akan berpikir bahwa saya memeluk Islam karena dia, atau bahwa dia yang memaksa saya untuk mengubah agama saya,” kata Wentworth, yang kini menjadi seorang insinyur perangkat lunak di Atlanta dan anggota dewan Muslim untuk Progressive Values, sebuah kelompok advokasi nasional. “Stereotip di luar sana, kami sedang bertarung melawan itu sekarang.”
Wentworth menjadi begitu khawatir tentang bagaimana teman-teman dan keluarga akan menilainya setelah berita tentang Russell Katherine mencuat. Hal itu membuat dia tidak bisa tidur selama beberapa malam.
Sebuah studi dari Pew Research Center 2011 menemukan bahwa sekitar 20 persen dari sekitar 1,8 juta Muslim di Amerika merupakan mualaf. Sementara studi Pew 2007 menemukan bahwa 49 persen menjadi mualaf pada usia 21 tahun. Penelitian 2007 juga menemukan bahwa 58 persen dari mualaf menjadi mualaf karena tertarik dengan Islam, dan 18 persennya karena alasan keluarga dan pernikahan.
Para mualaf wanita tersebut mengakui bahwa mereka telah mendengar tentang wanita Muslim yang terjebak dalam hubungan keluarga yang kurang harmonis, tapi kemudian mereka mengatakan bahwa hubungan seperti itu bisa dialami oleh semua wanita, bukan hanya wanita Muslim.
“Itu tidak ada hubungannya dengan agama,” kata Wentworth. “Itu masalah kepribadian.”
Katherine Wilson, seorang mualaf dan penduduk Rhode Island yang bekerja dengan perempuan korban kekerasan dan pelecehan seksual, meyakini itu. Ia mengatakan kepada media, hanya dengan mengacu pada kisah Russell, mualaf wanita dipandang secara negatif oleh beberapa orang yang tidak mengenal mereka dan menganggap mereka mengambil keputusan yang bertentangan dengan kehendak mereka sendiri.
Sementara stereotip seperti itu masih mengganggu para mualaf wanita ini, banyak yang mengatakan bahwa mereka telah “kelelahan” karena harus menjelaskan keputusan mereka dalam memeluk Islam. Tapi hal itu tidak berarti bahwa mereka tidak berusaha untuk menjelaskannya kepada orang-orang yang belum memahaminya. Mereka tidak menyerah. Mereka semakin kuat.
“Akan selalu ada orang-orang yang menilai berdasarkan pada ketidaktahuan,” kata MacDonald Rushdan. “Saya akan terus melakukan apa yang saya selalu lakukan. Saya tidak akan menyesal menjadi seorang wanita yang takut kepada Allah, yang dengan imannya memberikan ia kedamaian dan kepuasan batin.”
(esqiel/arrahmah.com/muslimahzone.com)
Label:
Catatan Muslimah
06.38
AKP Fitrisia Kamila, Kapolsek Berjilbab di Indonesia
Written By Unknown on Senin, 17 Juni 2013 | 06.38
Jilbab bukan jadi penghalang seorang muslimah untuk bekerja secara
profesional dan berprestasi. Termasuk prestasi di kepolisian dan
militer.
Salah satunya adalah AKP Fitrisia Kamila, seorang Kapolsek muslimah pertama di wilayah hukum polres Langsa yang dilantik pada Selasa, 11 Desember 2012.
Jabatan Kapolsek didapat Kamila bukan karena kecantikannya, tetapi memang melalui jenjang karir yang panjang.
Kapolsek berparas cantik dengan berjilbab ini, lahir di Pekan Baru 8 Juli 1983 silam. Ia lulusan Akademi Polisi tahun 2005. Selepas Lulus pendidikan AKP, Kamila ditugaskan pertama kali di Polres Banda Aceh, tahun 2010 hingga 2011, kemudian dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Darul Imarah di Aceh Besar yang masuk wilayah hukum Polrestas Banda Aceh.
Usai bertugas di sana ia kemudian dipindahtugaskan ke Polres Langsa sebagai Kasubbag Humas Bagian Operasi Polres Langsa. Penghujung tahun 2012 ini ia kemudian dipercayakan kembali sebagai Kapolsek Birem Bayeun. Ibu tiga anak ini bersuamikan seorang anggota TNI Kapten Boby Wijayanto.
Kepada media ia menuturkan bahwa saat pertama kali ditugaskan ia sempat menghadapi kendala yaitu masalah perbedaan bahasa. Namun, demi pengabdiannya kepada negara dan masyarakat ia terus berusaha untuk mempelajari bahasa Aceh.
Di Polsek Birem Bayeun katanya, membawahi 27 gampong. Ia pun telah memiliki sejumlah agenda untuk mengayomi masyarakat.
“Langkah pertama adalah dengan lebih proaktif melakukan pertemuan dengan geuchik dan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan demikian ia berharap dapat menciptakan suasana kemanan dan ketertiban masyarakat yang lebih kondusif.
Jadi polwan berjilbab bukan halangan untuk tetap berprestasi dan mengabdi bagi bangsa dan negara. (sbb/ajtp/dakwatuna/islamedia)
Salah satunya adalah AKP Fitrisia Kamila, seorang Kapolsek muslimah pertama di wilayah hukum polres Langsa yang dilantik pada Selasa, 11 Desember 2012.
Jabatan Kapolsek didapat Kamila bukan karena kecantikannya, tetapi memang melalui jenjang karir yang panjang.
Kapolsek berparas cantik dengan berjilbab ini, lahir di Pekan Baru 8 Juli 1983 silam. Ia lulusan Akademi Polisi tahun 2005. Selepas Lulus pendidikan AKP, Kamila ditugaskan pertama kali di Polres Banda Aceh, tahun 2010 hingga 2011, kemudian dipercaya menjabat sebagai Kapolsek Darul Imarah di Aceh Besar yang masuk wilayah hukum Polrestas Banda Aceh.
Usai bertugas di sana ia kemudian dipindahtugaskan ke Polres Langsa sebagai Kasubbag Humas Bagian Operasi Polres Langsa. Penghujung tahun 2012 ini ia kemudian dipercayakan kembali sebagai Kapolsek Birem Bayeun. Ibu tiga anak ini bersuamikan seorang anggota TNI Kapten Boby Wijayanto.
Kepada media ia menuturkan bahwa saat pertama kali ditugaskan ia sempat menghadapi kendala yaitu masalah perbedaan bahasa. Namun, demi pengabdiannya kepada negara dan masyarakat ia terus berusaha untuk mempelajari bahasa Aceh.
Di Polsek Birem Bayeun katanya, membawahi 27 gampong. Ia pun telah memiliki sejumlah agenda untuk mengayomi masyarakat.
“Langkah pertama adalah dengan lebih proaktif melakukan pertemuan dengan geuchik dan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu juga meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, dengan demikian ia berharap dapat menciptakan suasana kemanan dan ketertiban masyarakat yang lebih kondusif.
Jadi polwan berjilbab bukan halangan untuk tetap berprestasi dan mengabdi bagi bangsa dan negara. (sbb/ajtp/dakwatuna/islamedia)
Label:
Catatan Muslimah








