Latest Post
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Muslimah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga Muslimah. Tampilkan semua postingan

Bahagiakan Diri Dengan Ikhlas dan Memaafkan

Written By Unknown on Selasa, 24 September 2013 | 06.28


Perkawinan kami telah memasuki usia 13 tahun. Semua berjalan seperti biasa, aku merasa bahagia dengan suami yang penuh kasih sayang, demokratis dan penuh perhatian, serta sayang kepada ke empat anak kami yang kian tumbuh besar dan sehat.

Demikian pula aku merasakan sikap suamiku yang selalu hangat, komunikasi kami sangat baik, terbuka dan saling menghargai. Segala permasalahan biasa kami bicarakan bersama, Tak ada sumbatan, semua hak dan kewajiban sebagai suami  istri dan  tugas kami sebagai orang tua semua berjalan normal pada relnya, Yach… pendek kata aku merasa kehidupan kami semua berjalan baik, tak ada komplain dari suami baik soal kebersihan rumah, masakan, urusan anak, pendidikannya, kebutuhan biologis dan semuanya berjalan normal.

Sesekali aku mendengar suami memancing pembicaraan seputar ta’addud. Aku tak menanggapi dengan serius. Karena aku merasa background keluarga suamiku cukup memberi banyak pelajaran tentang keluarga yang berantakan akibat suami yang beristri lebih dari satu.

Bibi suamiku cukup menderita ketika suaminya (paman suamiku) menikah lagi dan menelantarkan anak-anaknya. Sehingga Ibu mertuaku turut ketiban masalah, mengurus dan merawat keponakan-keponakannya (sepupu suamiku) yang ditelantarkan oleh pamannya. Akibat hal tersebut suamiku menjadi trauma dan tidak menerima perbuatan pamannya dan istri mudanya yang dianggap menjadi biang masalah dalam keluarga bibinya.

Aku yakin suamiku tidak akan berani mengambil langkah seperti pamannya untuk berta’addud karena melihat sendiri sepupunya terlantar akibat ulah pamannya.

Sering aku mendengar selentingan berita miring tentang keluarga tetanggaku yang suaminya ta’addud. Tapi aku menganggap itu urusan pribadi mereka dan tidak akan berimbas kepada keluargaku.

Namun semuanya berubah ketika suatu hari aku menerima telepon dari seseorang yang mengaku kakak dari seorang perempuan, Ia menyampaikan berita yang sungguh mengejutkanku, ia menuduh suamiku telah mengusik ketenangan keluarganya. Dia menjelek-jelekkan suamiku, menuduh telah mengganggu adiknya yang masih asyik belajar di bangku kuliah, sehingga sang adik kehilangan akal sehatnya karena mau dinikahi lelaki tua beristri dan beranak empat.

Tentu saja aku tidak bisa menerima segala tuduhan itu. Aku merasa suamiku tak seperti yang dituduhkan lelaki itu. Selama ini keluarga kami baik-baik saja, suamiku lelaki setia. Namun orang tersebut terus nyerocos di ujung telepon, dan memaksa aku untuk percaya dengan semua informasi yang disampaikannya. “Kalau ibu gak percaya… silakan datang ke sini, suami ibu ada di rumah orang tua saya.”

Bagai langit runtuh… perasaanku campur aduk tak karuan. Aku merasa dikhianati, benci, marah, kecewa, bingung, sedih, galau, bercampur jadi satu. Hatiku periiih… bagai diiris-iris sembilu. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi dan berlangsung tiga bulan. Berhari-hari aku menangis… bingung harus bagaimana, tak tahu harus berbuat apa. Namun walau begitu akal sehatku masih berfungsi. Bagaimanapun kacaunya pikiran dan perasaanku, aku tak pernah menunjukkannya kepada anak-anak. Mereka masih kecil-kecil, belum waktunya mereka merasakan kegetiran dan kegalauan hatiku.

Aku tak menyangka kalau akhirnya suamiku berani mengambil keputusan dan melangkah sejauh itu, aku berusaha introspeksi diri, apa yang kurang dalam rumah tangga kami? APA salahku? apa kekuranganku sehingga hatinya berpaling ke wanita lain…. Ya Robb…. kuatkan aku menerima cobaan ini.

Ketika akhirnya pengakuan keluar dari bibir suamiku… hatiku makin hancur, aku ingin berita yang ku dengar adalah BOHONG BESAR….  aku berharap hanya sekadar fitnah, barangkali salah alamat. Ada orang lain yang kebetulan namanya sama dengan nama suamiku. Tetapi ternyata tidak… aku terpaksa dan dipaksa harus menerima kenyataan ini. Pahit… pahit sekali`. Perih…perih teramat sangat. Aku seperti terperosok ke dalam lorong gelap tanpa cahaya… bingung….kecewa…marah.

Ya Robb…. mengapa aku harus menerima ujian ini? apa salah hamba…? apa dosa hamba?Suamiku mengakui bahwa dia terprovokasi oleh beberapa temannya yang lebih dulu melakukan ta’addud. Mereka mengatakan bahwa dengan ta’addud hidup lebih bergairah dan lebih tertantang sebagai lelaki. Rezeki yang dulu pas-pasan setelah ta’addud jadi tambah luas. Entahlah… suamiku jadi berani mengambil keputusan itu karena dipengaruhi dan dipromotori oleh teman-temannya. 

Tentang perempuan itu, mengapa bersedia menjadi istri ke dua? Padahal dia masih muda, masih kuliah, masa depannya masih terbuka luas untuk mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik dari suamiku. Orang tuanya sendiri menentang keras, begitu pula keluarganya. Karena dia adalah anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara. Dan tentu saja keluarganya merasa tertimpa musibah/aib dan tercoreng di mata tetangga dan kerabatnya mengetahui keputusan anaknya untuk menikah dengan lelaki beristri dan beranak empat.

Entahlah pikiranku bagai benang kusut tak berujung… mungkin penampilan suamiku mampu menarik hatinya, atau mungkin memang banyak perempuan yang tak tahan berada dalam penantian menunggu jodoh, sehingga jalan ini menjadi pilihannya. Ataukah persaingan sesama perempuan di belantara perjodohan kian berat…? Sehingga dia tak peduli dengan keberatan orang tuanya dan keluarganya, sehingga begitu cuek dan keras hati menghadapi segala pertentangan dalam keluarganya.

Aku merasa hari-hariku menjadi gelap. Muram, tanpa cahaya, tanpa semangat, tanpa gairah. Bumi serasa seperti berhenti berputar. Kaki seperti tak berpijak. Jiwaku terguncang, terjebak dalam kenyataan pahit yang mendera. Wajahku kusut, mataku sembab, bibirku kelu, tak ada senyum mengukir di situ…sedih… deraian air mata menemani hari-hariku.

Dalam kekacauan batin dan kesedihan yang mendera, alhamdulillah… ada teman yang senasib datang memberi taushiyah, berusaha membangunkan kesadaranku untuk melepaskan diri dari kesedihan, menghiburku, memotivasiku, menguatkan hatiku. Dia mengajak dan menemaniku berkonsultasi kepada para ustadz dan ustadzah. Aku merasa tak berdaya, tanpa gairah, pikiran kacau, hati galau.

Alhamdulillah… nasihat dan doa para sahabat, para ustadz dan ustadzah sedikit mengurai duka dan kesedihanku. Suamiku masih memperlakukanku dengan baik. Bahkan seperti ingin menebus rasa bersalahnya, Ia lebih memberi perhatian kepadaku. Dia berusaha sekuat tenaga mengembalikan keceriaanku dan semangat hidupku. Aku sendiri merasa tersiksa berada dalam situasi seperti ini dan ingin segera mengakhirinya.

Nasihat para ustadz dan ustadzah coba aku cerna dan kupahami. Bahwa ta’addud adalah sesuatu yang halal dan disyariatkan Allah. Bahwa Allah menciptakan laki-laki dengan potensi yang lebih dari perempuan. Bahwa Allah menciptakan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Bahwa suamiku melangkah dalam jalur yang halal dan bersih bukan jalan haram/maksiat dan kotor yang melanggar agama. Bahwa wanita lain yang dinikahinya dari keluarga baik-baik, keturunan orang baik, memiliki pemahaman agama yang baik, ikut tarbiyah, menutup aurat, sehingga jika Allah kehendaki pernikahan mereka mendapat keturunan, maka keturunan itu dari bibit yang baik.

Semua coba ku cerna satu persatu. Aku mencoba memaafkan suamiku, dan istrinya yang telah mengusik kebahagiaanku.  Aku berusaha menerima bahwa ini bukan sesuatu yang salah. Bahwa ini adalah bagian dari ujian kehidupan. Bahwa ini adalah takdir Allah yang harus kujalani. Bahwa aku harus mencoba memahami dan menjalani peran seperti yang dialami oleh para ummahatul mukminiin, para istri baginda Nabi yang harus rela berbagi suami. Bahwa Allah telah memilihku menjalani takdir ini.

Aku berusaha keras menata hati, mengurai masalah, merubah cara pandang tentang hidup berkeluarga dalam tuntunan Islam. Bahwa peristiwa Ini sudah terjadi… tak mungkin aku surut ke belakang. Jika aku ingin menuntut cerai dari suamiku… apa alasanku?  Aku tak sanggup hidup sebagai single parent. Anak-anakku tak boleh jadi korban sikap egoisku. Suami tetap memperlakukan aku dengan baik, aku dan anak-anak terpenuhi hak-haknya. Karena pada dasarnya suamiku memang menyayangi kami semua.

Jika aku menuntut suamiku menceraikan “madu”ku, dengan alasan apa dia harus diceraikan? Dia menikah secara sah, dia sudah menerima mahar dan sudah menyerahkan “dirinya” kepada suamiku. Aku khawatir… Aku akan menjadi wanita yang menzhalimi sesama perempuan, karena dia pasti akan sangat menderita jika harus hidup dengan menyandang status janda, dan bagaimana dengan anak buah perkawinan mereka? Haruskah anak tanpa dosa menanggung derita akibat perbuatan orang tuanya? .

Yach…aku tak ingin terus berada dalam tekanan jiwa yang menghimpit. Aku harus mengakhiri semuanya. Tak ada yang bisa mengatasi persoalan ini kecuali diriku sendiri. Aku harus berjuang melepaskan diri dari kesedihan. Aku harus bisa menerima kenyataan, harus bisa keluar dari kungkungan rasa kecewa yang menghimpit dada. Harus…. dan harus membebaskan diriku dari penderitaan ini. Tak ada orang yang bisa menolongku kecuali aku berusaha keras menolong diriku sendiri.

Ya Allah… bantulah hamba melepaskan segala beban batin ini…. bantulah aku menjadi hamba yang ikhlas…. Yaa Robb… hamba ridha dengan semua takdir-Mu… asalkan Engkau ridha kepada hamba… Ya Robb… kembalikan kebahagiaan hamba bersama keluarga. Kembalikan keceriaan dan semangat hidup hamba…. Bukalah hati hamba untuk berbagi kepada “dia”… Jadikan kami keluarga yang hidup rukun… berilah hamba ketabahan dan kesabaran menjalaninya… Sujud dan doaku di setiap penghujung malam memohon kekuatan dari yang Maha Kuat.

Aku mulai terhibur ketika mengetahui bahwa aku hamil. Yach… kehamilan ini benar-benar memotivasiku dan menghiburku. Aku mulai melupakan kesedihanku dan sibuk dengan perkembangan janinku. Setidaknya aku bisa mencuri perhatian suamiku agar dia menyadari akan kehadiran “benihnya” yang ditanam di rahimku, salah satu “ladangnya”. Karena aku dengar “ladangnya yang lain” juga sedang menyemai benihnya. Kehamilan ini mengalihkan pikiranku yang kusut secara perlahan mulai terurai.

Waktu terus berjalan… perlahan kedamaian mulai mengisi relung hatiku, aku mulai bisa menerima kehadirannya. Aku mulai terbiasa dengan “pergiliran waktu” yang diatur suamiku. Aku berusaha menjalin komunikasi dengan “maduku”. Aku mencoba menghilangkan beban hatiku dengan seringnya aku memberi hadiah kepadanya. Awalnya berat aku melakukannya. Tapi harus ku coba dan terus ku coba.

Alhamdulillah… beban itu makin terasa ringan…. hatiku makin terasa lapang. Akhirnya jiwaku penasaran dan siap menerima kehadirannya. Ku minta suamiku membawa “maduku” ke rumah, memperkenalkannya kepada kami sebagai bagian dari keluarganya.

Anak-anakku ku perkenalkan dengan “ibu dan adik” barunya. Alhamdulillah… mereka dapat menerimanya set aku memperlihatkan keikhlasanku… keikhlasan yang tulus… tanpa dibuat-buat. Yach… semua bisa menjadi indah asal kita melibatkan Allah dalam setiap kehidupan kita. Sikap dan perilaku suamiku yang tetap mengutamakan diriku sebagai istri pertama yang berjuang dalam pahit getir di awal kehidupan berumah tangga, menjadi kunci utama segala penerimaan ini.

Kekecewaan yang menghimpit berubah menjadi kelapangan yang damai. Kegundahan dan kegalauan menjadi ketenangan dan kenyamanan. Senyumku kembali merekah… wajahku kembali cerah… semangat dan gairah hidupku kembali membuncah.

Yach.. Nyaman dalam kerukunan hidup saling berbagi. Hingga anak “maduku” pun merasa nyaman tinggal bersama kami. Ketika mencari sekolah yang terbaik untuk mendidiknya, kami putuskan dia sekolah di SDIT bersama “saudara-saudara tirinya” nya. Karena jarak tempuh sekolah itu sangat jauh dari rumah ibu kandungnya, dan sebaliknya hanya dibutuhkan beberapa langkah dari rumahku, akhirnya anak “suamiku/ yang juga anak tiriku” tinggal dan hidup bersama ku dalam asuhanku. Hanya sepekan sekali setiap hari Sabtu Ahad dia pulang ke rumah “ibu”nya karena ibu dan neneknya kangen kepadanya. Sekarang “maduku” beranak dua, dia sering berkunjung ke rumahku, rumah suaminya.

Keikhlasanku tumbuh berkat kedekatanku kepada Allah dan kerjasama yang baik dari suamiku. Dia begitu memahami kegalauan hatiku dan berusaha keras menghiburku dan mengurai kesedihanku.
Pesanku kepada para suami istri yang bernasib sama seperti aku, cobalah menata kembali hubungan komunikasi dalam keluarga, perbaiki dan penuhi hak-hak pasangan agar terjadi kerjasama yang baik dalam menjalani biduk rumah tangga.

Kepada para suami Utamakan istri “pertama” karena bersamanya dimulai perjuangan di awal rumah tangga bersabar dalam pahit getir kehidupan. Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh istri pertama. Karena Islam sangat memuliakan perempuan. Arrijaalu qowwamuna alannisaa’ jangan salah diartikan sebagai legitimasi bahwa istri harus taat tanpa reserve dan tanpa hak berpendapat untuk menyuarakan hatinya. Sebaliknya ayat itu harus dipahami bahwa tanggung jawab para suami untuk mengayomi, mendidik dan mengapresiasi istri, sehingga segala potensi istri dapat berkembang optimal tentu tanpa meninggalkan peran utamanya dalam rumah tangga.

Istri yang bahagia akan berdampak luas dan besar dalam kehidupan rumah tangga. Semua penghuni rumah, terutama anak-anak akan sangat berpengaruh perkembangan jiwa raganya jika diasuh oleh ibu yang bahagia. Selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah kita. Semoga anak yang lahir dalam keluarga besar ini tumbuh dalam suasana kedamaian dan ketenteraman.

Sertakan Allah dalam setiap langkah kita agar setiap masalah yang timbul, bisa dicarikan solusi sesuai syariah. Sehingga tidak menimbulkan petaka dan kerusakan dalam keluarga seperti “broken home”, kenakalan remaja, kecanduan narkoba yang merusak jiwa raga anak. Sehingga terhindar dari perceraian yang menimbulkan luka mendalam di hati anak-anak. Ciptakan rasa damai dan nyaman di dalam rumah, agar anak-anak tumbuh dan berkembang dalam suasana batin yang hangat dan mesra, semoga lahir generasi baru yang lebih baik.

Penanaman Nilai Akhlak dan Moral Pada Anak

Written By Unknown on Senin, 09 September 2013 | 07.12

 Betapa mirisnya wajah Indonesia yang hampir tiap hari disajikan televisi melalui siaran berita, seperti kasus pemerkosaan, tawuran, dan tindakan-tindakan kriminal yang seringkali menyebabkan jatuhnya korban, baik itu korban luka-luka hingga berujung kematian. Yang membuat lebih miris dari semua itu adalah usia para pelaku yang masih berstatus pelajar. Bahkan banyak di antara mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terbesit banyak pertanyaan dalam benak kita, “Ada apa dengan anak bangsa ini?” Marilah kita sebagai orang tua dan guru yang hakikatnya sama-sama berperan sebagai pendidik untuk merenungkan sejenak masalah ini hingga akhirnya tumbuh kepedulian tuk merubah wajah anak negeri.

Setiap anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama keluarga. Karena itu orangtualah yang memegang peran yang sangat penting dalam hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dll. Tetapi dalam kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama. Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.

Banyak sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan Profesi lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.

Setiap orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada Sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga perilaku-perilaku yang tidak terpuji Insya Allah anak yang lahir akan menjadi anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan pergaulannya.
 
Peran Ayah

Selain faktor kondisi ibu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak sejak dini yaitu peran ayah yang merupakan patner ibu dalam membentuk generasi yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Sejak anak masih berada dalam kandungan, peran suami dalam memberi dukungan serta kasih sayang pada istrinya dapat mempengaruhi kondisi kehamilan, bayi yang berada dalam kandungan ibu pun harus diajak berinteraksi oleh ayah dan ibunya sebagai tahap awal dalam mendidik anak. Selain itu memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an juga terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan emosi dan spiritual.

Dalam program Make Indonesia Strong from Home, seorang pemerhati anak yang biasa di panggil Ayah Edy, mengajak kita untuk membentuk masyarakat yang beradab dengan dimulai dari rumah kita masing-masing, dengan cara mendidik diri kita untuk menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak kita secara benar, menjalankan kewajiban-kewajiban kita sebagai orang tua dan memberikan apa yang menjadi hak anak-anak kita. Ternyata banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah anak diantaranya kondisi rumah yang tidak harmonis dimana orang tua mereka tidak dapat menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk mereka berbagi rasa. Bahkan tidak jarang dari mereka yang mendapat kekerasan dari orangtuanya baik itu secara fisik maupun secara psikis dan lebih memprihatinkan lagi diantara mereka pun mendapatkan kekerasan seksual dari orangtuanya.

Hal-hal itulah yang membuat karakter mereka menjadi cenderung senang berbuat kekerasan, karena merekapun dibesarkan dengan kekerasan, jadi ada semacam pelampiasan di mana mungkin mereka tidak dapat melampiaskannya kepada orang tua yang telah memperlakukan mereka dengan kekerasan maka mereka melampiaskannya kepada orang lain. Padahal Rasulullah adalah manusia yang bersikap lemah lembut terutama pada anak-anak.

Kekerasan yang di terima anak dari orang tuanya di rumah dapat menjatuhkan harga diri anak sehingga membuat mereka mencari penghargaan dari lingkungan di luar rumah terutama dari teman-teman. Mereka menjadi pribadi yang rapuh dan labil, mudah terpengaruh dan melakukan apapun agar mendapatkan pengakuan akan eksistensi mereka. Merokok agar dibilang hebat, bergabung dengan sebuah komunitas agar dibilang gaul, berpenampilan aneh agar di bilang trendy, hingga terjerumus dalam narkoba yang dianggap dapat membuat segala masalah mereka menjadi hilang, dan pergaulan bebas untuk mencari kasih sayang yang tidak mereka dapatkan di rumah kemudian akhirnya berzina untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Naudzubillah.

Lingkungan yang buruk membentuk anak menjadi seorang yang berkarakter buruk, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan dengan kekerasan mereka menganggap masalah akan selesai padahal kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan kekerasan yang lain. Sebagai contoh adalah kasus tawuran yang sekarang ini marak terjadi, kebanyakan pemicunya adalah kekerasan yang dilakukan baik itu berupa bullying yang diterima oleh seseorang baik itu berupa ejekan, hinaan, maupun kekerasan fisik yang berujung timbulnya rasa solidaritas dari komunitas orang itu untuk melakukan pembalasan terhadap apa yang dilakukan pada teman mereka kemudian terjadilah penyerangan yang selalu berkelanjutan. Andai mereka tahu bahwa kekerasan tidak pernah dapat menyelasaikan masalah bahkan hanya membuat masalah yang baru.

Peran Guru

Begitupun dengan pentingnya peran guru dimana anak-anak itu bersekolah, begitu kagetnya kita saat melihat di televisi ada oknum guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak. Guru yang seharusnya menjadi orang yang di gugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang di embannya yaitu sebagai pendidik generasi.

Selama ini banyak dari para guru hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Bagi mereka yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan. Karena itu negeri ini merindukan hadirnya guru-guru seperti bu Muslimah dalam Film Laskar Pelangi, Ustadz Salman dalam Negeri Lima Menara dan guru-guru lain yang ternyata ada dalam kehidupan nyata dan mampu menginspirasi anak-anak didik mereka tuk menjadi sukses.

Tampaknya pemerintah pun perlu belajar dari negeri-negeri lain seperti Jepang yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negeri ini dapat termotivasi tuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik dan tak lagi sibuk berdemo untuk meminta kenaikan gaji karena kesejahteraan hidup mereka yang kurang, sementara itu anak-anak murid mereka menjadi terbengkalai hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan.
 
UAN Bikin Stres

Wajah anak-anak negeri inipun dipenuhi dengan beban-beban psikis tak hanya mereka dapatkan dari rumah tetapi dari sekolah yang menerapkan sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang membuat mereka stres, jika dibandingkan dengan negara Finlandia yang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik No 1 sedunia. Maka Indonesia harus belajar bagaimana negara Finlandia menerapkan ujian nasional berupa ujian moral bukan ilmu pengetahuan umum seperti di negara kita. Untuk Ilmu Pengetahuan Umum, pemerintah mereka menyerahkannya kepada sekolah masing-masing karena dianggap sekolahlah yang paling mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan oleh para guru dan sejauh mana kemampuan anak didik mereka.

Tetapi sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia sangat berpengaruh pada karakter warga negaranya, di Finlandia jika mereka tidak sengaja menyenggol orang ketika sedang berjalan maka mereka akan langsung meminta maaf bandingkan dengan di negara kita banyak kasus perkelahian yang terjadi hanya karena tidak sengaja menyenggol seseorang. Untuk urusan tindak kriminal pun di Finlandia memiliki presentase yang terendah, bahkan katanya walaupun kita memparkir kendaraan kita tanpa menguncinya, kita tetap merasa aman. Subhanallah, bukankah wajah negeri seperti itu yang seharusnya menjadi wajah Indonesia dimana mayoritas warganya beragama Islam?

Mari perhatikan anak-anak yang harus mengikuti sistem pendidikan negara ini, menjelang UAN mereka tampak stress, berbagai ritual mereka ikuti mulai dari teriak massal yang diyakini dapat membuang stress dan menciptakan rasa lega, bahkan diantara mereka mengikuti ritual yang bernuansa klenik. Tidak selesai di situ, pada saat UAN tiba beberapa sekolah tertangkap tangan sedang memberikan contekan demi meluluskan anak didiknya. Bagaimanakah anak-anak negeri ini dapat menjadi wajah penuh kebaikan jika hidup dalam lingkungan yang keras dan penuh ketidak jujuran, orang tua dan guru yang mestinya menjadi teladan kebaikan tetapi malah mengajarkan hal yang sebaliknya.

Masih lekat dalam ingatan kita tawuran yang terjadi antara pelajar SMK Kartika Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 . Akibat tawuran itu satu orang pelajar tewas. Beberapa tersangka tawuran berhasil diamankan oleh pihak berwajib, saat Menteri Pendidikan M.Nuh bertanya kepada salah seorang pelaku pembunuhan tentang bagaimana perasaannya, dengan santainya ia menjawab “ saya puas telah membunuhnya.” Satu hal lagi yang perlu kita ketahui, bahwa pelaku tawuran yang membunuh rekannya sesama pelajar di Bulungan merupakan siswa yang semasa SMP selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Ternyata kepintaran siswa/I kita tidak lantas menjadikan mereka pribadi yang berakhlakul karimah.

Semua masalah yang terjadi pada anak-anak negeri ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain. Karenanya sebagai orang tua, guru dan juga pemerintah harus saling mendukung dalam hal pendidikan anak. Peran orang tua adalah menjadi pendidik anak yang utama, dan harus diingat bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi kehadiran seorang ayah dalam hal mendidik anak juga tidak kalah pentingnya. Bukankah di dalam Al-Qur’an begitu banyak ayat-ayat yang mengabadikan kisah para ayah yang mendidik anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT diantaranya kisah Lukman dengan anaknya serta Nabi Ibrahim as dengan Nabi Ismail as anaknya.

Sementara yang terjadi pada saat ini banyak anak-anak kita kehilangan figur seorang ayah, bagi mereka ayah adalah sosok yang harus ditakuti, karena ayah menempatkan diri hanya sebagai pemberi nafkah dan orang yang memiliki kekuasaan atas istri dan anak-anaknya bukan sebagai teladan yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi sehingga tercipta suasana penuh keakraban yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Ibu dan ayah hendaknya selalu meluangkan waktu membuka komunikasi dengan anak, mendengarkan pendapat serta perasaan anak, berdiskusi dengan anak tentang perilaku baik dan buruk serta konsekuensinya, dan semua itu harus dikemas dalam nilai-nilai agama yang berorientasi pada akhirat.

Sebagai orang tuapun hendaknya menjadikan rumah sebagai tempat dimana anak merasa nyaman sehingga kemanapun anak pergi, ia dapat merasakan kerinduan untuk kembali ke rumah karena di rumah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan, dan rumah yang ternyaman adalah rumah yang senantiasa menghadirkan Allah SWT di dalamnya, rumah yang menjadi Baiti Jannati, surga sebelum surga yang sebenarnya. Jika orang tua selalu menghadirkan Allah SWT dalam diri anak, maka anak akan selalu merasakan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya.

Oleh sebab itu sebagai orang tua marilah kita sama-sama memperbaiki pola asuh kita, anak adalah amanah Allah SWT yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Begitupun peran guru yang menjadi pengganti orangtua di sekolah, guru pun memiliki peran penting dalam membentuk akhlak anak didiknya dan pemerintah harus memberikan perhatian yang besar dalam memperbaiki sistem pendidikan yang lebih ramah anak dan lebih menitik beratkan kepada Nilai Akhlak dan Moral.***Wallahu a’lam.

Sumber:Dakwatuna

Memahami Pembantu Rumah Tangga

Written By Unknown on Kamis, 22 Agustus 2013 | 07.31

 “Mbak, ini siapa yang masak..?” Andi bertanya kepada mbak Ella yang menjawab dengan ragu-ragu.
“Sssayaa, den…” jawab mbak Ella, pembantu rumah yang baru berusia 17 tahun, dengan takut-takut.
“Enak mbak, besok bikin lagi kayak gini yaa..” Andi menjawab sambil meneruskan kunyahan kedua, ketiga dan tak terasa sudah dua piring habis, rawon daging yang lembut dengan telur asin yang sedap, cocok sekali untuk menu siang hari yang terik.

“Nyesss… Alhamdulillah,” bisik si mbak, pembantu baru rumah Andi yang baru 5 bulan kerja dirumah itu. Rumah bertingkat dua yang penuh perabot dan banyak ruangan yang tentu saja sebetulnya sangat melelahkan bagi siapapun yang bertugas membersihkannya,

Rumah yang sepi tanpa ibu, karena ibu pulang kerja sore hari dan kehadiran si mbak membuat rumah menjadi lebih teratur, rapih dan bersih. Semua barang tidak ada lagi yang berserakan. Koran-koran tertumpuk rapih, amplop-amplop permintaan sumbangan, kuitansi belanjaan, rekening listrik, undangan pak RT, sampai surat pemberitahuan dari RT/RW mengenai siapa-siapa saja yang bertugas membuatkan jatah makan malam buat satpam yang jaga malam di kompleks rumah itu, tersusun rapih. Hal ini tentunya sangat memudahkan bagi siapa saja penghuni rumah besar itu.

Di sore hari yang sepi, hanya tukang roti yang sesekali menawarkan dagangannya lalu nyanyian es krim walls dengan sepedanya mengelilingi kompleks rumah, mengiring teriakan yang mengagetkan Alia, anak bungsu dirumah itu. Bungsu gelarnya, namun tinggi badan sudah hampir 170 cm dan dari peringkat usia pun lebih tua sebetulnya dari mbak Ella. Kalau Ella berusia 17 tahun sementara Alia sudah 18 tahun. Alia sudah lulus SMU, dengan nilai UN tinggi sekali 54, 75, kira kira rata-ratanya 9 lebih. Hal ini menunjukkan bahwa Alia adalah anak yang pandai.

Amat disayangkan perlakuan Alia kepada mbak Ella yang membantu dirumahnya tidak menunjukkan kepandaiannya.
 “Mbakkkkkkkkkk Ellllllaaaaaaa, siiiiinnnnniiii..!!!!!” jeritan Alia melengking dan membuat mbak Ella terlonjak, kecut hatinya dan kaki-kaki kecilnya naik ke lantai dua, kamar non Alia yang besar dan indah.
“Yaa non,” jawab mbak Ella penuh pengabdian.
“Mana baju saya yang pink, juga kaset CD yang saya taruh disini, dimana mbak,,? kenapa sih barang-barang di rumah ini selalu hilang, gak ada yang beres, semuanya berantakan, kayak ada siluman di rumah ini, cepat cariin mbak, saya mau pakai.!” Alia mencak-mencak dan membanting tubuhnya sendiri ke atas kasur empuk sambil mendengarkan musik di iphone. Sungguh, mbak Ella jadi bingung, “Kaos pink yang mana..? begitu banyak kaos dirumah ini..? juga CD? CD yang mana..? setiap kamar ada kaset-kaset CD dan jumlahnya bukan satu atau dua, namun puluhan… akh…” sejenak mbak Ella bingung.

“Jangan diam saja dong mbakkk, cariiii. Cepetaaannn..” ajuk Alia lagi dengan wajah bersungut-sungut seakan-akan semua barang di rumah besar ini adalah tanggung jawab sang pembantu rumah. Belum selesai mencari CD dan kaos berwarna pink, terdengar teriakan dari bawah. Ternyata ayah minta dicarikan bola tenis dan sepatu tenisnya. Ayah minta dicarikan sekarang juga, karena jadwal tenis ayah sebentar lagi dan ayah mengatakan ”cepat cari La, saya harus pergi sekarang..”

“Ohhh.. pak dan non, tangan saya hanya dua..” Ella kecil pun berlari kesana-kemari, mencari semua barang yang diminta namun terlebih dahulu Ella masuk dapur untuk mematikan kompor yang berisi kuah sup, tanpa lupa pula menutup ayam yang baru dipotong-potong dimana si kucing melotot dengan penuh semangat dari balik pintu kaca pembatas taman belakang dengan dapur. Kasihan mbak Ella, tangannya hanya dua, namun pekerjaannya seratus dua. Dan semua menuntut harus cepat, segera, seketika, saat ini juga.!

“Mi,” suamiku berucap lirih, “kasihan sekali ni, ada seorang TKW kita di Arab Saudi terkena hukum pancung karena membunuh anggota keluarga sang majikan, dan keluarga majikan menolak memberi maaf sehingga sang pembantu akhirnya dihukum pancung oleh pemerintah Saudi.” Koran yang ku raih dari tangan suamiku, membuat hatiku gemetar dan ingin berteriak sekuatnya, “Yaa Allah, mengapa harus dipancung..? mengapa dia membunuh majikannya, kasihan dia.” Aku pernah merasakan berkali-kali rumah tanpa pembantu, betapa beratnya, kerjaan menumpuk, cucian begitu banyak, baru dibersihkan satu ruangan sudah menunggu ruangan berikut, belum lagi, selera makan anak yang berubah-ubah, lalu garasi yang kotor, kamar mandi yang sudah mulai lengket dan sedikit lumutan, lalu beras habis dikala tubuh sangat lelah untuk membeli beras ke warung, sementara suami dan anak-anak mau pulang namun lauk belum siap, ketika lauk-pauk siap pun, piring kotor menanti untuk segera dibersihkan, berebut gula dengan semut karena toples gula lupa ditutup.

Ohh, betapa kehadiran pembantu rumah, asisten rumah, kawan yang sangat menolong dan begitu diperlukan. Sampai hati para majikan membuat prahara bagi pembantu rumah tangga yang mereka juga adalah manusia, wanita, dengan gaji kecil bahkan lebih rendah dari supir yang kerjanya terlihat lebih enak , duduk-duduk saja, jalan-jalan naik mobil mewah. Pembantu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling berat namun dengan gaji yang paling kecil. Kalau perlu, coba dihitung lagi oleh menteri tenaga kerja, berapa gaji yang harus diterima seorang pembantu rumah tangga dengan melihat perasaannya, anak-anak yang ditinggalkannya, rasa bosannya, juga lelahnya serta hitunglah perkamar, maka sebetulnya pekerjaan pembantu rumah tangga adalah perkerjaan yang berat di dunia ini karena tidak ada waktu libur, tidak ada waktu santai, bahkan sekedar ber-sms pun seringkali dilirik oleh majikan dengan ungkapan sinis ”pacaran melulu..”

Belum lagi bila harus dikirim ke luar negeri, aku paham perasaan TKW yang dipancung, mungkin dia sudah gak tahan lagi diperlakukan dengan kejam oleh majikan dan anggota keluarga lain, diperlakukan seperti budak, dimana jaman perbudakan sudah tidak ada lagi, tanpa ada yang mampu menolong…

Bila ada hari, maka buatlah hari pembantu, hari khadimah, hari asisten rumah tangga dengan sejuta award, dari perusahaan tukang sapu, dari perusahaan sabun cuci, dari perusahaan buah-buahan, garam dan gula, yang mana benda-benda inilah yang paling sering dipakai oleh para pembantu. Senangkanlah mereka, berilah libur barang sehari dalam seminggu, perlakukan mereka sebagaimana diri kita diberikan waktu istrahat yang cukup. Biarkan mereka menunggu hari yang menyenangkan sehingga jasa mereka begitu dihargai.

Aku pernah ungkapkan pada sahabatku, betapa tanpa mereka, dakwah ini tidak berjalan. Tanpa mereka, bajuku lecek tak keruan, tanpa mereka aku gak bisa seperti ini dan mereka menduduki tempat teratas ketika pembagian THR tiba. Dengan jumlah yang sangat spadan, tak ada lungsuran tas, tak ada tas bekas untuk mereka, sebagaimana mereka berikan tenaga baru untuk kami, maka kami berikan tas baru untuk mereka, tidak ada tas bekas untuk mereka, karena merekapun tak pernah memberikan bekas tenaga, selalu tenaga baru di pagi hari.

Beri mereka hari yang selalu ditunggu kalau perlu setiap minggu.
“Happy mbak Ella’s day, happy mbok Inem’s day… happy thank you’s day..”
(Aku persembahkan tulisan ini dengan cinta dan terima kasih yang dalam kepada berjuta-juta mbok Inem, mbak Nah, mbak Tuti dan lain lain, yang telah menjaga anak-anak kita dan membantu pekerjaan rumah tangga kita, sehingga kita bisa menjadi seperti ini..) (Eramuslim)

Istri Ideal

Written By Unknown on Selasa, 20 Agustus 2013 | 06.46

 Sungguh tidak mudah menjadi seseorang yang ideal, namun setiap pasangan menginginkan pasangannya ideal. Tuntutan demi tuntutan berlaku dan bila sang penuntut tidak puas dengan tuntutannya, maka yang terjadi adalah rasa tidak puas yang membuat seoarang istri atau suami sudah tidak ideal menjadi bertambah tidak ideal. Ideal menurut siapa? Standarnya apa? Tentu saja standar ideal itu berbeda-beda, dan bila ditanya lagi dengan lebih dalam, standarnya apa, maka jawabnya adalah… “Yaa seperti istri-istri Rasulullah…” jawaban ini membuat istri terdiam, dan batinnya bertanya, “tentu saja istri-istri Rasul ideal, bahkan sangat ideal, lhaa, suaminya saja ideal banget, Rasulullah.” 

Istri-istri Rasulullah sangat ideal, bersedia dipoligami, nah yang satu ini membuat Nita bingung, karena lagi-lagi persoalan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga yang biasanya berjalan lima tahun, isu poligmi mulai mendominasi pembicaraan suami istri. Dimulai dengan; “kalau.. Kalau aku menikah lagi gimana yang…” tanya sang suami menyelidik. Menguji kesadaran dan kesabaran sang istri, istri pun menjawab dengan gagah, ” yaa, kalau abang mampu bersikap adil mengapa tidak?” Dan kemudian sang suami mengecup istrinya dengan bangga, namun hati sang istri menjadi murung, sang istri diam saja, dan bearlih membicarakan hal-hal lain yang menurutnya lebih penting.

Istri Rasulullah penecemburu, istri Rasulullah cemburu pada suaminya dengan cemburu yang santun, cemburu yang bermutu, sehingga layak dijadikan ibrah, cemburu yang tidak membabi buta. Bukan cerita yang asing lagi bila kita mendengar bagaimana Aisyah cemburu pada Rasul. Namun cemburunya hanya sekedar melempar tepung, dan Rasulullah yang peka dengan keadaan segera mengalihkannya dengan kelembutannya.

Cemburu yang santun, dengan tidak cemberut, tidak ngambek, tidak dengan mendiamkan sang suami berhari-hari dan bahkan menjadi judes tiba-tiba, galak seketika dan marah-marah tanpa sebab, apalagi sampai harus membanting pintu, wah, jauh dengan perilaku istri-istri Rasul. Dan ranipun terpegun, bila diingatkan soal cemburu, sulit untuk tidak cemburu, atau mencoba sabar dengan mengingat kembali kisah istri-istri para nabi, namun tidak semudah itu, jeritnya dalam hati. Sulit, ketika mendapati suaminya sangat ramah pada pelayan toko, atau ketika suaminya sangat perhatian pada ibu muda tetangga sebelah yang baru mau melahirkan dengan memberikan saran- saran mengenai kesehatan, yaa suaminya memang dokter, dan bayangan bahwa suaminya harus menjumpai perawat-perawat muda yang lincah setiap hari, membuat Rani tersiksa. Rasa kesal dan prasangka buruk terhadap suaminya membuat dia menjadi uring-uirngan, dan tentu saja hasilnya negatif, suami yang tadinya pulang setiap petang bisa menjadi malas pulang, karena menjumpai istri yang sibuk marah-marah tidak karuan. Istilahnya mengungkit hal-hal yang kecil menjadi masalah besar, bukankah berumahtangga untuk mendapatkan kenyamanan bukan kemarahan?

Istri Rasulullah sangat dermawan.
 
Istri Rasulullah tidak punya pembantu, anaknya pun memiliki tangan yang tidak lembut karena menggiling gandum sendiri, padahal Fatimah adalah anak seorang pemimpin negeri, bayangkan bila ada anak pemimpin negeri seperti itu, luarbiasa, kita saja yang cuma anak pak RT, punya khadimah, dan tidak pernah menggiling beras sendiri, selalu ada yang bantu. Maka ketika dihadapkan pada kenyataan, Sofi yang sudah dua bulan tidak kunjung memiliki pembantu rumah tangga, walau sudah mencari kemana-mana, bahkan sang suami sudah pula mendatangi beberapa agen pembantu rumah tangg , hasilnya nihil. Sofi yang sudah terlalu lelah dirumah mengerjakan pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya, akhirya meluapkan emosinya pada sang suami yang mengerti istrinya lelah. Namun para istri juga harus ingat, bukankah suaminya yang baru pulang kerja juga lelah, apalagi kondisi diluar rumah yang begitu mencekam, persaingan di kantor yang begitu tajam, belum lagi mungkin bos ditempat kerja sang suami menekan dengan ketidakpuasan terhadap kerja sang suami. Maka bila kadang istri harus marah-marah karena tidak punya pembantu, sangatlah disayangkan, satu kuncinya harus sabar, bukankah semua pekerjaan rumah yang dilakukan istri dengan ikhlas akan diganjar dengan pahala oleh Allah Swt.

Istri Rasululah kuat beibadah, “aku membuka mataku , dan aku melihat Rasulullah yang sedang sholat malam dengan khusyu sampai janggutnya basah berlinang airmata.” Istri Rasullah melihat tauladan, dan segera pula melakukan ibadah, dengan tekun, hal ini merupakan bukti bahwa istri Rasulullah taat beibadah. Hati sih ingin, siapa sih yang tidak ingin bangun malam melaksanakan shalat dan berdoa, sungguh-sungguh, bahkan seperti yang sudah diketahui dari hadist-hadist bagaimana sholat malam itu, bila berdoa akan dikabulkan doa kita. “Motivasi ada, namun, lelah, yaa lelah rasanya, sudah bekerja seharian di kantor, malam harus terbangun pula untuk sholat malam,” Fitri menggumam ketika dikantornya ada kajian muslimah setiap jumat yang mebahas tuntas tentang fadilah sholat malam. Yaa bila aku bangun malam, maka waktu tidurku sempit, mau tidur lagi rasanya suadah tidak bisa, tidak mudah untuk langsung terlelap menunggu subuh setelah shalat malam, bisa-bisa kebablasan, dan akibatnya dikantor jadi mengantuk, dan sejuta alasan terpampang. Akhirnya ketika dikatakan istri Rasulllah rajin sholat malam, maka Fitri pun menanah, kalau aku jadi ibu rumah tangga saja seperti istri Rasulullah,mudah saja bagiku untuk melakukan shalat malam, kalau mengantuk, maka aku tinggal tidur dan tidak terpaku pada jam kantor dan kemacetan lalulintas.
Istri sahabat Rasul pandai menyembunyikan kegelisahan hatinya, pernah dengar kisah Ummu Sulaim, yang anaknya meninggal lalu disembunyikan dari suaminya yang baru pulang, bahkan sang istri sempat melayani sang suami dengan baik, tanpa mengganggu suaminya yang masih sangat lelah. Dan subhanalah, pandainya sang istri menjaga hati sang suami, membuat kisah ini seringkali dijadikan senjata oleh para suami yang keala melihat istrinya hanya bercerita tentang masalah masalah dan masalah saja. Sajikanlah cerita-cerita yang enak untuk didengar, yang membuat suasana gembira, mengapa para istri seringkali tidak sabar untuk menceritakan masalah dan masalah ketika berjumpa dengan suaminya. Entah itu mulai dari soal tagihan listrik yang membengkak, raport anak yang kebakaran, tetangga depan yang menjengkelkan, ibu mertia yang sakit-sakitan dan perlu ganti dokter, sampai mungkin cerita-cerita dan keluhan tentang guru ngaji sang istri yang dinilai terlalu mengecam sehingga menimbulkan jamaah yang kemudian kabur satu pesatu. Apakah tidak ada cerita yang indah dan ceria yang membuat suami merasa terhibur, sehingga tak heran bila suami merasa malas untuk mendengarkan cerita sang istri yang bertubi-tubi, yang dinilainya hanya berisi masalah, masalah dan masalah.

Seringkali seorang wanita dihadapkan pada sirah sohabiyah, bagaimana akhlak para istri Rasulullah, Namun cara mendidik para wanita saat ini, tidak sebagaiamana cara sihabiyah dididik. Dan terlebih lagi lingkungan wanita zaman sekarang berbeda dengan lingkungan yang Islami pada zaman Rasulullah. Para suami juga begitu tidak dididik seperti pada zaman Rasulullah dulu, namun tentu banyak teladan dan sunnah yang sebaiknya kita ikuti. Dan kita sebagai wanita muslimah sebaiknya mengikuti bagaiamana cara sahabiyah berakhlak, beribadah dan bersikap. Jadikan istri-istri Rasul dan Sahabat sebagai tauladan dan panutan yang utama, namun jangan memaksa, karena buah mangga masak tidak dalam semalam, namun membutuhkan waktu yang sangat panjang. Perawatan, pupuk dan utamanya kesabaran sehingga buah mangga tersebut layak untuk dimakan. Ingatlah bagaimana Rasulullah menjelaskan; “istri (wanita) diibaratkan seperti tulang rusuk. Jika diluruskan dengan paksa, maka tulang itu akan patah. Dan sebaliknya, jika dibiarkan akan tetap bengkok.”(Eramuslim)
 
* Penulis yang bernama lengkap Fifi P. Jubilea adalah founder of Jakarta Islamic School, Ibu dari 3 orang anak yang tengah menyelesaikan kuliah S3 di Australia ini telah menerbitkan buku : Aku Cinta Padanya Bunda, Secangkir Teh Buatan Bidadari, dan 3 Hari Melihat Kota Yang Menyayat Hati.

20 Tips Membahagiakan Suami Anda

Written By Unknown on Rabu, 26 Juni 2013 | 07.50

 Tidak lengkap rasanya jika ada 20 cara membahagiakan istri Anda, tidak ada 20 cara membahagiakan suami Anda. Berikut masih dalam buku, “Nasihat Indah Untuk Suami Istri”, karya Syekh Umar Bakri Muhammad, bagaimana para istri memikat suami mereka. Semoga bermanfaat!
  1. Anda adalah sekuntum mawar yang sedang bersinar di rumah Anda. Buatlah disaat suami Anda  masuk ke rumah, dia merasa bahwa kecantikan dan keharuman mawar tersebut, tidak bukan dan tidak lain hanyalah untuknya seorang.
  2. Bagaimana caranya agar suami Anda itu bisa merasa damai dan nyaman, baik dengan perbuatan ataupun dengan kata-kata ? Hal itulah yang secara terus menerus Anda selalu usahakan untuk suami Anda. Untuk kesempurnaannya, lakukan itu dengan sepenuh jiwa.
  3. Sopan dan penuh perhatianlah Anda ketika berbincang-bincang  dan berdiskusi, jauhkanlah perdebatan dan sikap keras kepala untuk mengemukakan pendapat Anda.
  4. Pahami  kebenaran dan keindahan prinsip-prinsip Islam di balik kelebihan sang suami terhadap Anda selaku istri, yang memang terkait dengan kodrat seorang wanita, dan janganlah hal ini dianggap sebagai sesuatu yang dzolim (penindasan).
  5. Lembutkanlah suara Anda ketika berbicara dengan sang suami dan pastikan suara Anda tidak meninggi pada saat dia bersama Anda.
  6. Pastikan Anda bangun pada malam hari untuk melakukan sholat malam secara rutin, hal ini akan membawa kecerahan dan kebahagiaan pada perkawinan Anda, sungguh mengingat Allah SWT akan membawa ketenangan pada hati Anda.
  7. Bersikaplah diam ketika suami Anda sedang marah dan jangan tidur kecuali dia mengijinkannya.
  8. Berdirilah dekat suami Anda ketika dia sedang memakai baju dan sepatunya.
  9. Buatlah suami Anda merasa bahwa Anda menginginkan sang suami untuk mengenakan baju yang Anda pilih buat dia, pilihlah pakaian itu oleh Anda sendiri.
  10. Anda harus sensitif dan memahami kebutuhan suami Anda, untuk menjadikan pernikahan Anda menjadi yang terbaik tanpa menghabiskan waktu Anda.
  11. Ketika ada perselisihan pendapat, hendaknya Anda tidak menunggu agar sang suami meminta ma’af kepada Anda (jangan jadikan hal ini sebagai prioritas utama harapan Anda) kecuali kalau suami Anda secara sadar mengakuinya.
  12. Rawatlah penampilan dan pakaian suami Anda, biarpun kelihatannya suami Anda malas untuk merawat dan memakainya, tapi yakinlah bahwa dia akan menyukainya sebagaimana teman-temannya juga akan menyukainya.
  13. Hendaknya Anda tidak selalu mengandalkan suami Anda untuk berkeinginan melakukan hubungan badan,  sekali-kali Anda mulailah lebih dulu, tentu pada saat  yang tepat.
  14. Di malam hari, jadilah seperti pengantin baru buat suami Anda, janganlah Anda beranjak tidur lebih dulu dari sang suami, kecuali kalau dirasa sangat perlu.
  15. Janganlah menunggu atau mengharapkan balasan dari semua perbuatan dan kebiasaan baik Anda,  banyak suami karena kesibukan kerjanya, gampang melupakan untuk melakukan hal tersebut,  atau secara tidak sengaja lupa untuk menyampaikan penghargaan yang semestinya kepada Anda.
  16. Hendaknya berbuat sesuai dengan keadaan dan kemampuan keuangan yang ada, dan jangan meminta sesuatu yang berlebihan dan mahal.
  17. Ketika suami Anda baru pulang dari perjalanan yang lama ataupun bepergian dari tempat yang jauh, sambutlah dia dengan wajah yang ceria dan tunjukkanlah bahwa Anda sangat merindukan kedatangannya.
  18. Ingatlah selalu bahwa keberadaan sang suami adalah salah satu sarana mendekatkan diri Anda kepada Allah SWT.
  19. Pastikan Anda untuk selalu memperbaharui dan merubah bentuk penampilan Anda, sebagai tanda dan ungkapan  kasih Anda menyambut suami tercinta.
  20. Ketika sang suami meminta sesuatu untuk melakukan hal-hal tertentu, maka pastikan Anda melakukannya dengan sigap dan sepenuh hati,  jangan sampai Anda merasa enggan dan lamban.

Kebahagiaan Dalam Keluarga

Written By Unknown on Senin, 17 Juni 2013 | 06.54

 Dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan, yaitu sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan najah (berhasil). Jika saadah (bahagia) mengandung nuansa anugerah Allah setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah mengandung arti menemukan apa yang dicari (idrak al bughyah). Falah ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah duniawi adalah memperoleh kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat,yakni menemukan

(a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus, kebutuhan tercukupi terus dsb,
(b) kekayaan; segala yang dimiliki jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan
(c) kehormatan sosial.

Sedangkan falah ukhrawi terdiri dari empat macam, yaitu 
(a) keabadian tanpa batas, 
(b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, 
(c) kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan 
(d) pengetahuan hingga tiada lagi yang tidak diketahui. 
 
Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan, misalnya ketika ternyata seluruh keluarganya selamat dari gelombang tsunami. Adapun najah adalah perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul, padahal ia sudah merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua.

Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi horizontal dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi kesenangan yang diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian kebahagiaan yang dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud ketidakmampuan kata-kata. Prof. Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan kenapa beliau menangis di depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami berdimensi vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi. Banyak mempelai menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.

Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami. Kebahagiaan sesungguhynya dalam kehidupan keluarga bukan ketika akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hidup susah, meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story. Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan yang sebenarnya.

Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah tangga 
(1) isteri/suami yang setia 
(2) anak-anak yang berbakti 
(3) lingkungan sosial yang sehat dan 
(4) rizkinya dekat. 
 
Kesetiaan membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan kegigihan.

Wassalam,
By: M. Agus Syafii 

Nasehat Untuk Putriku

Written By Unknown on Selasa, 11 Juni 2013 | 08.26


Wahai putriku, aku masih teringat masa kecilmu, tampak kepolosanmu tanpa dosa. Terlintas dibenakku sebuah makna tanggung jawab. Dirimu pun akan selalu berkembang seiring berjalannya waktu. Dan tanpa terasa engkau telah di ambang kedewasaan. Tergugah kesadaranku bahwa tiba-tba dirimu dalam suasana yang amat menghawatirkan. Engkau berada pada zaman kejayayan iblis dan bagundal-bagundalnya dari bangsa manusia yang setiap saat siap hancurkanmu dengan segala yang dimilikinya. Zaman dengan budayanya dan zaman dengan pelaku-pelakunya.

Maafkan aku dan mohonkan aku ampun kepada Allah jika ternyata aku pun kurang serius memperhatikanmu. Aku telah lalai membekalimu hal-hal yang amat kau butuhkan kelak di akhirat. Aku jarang memperkenalkanmu kepada Allah dan Rasulullah SAW. Sekolah yang aku pilihkan untukmu hanya sekolah yang menghantarmu berbangga dengan dunia tanpa aku imbangi dengan pendidikan agama, yang sebenarnya lebih engkau butuhkan. Bahkan, Aku sering sodorkan padamu hal-hal yang membahayakanmu. Aku telah memasukkan pesan dan bisikan musuh-musuhmu ke rumahmu. Aku telah hadirkan dalam kehidupanmu potret moral yang busuk melalui layar televisi yang kau nikmati setiap saat. Aku pun telah membakalimu dengan handphone kontrol iblis yang senantiasa menyertaimu yang sebenarnya justru menyulitkanku untuk mengawasimu. Bahkan aku pun sering tidak peduli dengan perkembangan akhlakmu setiap saat. Aku hanya memikirkan kebutuhan lahirmu, makan, minum, baju dan tempat tinggal. Sementara kebutuhan hati dan jiwamu yang menghantarmu ke dalam kebahagiaan dalam keabadian di akhirat tidak pernah aku pikirkan. Bahkan kadang baju yang kubelikan pun baju yang mengundang nafsu pengikut iblis. Aku sering menjadi orang dungu yang hanya bisa bengong melihat dirimu berdandan untuk membangkitkan hawa nafsu budak iblis. Kecemburuanku kadang hilang dan menjadikan diriku kurang berarti bagimu.

Wahai putriku bantulah aku untuk mengembalikan kemuliaan pada dirimu. Maafkan aku jika saat ini aku berbeda dengan hari yang lalu. Kemarin aku lemah dan dungu yang amat membahayakanmu. Dan hari ini aku telah menyadari bahwa aku harus meninggalkan kedunguan dan kelemahanku demi kemulyaan dan kejayaanmu kelak diakhirat.

Aku tidak ingin disebut tolol dan dungu dengan pendidikanmu yang tidak membawa keselamatanmu di akhirat. Aku tidak mau di bilang bodoh melihat pakainnmu yang separoh hati kau kenakan, sebagian badanmu tertutup dan sebagian lagi terbuka. Aku tidak ingin kau dihinakan oleh mata jalang hamba hawa nafsu. Maka perhatiakan bahwa dirimu harus kau mulyakan. Berdandanlah dengan dandanan yang berwibawa dihadapan perampok-peramopok kehormatan. Jadikanlah mereka takut mendekatimu dan jera jika mereka berusaha menjailimu. Jangan kau rendahkan dirimu dengan kau umbar tubuhmu disana sini. Sebab jika dirimu tidak bisa menghargai dirimu sendiri maka orang lainpun tidak menghargaimu.

Kemulyaanmu wahai putriku pada kepribadianmu. Jika engkau berwibawa dan mulya maka lelaki jalang hamba hawa nafsupun akan enggan mendekatimu. Senyummu amat mahal jangan kau berikan kepada semua orang sebab tidak semua orang tahu nilai senyummu. Suaramu pun adalah nilai dirimu. Jangan bersuara yang mengundang nafsu di hadapan bagundal iblis sehingga mereka meremehkanmu. Telah banyak gadis-gadis seumurmu telah direndahkan oleh mereka. Lihatlah di sekitarmu, anak gadis sebaya denganmu telah tenggelam dalam kenistaan. Harga dirinya telah digadaikan dengan karir dan ketenaran.. Putriku, Sungguh itulah bahasa cinta dan kasihku yang engkau butuhkan saat ini.Aku sadar bahwa engkau saat ini sudah tidak butuh orang tua yang hanya bisa memanjamu. Akan tetapi saat ini engkau butuh orang tua yang mendidikmu dan menuntunmu kepada kemulyaan.

Jangan heran jika aku kadang cerewet wahai putriku dan songsonglah masa depanmu dengan kemulyaan.

Wallahu a’lam bishshowab

*Oase Iman Buya Yahya

(esqiel/muslimahzone.com)

Wanita Dahulu dan Sekarang Bag:2

Written By Unknown on Jumat, 18 November 2011 | 09.01


Ada juga wanita yang diuji dengan penyakit, sehingga dia datang kepada Rasulullah saw. meminta untuk didoakan. Atha’ bin Abi Rabah bercerita bahwa Ibnu Abbas r.a. berkata kepadaku,”Maukah aku tunjukkan kepadamu wanita surga?”
Aku menjawab,”Ya.”
Dia melanjutkan,”Ini wanita hitam yang datang ke Rasulullah saw. mengadu, ‘Saya terserang epilepsi dan auratku terbuka, maka doakanlah saya.’ Rasulullah saw. bersabda, “Jika kamu sabar, itu lebih baik, kamu dapat surga. Atau, kalau kamu mau, saya berdoa kepada Allah agar kamu sembuh.”
Wanita itu berkata,”Kalau begitu saya sabar, hanya saja auratku suka tersingkap. Doakan supaya tidak tersingkap auratku.”
Maka, Rasulullah saw. mendoakannya.

Ada juga wanita yang ikut berperang seperti Nasibah binti Kaab yang dikenal dengan Ummu Imarah. Dia becerita,”Pada Perang Uhud, sambil membawa air aku keluar agak siang dan melihat para mujahidin, sampai aku menemukan Rasulullah saw. Sementara, aku melihat pasukan Islam kocar-kacir. Maka, aku mendekati Rasulullah sambil ikut berperang membentengi beliau dengan pedang dan terkadang aku memanah. Aku pun terluka, tapi manakala Rasulullah saw. terpojok dan Ibnu Qamiah ingin membunuhnya, aku membentengi beliau bersama Mush’ab bin Umair. Aku berusaha memukul dia dengan pedangku, tapi dia memakai pelindung besi dan dia dapat memukul pundakku sampai terluka. Rasulullah saw. bercerita,”Setiap kali aku melihat kanan kiriku, kudapati Ummu Imarah membentengiku pada Perang Uhud.” Begitu tangguhnya Ummu Imarah.

Ada juga Khansa yang merelakan empat anaknya mati syahid. Ia berkata,”Alhamdulillah yang telah menjadikan anak-anakku mati syahid.” Begitulah peranan wanita pada masa Rasulullah saw. Mereka berpikir untuk akhiratnya, sedang wanita sekarang yang lebih banyak memikirkan dunia, rumah tinggal, makanan, minuman, kendaraan, dan lain-lain.

Kaum Wanita pada Masa Berikutnya

Ketika Utsman bin Affan mengerahkan pasukan melawan manuver-manuver Romawi, komandan diserahkan kepada Hubaib bin Maslamah al-Fikir. Istri Hubaib termasuk pasukan yang akan berangkat perang. Sebelum perang dimulai, Hubaib memeriksa kesiapan pasukan.

Tiba-tiba istrinya bertanya,”Di mana saya menjumpai Anda ketika perang sedang berkecamuk?”
Dia menjawab,”Di kemah komandan Romawi atau di surga.”
Ketika perang sedang berkecamuk, Hubaib berperang dengan penuh keberanian sampai mendapatkan kemenangan. Segera dia menuju ke kemah komandan Romawi menunggui istrinya. Yang menakjubkan, saat Hubaib sampai ke tenda itu, dia mendapatkan istrinya sudah mendahuluinya. Allahu Akbar.

Pada masa Dinasti Abbasiyah yang dipimipin oleh Harun al-Rasyid, ada seorang Muslimah disandera oleh tentara Romawi. Maka, seorang ulama bernama Al-Manshur bin Ammar mendorong umat Islam untuk berjihad di dekat istana Harun al-Rasyid dan dia pun menyaksikan ceramahnya. Tiba-tiba ada kiriman bungkusan disertai dengan surat. Surat itu lalu dibuka dan dibaca oleh ulama tadi dan ternyata berasal dari seorang perempuan dan berbunyi,”Aku mendengar tentara Romawi melecehkan wanita Muslimah dan engkau mendorong umat Islam untuk berjihad, maka aku persembahkan yang paling berharga dalam diriku. Yaitu, seuntai rambutku yang aku kirimkan dalam bungkusan itu. Dan, aku memohon agar rambut itu dijadikan tali penarik kuda di jalan Allah agar aku dapat nantinya dilihat Allah dan mendapatkan rahmatnya.” Maka, ulama itu menangis dan seluruh hadirin ikut menangis. Harun al-Rasyid kemudian memutuskan mengirim pasukan untuk membebaskan wanita Muslimah yang disandera itu.

Seorang istri Shaleh bin Yahya ditinggal suaminya dan hidup bersama dua anaknya. Ia mendidik anak-anaknya dengan ibadah dan qiyamul lail (shalat malam). Ketika anak-anaknya semakin besar, dia berkata,”Anak-anakku, mulai malam ini tidak boleh satu malam pun yang terlewat di rumah ini tanpa ada yang shalat qiyamullail.”
“Apa maksud ibu?” tanya mereka.

Ibu menjawab,”Begini, kita bagi malam menjadi tiga dan kita masing-masing mendapat bagian sepertiga. Kalian berdua, dua pertiga, dan saya sepertiga yang terakhir. Ketika waktu sudah mendekati subuh, saya akan bangunkan kalian.”
Ternyata kebiasan ini berlanjut sampai ibu mereka meninggal. Dan amalan itu tetap dilanjutkan oleh dua anak itu karena mereka sudah merasakan nikmatnya qiyamullalil.

Wanita Dewasa Ini

Kalau kita perhatikan perkembangan wanita dewasa ini, memang cukup mengkhawatirkan, meskipun di lain pihak masih banyak kaum wanita berjilbab yang semarak. Bahkan, pengajian-pengajian justru dipenuhi oleh kaum wanita. Tapi, melihat berbagai upaya musuh Islam untuk menghancurkan kaum hawa dengan berbagai cara melalui media massa yang destruktif (merusak), maka tantangannya semakin berat. Kalau tidak berbekal ilmu agama yang cukup dan disertai semangat juang yang tinggi, niscaya wanita pada zaman sekarang sulit untuk selamat. Bayangkan, kehidupan masyarakat di sekeliling kita sampai pergaulan di tingkat nasional dan internasional sudah sangat bejat. Kebejatan itu diliput dan disampaikan ke rumah-rumah kita melalui saluran-saluran TV. Dan, yang tidak puas ditambah dengan VCD dan internet. Sehingga, waktu untuk beribadah kepada Allah semakin terpinggirkan atau tergeser oleh otak yang merekam semua adegan itu.

Sementara, penangkalnya relatif kecil, dengan cara tradisional melalui pengajian minimal seminggu sekali. Maka, kita perlu kunci-kunci keselamatan.

Kunci kebahagiaan adalah taat keada Allah dan Rasul-Nya.
Kunci surga adalah tauhid.
Kunci keimanan adalah berpikir tentang ayat-ayat Allah dan ciptaan-Nya.
Kunci kebaikan adalah kejujuran.
Kunci kehidupan hati adalah membaca dan mendalami Al-Qur’an serta menjauhi dosa.
Kunci rizki adalah berusaha sambil beristighfar dan bertakwa.
Kunci ilmu adalah pandai bertanya dan mendengar.
Kunci kemenangan adalah sabar.
Kunci kesuksesan adalah takwa.
Kunci tambah rizki adalah bersyukur.
Kunci sukses akhirat adalah zuhud terhadap dunia.
Kunci dikabulkan permintaan adalah doa, dll.

Wallahu a’lam bish-shawab.
Sumber: alislamu.com

Peranan Seorang Istri Dalam Islam

Written By Unknown on Kamis, 10 November 2011 | 08.37

Sebuah berita gembira datang dari sebuah hadits Rosul bahwa Rosulullah saw. Bersabda :
” Seluruh dunia ini adalah perhiasan dan perhiasan terbaik di dunia ini adalah wanita yang sholehah”.

Di dalam Islam, peranan seorang istri memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan berumah tangga dan peranannya yang sangat dibutuhkan menuntutnya untuk memilih kualitas yang baik sehingga bisa menjadi seorang istri yang baik.

Pemahamannya, perkataaannya dan kecenderungannya, semua ditujukan untuk mencapai keridho’an Allah swt., Tuhan semesta Alam. Ketika seorang istri membahagiakan suaminya yang pada akhirnya, hal itu adalah untuk mendapatkan keridho’an dari Allah swt. sehingga dia (seorang istri) berkeinginan untuk mengupayakannya.

Kualitas seorang istri seharusnya memenuhi sebagaimana yang disenangi oleh pencipta-Nya yang tersurat dalam surat Al-Ahzab. Seorang wanita muslimah adalah seorang wanita yang benar (dalam aqidah), sederhana, sabar, setia, menjaga kehormatannya tatkala suami tidak ada di rumah, mempertaankan keutuhan (rumah tangga) dalam waktu susah dan senang serta mengajak untuk senantiasa ada dalam pujian Allah swt.

Ketika seorang wanita muslimah menikah (menjadi seorang istri) maka dia harus mengerti bahwa dia memiliki peranan yang khusus dan pertanggungjawaban dalam Islam kepada pencipta-Nya, Allah swt. menjadikan wanita berbeda dengan pria sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu.” (QS. An Nisaa’ , 4:32).

Kita dapat melihat dari ayat ini bahwa Allah swt. membuat perbedaan yang jelas antara peranan laki-laki dan wanita dan tidak diperbolehkan bagi laki-laki atau wanita untuk menanyakan ketentuan peranan yang telah Allah berikan sebagaimana firman Allah:
“ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al Ahzab, 33:36)

Karenanya, seorang istri akan membenarkan Rosulullah dan akan membantu suaminya untuk menyesuaikan dengan prinsip-prinsip syari’ah (hukum Islam) dan memastikan suaminya untuk kembali melaksanakan kewajiban-kewajibannya, begitupun dengan kedudukan suami, dia juga harus memenuhi kewajiban terhadap istrinya.

Diantara hak-hak lainnya, seorang istri memiliki hak untuk Nafaqah (diberi nafkah) yang berupa makanan, pakaian dan tempat untuk berlindung yang didapatkan dari suaminya. Dia (suami) berkewajiban membelanjakan hartanya untuk itu walaupun jika istri memiliki harta sendiri untuk memenuhinya. Rosulullah saw. Bersabda :
” Istrimu memiliki hak atas kamu bahwa kamu mencukupi mereka dengan makanan, pakaian dan tempat berlindung dengan cara yang baik.” (HR. Muslim)

Ini adalah penting untuk dicatat bahwa ketika seorang istri menunaikan kewajiban terhadap suaminya, dia (istri) talah melakukan kepatuhan terhadap pencipta-Nya, karenanya dia (istri yang telah menunaikan kewajibannya) mendapatkan pahala dari Tuhan-Nya. Rosulullah saw. mencintai istri-istrinya karena kesholehan mereka.
Aisyah r.a. suatu kali meriwayatkan tentang kebaikan kualitas Zainab ra, istri ketujuh dari Rosulullah saw.

“Zainab adalah seseorang yang kedudukannya hampir sama kedudukannya denganku dalam pandangan Rosulullah dan aku belum pernah melihat seorang wanita yang lebih terdepan kesholehannya daripada Zainab r.a., lebih dalam kebaikannya, lebih dalam kebenarannya, lebih dalam pertalian darahnya, lebih dalam kedermawanannya dan pengorbanannya dalam hidup serta mempunyai hati yang lebih lembut, itulah yang menyebabkan ia lebih dekat kepada Allah”.

Seperti kebesaran wanita-wanita muslimah yang telah dicontohkan kepada kita, patut kiranya bagi kita untuk mencontohnya dengan cara mempelajari kesuciannya, kekuatan dari karakternya, kebaikan imannya dan kebijaksanaan mereka. Usaha untuk mencontoh Ummul Mukminin yang telah dijanjikan surga (oleh Allah) dapat menunjuki kita kepada karunia surga.

Abu Nu’aim meriwayatkan bahwa Rosulullah saw. Bersabda :
“ Ketika seorang wanita menunaikan sholat 5 waktu, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga kehormatannya dan mematuhi suaminya, maka dia akan masuk surga dengan beberapa pintu yang dia inginkan”. (Al Bukhori, Al Muwatta’ dan Musnad Imam Ahmad).

wallahu a’lam bish showab..
Sumber: Almuhajirun

Istriku Bukan Bidadari, Aku Pun Bukan Malaikat 2

Written By Unknown on Senin, 17 Oktober 2011 | 08.31

Demikianlah seterusnya.

Tidak etis dan tidak manusiawi bila Anda hanya pandai mengorek kekurangan istri, namun Anda tidak mahir dalam menemukan kelebihan-kelebihannya. Buktikan Saudaraku, bahwa Anda benar-benar seorang suami yang berjiwa besar, sehingga Anda peka dan lihai dalam membaca kelebihan pasangan Anda.
Dahulu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu peka dan mahir dalam membaca segala hal, termasuk suasana hati istrinya. Aisyah mengisahkan,
قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى . قَالَتْ: فَقُلْتُ مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ، فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً فَإِنَّكِ تَقُولِيْنَ لاَ وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ غَضْبَى قُلْتِ لاَ وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ أَجَلْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلاَّ اسْمَكَ

“Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku, ‘Sungguh, aku mengetahui bila engkau ridha kepadaku, demikian pula bila engkau sedang marah kepadaku.’ Spontan, Aisyah bertanya, ‘Darimana engkau dapat mengetahui hal itu?’ Rasulullah menjawab, ‘Bila engkau sedang ridha kepadaku, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Muhammad. Adapun bila engkau sedang dirundung amarah, maka ketika engkau bersumpah, engkau berkata, ‘Tidak, demi Tuhan Ibrahim.’’ Mendengar penjelasan ini, Aisyah menimpalinya dan berkata, ‘Benar, sungguh demi Allah, wahai Rasulullah, ketika aku marah, tiada yang aku tinggalkan, kecuali namamu saja.’” (Muttafaqun ‘alaihi)

Demikianlah teladan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau begitu peka dengan suasana hati istrinya, sehingga beliau bisa membaca isi hati istrinya dari ucapan sumpahnya. Walaupun Aisyah berusaha untuk menyembunyikan isi hatinya, tetap bermanis muka, senantiasa berada di sanding Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan berbicara seperti biasa, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dapat menebak suasana hatinya dari perubahan cara bersumpahnya. Luar biasa, perhatian, kejelian, dan kepekaan yang tidak ada bandingnya.

Tidak mengherankan, bila beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
(خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي
“Orang terbaik di antara kalian ialah orang yang terbaik dalam memperlakukan istrinya, dan aku adalah orang terbaik di antara kalian dalam memperlakukan istriku.” (Hr. At-Tirmidzi)
Bagaimana dengan Anda, Saudaraku? Dengan apa Anda dapat mengenali dan meraba suasana hati pasangan Anda?

Saudaraku, tidak ada salahnya bila sejenak Anda kembali memutar lamunan dan gambaran tentang istri ideal dan idaman yang pernah singgah dalam benak Anda. Selanjutnya, bandingkan gambaran istri idaman Anda dengan gambaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kaum wanita berikut ini,
الْمَرْأَةُ كَالضِّلَعِ ، إِنْ أَقَمْتَهَا كَسَرْتَهَا، وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
“Wanita itu bagaikan tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah, dan bila engkau bersenang-senang dengannya, niscaya engkau dapat bersenang-senang dengannya, sedangkan ia adalah bengkok.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Pada riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَسْتَقِيمُ لَكَ الْمَرْأَةُ عَلَى خَلِيقَةٍ وَاحِدَةٍ وَإِنَّمَا هِيَ كَالضِّلَعُ إِنْ تُقِمْهَا تَكْسِرْهَا وَإِنْ تَتْرُكْهَا تَسْتَمْتِعْ بِهَا وَفِيهَا عِوَجٌ
“Tidak mungkin istrimu kuasa bertahan dalam satu keadaan. Sesungguhnya, wanita itu bak tulang rusuk. Bila engkau ingin meluruskannya, niscaya engkau menjadikannya patah. Adapun bila engkau biarkan begitu saja, maka engkau dapat bersenang-senang dengannya, (tetapi hendaklah engkau ingat) ia adalah bengkok.” (Hr. Ahmad)

Nah, sekarang, silakan Anda mengorek memori Anda tentang wanita pendamping hidup Anda. Temukan berbagai kelebihan padanya, dan selanjutnya tersenyumlah, karena ternyata istri Anda memiliki banyak kelebihan.

Lalu, bila pada suatu hari Anda merasa tergoda oleh kecantikan wanita lain, maka ketahuilah bahwa sesuatu yang dimiliki oleh wanita itu ternyata juga telah dimiliki oleh istri Anda. Maka, bergegaslah untuk membuktikan hal ini pada istri Anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا رَأَى أَحَدُكُمُ امْرَأَةً فَأَعْجَبَتْهُ فَلْيَأْتِ أَهْلَهُ فَإِنَّ مَعَهَا مِثْلَ الَّذِي مَعَهَا

“Bila engkau melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatimu, maka segeralah datangi istrimu! Sesungguhnya, istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu.” (Hr. At-Tirmidzi)
Demikianlah caranya agar Anda dapat senantiasa puas dan bangga dengan pasangan hidup Anda. Anda selalu dapat merasa bahwa ladang Anda tampak hijau, sehijau ladang tetangga, dan bahkan lebih hijau.
Selamat berbahagia dengan pasangan hidup yang telah Allah karuniakan kepada Anda. Semoga Allah memberkahi bahtera rumah tangga Anda.

Sebaliknya, sebagai calon istri, Anda juga berhak untuk mendambakan pasangan hidup yang tampan, gagah, kaya raya, pandai, berkedudukan tinggi, penuh perhatian, setia, penyantun, dermawan, dan lain sebagainya.
Betapa indahnya gambaran rumah tangga Anda, dan betapa istimewanya pasangan hidup Anda, andai gambaran Anda ini dapat terwujud. Bukankah demikian, Saudariku?

Saudariku, setelah Anda menikah, benarkah seluruh kriteria suami ideal yang pernah menghiasi lamunan Anda ini terwujud pada pasangan hidup Anda?

Bila benar terwujud, maka saya ucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat, dan bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati.

Besarkan hatimu, wahai Saudariku! Percayalah, bahwa pada pasangan hidup Anda ternyata terdapat banyak kelebihan.

Bila selama ini, Saudari ciut hati karena suami Anda miskin harta, maka tidak perlu khawatir, karena ia penuh dengan perhatian dan tanggung jawab.

Bila selama ini, Saudari kecewa karena suami Anda ternyata kurang tampan, maka percayalah bahwa ia setia dan bertanggung jawab.

Andai selama ini, Saudari kurang puas karena suami Anda kurang perhatian dengan urusan dalam rumah, tetapi ia begitu membanggakan dalam urusan luar rumah.

Juga, andai selama ini, sikap suami Anda terhadap Anda kurang simpatik, maka tidak perlu hanyut dalam duka dan kekecawaan, karena ia masih punya jasa baik yang tidak ternilai dengan harta. Ternyata, selama ini, suami Anda telah menjaga kehormatan Anda, menjadi penyebab Anda merasakan kebahagiaan menimang putra-putri Anda.

Saudariku, Anda tidak perlu hanyut dalam kekecewaan karena suatu hal yang ada pada diri suami Anda. Betapa banyak kelebihan-kelebihan yang ada padanya. Berbahagia dan nikmatilah kedamaian hidup rumah tangga bersamanya.

Berlarut-larut dalam kekecewaan terhadap suatu perangai suami Anda dapat menghancurkan segala keindahan dalam rumah tangga Anda. Bukan hanya hancur di dunia, bahkan berkelanjutan hingga di akhirat kelak.

Saudariku, simaklah peringatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini. Agar anda dapat menjadikan bahtera rumah tangga Anda seindah dambaan Anda.

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ، قِيلَ: أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ؟ قَالَ: يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا، قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ
“Aku diberi kesempatan untuk menengok ke dalam neraka, dan ternyata kebanyakan penghuninya ialah para wanita, akibat ulah mereka yang selalu kufur/ingkar.” Spontan, para shahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah mereka kufur/ingkar kepada Allah?” Beliau menjawab, “Mereka terbiasa ingkar terhadap perilaku baik, dan ingkar terhadap jasa baik. Andai engkau berbuat baik kepada mereka seumur hidupmu, lalu ia mendapatkan suatu hal padamu, niscaya mereka begitu mudah berkata, ‘Aku tidak pernah mendapatkan kebaikan sedikit pun darimu.’” (Muttafaqun ‘alaihi)

Anda mendambakan kebahagian dalam rumah tangga?

Temukanlah bahwa kebahagian hidup dan berumah tangga terletak pada genggaman tangan suami Anda. Pandai-pandailah membawa diri, sehingga suami Anda rela membentangkan kedua telapak tangannya, dan memberikan kebahagian berumah tangga kepada Anda.

Percayalah Saudariku, suami Anda adalah pasangan terbaik untuk Anda.
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا اُدْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Bila seorang istri telah mendirikan shalat lima waktu, berpuasa bulan Ramadan, menjaga kesucian dirinya, dan taat kepada suaminya, niscaya kelak akan dikatakan kepadanya, ‘Silakan engkau masuk ke surga dari pintu mana pun yang engkau suka.’” (Hr. Ahmad dan lainnya)
Tidakkah Anda mendambakan termasuk orang-orang mukminah yang mendapatkan kebebasan masuk surga dari pintu yang mana pun?

Kunci Keberhasilan Rumah Tangga

Saudaraku, mungkin selama ini Anda bersama pasangan hidup Anda, terus berusaha mencari pola rumah tangga yang dapat mendatangkan kebahagiaan untuk Anda berdua.
Anda berhasil menemukannya?

Bila Anda berhasil, maka saya ucapkan selamat berbahagia. Adapun bila belum, maka segera temukan kunci keberhasilan rumah tangga Anda pada firman Allah berikut,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.” (Qs. al-Baqarah: 228)

Hak pasangan Anda setimpal dengan kewajiban yang ia tunaikan kepada Anda. Semakin banyak Anda menuntut hak Anda, maka semakin banyak pula kewajiban yang harus Anda tunaikan untuknya.
Shahabat Abdullah bin ‘Abbas memberikan contoh nyata dari aplikasi ayat ini dalam rumah tangganya. Pada suatu hari, beliau berkata, “Sesungguhnya, aku senang untuk berdandan demi istriku, sebagaimana aku pun senang bila istriku berdandan demiku, karena Allah Ta’ala telah berfirman,
وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ
‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.’

Aku pun tidak ingin menuntut seluruh hakku atas istriku, karena Allah juga telah berfirman,
وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ
‘Akan tetapi, para suami mempunyai kelebihan satu tingkat daripada istrinya.’” (Hr. Ibnu Abi Syaibah dan ath-Thabari)

Bagaimana dengan dirimu, wahai saudara dan saudariku? Kapankah Anda berdandan? Ketika sedang berada di rumah atau ketika hendak keluar rumah? Selama ini, sejatinya, untuk siapa Anda berdandan? Benarkah Anda berdandan untuk pasangan Anda, ataukah Anda berdandan dan tampil menawan untuk orang lain?
Saudaraku, bahu-membahu, saling melengkapi kekurangan, dan saling pengertian adalah salah satu prinsip dasar dalam membangun rumah tangga. Tidak layak bagi Anda untuk berperan sebagai penonton setia ketika pasangan Anda sedang mengerjakan pekerjaannya. Usahakan sebisa Anda untuk turut menyelesaikan pekerjaannya. Demikianlah, dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan dalam rumah tangga beliau.

Aisyah radhiyallahu ‘anha mengisahkan,
كَانَ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، فَإِذَا سَمِعَ الأَذَانَ خَرَجَ
“Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sebagian pekerjaan istrinya, dan bila beliau mendengar suara azan dikumandangkan, maka beliau bergegas menuju ke mesjid.” (Hr. Bukhari)

Constance Gager, ketua studi sekaligus asisten profesor di Montclair State University, Montclair, New Jersey, mengadakan penelitian tentang hubungan perilaku suami-istri dengan keromantisan dalam bercinta. Ia mengelompokkan para suami yang menjadi objek penelitiannya ke dalam dua kelompok.

Kelompok pertama adalah suami-suami yang tidak peduli dan jarang membantu pekerjaan istri. Kelompok kedua adalah suami-suami yang sering turut serta dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga istri.
Hasilnya luar biasa! Suami di kelompok kedua, yaitu yang sering membantu pekerjaan istrinya, terbukti lebih romantis dan lebih sering memadu cinta dengan pasangannya. Hubungan yang harmonis dan indah, begitu kental dalam rumah tangga mereka.

Sejatinya, penemuan ini bukanlah hal baru, karena secara logika, suami yang dengan rendah hati membantu pekerjaan istrinya pastilah lebih dicintai oleh istrinya. Tentunya, ini memiliki hubungan erat dengan keromantisan suami-istri dalam bercinta.

Sebaliknya, istri yang peduli dengan pekerjaan suami, pun akan mengalami hal yang sama.
Nah, bagaimana dengan diri Anda, wahai Saudaraku?
Selamat membuktikan resep manjur ini! Semoga berbahagia, dan hubungan Anda berdua semakin romantis dan harmonis.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi Anda. Mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: Ustadz Arifin Badri, Lc., M.A.
===
catatan kaki:
[1] Para ulama pensyarah hadits menjelaskan bahwa bubur daging adalah makanan paling istimewa di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih-lebih bubur daging mudah pembuatannya dan selanjutnya mudah pula menelannya.

Istriku Bukan Bidadari, Aku Pun Bukan Malaikat

Alhamdulillah, salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan sahabatnya.

Anda telah berkeluarga? Bagaimana pengalaman Anda selama mengarungi bahtera rumah tangga? Semulus dan seindah yang Anda bayangkan dahulu?
Mungkin saja Anda menjawab, “Tidak.”
Akan tetapi, izinkan saya berbeda dengan Anda, “Ya,” bahkan lebih indah daripada yang saya bayangkan sebelumnya.

Saudaraku, kehidupan rumah tangga memang penuh dengan dinamika, lika-liku, dan pasang surut. Kadang Anda senang, dan kadang Anda bersedih. Tidak jarang, Anda tersenyum di hadapan pasangan Anda, dan kadang kala Anda cemberut dan bermasam muka.
Bukankah demikian, Saudaraku?

Berbagai tantangan dan tanggung jawab dalam rumah tangga senantiasa menghiasi hari-hari Anda. Semakin lama umur pernikahan Anda, maka semakin berat dan bertambah banyak perjuangan yang harus Anda tunaikan.

Tanggung jawab terhadap putra-putri, pekerjaan, karib kerabat, masyarakat, dan lain sebagainya.
Di antara tanggung jawab yang tidak akan pernah lepas dari kehidupan Anda ialah tanggung jawab terhadap pasangan hidup Anda.

Sebelum menikah, sah-sah saja Anda sebagai calon suami membayangkan bahwa pasangan hidup Anda cantik rupawan, bangsawan, kaya raya, patuh, pandai mengurus rumah, penyayang, tanggap, sabar, dan berbagai gambaran indah.

Bukankah demikian, Saudaraku?

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Biasanya, seorang wanita dinikahi karena empat pertimbangan: harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, hendaknya engkau lebih memilih wanita yang beragama, niscaya engkau beruntung.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Al-Qurthubi menjelaskan makna hadits ini dengan berkata, “Empat pertimbangan inilah yang biasanya mendorong seorang lelaki untuk menikahi seorang wanita. Dengan demikian, hadits ini sebatas kabar tentang fakta yang terjadi di masyarakat, dan bukan perintah untuk menjadikannya sebagai pertimbangan. Secara tekstual pun, hadits ini menunjukkan bahwa dibolehkan menikahi seorang wanita dengan keempat pertimbangan itu. Akan tetapi, hendaknya pertimbangan agama lebih didahulukan.”

Keterangan al-Qurthubi ini semakna dengan hadits yang diriwayatkan oleh shahabat Abdullah bin Amr al-’Ash radhiyallahu ‘anhu, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ
وَلَأَمَةٌ خَرْمَاءُ سَوْدَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ
‘Janganlah engkau menikahi wanita hanya karena kecantikan parasnya, karena bisa saja parasnya yang cantik menjadikannya sengsara. Jangan pula engkau menikahinya karena harta kekayaannya, karena bisa saja harta kekayaan yang ia miliki menjadikan lupa daratan. Akan tetapi, hendaklah engkau menikahinya karena pertimbangan agamanya. Sungguh, seorang budak wanita berhidung pesek dan berkulit hitam, tetapi ia patuh beragama, lebih utama dibanding mereka semua.’” (Hr. Ibnu Majah; oleh al-Albani dinyatakan sebagai hadits yang lemah)

Akan tetapi, sekarang, setelah Anda menikah, terwujudkah seluruh impian dan gambaran yang dahulu terlukis dalam lamunan Anda?

Bila benar-benar seluruh impian Anda terwujud pada pasangan hidup Anda, maka saya turut mengucapkan selamat berbahagia di dunia dan akhirat. Bila tidak, maka tidak perlu berkecil hati atau kecewa.
Saudaraku, besarkan hati Anda, karena nasib serupa tidak hanya menimpa Anda seorang, tetapi juga menimpa kebanyakan umat manusia.

عَنْ أَبِى مُوسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمُلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ، وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ إِلاَّ آسِيَةُ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ، وَمَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ، وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

Abu Musa radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Banyak lelaki yang berhasil menggapai kesempurnaan, sedangkan tidaklah ada dari wanita yang berhasil menggapainya kecuali Asiyah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Sesungguhnya, kelebihan Aisyah dibanding wanita lainnya bagaikan kelebihan bubur daging [1] dibanding makanan lainnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Saudaraku, berbahagia dan berbanggalah dengan pasangan hidup Anda, karena pasangan hidup Anda adalah wanita terbaik untuk Anda!

Anda tidak percaya? Silakan Anda membuktikannya. Bacalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini, lalu terapkanlah pada istri Anda.
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Tidak pantas bagi lelaki yang beriman untuk meremehkan wanita yang beriman. Bila ia tidak menyukai satu perangai darinya, pasti ia puas dengan perangainya yang lain.” (Hr. Muslim)
Saudaraku, Anda kecewa karena istri Anda kurang pandai memasak? Tidak perlu khawatir, karena ternyata istri Anda adalah penyayang.

Anda kurang puas dengan istri Anda yang kurang pandai mengurus rumah dan kurang sabar? Tidak usah berkecil hati, karena ia begitu cantik rupawan. Anda berkecil hati karena istri Anda kurang cantik? Segera besarkan hati Anda, karena ternyata istri Anda subur sehingga Anda mendapatkan karunia keturunan yang shalih dan shalihah. Coba Anda bayangkan, betapa besar penderitaan Anda bila Anda menikahi wanita cantik akan tetapi mandul.

Bersambung
 
Copyright © 2013. Wanita Muslim - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger