Latest Post

Bahagiakan Diri Dengan Ikhlas dan Memaafkan

Written By Ken Ajoe on Selasa, 24 September 2013 | 06.28


Perkawinan kami telah memasuki usia 13 tahun. Semua berjalan seperti biasa, aku merasa bahagia dengan suami yang penuh kasih sayang, demokratis dan penuh perhatian, serta sayang kepada ke empat anak kami yang kian tumbuh besar dan sehat.

Demikian pula aku merasakan sikap suamiku yang selalu hangat, komunikasi kami sangat baik, terbuka dan saling menghargai. Segala permasalahan biasa kami bicarakan bersama, Tak ada sumbatan, semua hak dan kewajiban sebagai suami  istri dan  tugas kami sebagai orang tua semua berjalan normal pada relnya, Yach… pendek kata aku merasa kehidupan kami semua berjalan baik, tak ada komplain dari suami baik soal kebersihan rumah, masakan, urusan anak, pendidikannya, kebutuhan biologis dan semuanya berjalan normal.

Sesekali aku mendengar suami memancing pembicaraan seputar ta’addud. Aku tak menanggapi dengan serius. Karena aku merasa background keluarga suamiku cukup memberi banyak pelajaran tentang keluarga yang berantakan akibat suami yang beristri lebih dari satu.

Bibi suamiku cukup menderita ketika suaminya (paman suamiku) menikah lagi dan menelantarkan anak-anaknya. Sehingga Ibu mertuaku turut ketiban masalah, mengurus dan merawat keponakan-keponakannya (sepupu suamiku) yang ditelantarkan oleh pamannya. Akibat hal tersebut suamiku menjadi trauma dan tidak menerima perbuatan pamannya dan istri mudanya yang dianggap menjadi biang masalah dalam keluarga bibinya.

Aku yakin suamiku tidak akan berani mengambil langkah seperti pamannya untuk berta’addud karena melihat sendiri sepupunya terlantar akibat ulah pamannya.

Sering aku mendengar selentingan berita miring tentang keluarga tetanggaku yang suaminya ta’addud. Tapi aku menganggap itu urusan pribadi mereka dan tidak akan berimbas kepada keluargaku.

Namun semuanya berubah ketika suatu hari aku menerima telepon dari seseorang yang mengaku kakak dari seorang perempuan, Ia menyampaikan berita yang sungguh mengejutkanku, ia menuduh suamiku telah mengusik ketenangan keluarganya. Dia menjelek-jelekkan suamiku, menuduh telah mengganggu adiknya yang masih asyik belajar di bangku kuliah, sehingga sang adik kehilangan akal sehatnya karena mau dinikahi lelaki tua beristri dan beranak empat.

Tentu saja aku tidak bisa menerima segala tuduhan itu. Aku merasa suamiku tak seperti yang dituduhkan lelaki itu. Selama ini keluarga kami baik-baik saja, suamiku lelaki setia. Namun orang tersebut terus nyerocos di ujung telepon, dan memaksa aku untuk percaya dengan semua informasi yang disampaikannya. “Kalau ibu gak percaya… silakan datang ke sini, suami ibu ada di rumah orang tua saya.”

Bagai langit runtuh… perasaanku campur aduk tak karuan. Aku merasa dikhianati, benci, marah, kecewa, bingung, sedih, galau, bercampur jadi satu. Hatiku periiih… bagai diiris-iris sembilu. Apalagi peristiwa itu sudah terjadi dan berlangsung tiga bulan. Berhari-hari aku menangis… bingung harus bagaimana, tak tahu harus berbuat apa. Namun walau begitu akal sehatku masih berfungsi. Bagaimanapun kacaunya pikiran dan perasaanku, aku tak pernah menunjukkannya kepada anak-anak. Mereka masih kecil-kecil, belum waktunya mereka merasakan kegetiran dan kegalauan hatiku.

Aku tak menyangka kalau akhirnya suamiku berani mengambil keputusan dan melangkah sejauh itu, aku berusaha introspeksi diri, apa yang kurang dalam rumah tangga kami? APA salahku? apa kekuranganku sehingga hatinya berpaling ke wanita lain…. Ya Robb…. kuatkan aku menerima cobaan ini.

Ketika akhirnya pengakuan keluar dari bibir suamiku… hatiku makin hancur, aku ingin berita yang ku dengar adalah BOHONG BESAR….  aku berharap hanya sekadar fitnah, barangkali salah alamat. Ada orang lain yang kebetulan namanya sama dengan nama suamiku. Tetapi ternyata tidak… aku terpaksa dan dipaksa harus menerima kenyataan ini. Pahit… pahit sekali`. Perih…perih teramat sangat. Aku seperti terperosok ke dalam lorong gelap tanpa cahaya… bingung….kecewa…marah.

Ya Robb…. mengapa aku harus menerima ujian ini? apa salah hamba…? apa dosa hamba?Suamiku mengakui bahwa dia terprovokasi oleh beberapa temannya yang lebih dulu melakukan ta’addud. Mereka mengatakan bahwa dengan ta’addud hidup lebih bergairah dan lebih tertantang sebagai lelaki. Rezeki yang dulu pas-pasan setelah ta’addud jadi tambah luas. Entahlah… suamiku jadi berani mengambil keputusan itu karena dipengaruhi dan dipromotori oleh teman-temannya. 

Tentang perempuan itu, mengapa bersedia menjadi istri ke dua? Padahal dia masih muda, masih kuliah, masa depannya masih terbuka luas untuk mendapatkan pasangan hidup yang lebih baik dari suamiku. Orang tuanya sendiri menentang keras, begitu pula keluarganya. Karena dia adalah anak perempuan satu-satunya dari dua bersaudara. Dan tentu saja keluarganya merasa tertimpa musibah/aib dan tercoreng di mata tetangga dan kerabatnya mengetahui keputusan anaknya untuk menikah dengan lelaki beristri dan beranak empat.

Entahlah pikiranku bagai benang kusut tak berujung… mungkin penampilan suamiku mampu menarik hatinya, atau mungkin memang banyak perempuan yang tak tahan berada dalam penantian menunggu jodoh, sehingga jalan ini menjadi pilihannya. Ataukah persaingan sesama perempuan di belantara perjodohan kian berat…? Sehingga dia tak peduli dengan keberatan orang tuanya dan keluarganya, sehingga begitu cuek dan keras hati menghadapi segala pertentangan dalam keluarganya.

Aku merasa hari-hariku menjadi gelap. Muram, tanpa cahaya, tanpa semangat, tanpa gairah. Bumi serasa seperti berhenti berputar. Kaki seperti tak berpijak. Jiwaku terguncang, terjebak dalam kenyataan pahit yang mendera. Wajahku kusut, mataku sembab, bibirku kelu, tak ada senyum mengukir di situ…sedih… deraian air mata menemani hari-hariku.

Dalam kekacauan batin dan kesedihan yang mendera, alhamdulillah… ada teman yang senasib datang memberi taushiyah, berusaha membangunkan kesadaranku untuk melepaskan diri dari kesedihan, menghiburku, memotivasiku, menguatkan hatiku. Dia mengajak dan menemaniku berkonsultasi kepada para ustadz dan ustadzah. Aku merasa tak berdaya, tanpa gairah, pikiran kacau, hati galau.

Alhamdulillah… nasihat dan doa para sahabat, para ustadz dan ustadzah sedikit mengurai duka dan kesedihanku. Suamiku masih memperlakukanku dengan baik. Bahkan seperti ingin menebus rasa bersalahnya, Ia lebih memberi perhatian kepadaku. Dia berusaha sekuat tenaga mengembalikan keceriaanku dan semangat hidupku. Aku sendiri merasa tersiksa berada dalam situasi seperti ini dan ingin segera mengakhirinya.

Nasihat para ustadz dan ustadzah coba aku cerna dan kupahami. Bahwa ta’addud adalah sesuatu yang halal dan disyariatkan Allah. Bahwa Allah menciptakan laki-laki dengan potensi yang lebih dari perempuan. Bahwa Allah menciptakan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Bahwa suamiku melangkah dalam jalur yang halal dan bersih bukan jalan haram/maksiat dan kotor yang melanggar agama. Bahwa wanita lain yang dinikahinya dari keluarga baik-baik, keturunan orang baik, memiliki pemahaman agama yang baik, ikut tarbiyah, menutup aurat, sehingga jika Allah kehendaki pernikahan mereka mendapat keturunan, maka keturunan itu dari bibit yang baik.

Semua coba ku cerna satu persatu. Aku mencoba memaafkan suamiku, dan istrinya yang telah mengusik kebahagiaanku.  Aku berusaha menerima bahwa ini bukan sesuatu yang salah. Bahwa ini adalah bagian dari ujian kehidupan. Bahwa ini adalah takdir Allah yang harus kujalani. Bahwa aku harus mencoba memahami dan menjalani peran seperti yang dialami oleh para ummahatul mukminiin, para istri baginda Nabi yang harus rela berbagi suami. Bahwa Allah telah memilihku menjalani takdir ini.

Aku berusaha keras menata hati, mengurai masalah, merubah cara pandang tentang hidup berkeluarga dalam tuntunan Islam. Bahwa peristiwa Ini sudah terjadi… tak mungkin aku surut ke belakang. Jika aku ingin menuntut cerai dari suamiku… apa alasanku?  Aku tak sanggup hidup sebagai single parent. Anak-anakku tak boleh jadi korban sikap egoisku. Suami tetap memperlakukan aku dengan baik, aku dan anak-anak terpenuhi hak-haknya. Karena pada dasarnya suamiku memang menyayangi kami semua.

Jika aku menuntut suamiku menceraikan “madu”ku, dengan alasan apa dia harus diceraikan? Dia menikah secara sah, dia sudah menerima mahar dan sudah menyerahkan “dirinya” kepada suamiku. Aku khawatir… Aku akan menjadi wanita yang menzhalimi sesama perempuan, karena dia pasti akan sangat menderita jika harus hidup dengan menyandang status janda, dan bagaimana dengan anak buah perkawinan mereka? Haruskah anak tanpa dosa menanggung derita akibat perbuatan orang tuanya? .

Yach…aku tak ingin terus berada dalam tekanan jiwa yang menghimpit. Aku harus mengakhiri semuanya. Tak ada yang bisa mengatasi persoalan ini kecuali diriku sendiri. Aku harus berjuang melepaskan diri dari kesedihan. Aku harus bisa menerima kenyataan, harus bisa keluar dari kungkungan rasa kecewa yang menghimpit dada. Harus…. dan harus membebaskan diriku dari penderitaan ini. Tak ada orang yang bisa menolongku kecuali aku berusaha keras menolong diriku sendiri.

Ya Allah… bantulah hamba melepaskan segala beban batin ini…. bantulah aku menjadi hamba yang ikhlas…. Yaa Robb… hamba ridha dengan semua takdir-Mu… asalkan Engkau ridha kepada hamba… Ya Robb… kembalikan kebahagiaan hamba bersama keluarga. Kembalikan keceriaan dan semangat hidup hamba…. Bukalah hati hamba untuk berbagi kepada “dia”… Jadikan kami keluarga yang hidup rukun… berilah hamba ketabahan dan kesabaran menjalaninya… Sujud dan doaku di setiap penghujung malam memohon kekuatan dari yang Maha Kuat.

Aku mulai terhibur ketika mengetahui bahwa aku hamil. Yach… kehamilan ini benar-benar memotivasiku dan menghiburku. Aku mulai melupakan kesedihanku dan sibuk dengan perkembangan janinku. Setidaknya aku bisa mencuri perhatian suamiku agar dia menyadari akan kehadiran “benihnya” yang ditanam di rahimku, salah satu “ladangnya”. Karena aku dengar “ladangnya yang lain” juga sedang menyemai benihnya. Kehamilan ini mengalihkan pikiranku yang kusut secara perlahan mulai terurai.

Waktu terus berjalan… perlahan kedamaian mulai mengisi relung hatiku, aku mulai bisa menerima kehadirannya. Aku mulai terbiasa dengan “pergiliran waktu” yang diatur suamiku. Aku berusaha menjalin komunikasi dengan “maduku”. Aku mencoba menghilangkan beban hatiku dengan seringnya aku memberi hadiah kepadanya. Awalnya berat aku melakukannya. Tapi harus ku coba dan terus ku coba.

Alhamdulillah… beban itu makin terasa ringan…. hatiku makin terasa lapang. Akhirnya jiwaku penasaran dan siap menerima kehadirannya. Ku minta suamiku membawa “maduku” ke rumah, memperkenalkannya kepada kami sebagai bagian dari keluarganya.

Anak-anakku ku perkenalkan dengan “ibu dan adik” barunya. Alhamdulillah… mereka dapat menerimanya set aku memperlihatkan keikhlasanku… keikhlasan yang tulus… tanpa dibuat-buat. Yach… semua bisa menjadi indah asal kita melibatkan Allah dalam setiap kehidupan kita. Sikap dan perilaku suamiku yang tetap mengutamakan diriku sebagai istri pertama yang berjuang dalam pahit getir di awal kehidupan berumah tangga, menjadi kunci utama segala penerimaan ini.

Kekecewaan yang menghimpit berubah menjadi kelapangan yang damai. Kegundahan dan kegalauan menjadi ketenangan dan kenyamanan. Senyumku kembali merekah… wajahku kembali cerah… semangat dan gairah hidupku kembali membuncah.

Yach.. Nyaman dalam kerukunan hidup saling berbagi. Hingga anak “maduku” pun merasa nyaman tinggal bersama kami. Ketika mencari sekolah yang terbaik untuk mendidiknya, kami putuskan dia sekolah di SDIT bersama “saudara-saudara tirinya” nya. Karena jarak tempuh sekolah itu sangat jauh dari rumah ibu kandungnya, dan sebaliknya hanya dibutuhkan beberapa langkah dari rumahku, akhirnya anak “suamiku/ yang juga anak tiriku” tinggal dan hidup bersama ku dalam asuhanku. Hanya sepekan sekali setiap hari Sabtu Ahad dia pulang ke rumah “ibu”nya karena ibu dan neneknya kangen kepadanya. Sekarang “maduku” beranak dua, dia sering berkunjung ke rumahku, rumah suaminya.

Keikhlasanku tumbuh berkat kedekatanku kepada Allah dan kerjasama yang baik dari suamiku. Dia begitu memahami kegalauan hatiku dan berusaha keras menghiburku dan mengurai kesedihanku.
Pesanku kepada para suami istri yang bernasib sama seperti aku, cobalah menata kembali hubungan komunikasi dalam keluarga, perbaiki dan penuhi hak-hak pasangan agar terjadi kerjasama yang baik dalam menjalani biduk rumah tangga.

Kepada para suami Utamakan istri “pertama” karena bersamanya dimulai perjuangan di awal rumah tangga bersabar dalam pahit getir kehidupan. Banyak pengorbanan yang telah diberikan oleh istri pertama. Karena Islam sangat memuliakan perempuan. Arrijaalu qowwamuna alannisaa’ jangan salah diartikan sebagai legitimasi bahwa istri harus taat tanpa reserve dan tanpa hak berpendapat untuk menyuarakan hatinya. Sebaliknya ayat itu harus dipahami bahwa tanggung jawab para suami untuk mengayomi, mendidik dan mengapresiasi istri, sehingga segala potensi istri dapat berkembang optimal tentu tanpa meninggalkan peran utamanya dalam rumah tangga.

Istri yang bahagia akan berdampak luas dan besar dalam kehidupan rumah tangga. Semua penghuni rumah, terutama anak-anak akan sangat berpengaruh perkembangan jiwa raganya jika diasuh oleh ibu yang bahagia. Selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah kita. Semoga anak yang lahir dalam keluarga besar ini tumbuh dalam suasana kedamaian dan ketenteraman.

Sertakan Allah dalam setiap langkah kita agar setiap masalah yang timbul, bisa dicarikan solusi sesuai syariah. Sehingga tidak menimbulkan petaka dan kerusakan dalam keluarga seperti “broken home”, kenakalan remaja, kecanduan narkoba yang merusak jiwa raga anak. Sehingga terhindar dari perceraian yang menimbulkan luka mendalam di hati anak-anak. Ciptakan rasa damai dan nyaman di dalam rumah, agar anak-anak tumbuh dan berkembang dalam suasana batin yang hangat dan mesra, semoga lahir generasi baru yang lebih baik.

KEUTAMAAN WANITA SHALIHAH

Written By Ken Ajoe on Selasa, 17 September 2013 | 07.33

Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang solehah.” (HR. Muslim, An-Nasa’I dan Ibnu Majah)
Suatu hari, selepas shalat Subuh, seorang jamaah masjid menghampiri saya. Pemuda lajang yang sebentar lagi akan diwisuda itu mengajak berbincang di teras masjid. Rupanya ia ingin bertanya tentang pernikahan. Maklum, usianya sudah 27 tahun, usia yang sedang matang-matangnya memikirkan kehidupan rumah tangga. Apalagi ia termasuk pemuda yang rajin ke masjid. Ia pasti khawatir tidak mampu menjaga agama dan syahwatnya jika menunda-nunda pernikahan.

Satu pertanyaan sederhana pun meluncur dari mulutnya. “Mas, menurut Ustadz saya, kalau sudah menikah, seorang laki-laki biasanya tidak terlalu memandang pada kecantikan isterinya, tetapi lebih kepada bagaimana kelembutan dan ketaatan sikap wanita itu kepada suaminya. Apa benar begitu, Mas? Apa pendapat ustadz saya tidak berlebihan? “

Pertanyaan yang sebenarnya sederhana saja, tetapi tidak mudah pula bagi saya untuk menjawabnya. Menurut saya, apa yang diucapkan sang ustadz sedikit banyak ada benarnya.  Maksudny begini;  Ketika mau menikah, yang mungkin paling dipertimbangkan oleh seorang lelaki dari calon isterinya adalah pada penampilan fisiknya, wajahnya yang cantik, tubuhnya yang aduhai, atau bibir dan bola matanya yang menggoda.  Tetapi, begitu perjalanan rumahtangga telah berbilang tahun, maka kecantikan itu tidak lagi menjadi tolak ukur utama dalam menilai plus-minus isterinya.

Bukannya kecantikan itu menjadi tidak penting, sehingga si isteri tidak perlu berhias untuk suaminya. Bukan itu maksudnya. Seorang isteri masih tetap perlu menjaga penampilan dan kecantikan di depan sang suami agar suaminya selalu merasa tentram berada di sampingnya. Akan tetapi, semua kecantikan itu tidak akan lagi bernilai besar jika kewajiban utama sebagai seorang isteri untuk berakhlak baik dan taat kepada suaminya tidak dijalankan dengan baik.

Jadi, yang menjadi tolak ukur utama penilaian seorang suami terhadap isterinya ketika rumah tangga mereka telah melewati beberapa tahun adalah sejauh mana si isteri menunjukkan rasa cinta dan ketaatan kepada suaminya.

 Mengapa demikian? Karena kecantikan manusia pada dasarnya terbatas. Perjalanan waktu perlahan akan terus menggerogotinya. Jika pun kecantikan itu bisa diawetkan, tetapi karena dia bersifat fisik, maka pada suatu saat bisa membosankan. Apalagi wajah-wajah baru yang lebih segar terus bermunculan di sekitar suami. Jika dalam situasi seperti itu wanita masih mengandalkan kecantikan fisiknya untuk mengikat kesetiaan suaminya, pasti ia harus berani menuai kekecewaan.

Tetapi ketaatan dan akhlak yang baik dari seorang isteri tidak akan pernah membuat suaminya bosan. Semakin baik akhlak seorang isteri dan semakin taat ia kepada suaminya, maka akan semakin besarlah rasa bangga dan cinta suaminya kepada dirinya. Seperti melempar pohon yang lebat dengan buah, semakin banyak kita melempar, maka akan semakin banyak buah yang kita dapatkan. Begitu pula ketaatan dan rasa cinta seorang isteri kepada suaminya. 

Dipilih Karena Agamanya

Rasulullah saw. berpesan kepada para lelaki yang hendak mencari pasangan hidup agar lebih mengutamakan calon isteri  dengan kriteria yang baik agamanya (akhlaknya) ketimbang tiga kriteria lainnya, yaitu kecantikannya, keturunannya atau hartanya.
Bagi kebanyakan pemuda, biasanya pesan Rasulullah saw. di atas sudah tidak menjadi pertimbangan lagi dalam memilih pasangan hidup mereka. Kebanyakan mereka lebih memilih wanita dengan fisik yang cantik dan aduhai ketimbang pertimbangan agama dan akhlaknya. Bahkan, orang-orang yang masih mempertimbangkan akhlak dan agama ketika memilih pasangan hidup, dianggap sebagai orang-orang kuno dan ketinggalan zaman.

Padahal, apa yang dipesankan oleh Rasulullah saw. tetap relevan hingga sekarang. Begitu banyak lelaki yang harus kecewa setelah menjalani satu-dua tahun masa-masa kehidupan rumah tangga bersama perempuan pujaan hatinya. Kecantikan sang isteri yang dulu ia kira akan membahagiakan rumahtangganya ternyata justru memperbudak dirinya.

Ada pula lelaki yang tetap percaya kepada pesan Rasulullah saw. bahwa perempuan yang terbaik untuk dipilih mestinya yang baik akhlaknya. Tetapi, ia tetap lebih memilih kecantikan fisik calon pendamping hidupnya, dengan alasan bahwa akhlak dan agama isterinya bisa ia rubah sedikit demi sedikit setelah menikah nanti. Tapi apa yang terjadi? Bukan akhlak si isteri yang berhasil ia rubah, justru akhlaknya sendirilah yang akhirnya ikut rusak karena pengaruh dominasi isterinya yang berakhlak buruk.

Terlalu banyak kasus lelaki yang semasa lajangnya termasuk lelaki soleh, rajin ke masjid, jujur dan amanah, tetapi setelah menjalani kehidupan rumah tangga bersama perempuan yang tidak baik akhlak dan agamanya, justru dirinya ikut terjerumus kedalam berbagai tindakan kriminal, seperti korupsi, memeras, menyuap dan sebagainya, demi memenuhi keinginan isterinya yang kemaruk harta.

Pada saat-saat seperti ini, seorang suami barulah menyadari kekeliruannya dalam memilih pasangan hidup. Tiba-tiba ia sadar, betapa yang dibutuhkan seorang lelaki di rumahnya hanyalah seorang isteri yang setia dan taat kepadanya. Ia pun sadar bahwa kecantikan isterinya tidaklah lebih penting atau tidak lebih utama daripada keluhuran akhlak dan ketaatan terhadap dirinya sebagai kepala rumah tangga.

Maka tidak heran jika Rasulullah saw. bersabda, “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah isteri yang solehah.” (HR. Muslim, An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

Lelaki yang baru menyadari kenyataan di atas setelah satu-dua tahun perjalanan rumahtangganya, biasanya dihadapkan dua pilihan yang sama-sama sulit. Pilihan pertama ia tetap menerima perlakuan isterinya yang tidak solehah (tidak taat), sambil terus berdoa diam-diam agar Allah merubah kelakuan isterinya, atau sambil berharap bahwa penerimaannya terhadap sikap isterinya yang tidak patuh itu akan membuahkan pahala baginya.

Sikap ini hanya akan membuat dirinya sendiri bertambah kecewa dan ia akan terus memendam ketidakpuasan terhadap isterinya sampai akhir hayatnya. Atau jika suami kurang imannya, ia akan membalas ketidaktaatan isterinya dengan jalan berselingkuh. Di rumah, si suami tampak setia dan menuruti semua kemauan sang isteri, tetapi di luar rumah ia berusaha mencari wanita lain yang lebih bisa melayaninya dengan baik.

Pilihan kedua, ia bisa merubah kesalahan itu dengan memberikan pengertian kepada isterinya mengenai peran dan tanggungjawab masing-masing pihak sesuai syari’at Islam. Pilihan kedua ini pun bukan tanpa resiko. Bahkan terkadang resikonya terlalu mahal. Memang ada suami yang dengan kesabaran akhirnya berhasil mendidik isterinya menjadi sadar diri dan sadar posisinya dalam rumah tangga sehingga hubungan suami isteri dalam rumah tangga bisa dikembalikan pada rel yang sesuai.

Akan tetapi pada kenyataannya, tidak sedikit keluarga yang harus kandas ketika seorang suami berusaha mengembalikan posisinya sebagai kepala rumah tangga yang harus dipatuhi, tetapi mendapat penolakan dari isterinya yang ingin tetap dominan menyetir sang suami sesuai keinginannya. Ini bisa terjadi jika si suami tidak sabaran dalam mendidik isterinya atau sang isteri tidak mau menerima didikan dari suaminya untuk menegakkan kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Nah, untuk menghindari terjadinya kemungkinan terburuk dalam kehidupan rumah tangga di kemudian hari, maka sudah seharusnya seorang lelaki berusaha melihat dengan jeli dan mencari tahu kebaikan akhlak dan agama dari seorang wanita yang hendak dinikahinya. Hanya dengan memilih wanita solehah sebagai isterinya, maka rumah tangga yang dibangunnya akan mampu memberi kebahagiaan, sekaligus membantu menyelamatkan imannya dari godaan dunia yang melenakan ini.
Maka benarlah apa yang dikatakan Rasulullah saw. bahwa wanita solehah adalah sebaik-baik barang simpanan bagi seorang Muslim.

Dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah saw. bersabda kepada Umar, “Tidakkah engkau ingin kuberitahu tentang sebaik-baik barang simpanan (perhiasan) seseorang? Ia adalah seorang wanita salehah yang apabilah suaminya mendatanginya, ia menyenangkan. Apabila diperintah ia taat, dan apabila suaminya tidak ada, ia menjaga kehormatannya.” (HR. Abu Daud)

Al-Qur’an sendiri menyebutkan dua ciri utama dari wanita solehah. Firman Allah swt.:
“..Maka wanita-wanita solehah itu adalah wanita yang taat kepada Allah dan memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara mereka…” (QS. An-Nisa’: 34)

Kerelaan untuk menjadi seorang isteri solehah dengan ciri-ciri seperti disebutkan oleh hadits dan ayat al-Qur’an di atas bukanlah sesuatu yang sepele dan mudah, tetapi membutuhkan perjuangan dan mujahadah yang besar. Karena itu, Rasulullah saw. menjanjikan perempuan seperti ini kelak boleh masuk ke surga dari pintu mana saja yang ia pilih.

Rasululah saw. bersabda, “Jika seorang isteri telah menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan dan menjaga kemaluannya dari yang haram, serta taat kepada suaminya, maka akan dipersilahkan kepadanya untuk masuk ke surge dari pintu mana pun yang ia suka.” (HR. Ahmad dan Thabrani).

[Sumber: Majalah Hidayah]

Galau? Inilah Obatnya Ala 'Aid Alqarni

Written By Ken Ajoe on Senin, 16 September 2013 | 07.37

 Anda gelisah, galau, gundah gulana atas permasalahan yang membuat hati tidak tenang? Dr A’id AlQarni dalam karangan fenomenalnya La Tahzan mengupas salah satu penyakit hati tersebut.

Bagi Alqarni, tiada suatu amal pun yang lebih melapangkan dada dan lebih membesarkan pahala, selain berdzikir mengingat Allah.

Berdzikirlah kalian kepada-Ku. niscaya Aku akan mengingat kalian.” (QS. Albaqarah: 132),'' jelas Alqarni mengutip sebuah ayat Alquran.

Dzikirullah adalah surga Allah yang ada di bumi-Nya. Barang siapa yang tidak memasukinya, niscaya dia tidak akan memasuki surga-Nya di akhirat nanti.

Dzikrullah adalah penyelamat jiwa dari kepayahan, kelelahan, dan keguncangannya. Bahkan, ia merupakan jalan yang mudah dan singkat untuk meraih setiap keberuntungan dan keberhasilan.

Bacalah dengan tekun lembaran-lembaran wahyu agar dapat merasakan keuntungan berdzikir. Cobalah pengobatannya selama beberapa waktu agar dapat memperoleh kesembuhan.

Dengan berdzikir kepada Allah, akan terenyahkan berbagai awan ketakutan, kepanikan, kesusahan, dan kesedihan. Dengan berdzikir, akan lenyaplah segunung kesusahan, duka cita, dan kemurungan.

Tidaklah mengherankan bila ahli dzikir hatinya tenang dan tenteram, karena dzikir memang sumber utama dari ketenangan dan ketenteraman.

Akan tetapi, hal yang sangat mengherankan adalah bagaimana orang-orang yang lalai dari dzikir dapat menjalani hidupnya dengan tenang.

Firman Allah SWT, “Mereka benda mati tidak hidup, dan mereka tidak mengetahui kapan diri mereka akan dibangkitkan. ” (QS. 16:21).

Wahai orang yang mengeluh karena tidak bisa tidur, menangis karena pedih, dan mengeluh karena didera bermacam-macam musibah dan tertimpa oleh berbagai macam bencana, serulah dengan memanggil nama-Nya yang suci.

Firman Allah SWT, “Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang setara dengan Dia?"(QS. 19:65).

Dengan  banyak berdzikir kepada Allah SWT, akan terasa lapanglah pikiran. Demikian juga hati akan terasa tenang, jiwa akan terasa bahagia, perasaan akan terasa senang.

Hal itu disebabkan dzikir kepada Allah mengandung pengertian tawakkal kepada-Nya, percaya kepada-Nya, berpegang kepada-Nya, kembali kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan menanti kemudahan dari-Nya.

Allah Maha dekat apabila diseru. Dia Maha Mendengar apabila dipanggil, Maha Memperkenankan apabila diminta. Oleh sebab itu, rendahkan diri serta tunduk dan patuhlah di hadapan-Nya.

Sebutlah nama-Nya yang baik lagi mengandung barakah oleh lisan Anda dengan mengesakan, memuji, menyanjung, berdo'a, meminta, dan memohon ampun kepada-Nya. Niscaya akan ditemukan kebahagiaan, keamanan, kesenangan, cahaya, dan kegembiraan berkat pertolongan dan kekuatan-Nya.

Maka Allah memberikan kepada mereka pahala dunia dan pahala terbaik di akhirat.”(QS. 3:148).

Perjalanan menuju Islam - Lauren Booth 2

Perjalanan menuju Islam - Lauren Booth 1

Written By Ken Ajoe on Minggu, 15 September 2013 | 06.52

Penanaman Nilai Akhlak dan Moral Pada Anak

Written By Ken Ajoe on Senin, 09 September 2013 | 07.12

 Betapa mirisnya wajah Indonesia yang hampir tiap hari disajikan televisi melalui siaran berita, seperti kasus pemerkosaan, tawuran, dan tindakan-tindakan kriminal yang seringkali menyebabkan jatuhnya korban, baik itu korban luka-luka hingga berujung kematian. Yang membuat lebih miris dari semua itu adalah usia para pelaku yang masih berstatus pelajar. Bahkan banyak di antara mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terbesit banyak pertanyaan dalam benak kita, “Ada apa dengan anak bangsa ini?” Marilah kita sebagai orang tua dan guru yang hakikatnya sama-sama berperan sebagai pendidik untuk merenungkan sejenak masalah ini hingga akhirnya tumbuh kepedulian tuk merubah wajah anak negeri.

Setiap anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama keluarga. Karena itu orangtualah yang memegang peran yang sangat penting dalam hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dll. Tetapi dalam kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama. Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.

Banyak sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan Profesi lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.

Setiap orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada Sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga perilaku-perilaku yang tidak terpuji Insya Allah anak yang lahir akan menjadi anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan pergaulannya.
 
Peran Ayah

Selain faktor kondisi ibu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak sejak dini yaitu peran ayah yang merupakan patner ibu dalam membentuk generasi yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Sejak anak masih berada dalam kandungan, peran suami dalam memberi dukungan serta kasih sayang pada istrinya dapat mempengaruhi kondisi kehamilan, bayi yang berada dalam kandungan ibu pun harus diajak berinteraksi oleh ayah dan ibunya sebagai tahap awal dalam mendidik anak. Selain itu memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an juga terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan emosi dan spiritual.

Dalam program Make Indonesia Strong from Home, seorang pemerhati anak yang biasa di panggil Ayah Edy, mengajak kita untuk membentuk masyarakat yang beradab dengan dimulai dari rumah kita masing-masing, dengan cara mendidik diri kita untuk menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak kita secara benar, menjalankan kewajiban-kewajiban kita sebagai orang tua dan memberikan apa yang menjadi hak anak-anak kita. Ternyata banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah anak diantaranya kondisi rumah yang tidak harmonis dimana orang tua mereka tidak dapat menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk mereka berbagi rasa. Bahkan tidak jarang dari mereka yang mendapat kekerasan dari orangtuanya baik itu secara fisik maupun secara psikis dan lebih memprihatinkan lagi diantara mereka pun mendapatkan kekerasan seksual dari orangtuanya.

Hal-hal itulah yang membuat karakter mereka menjadi cenderung senang berbuat kekerasan, karena merekapun dibesarkan dengan kekerasan, jadi ada semacam pelampiasan di mana mungkin mereka tidak dapat melampiaskannya kepada orang tua yang telah memperlakukan mereka dengan kekerasan maka mereka melampiaskannya kepada orang lain. Padahal Rasulullah adalah manusia yang bersikap lemah lembut terutama pada anak-anak.

Kekerasan yang di terima anak dari orang tuanya di rumah dapat menjatuhkan harga diri anak sehingga membuat mereka mencari penghargaan dari lingkungan di luar rumah terutama dari teman-teman. Mereka menjadi pribadi yang rapuh dan labil, mudah terpengaruh dan melakukan apapun agar mendapatkan pengakuan akan eksistensi mereka. Merokok agar dibilang hebat, bergabung dengan sebuah komunitas agar dibilang gaul, berpenampilan aneh agar di bilang trendy, hingga terjerumus dalam narkoba yang dianggap dapat membuat segala masalah mereka menjadi hilang, dan pergaulan bebas untuk mencari kasih sayang yang tidak mereka dapatkan di rumah kemudian akhirnya berzina untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Naudzubillah.

Lingkungan yang buruk membentuk anak menjadi seorang yang berkarakter buruk, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan dengan kekerasan mereka menganggap masalah akan selesai padahal kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan kekerasan yang lain. Sebagai contoh adalah kasus tawuran yang sekarang ini marak terjadi, kebanyakan pemicunya adalah kekerasan yang dilakukan baik itu berupa bullying yang diterima oleh seseorang baik itu berupa ejekan, hinaan, maupun kekerasan fisik yang berujung timbulnya rasa solidaritas dari komunitas orang itu untuk melakukan pembalasan terhadap apa yang dilakukan pada teman mereka kemudian terjadilah penyerangan yang selalu berkelanjutan. Andai mereka tahu bahwa kekerasan tidak pernah dapat menyelasaikan masalah bahkan hanya membuat masalah yang baru.

Peran Guru

Begitupun dengan pentingnya peran guru dimana anak-anak itu bersekolah, begitu kagetnya kita saat melihat di televisi ada oknum guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak. Guru yang seharusnya menjadi orang yang di gugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang di embannya yaitu sebagai pendidik generasi.

Selama ini banyak dari para guru hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Bagi mereka yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan. Karena itu negeri ini merindukan hadirnya guru-guru seperti bu Muslimah dalam Film Laskar Pelangi, Ustadz Salman dalam Negeri Lima Menara dan guru-guru lain yang ternyata ada dalam kehidupan nyata dan mampu menginspirasi anak-anak didik mereka tuk menjadi sukses.

Tampaknya pemerintah pun perlu belajar dari negeri-negeri lain seperti Jepang yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negeri ini dapat termotivasi tuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik dan tak lagi sibuk berdemo untuk meminta kenaikan gaji karena kesejahteraan hidup mereka yang kurang, sementara itu anak-anak murid mereka menjadi terbengkalai hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan.
 
UAN Bikin Stres

Wajah anak-anak negeri inipun dipenuhi dengan beban-beban psikis tak hanya mereka dapatkan dari rumah tetapi dari sekolah yang menerapkan sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang membuat mereka stres, jika dibandingkan dengan negara Finlandia yang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik No 1 sedunia. Maka Indonesia harus belajar bagaimana negara Finlandia menerapkan ujian nasional berupa ujian moral bukan ilmu pengetahuan umum seperti di negara kita. Untuk Ilmu Pengetahuan Umum, pemerintah mereka menyerahkannya kepada sekolah masing-masing karena dianggap sekolahlah yang paling mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan oleh para guru dan sejauh mana kemampuan anak didik mereka.

Tetapi sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia sangat berpengaruh pada karakter warga negaranya, di Finlandia jika mereka tidak sengaja menyenggol orang ketika sedang berjalan maka mereka akan langsung meminta maaf bandingkan dengan di negara kita banyak kasus perkelahian yang terjadi hanya karena tidak sengaja menyenggol seseorang. Untuk urusan tindak kriminal pun di Finlandia memiliki presentase yang terendah, bahkan katanya walaupun kita memparkir kendaraan kita tanpa menguncinya, kita tetap merasa aman. Subhanallah, bukankah wajah negeri seperti itu yang seharusnya menjadi wajah Indonesia dimana mayoritas warganya beragama Islam?

Mari perhatikan anak-anak yang harus mengikuti sistem pendidikan negara ini, menjelang UAN mereka tampak stress, berbagai ritual mereka ikuti mulai dari teriak massal yang diyakini dapat membuang stress dan menciptakan rasa lega, bahkan diantara mereka mengikuti ritual yang bernuansa klenik. Tidak selesai di situ, pada saat UAN tiba beberapa sekolah tertangkap tangan sedang memberikan contekan demi meluluskan anak didiknya. Bagaimanakah anak-anak negeri ini dapat menjadi wajah penuh kebaikan jika hidup dalam lingkungan yang keras dan penuh ketidak jujuran, orang tua dan guru yang mestinya menjadi teladan kebaikan tetapi malah mengajarkan hal yang sebaliknya.

Masih lekat dalam ingatan kita tawuran yang terjadi antara pelajar SMK Kartika Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 . Akibat tawuran itu satu orang pelajar tewas. Beberapa tersangka tawuran berhasil diamankan oleh pihak berwajib, saat Menteri Pendidikan M.Nuh bertanya kepada salah seorang pelaku pembunuhan tentang bagaimana perasaannya, dengan santainya ia menjawab “ saya puas telah membunuhnya.” Satu hal lagi yang perlu kita ketahui, bahwa pelaku tawuran yang membunuh rekannya sesama pelajar di Bulungan merupakan siswa yang semasa SMP selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Ternyata kepintaran siswa/I kita tidak lantas menjadikan mereka pribadi yang berakhlakul karimah.

Semua masalah yang terjadi pada anak-anak negeri ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain. Karenanya sebagai orang tua, guru dan juga pemerintah harus saling mendukung dalam hal pendidikan anak. Peran orang tua adalah menjadi pendidik anak yang utama, dan harus diingat bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi kehadiran seorang ayah dalam hal mendidik anak juga tidak kalah pentingnya. Bukankah di dalam Al-Qur’an begitu banyak ayat-ayat yang mengabadikan kisah para ayah yang mendidik anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT diantaranya kisah Lukman dengan anaknya serta Nabi Ibrahim as dengan Nabi Ismail as anaknya.

Sementara yang terjadi pada saat ini banyak anak-anak kita kehilangan figur seorang ayah, bagi mereka ayah adalah sosok yang harus ditakuti, karena ayah menempatkan diri hanya sebagai pemberi nafkah dan orang yang memiliki kekuasaan atas istri dan anak-anaknya bukan sebagai teladan yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi sehingga tercipta suasana penuh keakraban yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Ibu dan ayah hendaknya selalu meluangkan waktu membuka komunikasi dengan anak, mendengarkan pendapat serta perasaan anak, berdiskusi dengan anak tentang perilaku baik dan buruk serta konsekuensinya, dan semua itu harus dikemas dalam nilai-nilai agama yang berorientasi pada akhirat.

Sebagai orang tuapun hendaknya menjadikan rumah sebagai tempat dimana anak merasa nyaman sehingga kemanapun anak pergi, ia dapat merasakan kerinduan untuk kembali ke rumah karena di rumah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan, dan rumah yang ternyaman adalah rumah yang senantiasa menghadirkan Allah SWT di dalamnya, rumah yang menjadi Baiti Jannati, surga sebelum surga yang sebenarnya. Jika orang tua selalu menghadirkan Allah SWT dalam diri anak, maka anak akan selalu merasakan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya.

Oleh sebab itu sebagai orang tua marilah kita sama-sama memperbaiki pola asuh kita, anak adalah amanah Allah SWT yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Begitupun peran guru yang menjadi pengganti orangtua di sekolah, guru pun memiliki peran penting dalam membentuk akhlak anak didiknya dan pemerintah harus memberikan perhatian yang besar dalam memperbaiki sistem pendidikan yang lebih ramah anak dan lebih menitik beratkan kepada Nilai Akhlak dan Moral.***Wallahu a’lam.

Sumber:Dakwatuna

Abu Ihsan - Surat Terbuka Untuk Para Istri 14

 
Copyright © 2013. Wanita Muslim - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger