Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak Muslimah. Tampilkan semua postingan

KEUTAMAAN WANITA SHALIHAH

Written By Unknown on Selasa, 17 September 2013 | 07.33

Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang solehah.” (HR. Muslim, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)
Suatu hari, selepas shalat Subuh, seorang jamaah masjid menghampiri saya. Pemuda lajang yang sebentar lagi akan diwisuda itu mengajak berbincang di teras masjid. Rupanya ia ingin bertanya tentang pernikahan. Maklum, usianya sudah 27 tahun, usia yang sedang matang-matangnya memikirkan kehidupan rumah tangga. Apalagi ia termasuk pemuda yang rajin ke masjid. Ia pasti khawatir tidak mampu menjaga agama dan syahwatnya jika menunda-nunda pernikahan.

Satu pertanyaan sederhana pun meluncur dari mulutnya. “Mas, menurut Ustadz saya, kalau sudah menikah, seorang laki-laki biasanya tidak terlalu memandang pada kecantikan isterinya, tetapi lebih kepada bagaimana kelembutan dan ketaatan sikap wanita itu kepada suaminya. Apa benar begitu, Mas? Apa pendapat ustadz saya tidak berlebihan? “

Pertanyaan yang sebenarnya sederhana saja, tetapi tidak mudah pula bagi saya untuk menjawabnya. Menurut saya, apa yang diucapkan sang ustadz sedikit banyak ada benarnya.  Maksudny begini;  Ketika mau menikah, yang mungkin paling dipertimbangkan oleh seorang lelaki dari calon isterinya adalah pada penampilan fisiknya, wajahnya yang cantik, tubuhnya yang aduhai, atau bibir dan bola matanya yang menggoda.  Tetapi, begitu perjalanan rumahtangga telah berbilang tahun, maka kecantikan itu tidak lagi menjadi tolak ukur utama dalam menilai plus-minus isterinya.

Bukannya kecantikan itu menjadi tidak penting, sehingga si isteri tidak perlu berhias untuk suaminya. Bukan itu maksudnya. Seorang isteri masih tetap perlu menjaga penampilan dan kecantikan di depan sang suami agar suaminya selalu merasa tentram berada di sampingnya. Akan tetapi, semua kecantikan itu tidak akan lagi bernilai besar jika kewajiban utama sebagai seorang isteri untuk berakhlak baik dan taat kepada suaminya tidak dijalankan dengan baik.

Jadi, yang menjadi tolak ukur utama penilaian seorang suami terhadap isterinya ketika rumah tangga mereka telah melewati beberapa tahun adalah sejauh mana si isteri menunjukkan rasa cinta dan ketaatan kepada suaminya.

 Mengapa demikian? Karena kecantikan manusia pada dasarnya terbatas. Perjalanan waktu perlahan akan terus menggerogotinya. Jika pun kecantikan itu bisa diawetkan, tetapi karena dia bersifat fisik, maka pada suatu saat bisa membosankan. Apalagi wajah-wajah baru yang lebih segar terus bermunculan di sekitar suami. Jika dalam situasi seperti itu wanita masih mengandalkan kecantikan fisiknya untuk mengikat kesetiaan suaminya, pasti ia harus berani menuai kekecewaan.

Tetapi ketaatan dan akhlak yang baik dari seorang isteri tidak akan pernah membuat suaminya bosan. Semakin baik akhlak seorang isteri dan semakin taat ia kepada suaminya, maka akan semakin besarlah rasa bangga dan cinta suaminya kepada dirinya. Seperti melempar pohon yang lebat dengan buah, semakin banyak kita melempar, maka akan semakin banyak buah yang kita dapatkan. Begitu pula ketaatan dan rasa cinta seorang isteri kepada suaminya. 

Dipilih Karena Agamanya

Rasulullah saw. berpesan kepada para lelaki yang hendak mencari pasangan hidup agar lebih mengutamakan calon isteri  dengan kriteria yang baik agamanya (akhlaknya) ketimbang tiga kriteria lainnya, yaitu kecantikannya, keturunannya atau hartanya.
Bagi kebanyakan pemuda, biasanya pesan Rasulullah saw. di atas sudah tidak menjadi pertimbangan lagi dalam memilih pasangan hidup mereka. Kebanyakan mereka lebih memilih wanita dengan fisik yang cantik dan aduhai ketimbang pertimbangan agama dan akhlaknya. Bahkan, orang-orang yang masih mempertimbangkan akhlak dan agama ketika memilih pasangan hidup, dianggap sebagai orang-orang kuno dan ketinggalan zaman.

Padahal, apa yang dipesankan oleh Rasulullah saw. tetap relevan hingga sekarang. Begitu banyak lelaki yang harus kecewa setelah menjalani satu-dua tahun masa-masa kehidupan rumah tangga bersama perempuan pujaan hatinya. Kecantikan sang isteri yang dulu ia kira akan membahagiakan rumahtangganya ternyata justru memperbudak dirinya.

Ada pula lelaki yang tetap percaya kepada pesan Rasulullah saw. bahwa perempuan yang terbaik untuk dipilih mestinya yang baik akhlaknya. Tetapi, ia tetap lebih memilih kecantikan fisik calon pendamping hidupnya, dengan alasan bahwa akhlak dan agama isterinya bisa ia rubah sedikit demi sedikit setelah menikah nanti. Tapi apa yang terjadi? Bukan akhlak si isteri yang berhasil ia rubah, justru akhlaknya sendirilah yang akhirnya ikut rusak karena pengaruh dominasi isterinya yang berakhlak buruk.

Terlalu banyak kasus lelaki yang semasa lajangnya termasuk lelaki soleh, rajin ke masjid, jujur dan amanah, tetapi setelah menjalani kehidupan rumah tangga bersama perempuan yang tidak baik akhlak dan agamanya, justru dirinya ikut terjerumus kedalam berbagai tindakan kriminal, seperti korupsi, memeras, menyuap dan sebagainya, demi memenuhi keinginan isterinya yang kemaruk harta.

Pada saat-saat seperti ini, seorang suami barulah menyadari kekeliruannya dalam memilih pasangan hidup. Tiba-tiba ia sadar, betapa yang dibutuhkan seorang lelaki di rumahnya hanyalah seorang isteri yang setia dan taat kepadanya. Ia pun sadar bahwa kecantikan isterinya tidaklah lebih penting atau tidak lebih utama daripada keluhuran akhlak dan ketaatan terhadap dirinya sebagai kepala rumah tangga.

Maka tidak heran jika Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang solehah.” (HR. Muslim, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Lelaki yang baru menyadari kenyataan di atas setelah satu-dua tahun perjalanan rumahtangganya, biasanya dihadapkan dua pilihan yang sama-sama sulit. Pilihan pertama ia tetap menerima perlakuan isterinya yang tidak solehah (tidak taat), sambil terus berdoa diam-diam agar Allah merubah kelakuan isterinya, atau sambil berharap bahwa penerimaannya terhadap sikap isterinya yang tidak patuh itu akan membuahkan pahala baginya.

Sikap ini hanya akan membuat dirinya sendiri bertambah kecewa dan ia akan terus memendam ketidakpuasan terhadap isterinya sampai akhir hayatnya. Atau jika suami kurang imannya, ia akan membalas ketidaktaatan isterinya dengan jalan berselingkuh. Di rumah, si suami tampak setia dan menuruti semua kemauan sang isteri, tetapi di luar rumah ia berusaha mencari wanita lain yang lebih bisa melayaninya dengan baik.

Pilihan kedua, ia bisa merubah kesalahan itu dengan memberikan pengertian kepada isterinya mengenai peran dan tanggungjawab masing-masing pihak sesuai syari’at Islam. Pilihan kedua ini pun bukan tanpa resiko. Bahkan terkadang resikonya terlalu mahal. Memang ada suami yang dengan kesabaran akhirnya berhasil mendidik isterinya menjadi sadar diri dan sadar posisinya dalam rumah tangga sehingga hubungan suami isteri dalam rumah tangga bisa dikembalikan pada rel yang sesuai.

Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga yang harus kandas ketika seorang suami berusaha mengembalikan posisinya sebagai kepala rumah tangga yang harus dipatuhi, tetapi mendapat penolakan dari isterinya yang ingin tetap dominan menyetir sang suami sesuai keinginannya. Ini bisa terjadi jika si suami tidak sabaran dalam mendidik isterinya atau sang isteri tidak mau menerima didikan dari suaminya untuk menegakkan kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Nah, untuk menghindari terjadinya kemungkinan terburuk dalam kehidupan rumah tangga di kemudian hari, maka sudah seharusnya seorang lelaki berusaha melihat dengan jeli dan mencari tahu kebaikan akhlak dan agama dari seorang wanita yang hendak dinikahinya. Hanya dengan memilih wanita solehah sebagai isterinya, maka rumah tangga yang dibangunnya akan mampu memberi kebahagiaan, sekaligus membantu menyelamatkan imannya dari godaan dunia yang melenakan ini.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah saw. bahwa wanita solehah adalah sebaik-baik barang simpanan bagi seorang Muslim.

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah saw. bersabda kepada Umar, “Tidakkah engkau ingin kuberitahu tentang sebaik-baik barang simpanan (perhiasan) seseorang? Ia adalah seorang wanita salehah yang apabilah suaminya mendatanginya, ia menyenangkan. Apabila diperintah ia taat, dan apabila suaminya tidak ada, ia menjaga kehormatannya.” (HR. Abu Daud)

Al-Qur’an sendiri menyebutkan dua ciri utama dari wanita solehah. Firman Allah swt.:
“..Maka wanita-wanita solehah itu adalah wanita yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka…” (QS. An-Nisa’: 34)

Kerelaan untuk menjadi seorang isteri solehah dengan ciri-ciri seperti disebutkan oleh hadits dan ayat al-Qur’an di atas bukanlah sesuatu yang sepele dan mudah, tetapi membutuhkan perjuangan dan mujahadah yang besar. Karena itu, Rasulullah saw. menjanjikan perempuan seperti ini kelak boleh masuk ke surga dari pintu mana saja yang ia pilih.

Rasululah saw. bersabda, “Jika seorang isteri telah menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan menjaga kemaluannya dari yang haram, serta taat kepada suaminya, maka akan dipersilahkan kepadanya untuk masuk ke surge dari pintu mana pun yang ia suka.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

[Sumber: Majalah Hidayah]

Memahami Pembantu Rumah Tangga

Written By Unknown on Kamis, 22 Agustus 2013 | 07.31

 “Mbak, ini siapa yang masak..?” Andi bertanya kepada mbak Ella yang menjawab dengan ragu-ragu.
“Sssayaa, den…” jawab mbak Ella, pembantu rumah yang baru berusia 17 tahun, dengan takut-takut.
“Enak mbak, besok bikin lagi kayak gini yaa..” Andi menjawab sambil meneruskan kunyahan kedua, ketiga dan tak terasa sudah dua piring habis, rawon daging yang lembut dengan telur asin yang sedap, cocok sekali untuk menu siang hari yang terik.

“Nyesss… Alhamdulillah,” bisik si mbak, pembantu baru rumah Andi yang baru 5 bulan kerja dirumah itu. Rumah bertingkat dua yang penuh perabot dan banyak ruangan yang tentu saja sebetulnya sangat melelahkan bagi siapapun yang bertugas membersihkannya,

Rumah yang sepi tanpa ibu, karena ibu pulang kerja sore hari dan kehadiran si mbak membuat rumah menjadi lebih teratur, rapih dan bersih. Semua barang tidak ada lagi yang berserakan. Koran-koran tertumpuk rapih, amplop-amplop permintaan sumbangan, kuitansi belanjaan, rekening listrik, undangan pak RT, sampai surat pemberitahuan dari RT/RW mengenai siapa-siapa saja yang bertugas membuatkan jatah makan malam buat satpam yang jaga malam di kompleks rumah itu, tersusun rapih. Hal ini tentunya sangat memudahkan bagi siapa saja penghuni rumah besar itu.

Di sore hari yang sepi, hanya tukang roti yang sesekali menawarkan dagangannya lalu nyanyian es krim walls dengan sepedanya mengelilingi kompleks rumah, mengiring teriakan yang mengagetkan Alia, anak bungsu dirumah itu. Bungsu gelarnya, namun tinggi badan sudah hampir 170 cm dan dari peringkat usia pun lebih tua sebetulnya dari mbak Ella. Kalau Ella berusia 17 tahun sementara Alia sudah 18 tahun. Alia sudah lulus SMU, dengan nilai UN tinggi sekali 54, 75, kira kira rata-ratanya 9 lebih. Hal ini menunjukkan bahwa Alia adalah anak yang pandai.

Amat disayangkan perlakuan Alia kepada mbak Ella yang membantu dirumahnya tidak menunjukkan kepandaiannya.
 “Mbakkkkkkkkkk Ellllllaaaaaaa, siiiiinnnnniiii..!!!!!” jeritan Alia melengking dan membuat mbak Ella terlonjak, kecut hatinya dan kaki-kaki kecilnya naik ke lantai dua, kamar non Alia yang besar dan indah.
“Yaa non,” jawab mbak Ella penuh pengabdian.
“Mana baju saya yang pink, juga kaset CD yang saya taruh disini, dimana mbak,,? kenapa sih barang-barang di rumah ini selalu hilang, gak ada yang beres, semuanya berantakan, kayak ada siluman di rumah ini, cepat cariin mbak, saya mau pakai.!” Alia mencak-mencak dan membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk sambil mendengarkan musik di iphone. Sungguh, mbak Ella jadi bingung, “Kaos pink yang mana..? begitu banyak kaos dirumah ini..? juga CD? CD yang mana..? setiap kamar ada kaset-kaset CD dan jumlahnya bukan satu atau dua, namun puluhan… akh…” sejenak mbak Ella bingung.

“Jangan diam saja dong mbakkk, cariiii. Cepetaaannn..” ajuk Alia lagi dengan wajah bersungut-sungut seakan-akan semua barang di rumah besar ini adalah tanggung jawab sang pembantu rumah. Belum selesai mencari CD dan kaos berwarna pink, terdengar teriakan dari bawah. Ternyata ayah minta dicarikan bola tenis dan sepatu tenisnya. Ayah minta dicarikan sekarang juga, karena jadwal tenis ayah sebentar lagi dan ayah mengatakan ”cepat cari La, saya harus pergi sekarang..”

“Ohhh.. pak dan non, tangan saya hanya dua..” Ella kecil pun berlari kesana-kemari, mencari semua barang yang diminta namun terlebih dahulu Ella masuk dapur untuk mematikan kompor yang berisi kuah sup, tanpa lupa pula menutup ayam yang baru dipotong-potong dimana si kucing melotot dengan penuh semangat dari balik pintu kaca pembatas taman belakang dengan dapur. Kasihan mbak Ella, tangannya hanya dua, namun pekerjaannya seratus dua. Dan semua menuntut harus cepat, segera, seketika, saat ini juga.!

“Mi,” suamiku berucap lirih, “kasihan sekali ni, ada seorang TKW kita di Arab Saudi terkena hukum pancung karena membunuh anggota keluarga sang majikan, dan keluarga majikan menolak memberi maaf sehingga sang pembantu akhirnya dihukum pancung oleh pemerintah Saudi.” Koran yang ku raih dari tangan suamiku, membuat hatiku gemetar dan ingin berteriak sekuatnya, “Yaa Allah, mengapa harus dipancung..? mengapa dia membunuh majikannya, kasihan dia.” Aku pernah merasakan berkali-kali rumah tanpa pembantu, betapa beratnya, kerjaan menumpuk, cucian begitu banyak, baru dibersihkan satu ruangan sudah menunggu ruangan berikut, belum lagi, selera makan anak yang berubah-ubah, lalu garasi yang kotor, kamar mandi yang sudah mulai lengket dan sedikit lumutan, lalu beras habis dikala tubuh sangat lelah untuk membeli beras ke warung, sementara suami dan anak-anak mau pulang namun lauk belum siap, ketika lauk-pauk siap pun, piring kotor menanti untuk segera dibersihkan, berebut gula dengan semut karena toples gula lupa ditutup.

Ohh, betapa kehadiran pembantu rumah, asisten rumah, kawan yang sangat menolong dan begitu diperlukan. Sampai hati para majikan membuat prahara bagi pembantu rumah tangga yang mereka juga adalah manusia, wanita, dengan gaji kecil bahkan lebih rendah dari supir yang kerjanya terlihat lebih enak , duduk-duduk saja, jalan-jalan naik mobil mewah. Pembantu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling berat namun dengan gaji yang paling kecil. Kalau perlu, coba dihitung lagi oleh menteri tenaga kerja, berapa gaji yang harus diterima seorang pembantu rumah tangga dengan melihat perasaannya, anak-anak yang ditinggalkannya, rasa bosannya, juga lelahnya serta hitunglah perkamar, maka sebetulnya pekerjaan pembantu rumah tangga adalah perkerjaan yang berat di dunia ini karena tidak ada waktu libur, tidak ada waktu santai, bahkan sekedar ber-sms pun seringkali dilirik oleh majikan dengan ungkapan sinis ”pacaran melulu..”

Belum lagi bila harus dikirim ke luar negeri, aku paham perasaan TKW yang dipancung, mungkin dia sudah gak tahan lagi diperlakukan dengan kejam oleh majikan dan anggota keluarga lain, diperlakukan seperti budak, dimana jaman perbudakan sudah tidak ada lagi, tanpa ada yang mampu menolong…

Bila ada hari, maka buatlah hari pembantu, hari khadimah, hari asisten rumah tangga dengan sejuta award, dari perusahaan tukang sapu, dari perusahaan sabun cuci, dari perusahaan buah-buahan, garam dan gula, yang mana benda-benda inilah yang paling sering dipakai oleh para pembantu. Senangkanlah mereka, berilah libur barang sehari dalam seminggu, perlakukan mereka sebagaimana diri kita diberikan waktu istrahat yang cukup. Biarkan mereka menunggu hari yang menyenangkan sehingga jasa mereka begitu dihargai.

Aku pernah ungkapkan pada sahabatku, betapa tanpa mereka, dakwah ini tidak berjalan. Tanpa mereka, bajuku lecek tak keruan, tanpa mereka aku gak bisa seperti ini dan mereka menduduki tempat teratas ketika pembagian THR tiba. Dengan jumlah yang sangat spadan, tak ada lungsuran tas, tak ada tas bekas untuk mereka, sebagaimana mereka berikan tenaga baru untuk kami, maka kami berikan tas baru untuk mereka, tidak ada tas bekas untuk mereka, karena merekapun tak pernah memberikan bekas tenaga, selalu tenaga baru di pagi hari.

Beri mereka hari yang selalu ditunggu kalau perlu setiap minggu.
“Happy mbak Ella’s day, happy mbok Inem’s day… happy thank you’s day..”
(Aku persembahkan tulisan ini dengan cinta dan terima kasih yang dalam kepada berjuta-juta mbok Inem, mbak Nah, mbak Tuti dan lain lain, yang telah menjaga anak-anak kita dan membantu pekerjaan rumah tangga kita, sehingga kita bisa menjadi seperti ini..) (Eramuslim)

Kau Akan Lebih Muliah Ketika Berjilbab

Written By Unknown on Senin, 08 Juli 2013 | 10.21


Islam adalah ajaran yang sangat sempurna, sampai-sampai caraberpakaian pun dibimbing oleh Alloh Dzat yang paling mengetahui apa yang terbaik bagi diri kita. Bisa jadi sesuatu yang kita sukai, baik itu berupa model pakaian atau perhiasan pada hakikatnya justru jelek menurut Alloh. Alloh berfirman, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu adalah baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal sebenarnya itu buruk bagimu, Alloh lah yang Maha mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Al Baqoroh: 216). Oleh karenanya marilah kita ikuti bimbingan-Nya dalam segala perkara termasuk mengenai cara berpakaian.

Perintah dari Atas Langit

Alloh Ta’ala memerintahkan kepada kaum muslimah untuk berjilbab sesuai syari’at. Alloh berfirman,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu serta para wanita kaum beriman agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar mereka mudah dikenal dan tidak diganggu orang. Alloh Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al Ahzab: 59)


Ketentuan Jilbab Menurut Syari’at

Berikut ini beberapa ketentuan jilbab syar’i ketika seorang muslimah berada di luar rumah atau berhadapan dengan laki-laki yang bukan mahrom (bukan ‘muhrim’, karena muhrim berarti orang yang berihrom) yang bersumber dari Al Qur’an dan As Sunnah yang shohihah dengan contoh penyimpangannya, semoga Alloh memudahkan kita untuk memahami kebenaran dan mengamalkannya serta memudahkan kita untuk meninggalkan busana yang melanggar ketentuan Robbul ‘alamiin.

Pertama

Pakaian muslimah itu harus menutup seluruh badannya kecuali wajah dan kedua telapak tangan (lihat Al Ahzab: 59 dan An Nuur: 31). Selain keduanya seperti leher dan lain-lain, maka tidak boleh ditampakkan walaupun cuma sebesar uang logam, apalagi malah buka-bukaan. Bahkan sebagian ulama mewajibkan untuk ditutupi seluruhnya tanpa kecuali-red.

Kedua

Bukan busana perhiasan yang justru menarik perhatian seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik!!!; ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan diantara sesama muslimin. Sadarlah wahai kaum muslimin…

Ketiga

Harus longgar, tidak ketat, tidak tipis dan tidak sempit yang mengakibatkan lekuk-lekuk tubuhnya tampak atau transparan. Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.

Keempat

Tidak diberi wangi-wangian atau parfum karena dapat memancing syahwat lelaki yang mencium keharumannya. Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang wanita diantara kalian hendak ke masjid, maka janganlah sekali-kali dia memakai wewangian.” (HR. Muslim). Kalau pergi ke masjid saja dilarang memakai wewangian lalu bagaimana lagi para wanita yang pergi ke kampus-kampus, ke pasar-pasar bahkan berdesak-desakkan dalam bis kota dengan parfum yang menusuk hidung?! Wallohul musta’an.

Kelima

Tidak menyerupai pakaian laki-laki seperti memakai celana panjang, kaos oblong dan semacamnya. Rosululloh melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhori)

Keenam

Tidak menyerupai pakaian orang-orang kafir. Nabi senantiasa memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka diantaranya dalam masalah pakaian yang menjadi ciri mereka.

Ketujuh

Bukan untuk mencari popularitas. Untuk apa kalian mencari popularitas wahai saudariku? Apakah kalian ingin terjerumus ke dalam neraka hanya demi popularitas semu. Lihatlah isteri Nabi yang cantik Ibunda ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha yang dengan patuh menutup dirinya dengan jilbab syar’i, bukankah kecerdasannya amat masyhur di kalangan ummat ini? Wallohul muwaffiq.

(Disarikan oleh Abu Mushlih dari Jilbab Wanita Muslimah karya Syaikh Al Albani)

Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Sumber: muslimah.or.id

Itsar, Akhlak yang Mulai Pudar

Written By Unknown on Selasa, 25 Juni 2013 | 06.34

 Istilah Itsar dalam keseharian mungkin sudah tidak asing lagi, tapi-untuk mengamalkannya tidak semua orang dapat melakukannya kecuali hamba Alloh yang ikhlash. Itsar adalah akhlaq mulia yang sudah jarang kita temui, apalagi di zaman modern, masa di mana orang lebih mementingkan kehidupan dunia yang fana daripada kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. Padahal akhlaq ini telah menjadi kebiasaan salafus shalih. Sudah seharusnya kita menjadikan mereka sebagai teladan hidup. Sungguh ironis, jika sifat mulia ini mulai terkikis dari diri kaum muslimin, seolah-olah sifat ini merupakan hal yang baru. Akankah sikap ini kembali menjadi melekat dikalangan kaum muslimin kembali?

          Imam Qurtubi menuturkan bahwa itsar adalah mengutamakan orang lain dari pada diri sendiri dan masalah duniawi, sehingga sifat ini merupakan akhlak terpuji. Meskipun demikian, itsar tidak boleh diterapkan dalam hal akhirat dan ibadah.

Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengatakan al-Itsar adalah lawan daripada kikir. sesungguhnya orang yang mengutamakan orang lain, akan meninggalkan apa yang ia butuhkan untuk dirinya. Yang demikian itu merupakan posisi kedermawanan, kemurahan dan perbuatan baik dan disebut dengan kedudukan itsar karena merupakan tingkatan yang paling tinggi. Hal ini tidak bisa dicapai kecuali dengan keyakinan yang kuat, kecintaan yang mendalam dan sabar atas kesusahan yang menimpanya.

Tingkatan Itsar
Itsar memiliki beberapa tingkatan. Tingkatan pertama, mengutamakan orang lain di atas kepentingan pribadi. Misalnya, anda memberi makan mereka sedang anda lapar, memberi minum mereka sedang anda kehausan. Hal ini sangat dianjurkan oleh Islam, selama tidak melanggar perintah-Nya maupun menerobos larangan-Nya. Sebab, tidak setiap saat orang harus itsar. Jika ternyata membuat pikiran dan hati sibuk dan melupakan Alloh, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pribadi yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Maka, itsar tidak diperlukan.

Tingkatan yang kedua, mendahulukan keridhaan Alloh di atas kehendak pribadi dan orang lain. Sehingga muncul tekad kuat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan keridhaan Alloh, walaupun orang-orang membencinya. Itsar tingkat ini telah dicontohkan dengan sempurna oleh para nabi, para rasul dan ulul ‘Azmi, para rasul pilihan dari kalangan nabi dan rasul.

Contoh paling ideal adalah nabi kita Muhammad SAW. Beliau membeli keridhaan Alloh daripada simpati manusia dengan cara mendakwahkan Islam pada saat semua orang tengah musyrik. Meski banyak orang membeci, beliau tetap teguh pendirian untuk menyampaikan risalah Alloh hingga kalimat Alloh tinggi dan agamanya menang atas agama yang lain.

Imam Syafi’i berkata, “keridhaan seluruh manusia merupakan suatu hal yang tidak mungkin dapat diwujudkan. Oleh karena itu engkau harus berpegang teguh pada hal-hal yang bisa memperbaiki dirimu. Sebagaimana diketahui bahwa tidak ada yang dapat memperbaiki jiwa kecuali dengan mendahulukan ridha Alloh atas ridha manusia.”

Tingkatan yang ketiga, mendahulukan apa yang Alloh cintai atas selera pribadi. Itsar pada tingkatan ini mengubah persepi dan tolak ukur seeorang dalam menilai sesuatu. Apa yang ia sukai adalah hal-hal yang Alloh sukai yang dikhabarkan lewat al-quran dan sunnah. Begitu pula kala ia membenci. Rasa suka dan benci ia atur gerak-geriknya sesuai ketentuan Alloh. Seolah-olah menyerahkan pengukuran prioritas kepada Alloh, karena pada hakikatnya dialah pengutama yang sebenarnya.

Teladan Istimewa
Para sahabat adalah orang-orang yang patut diteladani dalam bersikap itsar mereka benar-benar suatu generasi unggulan yang pantas mendapat julukan dengan sebaik-baik generasi hingga karena sifat mereka Alloh benar-benar memuji sifat mereka yang sangat jarang kita temukan pada zaman kita sekarang ini Alloh berfirman dalam memuji mereka:

“Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Alloh memuji kaum Ansar, dimana mereka telah mendahulukan orang lain yang membutuhkan atas diri mereka sendiri, mempersilahkan orang lain sebelum diri mereka sendiri meskipun mereka sangat membutuhkan hal tersebut.

Dari Abu Hurairah dia bercerita, bahwa ada seorang yang datang kepada Nabi SAW seraya mengatakan: “Sesungguhnya aku sangat lelah dan lapar” kemudian beliau menemuisalah satu istrinya. Ternyata istrinya berkata, “Demi Alloh yang mengutusmu membawa kebenaran, aku tidak mempunyai apa-apa kecuali air saja”. Kemudian beliau mengutus seseorang kepada istrinya yang lain maka istrinya tersebut mengatakan hal yang sama. Hingga akhirnya semua istrinya mengtakan hal yang sama . kemudian Nabi SAW bersabda: “Siapakah yang sanggup menjamu orang ini pada malam ini? Kemudian salah seorang dari kalangan Ansar mengatakan: “Aku wahai Rasulullah” kemudian orang tersebut bersama sahabat tersebut. Selanjutnya ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ini”. Lalu sahabat tersebut berkata kepada istinya: “Apakah kamu mempunyai sedikit makanan? Istrinya mejawab: “Tidak kecuali makanan untuk anak-anakku. “ Dia berkata sibukkanlah mereka dengan sesuatu, dan jika mereka ingin makan maka tidurkanlah mereka. Dan jika tamu kita masuk, matikanlah pelita itu dan perlihatkanlah kepadanya bahwa kita seolah-olah ikut makan. Kemudian merekapun duduk dan tamu itupun makan, sedang suami istri tersebut tetep kelaparan sepanjang malam. Dan ketika pagi hari tiba, mereka betemu Nabi, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Alloh kagum dengan apa yang kalian berdua lakukan terhadap tamu kalian tadi malam. ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Katsir dalam mengomentari ayat tersebut mengatakan bahwa Alloh memuji kaum Ansar serta mejelaskan kemuliaan, keagungan, kesucian diri mereka dari rasa iri, serta tindakan mereka mendahulukan orang lain atas diri mereka sendiri padahal mereka lebih membutuhkannya. Karena kemuliaan dan keagungan jiwa mereka, mereka mencintai kaum Muhajirin dan memberkan bantuan untuk mereka.

Keteladanan dalam Itsar
Ibnu Umar berkata: salah seorang dari sahabat Nabi diberi hadiah berupa kepala kambing maka sahabat tersebut berkata: “Sesunguhnya saudaraku fulan lebih membutuhkan daging ini daripada diriku, kemudian ia memberikan daging tersebut kepada sahabatnya, ternyata sahabat tersebut juga memberikan daging yang ia dapatkan kepada sahabat yang lain hal ini berlangsung hingga kepala kambing tersebut berputar sampai tujuh rumah sahabat hingga daging tersebut kembali kepada sahabat yang pertama mendapatkan daging itu untuk yang pertama kali.

Dikisahkan bahwa telah berkumpul lebih dari pada tiga puluh orang yang mereka semua itu berada di satu tempat yaitu di sebuah desa dekat Ar-Ray (daerah Iran). Mereka hanya mempunyai beberapa potong roti yang tidak akan cukup untuk mengenyakan mereka semua. Lalu untuk memakannya mereka memecahkan roti tersebut dan memadamkan lampu, kemudian mereka duduk berkeliling untuk memakan roti tersebut.
Kemudian tatkala makanan itu di angkat dan lampu di nyalakan ternyata roti tersebut masih dalam keadaan semula tidak berkurang sedikitpun, karena mereka satu sama lain saling mengutamakan saudaranya sehingga mereka berfikiran agar saudaranya saja yang memakan roti tersebut biarlah ia tetap lapar yang penting saudaranya kenyang.

Ketika peperangan Yarmuk kaum muslimin mendapat kemenangan yang cukup gemilang pada peperangan tersebut diantara kaum muslimin ada yang mengalami luka dan cedera tersebutlah tiga orang mujahidin yaitu: Al-Haris bin Hisyam, ‘Ayyas bin Abi Rabi’ah dan Ikrimah bin Abi Jahal. Ketika mereka mengalami masa-masa kritis dan membutuhkan pertolongan justru pada saat itulah mereka melakukan perbuatan yang sungguh luar biasa mereka berbuat itsar dengan menakjubkan yang sulit kita dapatkan pada jaman sekarang ini, hal ini sebagaimana diceritakan sendiri oleh Hudzaifah Al-‘Adawi ia menceritakan, ”Pada saat itu aku membawa air yang sedikit yang akan aku berikan kepada Al-Haris yang pada saat itu ia tengah berteriak meminta air karena ia tengah sangat kehausan ketika air sudah dihadapannya dan ia bersiap untuk meminumnya tiba-tiba ia mendengar orang lain juga berteriak kehausan yaitu sahabatnya Ikrimah ketika itu pula ia mengisyaratkan untuk memberikan air tersebut untuk Ikrimah, ketika air sudah dihadapan Ikrimah dan ia sudah bersiap untuk meminumnya ketika itu pula ia mendengar sahabat lain yaitu ‘Ayyas memita air maka Ikrimahpun mengisyaratkan untuk memberikan air tersebut kepadanya, ketika air tersebut dibawa kehadapan ‘Ayyas ternyata ia sudah meninggal terlebih dahulu tanpa sempat meminum air tersebut, ketika air tersebut dibawa kembali kepada dua orang sahabat yang meminta air tadi ternyata ajal juga telah menjemput mereka akhirnya para sahabat tersebut meninggal dunia tanpa salah seorang pun diantara mereka yang meminum air tesebut.

Sungguh luar biasa sikap para sahabat Rasulullah saw dalam melakukan itsar diantara mereka, tapi- hari ini sulit kita dapati di zaman modern, zaman yang penuh dengan fitnah, baik fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang benar-benar menggoda hamba-Nya yang beriman. Lalu bagaimana dengan kita, di mana tingkatan itsar kepada saudara kita. Semoga ini menjadi motivasi untuk kita semua dalam melalukan itsar terhadap saudara kita, Amiin.

Dunia Dalam Pandangan Al-Ghazaliy

Written By Unknown on Selasa, 11 Juni 2013 | 08.35


Salah satu penyimpangan mendasar yang menjangkiti umat Islam ketika tenggelam dalam kubangan Perang Salib adalah kerancuan dalam memandang harta. Mereka tidak mengerti hikmah paling mendasar dari harta dan tidak mengetahui prioritas penggunaan harta sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi masyarakat. Penyakit ini tidak hanya menjangkiti kaum kaya yang bergelimang harta, tetapi juga menjangkiti masyarakat miskin yang sama pula melencengnya dalam memandang harta. Itulah yang kemudian membuat Imam Al Ghazaliy mendaftar hal ini ke dalam lembar penyakit dalam diagnosanya ketika menyelami umat kala itu.

Dalam buku langka berjudul Hakadza Zhahara Jillu Shalahuddin wa Hakdza ‘Adad Al Quds, Dr. Majid ‘Irsan Al Kilani mengutip pandangan-pandangan Imam pioner gerakan Islah ini. Tujuan manusia diciptakan adalah untuk menyembah dan mengenalNya, dia melintasi kehidupan dunia menuju akhirat yang merupakan tempat tinggal yang terakhir. Untuk itu dia harus menyikapi kehidupan dunia sesuai dengan tujuan tersebut.

Manusia harus membekali diri dengan benda-benda yang ada di dunia sebagaimana musafir menyiapkan bekalnya, sehingga dia hanya mengambil secukupnya sebagai bekal perjalanan menuju akhirat. Dia ibarat orang yang mau pergi ibadah haji dan mempersiapkan untanya, di sibuk memberinya makan, membersihkan dan menutupi tubuhnya dengan kain yang indah, memberinya minum dan menjaganya sesuai dengan kadar kebutuhannya terhadap unta tersebut. Benda-benda yang ada di dunia ini tidak diciptakan melainkan hanya “untuk memberi makan kepada hewan tunggangan yang akan membawanya dalam perjalanan menuju Allah Ta’ala. Maksud hewan tunggangan di sini adalah tubuh (manusia) yang tidak mungkin dapat bertahan lama tanpa makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal, sebagaimana unta yang tidak mungkin sanggup menempuh perjalanan haji jika tidak diberi makanan, air, dan rumput.”

Manusia pada umumnya lupa dengan tujuan utama sehingga berhenti pada tahap persiapan saja. Akibatnya, dia seperti orang yang berangkat untuk melaksanakan haji lalu berhenti di salah satu peristirahatandan sibuk mengurus untanya seperti memberi makan, membersihkan, mengatur pakaian dan memberi minum sampai lupa bahwa rombongan telah berangkat meninggalkannya, sehingga dia dan untanya menjadi sasaran empuk binatang buas.

Hanya ada satu kelompok yang selamat dalam memandang dunia ini. Yakni kelompok yang mengikuti jejak Rasulullah Saw. dan para Sahabat. Jejak yang dimaksud adalah tidak mengingkari dunia secara total dan tidak menahan nafsunya secara total. Ia mengambil dari dunia sebatas bekal yang diperlukannya dan menahan nafsu yang melanggar batas ketaatan kepada syari’at dan logika, ia tidak mengikuti semua bentuk nafsu dan tidak pula meninggalkan seluruhnya melainkan mengikuti nafsu yang benar. Ia tidak meninggalkan urusan dunia dan tidak pula mencari seluruh urusan dunia melainkan tahu tujuan penciptaan setiap urusan dunia dan tidak keluar dari batas tujuannya.

Untuk itu, ia mengkonsumsi makanan sebatas yang diperlukan untuk memperkuat tubuh sehingga mampu beribadah, ia membuat tempat tinggal sebatas keperluannya untuk menjaga diri dari ancaman perampok dan melindunginya dari panas dan dingin, demikian pula dengan pakaian. Kemudian ketika hati tidak lagi sibuk dengan tubuh maka ia menghadap Allah dengan penuh semangat dan sibuk berzikir dan berpikir sepanjang umurnya. Ia tetap menjaga batas kesederhanaan dan keseimbangan nafsu agar tidak melanggar batas wara’ dan takwa.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang keseimbangan ini maka harus mengikuti jejak kelompok yang selamat (al Firqah an Najiyah) yaitu para Sahabat. Mereka hidup dengan pola yang lurus dan seimbang, tidak mengambil dunia untuk kepentingan dunia melainkan untuk kepentingan agama dan tidak mengingkari atau menjauhi dunia secara total. Mereka tidak memiliki pola hidup yang mengabaikan (tafrith) atau berlebihan (ifrath) melainkan hidup dengan pola sederhana dan seimbang yang sangat disukai oleh Allah Swt. (esqiel/muslimahzone.com)

Ajaibnya Do'a Istri Pada Suami Bejat

Written By Unknown on Minggu, 09 Juni 2013 | 06.15

Kisah ini kami dapatkan dari sebuah buku yang tersusun dalam dua jilid. Dalam buku tersebut dikisahkan banyak sekali kisah yang menunjukkan ajaibnya do’a. Oleh karenanya, buku itu diberi judul “‘Ajaibud Du’aa” (Sungguh ajaibnya do’a). Di antara kisah yang membuat hati ini interested adalah kisah seorang istri yang mendoakan suaminya yang bejat, yang gemar maksiat. Istri tersebut adalah istri yang sholehah dan sangat ingin sekali suaminya menjadi baik. Maka ia terus menerus mendoakan suaminya. Kisah tersebut adalah sebagai berikut:

Ada seorang suami yang benar-benar jauh dari ketaatan pada Allah Ta’ala, yang sudah gemar melakukan dosa. Ia memiliki istri yang sholehah. Istrinya ini senantiasa memberinya nasehat, wejangan dan berlemah lembut dalam ucapan pada suaminya, namun belum juga nampak bekas kebaikan pada diri sang suami. Si istri ini pun tahu bahwa do’a kepada Allah Ta’ala adalah sebaik-baiknya cara (agar suaminya bisa mendapatkan hidayah). Karena Allah subhanahu wa ta’ala yang memberi petunjuk pada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki. Si istri ini akhirnya terus menerus berdoa agar Allah memperbaiki keadaan suaminya menjadi baik dan menunjukkan suaminya ke jalan yang lurus (shirothol mustaqim). Ia tidak bosan-bosannya berdoa akan hal ini siang dan malam.

Akhirnya si istri mendapatkan waktu yang ia nanti-nanti. Suatu hari hidayah pun menghampiri suaminya, nampak pada suaminya tanda kembali taat. Suaminya akhirnya gemar lakukan kebaikan, ia pun bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Walillahil hamd, segala puji hanya untuk Allah.[1]

***

Wahai para istri, kisah ini sungguh menakjubkan sekali. Dengan engkau menengadahkan tanganmu pada Rabb-mu, suami yang dulunya bejat, mungkin juga tidak shalat, mungkin juga peminum minuman keras, hatinya pun bisa berbalik menjadi taat dengan izin Allah. Oleh karenanya, jangan sekali-kali melupakan do’a untuk suamimu tercinta. Hal ini pun juga berlaku pada suami yang sholeh, lakukanlah pula hal yang sama untuk selalu mendoakan istri agar taat pada Allah. Semua hati bisa jadi taat dengan izin Allah. Janganlah bosan-bosan untuk banyak berdoa untuk istri, anak, adik, kakak, ayah, ibu dan kerabat kita lainnya. Wabillahit taufiq.

Worth note at night in lovely sakan Riyadh-KSA, 4th Muharram 1432 (10/12/2010)

Written by: Muhammad Abduh Tuasikal

(rumaysho.com)

Wanita Dahulu dan Sekarang Bag:2

Written By Unknown on Jumat, 18 November 2011 | 09.01


Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?”
Aku menjawab,”Ya.”
Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.”
Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.”
Maka, Rasulullah saw. mendoakannya.

Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah binti Kaab yang dikenal dengan Ummu Imarah. Dia becerita,”Pada Perang Uhud, sambil membawa air aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin, sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara, aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang dan terkadang aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala Rasulullah saw. terpojok dan Ibnu Qamiah ingin membunuhnya, aku membentengi beliau bersama Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka. Rasulullah saw. bercerita,”Setiap kali aku melihat kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu Imarah.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata,”Alhamdulillah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.” Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw. Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain.

Kaum Wanita pada Masa Berikutnya

Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan melawan manuver-manuver Romawi, komandan diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah al-Fikir. Istri Hubaib termasuk pasukan yang akan berangkat perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa kesiapan pasukan.

Tiba-tiba istrinya bertanya,”Di mana saya menjumpai Anda ketika perang sedang berkecamuk?”
Dia menjawab,”Di kemah komandan Romawi atau di surga.”
Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang dengan penuh keberanian sampai mendapatkan kemenangan. Segera dia menuju ke kemah komandan Romawi menunggui istrinya. Yang menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia mendapatkan istrinya sudah mendahuluinya. Allahu Akbar.

Pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimipin oleh Harun al-Rasyid, ada seorang Muslimah disandera oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama Al-Manshur bin Ammar mendorong umat Islam untuk berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun menyaksikan ceramahnya. Tiba-tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat itu lalu dibuka dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari seorang perempuan dan berbunyi,”Aku mendengar tentara Romawi melecehkan wanita Muslimah dan engkau mendorong umat Islam untuk berjihad, maka aku persembahkan yang paling berharga dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan dalam bungkusan itu. Dan, aku memohon agar rambut itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku dapat nantinya dilihat Allah dan mendapatkan rahmatnya.” Maka, ulama itu menangis dan seluruh hadirin ikut menangis. Harun al-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan untuk membebaskan wanita Muslimah yang disandera itu.

Seorang istri Shaleh bin Yahya ditinggal suaminya dan hidup bersama dua anaknya. Ia mendidik anak-anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat malam). Ketika anak-anaknya semakin besar, dia berkata,”Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh satu malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamullail.”
“Apa maksud ibu?” tanya mereka.

Ibu menjawab,”Begini, kita bagi malam menjadi tiga dan kita masing-masing mendapat bagian sepertiga. Kalian berdua, dua pertiga, dan saya sepertiga yang terakhir. Ketika waktu sudah mendekati subuh, saya akan bangunkan kalian.”
Ternyata kebiasan ini berlanjut sampai ibu mereka meninggal. Dan amalan itu tetap dilanjutkan oleh dua anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya qiyamullalil.

Wanita Dewasa Ini

Kalau kita perhatikan perkembangan wanita dewasa ini, memang cukup mengkhawatirkan, meskipun di lain pihak masih banyak kaum wanita berjilbab yang semarak. Bahkan, pengajian-pengajian justru dipenuhi oleh kaum wanita. Tapi, melihat berbagai upaya musuh Islam untuk menghancurkan kaum hawa dengan berbagai cara melalui media massa yang destruktif (merusak), maka tantangannya semakin berat. Kalau tidak berbekal ilmu agama yang cukup dan disertai semangat juang yang tinggi, niscaya wanita pada zaman sekarang sulit untuk selamat. Bayangkan, kehidupan masyarakat di sekeliling kita sampai pergaulan di tingkat nasional dan internasional sudah sangat bejat. Kebejatan itu diliput dan disampaikan ke rumah-rumah kita melalui saluran-saluran TV. Dan, yang tidak puas ditambah dengan VCD dan internet. Sehingga, waktu untuk beribadah kepada Allah semakin terpinggirkan atau tergeser oleh otak yang merekam semua adegan itu.

Sementara, penangkalnya relatif kecil, dengan cara tradisional melalui pengajian minimal seminggu sekali. Maka, kita perlu kunci-kunci keselamatan.

Kunci kebahagiaan adalah taat keada Allah dan Rasul-Nya.
Kunci surga adalah tauhid.
Kunci keimanan adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya.
Kunci kebaikan adalah kejujuran.
Kunci kehidupan hati adalah membaca dan mendalami Al-Qur’an serta menjauhi dosa.
Kunci rizki adalah berusaha sambil beristighfar dan bertakwa.
Kunci ilmu adalah pandai bertanya dan mendengar.
Kunci kemenangan adalah sabar.
Kunci kesuksesan adalah takwa.
Kunci tambah rizki adalah bersyukur.
Kunci sukses akhirat adalah zuhud terhadap dunia.
Kunci dikabulkan permintaan adalah doa, dll.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: alislamu.com

Wanita Dahulu dan Sekarang Bag:1

Written By Unknown on Kamis, 17 November 2011 | 08.57

Allah SWT menciptakan makhuknya berpasang-pasangan. Di antara makhluknya yang paling indah dan sempurna adalah manusia. Allah SWT juga telah menurunkan petunjuknya yang paling sempurna. Sehingga, bila manusia menerima dan mengamalkan petunjuk itu, betapa indahnya manusia itu. Sebaliknya, bila ia menolaknya, betapa rendah dan jeleknya manusia itu, bahkan Al-Qur’an menyebutnya lebih hina dari binatang.

Allah SWT menjadikan keindahan ada dalam wanita meskipun pada hakikatnya antara pria dan wanita sama di hadapan Allah SWT. Hanya saja, Allah menjadikan keindahan itu ada pada wanita karena kelembutan, kasih sayang, dan emosinya yang lebih daripada kaum pria. Betapa indahnya sang wanita jika dihiasi dengan syariat Allah. Ia menjadi anak yang taat kepada Allah dan kedua orang tuanya. Jika ia menikah, ia menjadi penyayang bagi suaminya. Jika ia menjadi ibu, ia menyayangi dan mendidik anak-anaknya dengan sebaik mungkin. Dari wanita shalehah seperti inilah lahir pejuang-pejuang yang tangguh dan pemimpin yang bijaksana. Perhatikan keadaan wanita pada masa Rasulullah saw. dengan generasi salafus saleh sesudahnya. Mereka, kaum wanita itu, ada di balik segala keberhasilan dan kecemerlangan peradaban Islam. Apakah wanita dewasa ini bisa mengikuti jejak para pendahulunya? Marilah kita lihat kenyataannya.

Wanita dalam Al-Qur’an

Di dalam Al-Qur’an terdapat 114 surah. Di dalamnya tidak ada satu pun surah tentang pria (ar-rijal), tapi menariknya ada surah tentang wanita (An-Nisaa’), bahkan lebih spesifik ada surah Maryam, meskipun dia bukan nabi. Umar ra. memerintahkan kepada wanita untuk mempelajari surah An-Nuur (cahaya) karena di dalamnya mengandung pelajaran bagi kaum wanita agar lebih bercahaya. Keberadaan kaum wanita sama dengan kaum pria di hadapan Allah.

Allah SWT berfirman (yang artinya), “Maka, Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain …’.” (Ali Imran, 3: 195).
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik …” (An-Nahl: 97).

Keberadaan wanita sebagaimana pria dalam kehidupan ini mengalami ujian yang bermacam-macam. Namun, mereka harus tetap tegar dan shalehah seperti yang dicontohkan Al-Qur’an dengan Asiyah, istri Fira’un yang sabar dalam menghadapi ujian dari suaminya, atau seperti Maryam yang tabah menghadapi ujian hidup tanpa suami. (Lihat At-Tahrim 11-12). Sebaliknya, jangan seperti istri Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. yang berkhianat terhadap suaminya dan tidak taat kepada Allah. (At-Tahriim: 10).

Wanita pada Masa Rasulullah

Rata-rata kaum wanita pada masa Rasulullah saw. tidak ketinggalan ikut berlomba meraih kebaikan, meskipun mereka juga sibuk sebagai ibu rumah tangga. Mereka ikut belajar dan bertanya kepada Rasulullah saw.

Wanita yang paling setia kepada Rasulullah adalah Khadijah yang telah berkorban dengan jiwa dan hartanya. Kemudian Aisyah, yang banyak belajar dari Rasulullah kemudian mengajarkannya kepada kaum wanita dan pria. Bahkan, ada pendapat ulama yang mengatakan, seandainya ilmu seluruh wanita dikumpulkan dibanding ilmu Aisyah, maka ilmu Aisyah akan lebih banyak. Begitulah Rasulullah saw. memuji Aisyah.

Ada seorang wanita bernama Asma binti Sakan. Dia suka hadir dalam pengajian Rasulullah saw. Pada suatu hari dia bertanya kepada Rasulullah,”Ya Rasulullah saw., engkau diutus Allah kepada kaum pria dan wanita, tapi mengapa banyak ajaran syariat lebih banyak untuk kaum pria? Kami pun ingin seperti mereka. Kaum pria diwajibkan shalat Jum’at, sedangkan kami tidak; mereka mengantar jenazah, sementara kami tidak; mereka diwajibkan berjihad, sedangkan kami tidak. Bahkan, kami mengurusi rumah, harta, dan anak mereka. Kami ingin seperti mereka.

Maka, Rasulullah saw. menoleh kepada sahabatnya sambil berkata, “Tidak pernah aku mendapat pertanyaan sebaik pertanyaan wanita ini. Wahai Asma, sampaikan kepada seluruh wanita di belakangmu, jika kalian berbakti kepada suami kalian dan bertanggung jawab dalam keluarga kalian, maka kalian akan mendapatkan pahala yang diperoleh kaum pria tadi.” (HR Ibnu Abdil Bar).

Dalam riwayat Imam Ahmad, Asma meriwayatkan bahwa suatu kali dia berada dekat Rasulullah saw. Di sekitar Rasulullah berkumpullah kaum pria dan juga kaum wanita. Maka beliau bersabda, “Bisa jadi ada orang laki-laki bertanya tentang hubungan seseorang dengan istrinya atau seorang wanita menceritakan hubungannya dengan sumianya.” Maka tak seorang pun yang berani bicara, maka saya angkat suara. “Benar ya Rasulullah, ada pria atau wanita yang suka menceritakan hal pribadi itu.” Rasulullah menimpali, “Jangan kalian lakukan itu, karena itu jebakan syaitan seakan syaitan pria bertemu dengan syaitan wanita, kemudian berselingkuh dan manusia pada melihatnya.”

Ada juga wanita yang tabah dalam kehidupan rumah tangga yang serba pas-pasan tapi tidak pernah mengeluh seperti Asma’ binti Abi Bakar dan Fatimah. Kutub Tarajim membenarkan cerita tentang Fatimah. “Suatu saat dia tidak makan berhari-hari karena nggak ada makanan, sehingga suaminya, Ali bin Abi Thalib, melihat mukanya pucat dan bertanya,”Mengapa engkau ini, wahai Fatimah, kok kelihatan pucat?”

Dia menjawab,”Saya sudah tiga hari belum makan, karena tidak ada makanan di rumah.”
Ali menimpali,”Mengapa engkau tidak bilang kepadaku?”
Dia menjawab,”Ayahku, Rasulullah saw., menasehatiku di malam pengantin, jika Ali membawa makanan, maka makanlah. Bila tidak, maka kamu jangan meminta.”
Luar biasa bukan?

Bersambung

Wanita Yang Mendapat Pujian Dan Yang Dilakanat Allah

Written By Unknown on Senin, 14 November 2011 | 08.43

Sejarah telah mencatat beberapa nama wanita terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah dengan surga, dan di antara mereka ada pula yang dihinakan Allah dengan neraka. Karena keterbatasan tempat, tidak semua figur bisa dihadirkan saat ini, namun mudah-mudahan apa yang sedikit ini bisa menjadi ibrah (pelajaran) bagi kita.

Wanita Yang Beriman
Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Seutama-utama wanita ahli surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti Imran dan Asiyah binti Muzahim.” (HR. Ahmad)

1. Khadijah binti Khuwailid

Dia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terhormat sehingga mendapat tempaan akhlak yang mulia, sifat yang tegas, penalaran yang tinggi, dan mampu menghindari hal-hal yang tidak terpuji sehingga kaumnya pada masa jahiliyah menyebutnya dengan ath thahirah (wanita yang suci).

Dia merupakan orang pertama yang menyambut seruan iman yang dibawa Muhammad tanpa banyak membantah dan berdebat, bahkan ia tetap membenarkan, menghibur, dan membela Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat semua orang mendustakan dan mengucilkan beliau. Khadijah telah mengorbankan seluruh hidupnya, jiwa dan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Ia rela melepaskan kedudukannya yang terhormat di kalangan bangsanya dan ikut merasakan embargo yang dikenakan pada keluarganya.

Pribadinya yang tenang membuatnya tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan mengikuti kebanyakan pendapat penduduk negerinya yang menganggap Muhammad sebagai orang yang telah merusak tatanan dan tradisi luhur bangsanya. Karena keteguhan hati dan keistiqomahannya dalam beriman inilah Allah berkenan menitip salamNya lewat Jibril untuk Khadijah dan menyiapkan sebuah rumah baginya di surga.
Tersebut dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah, ia berkata:

Jibril datang kepada Nabi kemudian berkata: Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang membawa bejana berisi lauk pauk, makanan dan minuman. Maka jika ia telah tiba, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dari aku, dan sampaikan kabar gembira untuknya dengan sebuah rumah dari mutiara di surga, tidak ada keributan di dalamnya dan tidak pula ada kepayahan.” (HR. Al-Bukhari).

Besarnya keimanan Khadijah pada risalah nubuwah, dan kemuliaan akhlaknya sangat membekas di hati Rasulullah sehingga beliau selalu menyebut-nyebut kebaikannya walaupun Khadijah telah wafat. Diriwayatkan dari Aisyah, beliau berkata: “Rasulullah hampir tidak pernah keluar dari rumah sehingga beliau menyebut-nyebut kebaikan tentang Khadijah dan memuji-mujinya setiap hari sehingga aku menjadi cemburu maka aku berkata: Bukankah ia seorang wanita tua yang Allah telah meng-gantikannya dengan yang lebih baik untuk engkau? Maka beliau marah sampai berkerut dahinya kemudian bersabda: Tidak! Demi Allah, Allah tidak memberiku ganti yang lebih baik darinya.

Sungguh ia telah beriman di saat manusia mendustakanku, dan menolongku dengan harta di saat manusia menjauhiku, dan dengannya Allah mengaruniakan anak padaku dan tidak dengan wanita (istri) yang lain. Aisyah berkata: Maka aku berjanji untuk tidak menjelek-jelekkannya selama-lamanya.”

2. Fatimah

Dia adalah belahan jiwa Rasulullah, putri wanita terpandang dan mantap agamanya, istri dari laki-laki ahli surga yaitu Ali bin Abi Thalib.

Dalam shahih Muslim menurut syarah An Nawawi Nabi bersabda: “Fathimah merupakan belahan diriku. Siapa yang menyakitinya, berarti menyakitiku.”

Dia rela hidup dalam kefakiran untuk mengecap manisnya iman bersama ayah dan suami tercinta. Dia korbankan segala apa yang dia miliki demi membantu menegakkan agama suami.

Fathimah adalah wanita yang penyabar, taat beragama, baik perangainya, cepat puas dan suka bersyukur.


3. Maryam binti Imran

Beliau merupakan figur wanita yang menjaga kehormatan dirinya dan taat beribadah kepada Rabbnya. Beliau rela mengorbankan masa remajanya untuk bermunajat mendekatkan diri pada Allah, sehingga Dia memberinya hadiah istimewa berupa kelahiran seorang Nabi dari rahimnya tanpa bapak.


4. Asiyah binti Muzahim

Beliau adalah istri dari seorang penguasa yang lalim yaitu Fir’aun laknatullah ‘alaih. Akibat dari keimanan Asiyah kepada kerasulan Musa, ia harus rela menerima siksaan pedih dari suaminya. Betapapun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami ternyata di hatinya masih tersedia tempat tertinggi yang ia isi dengan cinta pada Allah dan RasulNya. Surga menjadi tujuan akhirnya sehingga kesulitan dan kepedihan yang ia rasakan di dunia sebagai akibat meninggalkan kemewahan hidup, budaya dan tradisi leluhur yang menyelisihi syariat Allah ia telan begitu saja bak pil kina demi kesenangan abadi. Akhirnya Asiyah meninggal dalam keadaan tersenyum dalam siksaan pengikut Fir’aun.

Dari Abu Hurairah, Nabi Shallallahu alaihi wasalam berkata:

“Fir’aun memukulkan kedua tangan dan kakinya (Asiyah) dalam keadaan terikat. Maka ketika mereka (Fir’aun dan pengikutnya) meninggalkan Asiyah, malaikat menaunginya lalu ia berkata: Ya Rabb bangunkan sebuah rumah bagiku di sisimu dalam surga. Maka Allah perlihatkan rumah yang telah disediakan untuknya di surga sebelum meninggal.”

Wanita yang durhaka

1. Istri Nabi Nuh

2. Istri Nabi Luth
Mereka merupakan figur dua orang istri dari para kekasih Allah yang tidak sempat merasakan manisnya iman. Hatinya lebih condong kepada apa yang diikuti oleh orang banyak daripada kebenaran yang dibawa oleh suaminya. Mereka justru membela kepentingan kaumnya karena tidak ingin dimusuhi dan dibenci oleh orang-orang yang selama ini mencintai dan menghormati dirinya. Maka kesenangan sesaat ini Allah gantikan dengan kebinasaan yang didapat bersama kaumnya. Istri Nabi Nuh ikut tenggelam oleh banjir besar bersama kaumnya yang menyekutukan Allah dengan menyembah patung-patung orang shalih, sedangkan istri Nabi Luth ditelan bumi karena adzab Allah atas kaumnya yang melakukan liwath (homoseksual).

Semua cerita ini telah Allah rangkum dalam sebuah firmanNya yang indah dalam surat At-Tahrim ayat 10-12, yang artinya: “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah: dan dikatakan (kepada keduanya) : Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka).

Dan Allah membuat istri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisimu dalam Surga. Dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang dhalim. Dan Maryam puteri Imran yang memelihara kehor-matannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh (ciptaan) Kami, dan dia membenarkan kalimat-kalimat Tuhannya dan kitab-kitabnya dan adalah dia termasuk orang-orang yang taat.”

Semoga kisah para wanita ini bisa menjadi pelajaran bagi para wanita zaman ini untuk berkaca diri, kira-kira saya termasuk golongan yang mana? Apakah golongan yang dicintai Allah atau yang dimurkaiNya?

Bagi wanita yang belum berumah tangga, saat ini merupakan kesempatan besar baginya untuk memperbanyak amalan shalih dan mendekatkan diri pada Allah, bukannya justru menghabiskan masa mudanya dengan hura-hura dan kegiatan lain yang tidak bermanfaat. Dan bagi mereka yang sudah berumah tangga, selain menjaga keistiqomahannya dalam berIslam dia juga diberi beban tambahan oleh Allah untuk membantu suami menjalankan agamanya. Istri yang demikian meru-pakan harta yang paling berharga.

Dari kisah mereka, kita juga bisa mengambil pelajaran bahwa dalam keadaan bagaimanapun, hendaknya ketundukan kepada syariat Allah dan RasulNya harus tetap di atas segala-galanya. Asalkan berada di atas kebenaran, kita tidak perlu takut dibenci oleh masyrakat, sahabat, maupun orang yang paling istimewa di hati kita. Justru kewajiban kita adalah menunjukkan yang benar kepada mereka. Dengan begitu kita akan mendapatkan cinta sejati .. cinta Allah Rabbul ‘alamin.

Mudah-mudahan kita selalu diberi keistiqomahan untuk menapaki dan mengamalkan syariat yang haq (benar) walaupun kita seorang diri. Amin.

Maraji’:
1. Ahkamun Nisa’, Ibnul Jauzi.
2. Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Atsqalani.
3. Tuhfatul Ahwadzi, Al Mubarakfuri.
4. Wanita-wanita Shalihat Dalam Lintas Sejarah Islam, Muhyidin Abdul Hamid.

Cukuplah Menjadi Muslimah: Katakan Tidak untuk Faham Feminisme!!

Written By Unknown on Senin, 08 Agustus 2011 | 22.32

 Oleh: Yulianna PS Penulis Cerpen ‘Hidayah Pelipur Cinta’ 

Wanita-wanita feminin mengatakan bahwa di era kebebasan ini wanita perlu menggugat agar posisi wanita setara dengan kaum laki-laki, wanita harus mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki.

Maka aku katakan “tidak!” pada kaum feminin, aku seorang muslimah, sudah cukup dengan karunia Allah yang berlimpah. Allah menjadikan wanita mengandung, melahirkan, bagaimana mungkin seorang yang menjadi ibu menggugat untuk disamakan dengan seorang yang menjadi ayah? Seorang wanita yang menjadi ibu adalah madrasah pertama bagi sang anak. 

Ketika orang feminin mengatakan bahwa wanita harus mengikuti mode, tidak boleh mengikuti pakaian adat masa lampau dengan menutup kepala. Maka aku katakan “tidak!” pada kaum feminin. Pakaian muslimah adalah pakaian syar’i yang mempunyai sifat multi fungsi, sebagai pelindung bagi muslimah dari tatapan mata laki-laki jalang, sebagai pelindung kulit di saat panas mentari menyengat, sebagai pelindung tubuh dari cuaca dingin, sebagai kehormatan wanita yang mempunyai izzah.

Hijab adalah identitas, pakaian indah yang membuat muslimah berwibawa. Muslimah bukanlah budak mode yang hanya patuh pada kemauan designer murahan.

Ketika kaum feminin bilang, wanita harus memberontak jika diminta patuh pada laki-laki, mengasuh anak di rumah. Maka aku katakan “tidak!” pada golongan feminisme. Muslimah adalah wanita merdeka, tidak ada kewajiban menafkahi keluarga, semua tanggungan nafkah ada di tangan suami, tidak perlu lagi bersusah payah memaksa bekerja keluar rumah. Allah memuliakan wanita muslimah, jika mereka mempunyai penghasilan dan memberikan penghasilan tersebut untuk kebutuhan keluarga demi menolong suami, maka dihitung sebagai sedekah. Betapa merdekanya seorang muslimah.

Ketika kaum feminin menuduh muslimah itu tertindas, tidak punya hak untuk menceraikan suami, karena hak thalak ada di tangan laki-laki. Kukatakan pada golongan feminin, memang benar, tetapi Allah melebihkan wanita muslimah, harta dari istri tetap menjadi hak istri jika terjadi perceraian, sedangkan laki-laki harus membagi dengan istri harta yang dimiliki jika terjadi perceraian.

Itulah kelebihan menjadi muslimah, hartanya terjaga. Maka tidak perlu lagi bagi muslimah menggugat dengan embel-embel kesetaraan gender, karena muslimah adalah wanita merdeka. [voa-islam.com]
 
Copyright © 2013. Wanita Muslim - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger